Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
1Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Kajian Morfologi Infleksi Dan Derivasi Dalam Perspektif Edi Subroto

Kajian Morfologi Infleksi Dan Derivasi Dalam Perspektif Edi Subroto

Ratings: (0)|Views: 153|Likes:
Published by Pakchoy Mifda

More info:

Published by: Pakchoy Mifda on Dec 25, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, DOC, TXT or read online from Scribd
See More
See less

12/03/2013

pdf

text

original

 
KAJIAN MORFOLOGI INFLEKSI DAN DERIVASIDALAM PERSPEKTIF EDI SUBROTO
Oleh: Iqbal Nurul AzharA. Pendahuluan
Pada abad 19 istilah morfologi sebagai bidang linguistik dipahami sebagai studi tentang perubahan-perubahan secara sistematis tentang bentuk kata yang dihubungkan denganmaknanya (Bauer, 1988:4). Hal itu dapat diambil contoh pasangan-pasangan kata sebagai berikut:teach → teacher ‘guru’ preach preacher ‘pengkhotbah’ride rider ‘penunggang’write writer ‘penulis’Pasangan kata di atas tidak hanya dikaji bentuk saja, tetapi juga dikaji bagaimana unit-unitdapat berfungsi untuk mengubah bentuk kata tersebut. Dengan demikian, kajian morfologi berkaitan juga dengan bagaimana proses infleksi dan derivasinya.Dengan mengetahui pola-pola tata kerja yang berlaku dalam proses pembentukan kata, kajianmorfologi dalam suatu bahasa, akan melibatkan kajian tentang afiks sebagai alat pembentuk kata. Dari kajian pola-pola tata kerja inilah akan didapati dua buah jenis afiks yang berbeda,yaitu afiks-afiks infleksional dan afiksafiks derivasional (Brinton 2000: 78). Afiksinfleksional adalah afiks yang mampu menghasilkan bentuk-bentuk kata yang baru darileksem dasarnya, sedangkan afiks derivasional adalah afiks yang menghasilkan leksem barudari leksem dasar. Misalnya kata reviews dapat dianalisis atas sebuah prefiks re-, sebuah akar view, dan sebuah sufiks -s. Prefiks re- membentuk leksem baru review dari bentuk dasar view, sedangkan sufiks -s membentuk kata yang lain dari leksem review. Jadi prefiks re- bersifat derivasional, sedangkan sufiks -s bersifat infleksional.Secara umum, makalah ini membahas penerapan morfologi derivasional dan morfologiinfleksional. Namun karena gagasan yang berkaitan dengan masalah ini sangatlah berlimpahdari para linguis yang ada di dunia, maka artikel ini membatasi pembahasannya hanya dalam bingkai parameter infleksi dan derivasi dalam perspektif Edi Suboto. Diangkatnya gagasanEdi Subroto yang berkaitan dengan infleksi dan derivasi ini dikarenakan beberapa hal, antaralain: (1) infleksi dan derivasi yang diangkat Edi Subroto berlandaskan pada data dua bahasayaitu bahasa Indonesia dan bahasa Jawa sehinga nilai orsinalitasnya begitu kuat, dan (2) pembahasan morfologi Edi Subroto selalu dikaitkan dengan semantik sehingga memiliki gayayang berbeda dengan nilai komprehensif yang tinggi pula.
B. Dekotomi Morfologi Derivasional dan Morfologi Infleksional
Sebelum memasuki ranah pikiran Edi Subroto tentang morfologi derivasional dan morfologiinfleksional, alangkah lebih baiknya andaikata kita bicarakan terlebih dahulu beberapakonsep yang berhubungan dengan pembagian morfologi. Konsep ini sangat pentingdibicarakan karena tanpa memahami ini, kita akan kesulitan dalam menggarisbawahi pemikiran Edi Subroto yang berkaitan dengan dua jenis morfologi tersebut.Bauer (1988:80) menjelaskan gagasannya tetang pendekotomian morfologi dalam bukunyayang berjudul ”Introducing Linguistic Morphology”. Ia menyatakan bahwa morfologi dapat
 
