You are on page 1of 69

TUGAS AKHIR SEMESTER TAHUN AKADEMIK 2012/2013

Mata Kuliah : Al Islam Dosen : Drs. Didi Sunardi

DISUSUN OLEH : Nama : Akhmad Asrofudin Jurusan NIM : Teknik Elektro (P2K) : 2012427019

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA 2012

Soal : 1. Jelaskan bagaimana konsep KELUARGA SAKINAH MENURUT ISLAM (pengertian sakinah mawaddah warahmah memilih calaon pendamping, tujuan perkawinan, dan dan kewajiban suami dan istri)

2. Jelaskan bagimana pandangan islam terhadap perkawinan beda agama (pengertian, hokum perkawinan beda agama) 3. Jelaskan bagaiaman pandangan islam tentang konsep GENDER MENURUT ISLAM (Kedudukan laki-laki dan perempuan, relevansi tanggung jawab, pembagia tugas dan kepemimpinan) 4. Jelaskan konsep MAWARIS DALAM ISLAM (Harta waris, sebab waris mewaris, ahli waris dan hak haknya) 5. Jelaskan bagaiama konsep SOSOAL POLITIK DAN BUDAYA DALAM ISLAM (Demokrasi dan musyawarah, hak asasi manusia) 6. Jelaskan apa yang dimaksud WASIAT DAN HIBAH (Aturan wasiat dan hibah serta himahnya) 7. Jelaskan konsep JUAL BELI DAN UTANG PIUTANG (pengertian, syarat dan rukun, riba dan bunga bank) 8. Jelaskan konsep MAKANAN DAN MINUMAN MENURUT ISLAM (makanan dan munuman yang halal dan haram) 9. Jelaskan apa yang dimaksud EKONOMI ISLAM (pengertian, tujuan dan manfaat ekonomi islam, cirri dan ruang lingkup ekonomi islam, etos kerja islami) 10. Jelaskan bagimana konsep penciptaan manusia menurut al quran (pengertian, isyarat al quran, bayi tabung, cloning)

JAWABAN DAN URAIAN 1)KONSEP KELUARGA SAKINAH MENURUT ISLAM Pengertian Sakinah Mawaddah Warahmah
Kata sakinah itu sendiri menurut bahasa berarti tenang atau tenteram.[1]) Dengan demikian, keluarga sakinah berarti keluarga yang tenang atau keluarga yang tenteram. Secara historis-filologis, kalimat hasil rangkaian tiga kata utama: Sakiinah artinya tenang, tentram Mawaddah artinya cinta, harapan Rahmah artinya kasih sayang Pengertian umum dari kalimat sakinah, mawadah wa rahmah yakni damai, tenang dan tentram dalam rajut cinta dan kasih sayang nan sejuk dan abadi. Tiga kata utama tersebut sejatinya merupakan istilah khas Arab-Islam yang dirujuk dari QS. Ar-Rum ayat 21. Di antara tanda-tanda (kemahaan-Nya) adalah Dia telah menciptakan dari jenismu (manusia) pasangan-pasangan agar kamu memperoleh sakiinah disisinya, dan dijadikannya di antara kamu mawaddah dan rahmah. Sesungguhnya dalam hal yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kemahaan-Nya) bagi kaum yang berpikir. (QS. Ar-Rum:21)
[1] Ahmad Warson Munawwir, Kamus Al-Munawwir, cet. I ( Surabaya: Pustaka Progressif, 1997), hlm. 334. Sumber : http://ilmukuilmumu.wordpress.com

Memilih Calon Pendamping


a. Kriteria Memilih Calon Istri

1. Hendaknya calon istri memiliki dasar pendidikan agama dan berakhlak baik karena wanita yang mengerti agama akan mengetahui tanggung jawabnya sebagai istri dan ibu. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam : Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam, beliau bersabda : Perempuan itu dinikahi karena empat perkara, karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan karena agamanya, lalu pilihlah perempuan yang beragama niscaya kamu bahagia. (Muttafaqun Alaihi) 3

