Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
1Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Sejarah Madrasah Tugs

Sejarah Madrasah Tugs

Ratings: (0)|Views: 27 |Likes:
Published by Afifah Najika

More info:

Published by: Afifah Najika on Dec 26, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/01/2014

pdf

text

original

 
SEJARAH PERKEMBANGAN MADRASAH IBTIDAIYAH DI INDONESIA
Oleh : Koirotul Afifah NIM : D77209075
 
 A.
 
 Pengertian Madrasah
Madrasah adalah isim makan yang berarti tempat untuk belajar. Istilahmadrasah sering diidentikkan dengan istilah sekolah.
Kata “Madrasah” berasaldari bahasa Arab sebagai keterangan tempat (dzaraf), dari akar kata : “Darasa,Yadrusu, Darsan, dan Madrasatan”. Yang mempunyai arti “Tempat belajar para pelajar”
.
1
 
 B. Sejarah Madrasah
Madrasah berkembang di jawa mulai 1912. Ada model madrasahpesantren NU dalam bentuk Madrasah Awaliyah, Ibtidaiyah, Tsanawiyah,Mualimin Wustha, dan Muallimin Ulya ( mulai 1919), ada madrasah yangmengaprosiasi sistem pendidikan belanda plus, seperti muhammadiyah ( 1912)yang mendirikan Madrasah Ibtidaiyah, Tsanawiyah, Muallimin, Mubalighin, danMadrasah Diniyah. Ada juga model AL-Irsyad ( 1913) yang mendirikanMadrasah Tajhiziyah, Muallimin dan Tahassus, atau model Madrasah PUI diJabar yang mengembangkan madrasah pertanian.
2
 Memasuki masa Orde Baru terdapat setidaknya dua kebijakan pentingyang telah dilakukan Depag untuk mengatasi persoalan madrasah. Kebijakanpertama pada 1975, ditandai dengan dikeluarkannya Surat Keputusan Bersama(SKB) Tiga Menteri, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Dalam Negeridan Menteri Agama. Isi SKB terutama berkisar pada pengakuan keberadaanmadrasah yang sejajar dengan sekolah-sekolah yang berada di bawah pengelolaanDepdikbud, yakni SD, SMP dan SMU. SKB ini kemudian disusul pemberlakuankurikulum 1975 yang mensayaratkan pengajaran mata pelajaran umum 70 % danmata pelajaran agama Islam 30 %. Kebijakan selanjutnya pada 1994, di mana
1
 
2
 
Depag memberlakukan kurikulum baru yang kemudian dikenal dengan
“kurikulum 1994”. Berbeda dengan kurikulum 1975, kurikulum baru ini
mensyaratkan penyelenggaraan sepenuhnya (100 %) kurikulum sekolah-sekolahDepdikbud.Dua kebijakan di atas, lebih khususnya pada 1994, tentu saja memilikimakna penting. Kebijakan tersebut merupakan bentuk pengakuan yang semakinutuh terhadap keberadaan madrasah selama ini, yang cenderung ditempatkan pada
 posisi „kelas dua‟, khususnya jika dibanding sekolah
-sekolah umum. Dengankebijakan ini, siswa-siswa madrasah diharapkan mampu bersaing dengan siswa-siswa sekolah umum. Namun konsisten dengan penjelasan sebelumnya, hal yangakan memperoleh penekanan di sini adalah sosial-politik kebijakan. Kebijakantersebut tidak akan dilihat semata-mata dari komposisi dan jumlah mata pelajaranyang diberikan, di mana 30 % mata pelajaran Islam dihapus dari kurikulum dandiganti dengan mata pelajaran umum. Melainkan, ia dilihat dalam kaitan eratdengan perkembangan Islam di Indonesia masa Orde Baru. Ia mengetengahkanrealitas yang jauh lebih kompleks, yang berbasis pada kondisi Islam secara umum.Untuk itu, penjelasan berikut ini adalah untuk memahami signifikansi sosialpolitik pemberlakuan kebijakan tersebut.
3
 Belanda resah akan perkembangan madrasah, lalu keluarlah peraturan yang
menetapkan madrasah sebagai “sekolah liar”, kemudian mengeluarkan sejumlah
peraturan yang melarang atau membatasi madrasah. Akan tetapi, madrasah berdiridi mana-mana. Madrasah adalah perjuangan warga republik ini untuk mendapatkan pendidikan. Pada 1915 berdiri madrasah bagi kaum perempuan,yaitu Madrasah Diniyah putri yang didirikan Rangkayo Rahmah Al-Yunisiah.Zaiuniddin Labai ini juga yang pertama kali mendirikan Persatuan Guru-GuruAgama Islam (PGAI) di Minangkabau pada 1919. Sayangnya, madrasah tetap sajatersingkirkan. Saat Indonesia merdeka, madrasah masih dianggap sebagaipendidikan kelas dua. Pemerintah Indonesia hanya mengeluarkan Maklumat BP
3
 
KNIP 22 Desember 1945 No. 15 yang menyerukan agar pendidikan di mushaladan madrasah berjalan terus dan diperpesat, kemudian diperhatikan melaluikeputusan BP KNIP 27 Desember 1945 (agar madrasah mendapat perhatian danbantuan dari pemerintah) dan melalui Laporan Panitia Penyelidik Pengarahan RItanggal 2 Mei 1946 yang menegaskan, pengajaran yang bersifat pondok pesantrendan madrasah dipandang perlu untuk dipertinggi dan dimodernisasi serta diberibantuan berupa biaya sesuai dengan keputusan BP KNIP.
4
 Baru pada masa reformasi, UU No. 20/2003 tentang UUSPN khususnyaPasal 17 Ayat 2 dan Pasal 18 Ayat 3, madrasah diakui statusnya sederajat dengansekolah umum. Namun, pemerintah masih enggan memberikan bantuan, apalagipernah beredar Surat Edaran Menteri Dalam Negeri Moh Ma`ruf, tanggal 21September 2005 No. 903/2429/SJ tentang Pedoman Penyusunan APBD 2006yang melarang pemerintah daerah mengalokasikan APBD kepada organisasivertikal (termasuk terhadap madrasah).
 
.
 Perkembangan Madrasah di Indonesia
 Pada masa awal pemerintahan Orde Baru, kebijakan mengenai madrasahbersifat melanjutkan dan memperkuat kebijakan pemerintah Orde Lama. Pada eraini madrasah masih belum dianggap sebagai bagian dari sistem pendidikan secaranasional, akan tetapi madrasah menjadi lembaga otonom di bawah pengawasanmenteri agama. Ketika Departernen Agama didirikan, salah satu tugas BagianPendidikan adalah mengadakan suatu "pilot project" sekolah yang akan menjadicontoh bagi orang orang atau organisasi yang ingin mendirikan sekolah secarapartikelir (swasta). Tugas ini mengandung maksud sekolah agama (madrasah)konflik pemerintah diperlukan sebagai panutan atau contoh bagi pihak swastadalam mengelola pendidikan agama. Pendirian madrasah negeri merupakan sisilain dari bentuk bantuan dan pembinaan terhadap madrasah swasta.Bentuk pertama dari pembinaan terhadap madrasah dan pesantren setelahIndonesia merdeka adalah seperti yang ditentukan Dalam Peraturan Menteri
4

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->