dipilah berdasarkan dua cabang yaitu morfologi derivasional dan morfologi infleksional.Infleksi merupakan bagian dalam sintaksis karena bersifat melengkapi bentuk-bentuk leksemdan derivasi menjadi bagian dari leksis karena menyediakan leksem-leksem baru.Sejalan dengan gagasan Bauer, Matthews dalam bukunya Morphology: An Introduction tothe Theory of Word-Structure (1974) membagi morfologi menjadi dua bidang, yaitumorfologi infleksional (inflectional morphology) dan morfologi leksikal (lexicalmorphology). Dalam pandangannya, Mathews membedakan antara proses infleksi dengan proses pembentukan kata (word formation) yang mencakup derivasi dan komposisi. Secaraeksplisit ia menyebutkan bahwa yang termasuk dalam ruang lingkup pembentukan katahanya morfologi derivasional (leksikal), sedangkan morfologi infleksional tidak.Morfologi leksikal mengkaji kaidah-kaidah pembentukan kata yang menghasilkan kata-kata baru yang secara leksikal berbeda (beridentitas baru) dari kata yang menjadi dasarnya. Hal ini berbeda dengan morfologi infleksional yang mengkaji hasil-hasil pembentukan kata yang berasal dari leksem yang sama.Dekotomi seperti ini membawa konsekuensi bahwa pembahasan utamanya adalah masalahderivasi dan infleksi. Derivasi adalah proses pembentukan kata yang menghasilkan leksem baru (menghasilkan kata- kata yang berbeda dari paradigma yang berbeda); sedangkaninfleksi pembentukan kata yang menghasilkan bentukan kata-kata yang berbeda dengan paradigma yang sama. Pembentukan derivasi bersifat tidak dapat diramalkan, sedangkan pembentukan infleksi bersifat teramalkan (predictable). Contohnya verba work, otomatisakan dikenali works, worked, working atau worker → workers (bentukan infleksional yangteramalkan); hal ini berbeda dengan bentukan derivasional dalam kata do → doer: dan have*haver. Kata have secara logika seharusnya dapat ditambahkan dengan sufiks –r/-er karena kata do dan have memiliki kelas yang sama (do dan have adalah verba) dan sehinggadapat ditambahi dengan sufiks –r/-er. Namun, aturan do + er ini ini tidaklah berlaku pada katakerja have karena secara tata bahasa tidak berterima, dan karena itulah kita dapatmenyebutkan bahwa proses derivasi adalah proses yang tidak teramalkan (unpredictable).Perbedaan antara pembentukan secara derivasional dan infleksional juga diuraikan Nidadalam Subroto (1985: 269):1.pembentukan derivasional termasuk jenis kata yang sama dengan kata tunggal (yangtermasuk sistem jenis kata tertentu) seperti: singer ‘penyanyi’ (nomina), dari verba(to) sing ‘menyanyi’, termasuk jenis kata yang sama dengan boy ‘anak laki-laki’;sedangkan pembentukan infleksional tidak, misalnya: verba polimorfemis walkedtidak termasuk beridentitas sama dengan verba monomorfemis yang mana pun jugadalam sistem morfologi bahasa Inggris.2.Secara statistik, afiks derivasional lebih beragam, misalnya dalam bahasa Inggristerdapat afiks-afiks pembentuk nomina: -er, -ment, -ion, -ation, -ness (singer,arrangement, correction, nationalization, stableness), sedangkan afiks infleksionaldalam bahasa Inggris kurang beragam (-s (dengan segala variasinya), -ed1, -ed2, -ing:work, worked1, worked2, working).3.Afiks-afiks derivasional dapat mengubah kelas kata, sedangkan afiks infleksionaltidak 
4.
Afiks-afiks derivasional mempunyai distribusi yang lebih terbatas (misalnya: afiksderivasional -er diramalkan tidak selalu terdapat pada dasar verba untuk membentuk nomina), sedangkan afiks infleksional mempunyai distribusi yang lebih luas.
 