Dalam hadits di atas dapat kita lihat, bagaimana beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam menekankan pada sisi agamanya dalam memilih istri dibanding dengan harta, keturunan, bahkan kecantikan sekalipun. Demikian pula Allah Subhanahu wa Taala berfirman :Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang Mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun ia menarik hatimu . (QS. Al Baqarah : 221) 2. Hendaklah calon istri itu penyayang dan banyak anak. Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam pernah bersabda : Dari Anas bin Malik, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda : kawinilah perempuan penyayang dan banyak anak . (HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban)

Dalam memilih wanita yang banyak melahirkan anak ada dua hal yang perlu diketahui : a. Kesehatan fisik dan penyakit-penyakit yang menghalangi dari kehamilan. Untuk mengetahui hal itu dapat meminta bantuan kepada para spesialis. Oleh karena itu seorang wanita yang mempunyai kesehatan yang baik dan fisik yang kuat biasanya mampu melahirkan banyak anak, disamping dapat memikul beban rumah tangga juga dapat menunaikan kewajiban mendidik anak serta menjalankan tugas sebagai istri secara sempurna. b. Melihat keadaan ibunya dan saudara-saudara perempuan yang telah menikah sekiranya mereka itu termasuk wanita-wanita yang banyak melahirkan anak maka biasanya wanita itu pun akan seperti itu. 3. Hendaknya memilih calon istri yang masih gadis terutama bagi pemuda yang belum pernah nikah. Sebab gadis itu akan memberikan sepenuh kehalusan dan kelembutannya kepada lelaki yang pertama kali melindungi, menemui, dan mengenalinya. Lain halnya dengan janda, kadangkala dari suami yang kedua ia tidak mendapatkan kelembutan hati yang sesungguhnya karena adanya perbedaan yang besar antara akhlak suami yang pertama dan suami yang kedua. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam menjelaskan sebagian hikmah menikahi seorang gadis :

Mengutamakan orang jauh (dari kekerabatan) dalam perkawinan. Hal ini 4

dimaksudkan untuk keselamatan fisik anak keturunan dari penyakit-penyakit yang menular atau cacat secara hereditas. Di samping itu juga untuk memperluas pertalian kekeluargaan dan mempererat ikatan-ikatan sosial.

b.

Kriteria Memilih Calon Suami

1. Islam Ini adalah kriteria yang sangat penting bagi seorang Muslimah dalam memilih calon suami sebab dengan Islamlah satu-satunya jalan yang menjadikan kita selamat dunia dan akhirat kelak. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Taala : dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanitawanita Mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang Mukmin lebih baik dari orang musyrik walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke Surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran. (QS. Al Baqarah : 221)

2. Berilmu dan Baik Akhlaknya. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda : Apabila kamu sekalian didatangi oleh seseorang yang Dien dan akhlaknya kamu ridhai maka kawinkanlah ia. Jika kamu sekalian tidak melaksanakannya maka akan terjadi fitnah di muka bumi ini dan tersebarlah kerusakan. (HR. At Tirmidzi) Sehubungan dengan memilih calon suami untuk anak perempuan berdasarkan ketakwaannya, Al Hasan bin Ali rahimahullah pernah berkata pada seorang laki-laki : Kawinkanlah puterimu dengan laki-laki yang bertakwa sebab jika laki-laki itu mencintainya maka dia akan memuliakannya, dan jika tidak menyukainya 5

maka dia tidak akan mendzaliminya. Untuk dapat mengetahui agama dan akhlak calon suami, salah satunya mengamati kehidupan si calon suami sehari-hari dengan cara bertanya kepada orang-orang dekatnya, misalnya tetangga, sahabat, atau saudara dekatnya.
Sumber : http://gugundesign.wordpress.com/2009/03/18/kriteria-memilih-pasangan-hidupmenurut-islam/ http://pembinaanpribadi.blogspot.com

c.

