Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword or section
Like this
2Activity
×

Table Of Contents

0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Putusan_sidang_final Putusan 50 Uu Ite 2008

Putusan_sidang_final Putusan 50 Uu Ite 2008

Ratings: (0)|Views: 288|Likes:
Published by Barita Tambunan

More info:

Published by: Barita Tambunan on Dec 22, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See More
See less

12/24/2012

pdf

text

original

 
F
PUTUSAN
Nomor 50/PUU-VI/2008DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESAMAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA
[1.1]
Yang memeriksa, mengadili, dan memutus perkara konstitusi pada tingkatpertama dan terakhir, menjatuhkan putusan dalam perkara permohonan PengujianUndang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronikterhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, yangdiajukan oleh:
[1.2]
 
Narliswandi Piliang alias Iwan Piliang
, tempat/tanggal lahir Pariaman,16 Juli 1964, agama Islam, pekerjaan Jurnalis, kewarganegaraan Indonesia, alamatJalan Malabar Nomor 14, RT 007/RW 001, Kelurahan Guntur, Kecamatan SetiaBudi, Jakarta Selatan 12980;Berdasarkan Surat Kuasa Khusus tanggal 20 Desember 2008 memberikan kuasakepada Nugraha Abdulkadir, S.H., M.H; Wasis Susetio, S.H., M.A; Lendy Arifin,S.H., MBA; Siti Zahara Awam, S.H, MBA; dan Nur Hayati, S.H., M.Kn;kesemuanya Advokat dan Pengurus Tim Pembela Kepentingan Reformasi Pers,beralamat di Gedung Manggala Wanabakti Lantai 2, Ruang 212 Wing B, Senayan,Jalan Gatot Subroto, Jakarta 10270, baik bersama-sama atau sendiri-sendiribertindak untuk dan atas nama pemberi kuasa;Selanjutnya disebut sebagai -----------------------------------------------------------
Pemohon
;
[1.3]
Membaca permohonan dari Pemohon;Mendengar keterangan dari Pemohon;Memeriksa bukti-bukti;Mendengar keterangan Ahli dari Pemohon;Mendengar dan membaca keterangan tertulis para Ahli dan SaksiPemerintah;Mendengar dan membaca keterangan tertulis dari Pemerintah
 
 
2Mendengar dan membaca keterangan tertulis dari Dewan PerwakilanRakyat;Membaca kesimpulan tertulis dari Pemohon dan Pemerintah. 
2.
 
DUDUK PERKARA
[2.1]
 
Menimbang bahwa Pemohon telah mengajukan permohonan bertanggal25 November 2008 yang diterima dan terdaftar di Kepaniteraan MahkamahKonstitusi (selanjutnya disebut Kepaniteraan Mahkamah) pada tanggal1 Desember 2008 dengan registrasi Perkara Nomor 50/PUU-VI/2008, yang telahdiperbaiki dan diterima di Kepaniteraan Mahkamah pada tanggal 28 Desember2008, yang menguraikan hal-hal sebagai berikut:
I. PENDAHULUAN
Apa yang menjadi kekhawatiran dan ketakutan banyak kalangan masyarakat,khususnya dari para insan pers terhadap pemberlakuan RUU Informasi danTransaksi Elektronik, akhirnya menjadi kenyataan. RUU yang semula diharapkanmenjadi pelindung hak-hak konstitusional dan menjadi bagian pelaksanaan darisemangat Pasal 28F UUD 1945 yang berbunyi, "
Setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya, serta berhak untuk mencari, memperoleh, memiliki,menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis saluran yang tersedia 
", telah menjadi momok bagi kebebasanberpendapat, berekspresi, maupun mengeluarkan pikiran.Bukan itu saja, kurang dari 1 (satu) tahun sejak diundangkan pada tanggal 25Maret 2008 telah memakan “korban” bagi masyarakat yang hendakmenyampaikan informasi melalui medium internet. Undang-Undang Nomor 11Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik terbukti membawakembali anasir-anasir otoriterian yang anti demokrasi, sehingga pasal-pasaltertentu seperti Pasal 27 ayat (3) yang berbunyi, "
Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik 
", dapat menjadisenjata ampuh bagi mereka yang merasa terusik subjektifitas pribadinya.
 
 
3Sementara hal ini perlu dikritisi, apakah materi muatan yang dimaksudsesungguhnya merupakan bentuk kejahatan terhadap pribadi atau bagian darikritik maupun fakta yang amat diperlukan bagi pembangunan demokrasi suatubangsa? Apalagi bunyi pasal tersebut tidak membedakan secara jelas, manaaktivitas jurnalistik yang memiliki kaedah dan pengaturan secara tersendiri,dengan produk penghinaan yang menyerang pribadi seseorang, sebuahpertanyaan dapat muncul penghinaan, menurut siapa? pencemaran nama baik,menurut siapa? kenyataan akan lahirnya “pasal karet”, [Pasal 27 ayat (3) UU ITE]diperparah lagi dengan bentuk sanksi yang diatur oleh undang-undang
a quo 
, halmana pelanggaran terhadap Pasal 27 ayat (3) UU ITE akan diganjar hukumanpidana paling lama 6 tahun dan/atau denda setinggi-tingginya Rp. 1.000.000.000(satu milyar rupiah). Sungguh, keberadaan UU ITE akhirnya dirasakan jauhpanggang dari api, ketika proses demokratisasi di Indonesia yang hendakmengedepankan perlindungan atas hak-hak konstitusional warganya sepertiperlindungan dari rasa takut, kebebasan berpendapat mengeluarkan pikiran,kebebasan berekspresi.Indonesia sebagai negara hukum, memiliki ciri sebagaimana Julius Frederik Stahldan A.V Dicey berupa adanya penghormatan terhadap hak asasi manusia, hal inibagian dari komitmen berbangsa dan bernegara sejak pasca reformasi, melaluiPerubahan UUD 1945 yang lebih akomodatif terhadap Hak Asasi Manusia (HAM)dengan adanya berbagai instrumen HAM Internasional, seperti dalam Pasal 28dan Bab X A UUD 1945 (Pasal 28 huruf A sampai dengan huruf J).Di sisi lain, adanya perumusan dalam Bab VII UU ITE tentang perbuatan yangdilarang, merupakan
setback 
bagi perjuangan meluruskan cita-cita demokrasiBangsa Indonesia yang bertentangan dengan rumusan-rumusan Pasal 28 danBab X A
a quo 
, khususnya Pasal 28E terhadap kebebasan berpendapat denganPasal 28F, yang sekian lama terpasung oleh peraturan perundang-undanganyang bersifat represif bagi kebebasan pers dan kemerdekaan berpendapat.Melihat dari sejarah pertama kali pencantuman Pasal 28 UUD 1945 merupakanperjuangan tidak mudah, Mohammad Hatta bersikeras untuk menjadikan pasalini sebagai benteng pertahanan terhadap praktik kekuasaan di Indonesia,sebagaimana Bung Hatta menyatakan dalam persidangan BPUPKI pada tanggal15 Juli 1945 "...
Hendaklah kita mempehatikan syarat-syarat supaya negara yang kita bikin, jangan menjadi negara kekuasaan. Janganlah kita memberi kekuasaan 

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->