Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
2Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Metode Ijtihad

Metode Ijtihad

Ratings: (0)|Views: 554 |Likes:
Published by Annisa Rofie'ah
Ijtihad merupakan salah satu cara berfikir secara mendalam dengan segenap kemampuan yang dimiliki untuk menginterpretasikan ayat-ayat Al-Qur’an yang bersifat Dzanni, dengan menggunakan beberapa metode yang telah ditetapkan sebagai suatu problem solving atas suatu kasus yang belum terdapat dalam nash al-qur’an ataupun as-sunnah, kemudian dilegitimasi lewat ijma’ para ulama, bila dianalogikan mungkin ijtihad ini bisa disebut pula filsafat, dengan sebuah indicator yang bersifat prinsipil dari segi paradigma berfikir sehingga terbentuklah suatu konklusi dalam sebuah kasus.
Iijtihad dimulai sejak zaman Rasullah SAW terbukti dari beberapa hadits – hadits dan beberapa pendapat para Ulama, memang dalam hal ini terdapat suatu ikhtilaf antar ulama, bahkan bukan hanya itu saja, dalam hal pintu ijtihad tertutup pun menjadi perdebatan hingga saat ini, karena bukti rill mengungkapkan sebagaian ulama menyepakati bahwa tidak ada kata tutup dalam hal berijtihad, ada pula yang berpendapat bahwa pintu ijtihad tertutup tetapi bila kita kritisi bukti konkrit yang menjelaskannya bisa dikatakan kurang valid. Kapan mulai ditutupnya ataupun dibukanya pintu ijtihad ini masih bias.akan tetapi konon katanya Ibnu taimiyah adalah orang yang pertama kali menggembar gemborkan bahwa pintu ijtihad telah dibuka. Apakah mungkin semua itu hanya suatu manajemen konfik semata?yang pasti dalam hal ini hanya bersifat dzanni. Peranan ijtihad bersifat urgen melihat perkembangan zaman yang begitu cepat dari hasil karya fikirr seorang manusia dalam dinamika kehidupan, sehingga tidak menutup kemungkinan hal-hal yang baru akan muncul sebagai imbas dari modernisasi. Wallahu a’lam Bisshawwab
Ijtihad merupakan salah satu cara berfikir secara mendalam dengan segenap kemampuan yang dimiliki untuk menginterpretasikan ayat-ayat Al-Qur’an yang bersifat Dzanni, dengan menggunakan beberapa metode yang telah ditetapkan sebagai suatu problem solving atas suatu kasus yang belum terdapat dalam nash al-qur’an ataupun as-sunnah, kemudian dilegitimasi lewat ijma’ para ulama, bila dianalogikan mungkin ijtihad ini bisa disebut pula filsafat, dengan sebuah indicator yang bersifat prinsipil dari segi paradigma berfikir sehingga terbentuklah suatu konklusi dalam sebuah kasus.
Iijtihad dimulai sejak zaman Rasullah SAW terbukti dari beberapa hadits – hadits dan beberapa pendapat para Ulama, memang dalam hal ini terdapat suatu ikhtilaf antar ulama, bahkan bukan hanya itu saja, dalam hal pintu ijtihad tertutup pun menjadi perdebatan hingga saat ini, karena bukti rill mengungkapkan sebagaian ulama menyepakati bahwa tidak ada kata tutup dalam hal berijtihad, ada pula yang berpendapat bahwa pintu ijtihad tertutup tetapi bila kita kritisi bukti konkrit yang menjelaskannya bisa dikatakan kurang valid. Kapan mulai ditutupnya ataupun dibukanya pintu ijtihad ini masih bias.akan tetapi konon katanya Ibnu taimiyah adalah orang yang pertama kali menggembar gemborkan bahwa pintu ijtihad telah dibuka. Apakah mungkin semua itu hanya suatu manajemen konfik semata?yang pasti dalam hal ini hanya bersifat dzanni. Peranan ijtihad bersifat urgen melihat perkembangan zaman yang begitu cepat dari hasil karya fikirr seorang manusia dalam dinamika kehidupan, sehingga tidak menutup kemungkinan hal-hal yang baru akan muncul sebagai imbas dari modernisasi. Wallahu a’lam Bisshawwab

More info:

Categories:Types, School Work
Published by: Annisa Rofie'ah on Dec 26, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/09/2013

pdf

text

original

 
Makalah Ushul Fiqh (Ijtihad) Page 1
BAB IPENDAHULUAN
1.1.
 