Tujuan Pernikahan Menurut Islam a. Memenuhi Tuntutan Naluri Manusia. Perkawinan adalah fitrah manusia, maka jalan yang sah untuk memenuhi kebutuhan ini yaitu dengan aqad nikah (melalui jenjang pernikahan). Bukan dengan cara yang berbeda seperti sekarang ini dengan berpacaran, kumpul kebo, melacur, berzina, lesbi, homo, dan lain sebagainya yang telah menyimpang dan diharamkan oleh Islam. b. Membentengi Ahlak Manusia. Islam memandang pernikahan dan pembentukan keluarga sebagai sarana efefktif untuk memelihara pemuda dan pemudi dari kerusakan, dan melindungi masyarakat dari kekacauan. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Wahai para pemuda ! Barangsiapa diantara kalian berkemampuan untuk nikah, maka nikahlah, karena nikah itu lebih menundukan pandangan, dan lebih membentengi farji (kemaluan). Dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia puasa (shaum), karena shaum itu dapat membentengi dirinya. c. Menegakkan Rumah Tangga Yang Islami. d. Meningkatkan Ibadah Kepada Allah. Rumah tangga adalah salah satu peribadatan dan amal shalih di samping ibadah dan amal-amal shalih yang lain. Bahkan hubungan / bersetubuh termasuk ibadah (sedekah). Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Jika kalian bersetubuh dengan istri-istri kalian termasuk sedekah !. Mendengar sabda Rasulullah para shahabat keheranan dan bertanya : Wahai Rasulullah, seorang suami yang memuaskan nafsu birahinya 6

terhadap istrinya akan mendapat pahala ? Nabi shallallahu alaihi wa sallam menjawab : Bagaimana menurut kalian jika mereka (para suami) bersetubuh dengan selain istrinya, bukankah mereka berdosa .? Jawab para shahabat :Ya, benar. Beliau bersabda lagi : Begitu pula kalau mereka bersetubuh dengan istrinya (di tempat yang halal), mereka akan memperoleh pahala !. e. Mencari Keturunan Yang Shalih. Tentunya keturunan yang shalih tidak akan diperoleh melainkan dengan pendidikan Islam yang benar. Allah berfirman : Allah telah menjadikan dari diri-diri kamu itu pasangan suami istri dan menjadikan bagimu dari istri-istri kamu itu, anak-anak dan cucu-cucu, dan memberimu rezeki yang baik-baik. Maka mengapakah mereka beriman kepada yang bathil dan mengingkari nikmat Allah ?. d. Kewajiban dan Hak Suami Istri

Kewajiban Suami (Hak Istri) 1. Bergaul dengan istri dengan cara yang maruf (baik) Yang dimaksud di sini adalah bergaul dengan baik, tidak menyakiti, tidak menangguhkan hak istri padahal mampu, serta menampakkan wajah manis dan ceria di hadapan istri. Allah Taala berfirman,


Dan bergaullah dengan mereka dengan baik. (QS. An Nisa: 19).


Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang maruf. (QS. Al Baqarah: 228). 2. Memberi nafkah, pakaian dan tempat tinggal dengan baik Yang dimaksud nafkah adalah harta yang dikeluarkan oleh suami untuk istri dan anak-anaknya berupa makanana, pakaian, tempat tinggal dan hal lainnya. Nafkah seperti ini adalah kewajiban suami berdasarkan dalil Al Quran, hadits, ijma dan logika. Dalil Al Quran, Allah Taala berfirman,

Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya (QS. Ath Tholaq: 7).


Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada istrinya dengan cara maruf (QS. Al Baqarah: 233). 3. Meluangkan waktu untuk bercanda dengan istri tercinta Inilah anha, - - . Ia pernah bersama Nabi shallallahu alaihi wa sallam dalam safar. Aisyah lantas berlomba lari bersama beliau dan ia mengalahkan Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Tatkala Aisyah sudah bertambah gemuk, ia berlomba lari lagi bersama Rasulshallallahu alaihi wa sallam, namun kala itu ia kalah. Lantas Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, Ini balasan untuk kekalahanku dahulu. (HR. Abu Daud no. 2578 dan Ahmad 6: 264. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih). Nabishallallahu alaihi wa sallam masih menyempatkan diri untuk bermain dan bersenda gurau dengan istrinya tercinta. 4. Menyempatkan waktu untuk mendengar curhatan istri 5. Mengajarkan istri masalah agama Adh Dhohak dan Maqotil berkata, Kewajiban bagi seorang muslim adalah mengajari keluarganya, termasuk kerabat, budak laki-laki atau perempuannya. Ajarkanlah mereka perkara wajib yang Allah perintahkan dan larangan yang Allah larang. (Lihat Tafsir Al Quran Al Azhim, 14: 59) 6. Mengajak istri dan anak untuk rajin beribadah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, yang dicontohkan oleh Nabi kita shallallahu alaihi wa sallam sebagaimana yang diceritakan oleh istri beliau, Aisyahradhiyallahu

