Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
1Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Tugas Penemuan Hukum

Tugas Penemuan Hukum

Ratings: (0)|Views: 87 |Likes:
Published by Nofry Hardi

More info:

Published by: Nofry Hardi on Dec 19, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/19/2012

pdf

text

original

 
 MAKALAHPENGADOPSIAN SANKSI ADAT SEBAGAI ALAT HUKUM UNTUKMEMBERANTAS ZINANOFRY HARDI1220113030DOSEN PENANGGUNG JAWABPROF.DR.YULIA MIRWATI, SH, MHFAKULTAS HUKUM PASCA SARJANAUNIVERSITAS ANDALASPADANG2012
 
BAB IPENDAHULUANA.
 
Latar Belakang Masalah
Sarjana hukum yang bekerja di bidang profesinya selalu dihadapkan padaperistiwa atau konflik konkret untuk dipecahkan. Untuk itu maka harus dicari ataudiketemukan hukumnya. Hukumnya harus dicari, diketemukan bukan diciptakan.Dikatakan harus dicari atau diketemukan bukan diciptakan, karena hukumnya memangsudah ada. Hal ini tersurat dalam Pasal 28 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004
tentang Kekuasaan Kehakiman, yang berbunyi bahwa: “Hakim wajib menggali,
mengikuti, dan memahami nilai-nilai hukum dan rasa keadilan yang hidup dalam
masyarakat”
. Jadi hukumnya sudah ada, tinggal menggali ke permukaan. Menurut PaulScholten di dalam perilaku manusia tedapat hukumnya. Jadi hukum itu tidak semata-mataterdapat di dalam peraturan perundang-
undangan saja. “Penggalian” inilah yang pada
dasarnya dimaksud dengan penemuan hukum (rechtsvinding, law making) dan bukanpenciptaan hukum.
1
 Memang tidak tertutup kemungkinan bahwa hakim dalam menemukan hukumtanpa disadari, tanpa disengaja menciptakan hukum, tetapi hakim dilarang untuk menciptakan peraturan yang mengikat secara umum.
2
 Hukumnya harus diketemukan oleh karena peristiwa atau konflik konkret yangharus dipecahkan harus dikonversi lebih dahulu menjadi peristiwa hukum, peristiwakonkretnya harus diterjemahkan dalam bahasa hukum lebih dahulu. Kecuali itu
1
 
Bambang Sutiyoso,
 Metode Penemuan Hukum
, UII Press, Yogyakarta, 2006, hlm. 31.
2
 
Algemene Bepalingen Van Wetgeving, pasal 21
.
 
hukumnya harus dicari karena peraturan hukumnya tidak jelas atau tidak lengkap.Hukumnya harus diketemukan juga oleh karena peraturan hukumnya harus disesuaikandengan perkembangan keadaan.
Apa yang dicari dalam menemukan hukum pada dasarnya adalah “pengertian
-
 pengertian hukum” “berlaku tidaknya” dan sah tidaknya”.
Dalam menemukan hukumnyaharus dicari lebih dahulu sumber hukum. Seperti diketahui sumber hukum atau sumberpenemuan hukum meliputi undang-undang, kebiasaan, putusan pengadilan, traktat,doktrin dan perilaku serta kepentingan.Sumber hukum mengenal hierarki, yang berarti bahwa sumber-sumber hukum itukedudukannya tidak sama, ada yang kedudukannya lebih tinggi dari yang lain. Hierarkiini membuka peluang terjadinya konflik antara sumber-sumber hukum tadi. Kalau tejadikonflik maka sumber hukum yang tertinggilah yang harus dimenangkan.Kalau kita hendak menemukan hukum untuk suatu peristiwa atau konflik konkret,maka kita cari terlebih dahulu hukumnya dalam undang-undang. Sumber hukum yangtertinggi karena dibandingkan sumber-sumber hukumnya lainnnya lebih menjaminkepastian hukum. Kalau undang-undangnya tidak mengatur maka masih harusdiupayakan menemukan hukumnya dengan penalaran atau argumentasi.
3
 Menurut Undang-Undang Dasar 1945 pasal 15
c ayat 1 “presiden memegang
kekuasaam membentuk Undang-Undang dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat(DPR), jika suatu rancangan Undang-Undang yang diajukan presiden (pemerintah) tidak mendapat persetujuan DPR, maka rancangan tadi tidak boleh diajukan lagi dalampersidangan DPR masa itu (pasal 20 ayat 2 Undang-Undag Dasar 1945).
3
 
 Ibid 
 

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->