Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
1Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Perkawinan Dalam Islam

Perkawinan Dalam Islam

Ratings: (0)|Views: 42 |Likes:

More info:

Published by: Adithya Wirawan Putra on Dec 25, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/19/2013

pdf

text

original

 
Pernikahan/Perkawinan dalam Islam 
BAB IPENDAHULUAN
Perjanjian perkawinan adalah persetujuan yang dibuatoleh calon mempelai pada waktu atau sebelum perkawinandilangsungkan, dan masing-masing berjanji akan menaatiapa yang disebut dalam persetujuan itu, yang disahkanoleh pencatat nikah. Perjanjian nikah tersebut mempunyaisyarat-syarat dan hukum tertentu.Dalam perkawinan dikenal adanya perjanjianperkawinan yang sering kali dibacakan oleh calon suamisetelah akad nikah, yakni adanya perjanjian ta’lik talak.Perjanjian lainnya yang sering dilakukan adalahperjanjian tentang harta bersama.Isi perjanjian tidak boleh bertentangan dengan al-Qur’an, karena perjanjian yang bertentangan denganketentuan hukum al-Qur’an, bagaimanapun hukumnya menjadibatal. Hal ini juga mencakupi perjanjian yang tidakbertujuan menghalalkan yang haram atau mengharamkan yanghalal.Berdasarkan hukum Islam pergaulan laki-laki danperempuan melakukan pergaulan suami istri sebelum nikahitu dilarang, kecuali sesudah melakukan akad nikah, ijabdan kabul. Maka karena hal itu semata-mata perjanjianperkawinan antara laki-laki dan perempuan ataupertunangan antara pemuda dan pemudi, belum membolehkanbergaulan antara keduanya sebagai suami istri sepertitinggal satu kamar. Pergaulan suami dan istri dapatdilakukan sesudah akad nikah, ijab dan kabul. Walaupun
 
belum mengadakan pesta perkawinan, karena pestaperkawinan hanya sunat semata-mata, bukan jadi syaratuntuk sahnya perkawinan.
BAB IIPEMBAHASANPERJANJIAN PERKAWINAN1. Pengertian, Syarat, dan Hukum Perjanjian Perkawinan.
Perjanjian perkawinan yaitu “persetujuan yang dibuatoleh kedua calon mempelai pada waktu atau sebelumperkawinan dilangsungkan, dan masing-masing berjanji akanmenaati apa yang tersebut dalam persetujuan itu, yangdisahkan oleh pegawai pencatat nikah.Perjanjian perkawinan (mithaq az-zauziyyah) dalam at-tanjil al-hakim terdapat dalam firman Allah SWT:“Dan jika kamu ingin mengganti istrimu dengan istriyang lain, sedang kamu telah memberikan kepada seseorangdi antara mereka harta yang banyak, maka janganlah kamumengambil kembali dari padanya barang sedikit pun. Apakahkamu akan mengambilnya kembali dengan jalan tuduhan yangdusta dan dengan menanggung dosa yang nyata? Bagaimanakamu akan mengambilnya kembali, padahal sebagian telahbergaul dengan yang lain sebagai suami-istri. Dan mereka(istri-istrimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yangkuat”(QS. An-nisa [4]: 20-21).Dari ayat tersebut dapat dilihat, dalam perkawinanterdapat sebuah perjanjian yang kuat dan jelas yangdiambil oleh para istri dari para suami mereka. Isi dariperjanjian tidak boleh bertentangan dengan ketentuan al-Qur’an, karena perjanjian yang bertentangan dengan
 
ketentuan hukum al-Qur’an, meskipun seratus syarat, pastibatal dan memang sudah hukumnya menjadi batal. Demikianjuga perjanjian yang tidak bertujuan menghalalkan yangharam atau mengharamkan yang halal.Perjanjian perkawinan memiliki syarat, perjanjianyang dibuat tidak bertentangan dengan syari’at danketentuan Islam atau hakikat perkawinan. “Jika syaratperjanjian yang dibuat bertentangan dengan syari’at Islamatau hakikat perkawinan apapun bentuk perjanjian itu makaperjanjian itu tidak sah, tidak perlu diikuti, sedangkanakad nikahnya sendiri sah”. Apabila syarat perjanjianperkawinan yang dibuat sejalan dengan syari’at Islam atauhakikat perkawinan, maka hukumnya boleh (sah), tetapijika syarat itu bertentangan dengan syari’at Islam atauhakikat perkawinan maka hukum perjanjian itu tidak boleh(tidak sah).Contoh syarat yang tidak sesuai dengan syari’atIslam, misalnya, dalam perkawinan itu si istri tidak akankawin lagi. Perkawianan yang dilakukan itu sendiri sah,tetapi syaratnya tidaklah sah. Berdasarkan sabda Nabi SAWyang artinya :“Segala syarat yang tidak terdapat dalamKitabullah adalah batal, sekalipun 100 kali syarat”.Sabdanya lagi dengan artinya :“Orang-orang Islam itu menurut syarat mereka, kecualiapabila berupa syarat yang menghalalkan yang haram danmengharamkan yang halal.”Tentang perjanjian ini, Kholil Rahman menyebutkanmacam-macam sifat perjanjian :
a.
Syarat-syarat yang menguntungkan istri, sepertisyarat untuk tidak dicampuri. Para ulama berbedapendapat dalam masalah ini, ada yang mengatakan sah,

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->