Perhatikanlah anak-anak kalian untuk melaksanakan shalat ketika mereka berumur 7 tahun. Jika mereka telah berumur 10 tahun, namun mereka enggan, pukullah mereka. (HR. Abu Daud no. 495. Syaikh Al Albani mengatakan hadits ini shahih sebagaimana dalam Irwaul Gholil 298). Semoga Allah merahmati seorang lelaki yang bangun di waktu malam lalu mengerjakan shalat dan ia membangunkan istrinya lalu si istri mengerjakan shalat. Bila istrinya enggan untuk bangun, ia percikkan air di wajah istrinya. Semoga Allah merahmati seorang wanita yang bangun di waktu malam lalu mengerjakan shalat dan ia membangunkan suami lalu si suami mengerjakan shalat. Bila suaminya enggan untuk bangun, ia percikkan air di wajah suaminya. (HR. Abu Daud no. 1450, An Nasai no. 1610, dan Ahmad 2: 250. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits hasan sebagaimana dalam Shahih At Targhib wa At Tarhib 625). 7. Tidak mempersoalkan kesalahan kecil istri Inilah petunjuk Nabi kita shallallahu alaihi wa sallam sebagaimana dalam hadits Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, Janganlah seorang mukmin membenci seorang mukminah. Jika si pria tidak menyukai suatu akhlak pada si wanita, maka hendaklah ia melihat sisi lain yang ia ridhoi (HR. Muslim no. 1469). Karena istri tentu saja dalam bersikap dan kelakuan tidak bisa seratus persen perfect sebagaimana yang suami inginkan. Bersabarlah dan tetap terus menasehati istri dengan cara yang baik. 8. Tidak memukul istri di wajah dan tidak menjelek-jelekkan istri Dari Muawiyah Al Qusyairi radhiyallahu anhu, ia bertanya pada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengenai kewajiban suami pada istri, lantas Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, Engkau memberinya makan sebagaimana engkau makan. Engkau

memberinya pakaian sebagaimana engkau berpakaian -atau engkau usahakan-, dan engkau tidak memukul istrimu di wajahnya, dan engkau 9

tidak menjelek-jelekkannya serta tidak memboikotnya (dalam rangka nasehat) selain di rumah (HR. Abu Daud no. 2142. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih). 9. Tidak meng-hajr (pisah ranjang) dalam rangka mendidik selain di dalam rumah Hal ini sebagaimana diterangkan dalam ayat dan hadits sebelumnya di atas. Mengenai makna hajr di ranjang pada ayat, Dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sadi rahimahullah mengatakan bahwa maknanya adalah tidak satu ranjang dengannya dan tidak berhubungan intim dengan istri sampai ia sadar dari kesalahannya (Lihat Taisir Al Karimir Rahman, 177). Ibnul Jauzi menerangkan mengenai makna hajr di ranjang ada beberapa pendapat di kalangan pakar tafsir: 1. 2. 3. 4. Tidak berhubungan intim Tidak mengajak berbicara, namun masih tetap berhubungan intim Mengeluarkan kata-kata yang menyakiti istri ketika diranjang Pisah ranjang (Lihat Zaadul Masiir, 2: 76).