LATAR BELAKANG MASALAH
Konstruksi dasar pembinaan hukum Islam telah diletakkan oleh Rasulullah SAWyang bentuk-bentuk cakupan hukum yang diformulasikannya dapat berupa;
 pertama
,penjelasan yang berkaitan dengan arti dan maksud al-
Qur’an yang kemudian dijelaskan oleh
Nabi dalam contoh dan perbuatan.
Kedua
, penjelasan yang berkaitan dengan perluasan dasar-dasar yang dinyatakan oleh al-
Qur’an yang kelihatannya menambah hukum yang d
inyatakanal-
Qur’an itu sendiri, dan
ketiga
, penjelasan yang berkaitan dengan pembatasan/pengurangankandungan al-
Qur’an.
 Dari konstruksi Nabi tersebut, kemudian para teoritisi hukum Islam mulai menyusunkonstruksi metodologi untuk menafsirkan ayat-ayat dan hadis dalam usaha untuk 
mendekatkan pemahaman kepada maksud dan tujuan syari’at serta berusaha untuk 
mendekatkan hasil penalaran/pemahaman tersebut dengan realitas sosial yang berkembangditengah-tengah masyarakat.Para mujtahid tidak membuat, tetapi hanya menemukan hukum. Hal itu adalah karenakeyakinan dalam Islam bahwa hukum dibuat oleh Tuhan sebagai
asy-
Syari’ 
(pembuathukum). Manusia hanyalah memahami (
 fiqh
) hukum Ilahi tersebut. Proses pemahamanterhadap hukum itu disebut
istinbaht al-hukm
melalui kegiatan intelektual yang disebut
ijtihad 
. Hasil-hasil hukum yang diistinbat melalui kegiatan ijtihad itu dinamakan fiqih.Penemuan hukum dimaksudkan sebagai suatu proses individualisasi dan konkretisasiperaturan-peraturan umum dengan mengaitkannya kepada peristiwa/kasus khusus. Penemuanhukum berbeda dengan penelitian hokum yang lebih luas sifatnya. Penemuan hukum bersifatklinis yang bertujuan untuk menjawab pertanyaan apa hukum suatu kasus konkret tertentu.Penelitian hukum menyelidiki hukum sebagai sebuah fenomena sosial dengan mempelajarihubungannya dengan fenomena sosial lainnya. Juga melakukan penyelidikan normatif terhadap hukum untuk melakukan inventarisasi peraturan hukum, menemukan asas/doktrinhukum, meneliti taraf sinkronisasi dan sistematik hukum serta menemukan hukum untuk menyelesaikan suatu perkara
.
Dengan demikian sesungguhnya penemuan hukum hanyalahsebagian dari penelitian hukum
 
Makalah Ushul Fiqh (Ijtihad) Page 2
Tujuan penemuan hukum haruslah dipahami oleh mujtahid dalam rangkamengembangkan pemikiran hukum dalam Islam secara umum dan menjawab persoalan-persoalan hukum kontemporer yang kasusnya tidak diatur secara eksplisit oleh Al Quran danHadis. Oleh karenanya dengan berbagai macam metode yang diterapkan diharapakan akandapat menemukan hukum-hukum dalam memecahkan berbagai persoalan yang muncul,makalah ini akan mencoba menguraikan mengenai IJTIHAD .
1.2 RUMUSAN MASALAH
 Dalam penuluisan makalah ini, penulis merumuskan beberapa masalah diantaranyasebagai berikut:1. Pengertian Ijtihad2. Dasar-dasar Ijtihad3. Kedudukan hukum dari hasil Ijtihad4. Macam-macam Ijtihad5. Ijtihad dalam Tinjauan Sejarah6. Urgensi Ijtihad7. Syarat-syarat Mujtahid8. Tingkatan Mujtahid9. Wilayah Ijtihad
1.3 TUJUAN PENULISAN
 1. Untuk memenuhi tugas mata kuliah Ushul Fiqh2. Menambah wawasan penulis dan pembacanya mengenai Ijtihad
 
Makalah Ushul Fiqh (Ijtihad) Page 3
BAB IIPEMBAHASAN
2.1. DEFINISI IJTIHAD
Ijtihad berasal dari kata Jahadah (Mencurahkan segala kemampuan atau memikulbeban) Usaha sungguh-sungguh yang dilakukan oleh seorang Mujtadid untuk mencapai suatuputusan syarak (hukum islam) tentang kasus yang penyelesaiannya belum tertera dalam Al-
qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW.
 Adapula ulama yang merumuskan pengertian Ijtihad adalah Mencurahkan segala
tenaga (fikiran) untuk menemukan hukum agama (syara’).melalui salah satu dalili syara’
dengan cara tertentu. Menurut Abu Zahrah, Ijtihad bermakna Pengerahan kemampuanseorang ahli fiqh akan upaya kemampuannya dalam upayamengistinbathkan hokum yangberhubungan dengan amal perbuatan dari satu persatu dalilnya. Bila penelusuran itu tanpa
diiringi oleh dalil syara’ maka itu bukanlah suatu ijtihad. Ulama
-ulama terdahulu bilamemecahkan suatu pokok permasalaah yang tidak mendapatkan rujukan dalam Al-
Qur’an
ataupun Asunnah, maka mereka akan menggunkan ijtihad dengan metode yang berbeda, adayangmenggunkaan qiyas atau istihsan, maslahah mursalah. Akan tetapi para ulamamemandang ijtihad dan qiyas ada yang berpendapat bahwa ijtihad lebih luas dari pada qiyas,setiap ada qiyas tentu terdapat ijtihad, tetapi belum tentu setiap ada ijtihad terdapat qiyas.
Berbeda dengan pendapat Imanm syafi’I yang mengatakan bahwa keduanya tidak terdapat
perbedaan yang signifikan
2.2. DASAR-DASAR IJTIHAD
 Landasan dasar dilakukannya ijtihad adalah :a.
 
Al-
Qur’an
 Surat An-
 Nisa’ ayat 59 :
 
  

Activity (2)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 thousand reads
1 hundred reads

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->