Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
1Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Kerusuhan Etnis Di Ambon Tahun

Kerusuhan Etnis Di Ambon Tahun

Ratings: (0)|Views: 8 |Likes:
Published by deolukmana

More info:

Published by: deolukmana on Dec 23, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/27/2014

pdf

text

original

 
Kerusuhan etnis di Ambon tahun 1999
Januari 10, 2009
er1kzs 
Kerusuhan etnis di Ambon tahun 1999
 Konflik dan pertikaian yang melanda masyarakat Ambon-Lease sejak Januari 1999 telahberkembang menjadi aksi kekerasan brutal yang merenggut ribuan jiwa dan menghancurkansemua tatanan kehidupan bermasyarakat. Hingga 2 September 1991 setidaknya telah tercatat1.132 korban tewas, 312 orang luka parah, 142 orang luka ringan. Sebanyak 765 rumah, 195ruko serta puluhan kendaraan hancur dibakar. Di samping itu 100.000 ribu orang sudahmeninggalkan tempat tinggalnya dan sedikitnya 30.000 orang menjadi pengungsi di 60 kamppenampungan, khususnya di kota Ambon dan sekitarnya. Transportasi, khususnya transportasiudara, terhenti; harga-harga kebutuhan pokok kian melonjak dan persediaan makanan menipis;kegiatan pendidikan terhenti.[1] 
A. Latar Belakang
 Tidak ada yang tahu bahwa orang ambon sebagai daerah yang sangat sentral peranannya dalammasa kolonial belanda dulu, dimana daerah ini banyak digunakan sebagai agen tentara olehkolonial. Sehingga tidak heran masih banyak orang ambon yang masih tidak ingin berintegrasidalam Indonesia karena mereka sudah terlalu
“enak” di ayomi oleh bangsa Belanda.
 Pada saat sekarang bangsa Ambon banyak memeluk agama Islam dan Kristen. Jumlah pemeluk agama Islam sedikit lebih banyak, dan mereka umumnya lebih terampil dalam bidangperdagangan dan ekonomi umumnya. Sedangkan orang Ambon pemeluk agama Kristen lebihbanyak memilih pekerjaan sebagai pegawai negeri dan tentara.[2]  Sehingga tidak heran bahwa awal dari kerusuhan ini tidak lain berawal dari sentimen agamayang diprovokasi oleh masing-masing agama, mengingat kecenderungan di masing-masingagama sama banyak. Konflik pertama-tama dipicu oleh kejadian pertengkaran personal antaraseorang sopir angkutan umum dan seorang pemuda yang sudah dianggap biasa oleh masyarakatAmbon pada umumnya. Ada dua versi, dari Islam dan Kristen, yang beredar di masyarakat.Pertengkaran personal ini kemudian meluas menjadi pertikaian antar kelompok agama dan sukuyang meledak menjadi kerusuhan.Seorang saksi korban bernama Amir (bukan nama sebenarnya), warga Muslim di kampung BatuMerah Dalam, menyatakan bahwa sekitar pukul 15.30, 9 Januari 1999 dia tak memperhatikansama sekali apa yang sebenarnya terjadi, karena pertengkaran kecil-kecilan antara warga Muslimdan Kristen sudah begitu biasa. Tapi pada pukul 16.00, serombongan besar massa datang danmenyerang. Mereka menyeberang jembatan dan masuk ke kampung dalam jumlah besar. Amirmengatakan dia tinggal di kampung Batu Merah seumur hidupnya, dan dia hampir mengenalsemua wajah warga kampung itu. Tapi dia sama sekali tidak mengenal wajah orang yangmemimpin rombongan besar massa penyerang itu. Dia yakin orang itu bukan orang Batu Merah.Sekitar lima orang di muka rombongan itu mengenakan kain putih pada lengan mereka. Amirlalu menelpon ke pihak polisi militer, tapi mereka menjawab bahwa mereka sudah menyerahkanpersoalan itu ke polisi biasa. Mereka sendiri mengatakan tidak bisa berbuat apa-apa, karena hariitu hari libur lebaran, tidak ada orang masuk kerja. Amir mengatakan, di antara rombongan
 