Dan hajr boleh dilakukan di luar rumah jika ada maslahat sebagaimana Nabi shallallahu alaihi wa sallam pernah meng-hajr istri-istrinya selama sebulan di luar rumah mereka. 10. Memberikan hak istri dalam hubungan intim . . . . . . . . . . . . . Nabi shallallahu alaihi wa sallam- telah mempersaudarakan Salman dan Abu Darda. Suatu saat Salman mengunjungi saudaranya- Abu Darda. Ketika itu Salman melihat istrinya, Ummu Darda, dalam keadaan tidak mengenakkan. Salman pun berkata kepada Ummu Darda, Kenapa keadaanmu seperti ini? Saudaramu, Abu Darda, seakan-akan ia tidak lagi 10

mempedulikan dunia, jawab wanita tersebut. Abu Darda kemudian datang. Salman pun membuatkan makanan untuk Abu Darda. Salman berkata, Makanlah. Maaf, saya sedang puasa, jawab Abu Darda. Salman pun berkata, Aku pun tidak akan makan sampai engkau makan. Lantas Abu Darda menyantap makanan tersebut. Ketika malam hari tiba, Abu Darda pergi melaksanakan shalat malam. Salman malah berkata pada Abu Darda, Tidurlah. Abu Darda pun tidur. Namun kemudian ia pergi lagi untuk shalat. Kemudian Salman berkata lagi yang sama, Tidurlah. Ketika sudah sampai akhir malam, Salman berkata, Mari kita berdua shalat. Lantas Salman berkata lagi pada Abu Darda, Sesungguhnya engkau memiliki kewajiban kepada Rabbmu. Engkau juga memiliki kewajiban terhadap dirimu sendiri (yaitu memberi supply makanan dan mengistirahatkan badan, pen), dan engkau pun punya kewajiban pada keluargamu (yaitu melayani istri, pen). Maka berilah porsi yang pas untuk masing-masing kewajiban tadi. Abu Darda lantas mengadukan Salman pada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, lantas beliau bersabda, Salman itu benar (HR. Bukhari no. 968). Menurut pendapat Imam Abu Hanifah, Imam Ahmad dan pilihan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, suami itu wajib menyetubuhi istrinya sesuai dengan kemampuan suami dan kecukupan istri. Inilah pendapat yang tepat, berbeda dengan pendapat sebagian ulama yang mengharuskan suami harus menyetubuhi istrinya minimal empat bulan sekali. Namun yang tepat adalah pendapat pertama. 11. Memberikan istri kesempatan untuk menghadiri shalat jamaah selama keluar dengan hijab yang sempurna dan juga memberi izin bagi istri untuk mengunjungi kerabatnya Tidak menyebar rahasia dan aib istri 12.Berhias diri di hadapan istri sebagaimana suami menginginkan demikian pada istri Allah Taala berfirman, Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang maruf. (QS. Al Baqarah: 228). 13. Selalu berprasangka baik dengan istri Dari Jabir bin Abdillah, ia berkata, 11

Rasulullah shallallahu alihi wa sallam melarang seseorang mendatangi istrinya di malam hari untuk mencari-cari tahu apakah istrinya berkhianat kepadanya atau untuk mencari-cari kesalahannya (HR. Muslim no. 715).

Referensi: 1. Aunul Mabud Syarh Sunan Abi Daud, Al Azhim Abadi Abu Ath Thoyyib, terbitan Darul Kutub Al Ilmiyyah, Beirut, cetakan kedua, tahun 1415 H 2. Shahih Fiqh Sunnah, Abu Malik Kamal bin As Sayid Salim, terbitan Al Maktabah At Taufiqiyah, 3: 213-215 3. Syarh Al Bukhari li Ibni Battol, Asy Syamilah 4. Taisir Al Karimir Rahman, Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sadi, terbitan Muassasah Ar Risalah , cetakan pertama, tahun 1423 H 5. Zaadul Masiir, Ibnul Jauzi, terbitan Al Maktab AIslami, cetakan ketiga, 1404 H

Kewajiban Istri (Hak Suami) 1. Mentaati perintah suami Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, dia berkata,

Pernah ditanyakan

kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam,

Siapakah wanita yang paling baik? Jawab beliau, Yaitu yang paling menyenangkan jika dilihat suaminya, mentaati suami jika diperintah, dan tidak menyelisihi suami pada diri dan hartanya sehingga membuat suami benci (HR. An-Nasai no. 3231 dan Ahmad 2: 251. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih) 2. Berdiam di rumah dan tidaklah keluar kecuali dengan izin suami

