Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
1Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Tugas Penemuan Hukum 2

Tugas Penemuan Hukum 2

Ratings: (0)|Views: 75 |Likes:
Published by Nofry Hardi

More info:

Published by: Nofry Hardi on Dec 19, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/20/2013

pdf

text

original

 
1
MAKALAHALIRAN-ALIRAN DALAM PENEMUAN HUKUMNOFRY HARDI1220113030DOSEN PENANGGUNG JAWABPROF.DR.YULIA MIRWATI, SH, MHFAKULTAS HUKUM PASCA SARJANAUNIVERSITAS ANDALASPADANG2012
 
2
BAB IPENDAHULUANA.
 
Latar Belakang
Untuk dapat menyelesaikan atau mengakhiri suatu perkara atau sengketa setepat-tepatnyahakim harus terlebih dahulu mengetahui secara obyektif tentang duduk perkara sebenarnyasebagai dasar putusannya dan bukan secara a priori menemukan putusannya sedangpertimbangannya kemudian dikonstituir. Setelah Hakim menganggap terbukti peristiwa yangmenjadi sengketa yang menyatakan bahwa hakim telah dapat mengkondisikan peristiwayang menjadi sengketa, maka Hakim harus menentukan peraturan apakah yang menguasaisengketa antara kedua belah pihak. Ia harus menemukan hukumnya dan mengkualifisirperistiwa yang dianggapnya terbukti.
1
 Hakim dianggap tahu akan hukumnya (
ius curia novit 
). Soal menemukan hukumnyaadalah urusan hakim dalam mempertimbangkan putusannya wajib karena jabatannyamelengkapi alas an-alasan hukum yang tidak dikemukakan oleh para pihak.
2
 Penemuan Hukum (
rechtsvinding
) tidak merupakan suatu kegiatan yang berdiri sendiri,tetapi merupakan kegiatan yang runtut dan berkesinambungan dengan kegiatan pembuktian.Menemukan atau mencari hukumnya tidak sekedar mencari undang-undangnya untuk dapat diterapkan pada peristiwa konkrit yang dicarikan hukumnya. Untuk mencari ataumenemukan hukumnya atau undang-undangnya untuk dapat diterapkan pada peristiwakonkrit, peristiwa konkrit itu harus diarahkan kepada undang-undangnya, sebaliknyaundang-undangnya harus disesuaikan dengan peristiwanya yang konkrit. Peristiwanya yangkonkrit harus diarahkan kepada undang-undangnya agar undang-undang itu dapat diterapkanpada peristiwanya yang konkrit, sedangkan undang-undangnya harus disesuaikan denganperistiwanya yang konkrit agar isi undang-undang itu dapat meliputi peristiwanya yangkonkrit.
1
 
Ahmad Rifai,
Penemuan Hukum Oleh Hakim Dalam Perspektif Hukum Progresif 
, Sinar Grafika, Jakarta,2010, hlm.24
 
2
 
Pasal. 178 ayat 1 HIR dan 189 ayat 1 Rbg
 
 
3
Setelah hukumnya diketemukakan dan kemudian hukumya (undang-undangya)diterapkan pada peristiwa hukumnya, maka hakim harus menjatuhkan putusannya. Untuk ituia harus memperhatikan tiga faktor yang seyogyanya diterapkan secara proporsional, yaitu :keadilan, kepastian hukum dan kemanfaatan. Dalam menjatuhkan setiap putusan, hakimharus memperhatikan keadilan, kepastian hukum dan kemanfaatan. Hanya memperhatikansatu faktor berarti mengorbankan faktor-faktor lainnya.Hukum yang tidak tertulis yang hidup di dalam masyarakat merupakan sumber bagihakim untuk menemukan hukum. hakim sebagai penegak hukum dan keadilan wajibmenggali, mengikuti dan memahami nilai-nilai hukum yang hidup dalam masyarakat dan iaharus memberi putusan berdasar atas kenyataan sosial yang hidup dalam masyarakat itu.Dalam hal ini Hakim dapat meminta keterangan dari para ahli, pakar, maupun akademisi.Yurisprudensi merupakan sumber hukum juga. Ini tidak berarti bahwa hakim terikat padaputusan mengenai perkara yang sejenis yang pernah diputuskan. Suatu putusan itu hanyalahmengikat para pihak.
3
Sifat terikatnya pada precedent pada hakikatnya sifat setiap peradilan.Memang janggallah rasanya kalau peristiwa yang serupa diputus berlainan, kalau pengadilanNegeri misalnya menjatuhkan putusan yang berlainan atau bertentangan dengan PutusanMahkamah Agung atau Pengadilan Tinggi atau Putusannya sendiri mengenai perkara yangsejenis.Kalau tiap kali ada putusan yang berlainan mengenai perkara yang sejenis, maka tidak ada kepastian hukum. Tetapi sebaliknya kalau hakim terikat mutlak pada putusan mengenaiperkara yang sejenis yang pernah diputuskan maka hakim tidak bebas untuk mengikutiperkembangan masyarakat melalui putusan-putusannya.Ilmu Pengetahuan merupakan sumber pula untuk menemukan hukum. kalau perundang-undangan tidak memberi jawaban dan tidak pula ada putusan pengadilan mengenai perkarasejenis yang akan diputuskan, maka Hakim akan mencari jawabannya pada pendapat paraSarjana Hukum. Oleh karena itu Ilmu pengetahuan itu obyektif sifatnya, maka IlmuPengetahuan merupakan sumber untuk mendapatkan bahan guna mendukung ataumempertanggungjawabkan putusan hakim.
4
 
3
 
Pasal 1917 Burgerlijk Wetboek 
 
4
 
Ahmad Rifai,
Penemuan Hukum Oleh Hakim Dalam Perspektif Hukum Progresif 
, Sinar Grafika, Jakarta,2010, hlm 25
 

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->