massa itu dia melihat sekitar 10 orang intel berpakaian preman. Seorang di antaranya meletuskantembakan ke udara, tetapi tidak ada hasil. Rombongan massa itu terus maju.Rombongan massa berhenti di depan bengkel mobil yang terletak di bagian bawah darirumahnya. Mereka rupanya menemukan kain-kain lap kotor berlumuran minyak. Merekamenyulut kain-kain itu, lalu dengan menggunakan parang-parang panjang, mereka menyulutbagian-bagian lain dari bengkel sehingga api masuk ke dalam rumah. Rumah Amir juga dibakarsampai rata dengan tanah, seperti semua rumah yang ada di Batu Merah. Orang-orang itu jugaberteriak bahwa mesjid Batu Merah sudah dibakar, meskipun sebetulnya masjid itu belumtersentuh sama sekali.Kerusuhan Ambon priode kedua yang diawali dengan pecahnya kerusuhan di pulau Saparuapada hari Kamis, tanggal 15 Juli 1999 menurut hasil investigasi sementara diakibatkan olehdendam dan rekayasa pihak-pihak tertentu.Setelah pecahnya kerusuhan di Desa Siri Sori Islam, Desa Ullath, Siri Sori Amalatu dan jugakota Saparua pada tanggal 15 dan 16 Juli 1999, maka pada hari Sabtu tanggal 24 Juli 1999 mulaiterjadi kegiatan lempar-melempar batu antara pihak Muslim dan pihak Kristen di Desa Poka dandaerah sekitarnya Gang Diponegoro Kota Ambon.Pristiwa saling lempar-melempar batu di sekitar Perumnas Poka tersebut kemudian dilanjutkandengan pembakaran atas rumah-rumah warga Kristen oleh warga Muslim di kompleks PerumnasPoka yang kemudian dibalas dengan pembakaran rumah-rumah termasuk rumah-rumah DosenMuslim di Desa Poka dan Kompleks Universitas Pattimura oleh warga Kristen.Bersamaan dengan itu warga Kristen sekitar Kudamati melakukan aksi pembalasan pembakarandan pembantaian terhadap warga Muslim suku Buton di daerah Wara (Kramat Jaya) yang beradadi sekitar Kompleks TVRI Gunung Nona dan perkampungan warga Muslim Banda Eli di OSMAmbon yang mengakibatkan beberapa buah rumah terbakar dan puluhan korban meninggaldunia.Dari peristiwa ini kerusuhan mulai melebar ke mana-mana hampir di seantero KotamadyaAmbon dan daerah-daerah pinggirannya.Dari hasil investigasi, ternyata mulai hari Selasa, tanggal 27 Juli 1999 kerusuhan pecah antaralain di Desa Rumahtiga (tetangga Desa Poka), dimana hampir sebagian besar rumah-rumahpenduduk warga Muslim dibakar dan dimusnahkan oleh penduduk yang beragama Kristen.Demikian juga di Kompleks Pemda II dan Perumahan Pemda I terjadi pembakaran, pengrusakandan penjarahan besar-besaran terhadap rumah-rumah warga Kristen oleh warga Muslim.Sedangklan di kota Ambon pusat pertokoan di jalan A.Y. Patty mulai dari toko Dunia Musik bersebelahan dengan Mesjid Al-Fatah hingga lorong toko kaca mata Optical Maluku hinggaBank Lippo dibakar dan dirusak oleh masa Muslim, demikian juga beberapa rumah penduduk diMardika. Sementara itu pusat pertokoan di sekitar pantai pasar ikan lama (belakang AmbonPlaza) dibakar habis oleh masa Kristen.
 
Kerusuhan akhirnya berlanjut di wilayah-wilayah lain seperti di Galala dan Hative Kecil, Lata,Lateri dan Passo hingga Desa Waai, bahkan di dalam kota Ambon masa Muslim yang datangdari Waihaong sempat menyerang dan membakar Kantor Wilayah Departemen KehakimanMaluku, Kompleks Dok Wayame dan kapal yang ada di dalam kompleks tersebut serta rumah-rumah penduduk yang ada di sekitarnya.Dalam kerusuhan ini seperti ada yang memberi komando, terjadi akumulasi masa secara besar-besaran seperti yang terjadi di Desa Poka, Rumahtiga dan Kota Jawa. Masa Islam dari JasirahLeihitu sempat menyebrang gunung dan ikut bergabung dengan masa Islam di Poka, Taeno(Rumahtiga) dan Kota Jawa untuk menyerang warga Kristen. Demikian juga masa dari kotaAmbon yang sempat bergabung dengan masa Desa Poka dan Desa Rumahtiga yang beragamaKristen untuk menghadapi masa Muslim.Sayangnya aparat keamanan tidak bersikap jujur dan adil. Di Desa Poka misalnya aparatkeamanan mencoba menahan warga Kristen yang ingin mempertahankan diri, sementara merekamembiarkan masa Muslim merusak, membakar dan menjarah rumah-rumah penduduk.Demikian juga di Tanah Lapang Kecil dari lantai atas Gedung Telkom aparat keamananmenembak masa Kristen di sekitar pasa kaget Batu Gantung (depan Sekretariat GMKI), malahmemimpin permbakaran rumah, gedung pemerintah dan kompleks Dok Wayame di TanahLapang Kecil.Dalam peristiwa kerusuhan kali ini ratusan bom dan senjata rakitan, juga alat tajam lainnya telahdipergunakan untuk membumihanguskan rumah-rumah penduduk dan membunuh serta melukairatusan penduduk.***
1. Koran & Artikel
 Berita Utama, 26 Januari 1999Human Rights WatchJakarta Post, 2 September 1999
2. Buku
 Yayasan Sala Waku Maluku,
Konspirasi Politik RMS dan Kristen Menghancurkan Ummat Islamdi Ambon Maluku
. Ambon, 1999.Zulyani Hidayah,
 Ensiklopedi Suku Bangsa di Indonesia.
Jakarta, PT Pustaka LP3S Indonesia,1999.
3. Sumber Lain
 

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->