12

Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu (QS. Al Ahzab: 33). 3. Taat pada suami ketika diajak ke ranjang Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

Jika seorang pria mengajak istrinya ke ranjang, lantas si istri enggan memenuhinya, maka malaikat akan melaknatnya hingga waktu Shubuh (HR. Bukhari no. 5193 dan Muslim no. 1436). 4. Tidak mengizinkan orang lain masuk rumah kecuali dengan izin suami Pesan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pada haji Wada, Bertakwalah kalian dalam urusan para wanita (istri-istri kalian), karena sesungguhnya kalian mengambil mereka dengan amanah dari Allah dan kalian menghalalkan kemaluan mereka dengan kalimat Allah. Hak kalian atas mereka adalah mereka tidak boleh mengizinkan seorang pun yang tidak kalian sukai untuk menginjak permadani kalian (HR. Muslim no. 1218) 5. Tidak berpuasa sunnah ketika suami ada kecuali dengan izin suami Para fuqoha telah sepakat bahwa seorang wanita tidak diperkenankan untuk melaksanakan puasa sunnah melainkan dengan izin suaminya (Al Mawsuah Al Fiqhiyyah, 28: 99). Dalam hadits yang muttafaqun alaih, dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, Tidaklah halal bagi seorang wanita untuk berpuasa sedangkan suaminya ada (tidak bepergian) kecuali dengan izin suaminya. (HR. Bukhari no. 5195 dan Muslim no. 1026) 6. Tidak menginfakkan harta suami kecuali dengan izinnya Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, Janganlah seorang wanita menginfakkan sesuatu dari rumah suaminya kecuali dengan izin suaminya (HR. Tirmidzi no. 670. Syaikh Al Albani mengatakan hadits ini hasan) 7. Berkhidmat pada suami dan anak-anaknya 13

8. Menjaga kehormatan, anak dan harta suami Allah Taala berfirman, Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada (QS. An Nisa: 34). Ath Thobari mengatakan dalam kitab tafsirnya (6: 692), Wanita tersebut menjaga dirinya ketika tidak ada suaminya, juga ia menjaga kemaluan dan harta suami. Di samping itu, iawajib menjaga hak Allah dan hak selain itu. 9. Bersyukur dengan pemberian suami Seorang istri harus pandai-pandai berterima kasih kepada suaminya atas semua yang telah diberikan suaminya kepadanya. Bila tidak, si istri akan berhadapan dengan ancaman neraka Allah Taala. Seselesainya dari shalat Kusuf (shalat Gerhana), Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda menceritakan surga dan neraka yang diperlihatkan kepada beliau ketika shalat, . : : . : : : Dan aku melihat neraka. Aku belum pernah sama sekali melihat pemandangan seperti hari ini. Dan aku lihat ternyata mayoritas penghuninya adalah para wanita. Mereka bertanya, Kenapa para wanita menjadi mayoritas penghuni neraka, ya Rasulullah? Beliau menjawab, Disebabkan kekufuran mereka. Ada yang bertanya kepada beliau, Apakah para wanita itu kufur kepada Allah? Beliau menjawab, (Tidak, melainkan) mereka kufur kepada suami dan mengkufuri kebaikan (suami). Seandainya engkau berbuat baik kepada salah seorang istri kalian pada suatu waktu, kemudian suatu saat ia melihat darimu ada sesuatu (yang tidak berkenan di hatinya) niscaya ia akan berkata, Aku sama sekali belum pernah melihat kebaikan darimu. (HR. Bukhari no. 5197 dan Muslim no. 907). Lihatlah bagaimana kekufuran si wanita cuma karena melihat kekurangan suami sekali saja, padahal banyak kebaikan lainnya yang diberi. Hujan setahun seakan-akan terhapus dengan kemarau sehari. 10.Berdandan cantik dan berhias diri di hadapan suami Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, dia berkata,

