Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
2Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Kritik Terhadap Perkembangan Ilmu Sosial Di Indonesia

Kritik Terhadap Perkembangan Ilmu Sosial Di Indonesia

Ratings: (0)|Views: 502|Likes:
Published by Inoki Ulma Tiara

More info:

Published by: Inoki Ulma Tiara on Dec 24, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, DOCX, TXT or read online from Scribd
See More
See less

05/31/2013

pdf

text

original

 
KRITIK TERHADAP PERKEMBANGAN ILMU SOSIAL DI INDONESIA
KRITIK TERHADAP PERKEMBANGAN ILMU SOSIALDI INDONESIAKekuatan Sosial yang Berperan dalam Perkembangan Teori-teori SosialIlmu-ilmu sosial dalam sejarah perkembangannya menguraikan bahwa terjadinya perubahansosial di Eropa berupa revolusi industri di Inggris dan revolusi sosial di Perancis pada abad19 dan 20 mengakselerasi lahirnya ilmu sosial. Revolusi industri bukan kejadian tunggal,tetapi merupakan berbagai perkembangan yang saling berkaitan yang berpuncak padatransformasi dunia barat dari corak sistem pertanian menjadi sistem industri. Banyak orangmeninggalkan usaha pertanian dan beralih ke pekerjaan industri yang ditawarkan oleh pabrik-pabrik yang sedang berkembang. Pabrik itu sendiri telah berkembang pesat berkat kemajuanteknologi.Birokrasi ekonomi berskala besar muncul untuk memberikan pelayanan yang dibutuhkanoleh industri dan sistem ekonomi kapitalis. Harapan utama dalam ekonomi kapitalis adalahsebuah pasar bebas tempat memperjualbelikan berbagai produk industri. Di dalam sistemekonomi kapitalis inilah segelintir orang mendapatkan keuntungan sangat besar sementarasebagian besar orang lainnya yang bekerja membanting tulang dalam jam kerja yang panjang,menerima upah yang rendah.Situasi seperti itulah mendorong munculnya reaksi menentang sistem industri dan kapitalismepada umumnya yang diikuti oleh ledakan gerakan buruh dan berbagai gerakan radikal lainyang bertujuan menghancurkan sistem kapitalis dan berujung pada pergolakan dahsyat dalammasyarakat eropa. Pergolakan ini pula yang mendorong para sosiolog (Marx, Weber,Durkheim dan Simmel) untuk mempelajari masalah tersebut dan menghabiskan waktunyauntuk mengembangkan program yang dapat membantu menyelesaikan masalah tersebut.
Sehingga muncullah istilah “sosialisme”, sebagai jawaban atas sistem kapitalisme yang
dianggap meresahkan masyarakat di era industri.George Berkeley (1713) menulis essai ilmu sosial bertajuk De Motu, yang berupaya melacak analogi antara dorongan tindakan fisik dalam dunia material dan dorongan moral dan dimensipsikologis dalam masyarakat. Ibarat tata surya yang saling tarik menarik satu sama lain,demikian juga halnya dengan manusia. Kekuatan tarikan moral menarik seperti kekuatanalam, manusia terdekat akan semakin kuat tarikannya. Pada saat yang sama juga terjadifluktuasi tarikan pada manusia seperti kekuatan sentrifugal yang terjadi pada sistem tatasurya.
 
Upaya semacam itu dalam konteks ilmu sosial dianggap premature. Karena untuk mencapaikemapanan ilmu sosial penting, paling tidak ada dua kondisi dasar yang wajib dipenuhisebelum ilmu social dapat muncul, yaitu: (1) naturalism, yaitu doktrin yang menjelaskanbahwa semua gejala dapat dijelaskan dalam logika sebab akibat (cause and effect), (2) sistemevaluasi etis harus diminimalkan atau diabaikan sama sekali. Hal itu diperlukan agar gejalasosial tidak terkekang dalam persoalan nilai.Para pemikir ilmu sosial terdahulu telah banyak memunculkan ide dan gagasan yang masihlazim digunakan oleh pemikir-pemikir sekarang, walaupun pada hakikatnya banyak menimbulkan pertentangan antara pemikir itu sendiri. Dengan berlandasakan pada beberapaproposisi utama yang rasional dan natural dalam ilmu sosial seperti; (1) pikiran merupakanperangkat yang secara universal dimiliki manusia, (2) hakikat manusia sama secara universal,(3) lembaga dibangun oleh manusia, bukan manusia ada untuk lembaga, (4) kemajuanmerupakan hukum utama masyarakat serta (5) gambaran ideal manusia merupakan realisasidari kemanusiaan itu, banyak memberikan inspirasi bagi teoritisi sekarang untuk mengembangkan konsep ilmu sosial baru.Kritik Terhadap Perkembangan Ilmu Sosial di IndonesiaIlmu sosial kurang berkembang di Indonesia disebabkan oleh; Pertama, harus dilacak sejak Orde Baru berkuasa. Hal itu ditandai oleh dilarangnya Marxisme sebagai mata ajaran diseluruh jenjang pendidikan. Ini sangat penting karena, anda tidak bisa belajar teori denganbenar dalam suasana akademik yang tidak demokratis. Misalnya, ketika pengajarmengatakan, Marxisme itu berbahaya, teori kelas itu tidak sesuai dengan budaya masyarakat
Indonesia, para murid tidak bisa bertanya “kenapa berbahaya dan kenapa tidak sesuai dengan
budaya masyarakat In
donesia?” Sekali murid bertanya, maka pengajar langsung curiga,“jangan
-jangan si murid ini dari keluarga atau ada hubungan keluarga dengan orang-orang
PKI.” ?
 Katakanlah, si pengajar orang yang bijaksana dan terbuka pada pertanyaan seperti itu. Dan iamau mendiskusikannya di ruang kelas, apa yang terjadi? Si pengajar dipanggil oleh
atasannya, di cek “kebersihan dirinya,” lalu di wanti
-wanti. Gila juga kan? Celakanya,larangan itu masih berlaku hingga kini, masa dimana orang berbusa-busa bicara demokrasidan keterbukaan. Dan kita dapati, para intelektual yang menghujat Marxisme dan teori kelas,tanpa memperjuangkan secara sungguh-sungguh demokratisasi dunia pendidikan. Dan sangatlucu, bagaimana mereka bisa menghujat Marxisme dan teori kelas, tanpa sungguh-sungguhmemahami apa itu Marxisme dan teori kelas, mendiskusikannya secara terbuka dan egaliter?
 