5.
Pembentukan derivasional dapat menjadi dasar bagi pembentukan berikutnya: sing(V) → singer (N) ) → singers (N), sedangkan pembentukan infleksional tidak.Di dalam bahasa-bahasa Eropa, utamanya Inggris, pengertian derivasi dan infleksi dapatditerapkan secara konsisten. Misalnya contoh infleksi: books (dari book), stop, stopped,stopping (stop); prettier, prettiest (pretty). Sedangkan derivasi dicontohkan: runner (run), beautify (beauty). Semua bentuk seperti book, jika mendapat sufiks -s (plural), merupakaninfleksi, seperti wall → walls, chair → chairs, dsb. Namun, di dalam bahasa Indonesiatidaklah demikian, karena sistem afiks bahasa Indonesia berbeda dengan bahasa Inggris.Contohnya, menggunting termasuk derivasi, sedangkan membaca dan mendengar adalahinfleksi. Oleh sebab itu masih merupakan persoalan, apakah pengertian infleksi dan derivasidapat diterapkan secara konsisten di dalam bahasa Indonesia.Hal ini sejalan dengan pendapat Subroto (1985:268) yang juga mengungkapkan bahwa ihwal pemisahan antara derivasi dan infleksi memang sudah merupakan persoalan klasik untuk  bahasa-bahasa Indo-Eropa yang tergolong bahasa fleksi atau infleksi; namun hal itutampaknya masih meragukan untuk diterapkan pada bahasa Indonesia yang tergolong bahasaaglutinasi.
C. Produktivitas
Di dalam setiap bahasa selalu terdapat pola pembentukan kata yang secara sistematis (dapat)digunakan oleh pemakai bahasa untuk membentuk kata-kata baru yang jumlahnya tidak terbatas. Kata-kata baru itu diterima dan dipahami oleh para pemakai bahasa lainnya secaraspontan, tanpa kesukaran (Bauer, 1983:66). Di samping itu, pola pembentukan itu cenderungdapat diperluas secara terus menerus pada sebagian besar kata yang termasuk jenis katatertentu, apabila situasi pemakaiannya memungkinkan. Pola pembentukan yang demikian itudisebut prosede produktif (Uhlenbeck, 1982:4).Sementara itu, Subroto (1985:95) mengemukakan bahwa cara untuk menentukan prosede produktif ialah jumlah. Yaitu prosede itu dapat diterapkan pada sejumlah besar kata yangtermasuk jenis kata tertentu. Diungkapkan pula bahwa bahasa itu memiliki pola pembentukan(rule). Jika pola ini dapat digunakan secara terus-menerus, pola ini adalah produktif. Contoh pembentukan verba dari dasar nomina dalam bahasa Jawa misalnya: kathok + -an →kathokan; kalung + -an → kalungan; sepatu + -an → sepatuan (sepaton); klambi + -an →klamben.
D. Konsep Leksem dalam Pembentukan Kata Menurut Edi Subroto
Pendapat Subroto tentang leksem dimuat dalam beberapa tulisan antara lain: (a) Infleksi danDerivasi Verba Bentuk Me(N)-D, Me(N)-D-I, dan Me(N)-D-kan dalam Bahasa Indonesia(1982), (b) Konsep Leksem dan Upaya Pengorganisasian Lema dan Sublema dalam KamusBesar Bahasa Indonesia (1989 dan 1996 ).Dengan ancangan yang mengakui kesentralan kata (karena morfem bukan satuan lingualyang otonom melainkan hanya suatu momen (a dependent feature) yang identitasnya barudiketahui dalam hubungannya dengan kata secara keseluruhan), Subroto (1996) banyak mengkaji bahasa Indonesia dan bahasa Jawa (termasuk disertasinya tentang Transposisi dariAdjektiva menjadi Verba dan Sebaliknya dalam Bahasa Jawa (1985)). Kata dan prosedemorfologis (kaidah atau pola pembentukan kata secara sinkronis) merupakan dua konseputama dalam ancangan seperti ini. Dengan ancangan ini, kata dipakai sebagai dasar bersamadengan kata-kata lain yang tersusun di dalam suatu paradigma tertentu dan oleh karenanya perbedaan kategori kata dapat digambarkan secara lebih jelas.

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->