Lantas, darimana mereka belajar Marxisme? Sembunyi-sembunyi di malam gelap? Pantas, jika ada joke, "salah satu tanda seorang intelektual, adalah dia berkacamata." Hah? Selain itu,pelarangan mata ajaran Marxisme membuat para intelektual dan calon intlelektual diIndonesia, terputus dari akar tradisi akademik yang sangat besar dan sangat dalam di duniaini. Bagaimana anda bisa memahami teori Weberian, Parsonian, Schumpeterian, Keynesian,Dahlian atau bahkan Hayekian, tanpa memahami Marxian? Bagaimana anda bisa memahami,
 pandangan dunianya Ali Syari’ati, Murtadha Mutahhari atau Sayyid Qutb, tanpa memahami
pandangan dunianya ilmuwan sekuler?Perkembangan ilmu itu berlangsung secara dialektik, yang satu tidak mungkin berkembangtanpa yang lain, ia adalah hasil pergumulan tanpa henti, saling serang, saling kritik, yang satumengafirmasi atau bahkan menegasi yang lain. Ilmu pengetahuan tak bisa berkembang atasnama yang suci, atau atas nama doktrin-doktrin yang turun dari langit.Kedua, ilmu sosial kurang berkembang di Indonesia, adalah tidak adanya penghargaan yangkomprehensif terhadap para intelektual. Coba dengar kata almarhum. Soedjono, mantanorang kuat jaman Soeha
rto, “Intelektual nggak patut didengar, tidak ada unsur ketuhanannya,” (Tempo, 4
-10/2/2008). Akibat turunannya, yang berlanjut hingga kini, tidak ada fasilitas perpustakaan yang lengkap, tidak ada mekanisme yang terukur dan terujimenyangkut peningkatan kualitas tenaga pengajar, tidak ada jurnal yang berbobot, tidak adadukungan bagi penerbitan karya-karya akademik bermutu, serta tidak ada jaminan rasa amanbagi intelelektual dalam kerja-kerja akademiknya.Kita tentu masih ingat kasus yang menimpa Arief Budiman cs dari universitas Satya Wacana,Salatiga, yang dipersona non gratakan, hanya karena mereka bersuara beda dengankepentingan kekuasaan. Kasus paling anyar, tentu saja perlakuan keji terhadap almarhumMunir, yang dihabisi akibat kritik-kritiknya yang tajam. Dan hingga kini, kita masih sajamendengar, para intelektual yang bicara kritis, bisa segera di cap provokator, atau merusak suasana nyaman yang sangat dibutuhkan saat ini.Ketiga, dua keadaan di atas telah membentuk budaya intelektual yang kering kerontang danmentalitas cari aman serta penempuh jalan pintas. Kita tentu ingat dengan ungkapan ini,
“karya terbesar intelektual di Indonesia, adalah disertasi doktoralnya.” Setelah itu, tak ada
lagi, dan dalam waktu singkat mereka berbondong-bondong menjadi komentator ataumenjadi manajer. Kita akan dengan mudah menemukan mereka lewat artikel-artikel yangbertaburan di media massa. Bahkan, ada yang secara spektakuler sanggup menulis lebih daridua artikel berbeda dalam sehari di media yang berbeda. Kita juga akan mudah melihat wajahmereka di layar kaca, menjadi pembicara atau host. Kalau kita ikuti perdebatan mereka di

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->