14

Pernah ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam,

Siapakah wanita yang paling baik? Jawab beliau, Yaitu yang paling menyenangkan jika dilihat suaminya, mentaati suami jika diperintah, dan tidak menyelisihi suami pada diri dan hartanya sehingga membuat suami benci (HR. An-Nasai no. 3231 dan Ahmad 2: 251. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih) 11.Tidak mengungkit-ngungkit pemberian yang diinfakkan kepada suami dan anak-anaknya dari hartanya Allah Taala berfirman, Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima) (QS. Al Baqarah: 264). 12.Ridho dengan yang sedikit, memiliki sifat qonaah (merasa cukup) dan tidak membebani suami lebih dari kemampuannya Allah Taala berfirman, Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan. (QS. Ath Tholaq: 7) 13.Ketigabelas: Tidak menyakiti suami dan tidak membuatnya marah Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, : , , Tidaklah seorang istri menyakiti suaminya di dunia melainkan istrinya dari kalangan bidadari akan berkata, Janganlah engkau menyakitinya. Semoga Allah memusuhimu. Dia (sang suami) hanyalah tamu di sisimu; hampir saja 15

ia akan meninggalkanmu menuju kepada kami. (HR. Tirmidzi no. 1174 dan Ahmad 5: 242. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih) 14.Berbuat baik kepada orang tua dan kerabat suami 15.Terus ingin hidup bersama suami dan tidak meminta untuk ditalak kecuali jika ada alasan yang benar Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, . Wanita mana saja yang meminta talak kepada suaminya tanpa ada alasan (yang dibenarkan oleh syari), maka haram baginya mencium wangi surga. (HR. Tirmidzi no. 1199, Abu Daud no. 2209, Ibnu Majah no. 2055. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih) 16.Berkabung ketika meninggalnya suami selama 4 bulan 10 hari Allah Taala berfirman, Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan isteri-isteri (hendaklah para isteri itu) menangguhkan dirinya (beriddah) empat bulan sepuluh hari. Kemudian apabila telah habis iddahnya, maka tiada dosa bagimu (para wali) membiarkan mereka berbuat terhadap diri mereka menurut yang patut. Allah mengetahui apa yang kamu perbuat. (QS. Al Baqarah: 234) Rasul shallallahu alaihi wa sallam bersabda, Tidak dihalalkan bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk berkabung atas kematian seseorang lebih dari tiga hari, kecuali atas kematian suaminya, yaitu (selama) empat bulan sepuluh hari. (HR. Bukhari no. 5334 dan Muslim no. 1491)[2]
Sumber : www.muslim .or.id

2)PERKAWINAN BEDA AGAMA


16

Pengertian Yang dimaksud pernikahan beda agama dalam islam adalah apabila dalam suatu pernikahan yang mana salah satu dari pihak pria atau wanita beragama islam, sedangkan pihak yang lain bukan beragama selain islam. Hukum

a. Pernikahan Wanita Muslimah dan Pria Non Muslim Hukumnya Haram


Tentang status pernikahan wanita muslimah dan pria non muslim disebutkan dalam firman Allah Taala, Hai orang-orang yang beriman, apabila datang berhijrah kepadamu perempuan-perempuan yang beriman, Maka hendaklah kamu uji (keimanan) mereka. Allah lebih mengetahui tentang keimanan mereka. Jika kamu telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman, maka janganlah kamu kembalikan mereka (wanita mukmin) kepada (suami-suami mereka) orangorang kafir. Mereka (wanita mukmin) tiada halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tiada halal pula bagi mereka. (QS. Al Mumtahanah: 10)

b. Pernikahan Pria Muslim dengan Wanita Ahli Kitab Haram


Dalam memutuskan fatwanya, MUI menggunakan Alquran dan Hadis sebagai dasar hukum. "Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik hingga mereka ber iman (masuk Islam). Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun ia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan wanita orangorang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) hingga mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, meskipun ia menarik hatimu..." (QS: al-Baqarah:221). Selain itu, MUI juga menggunakan Alquran surat al-Maidah ayat 5 serta at Tahrim ayat 6 sebagai dalil. Sedangkan, hadis yang dijadikan dalil adalah Sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan Tabrani: "Barang siapa telah kawin, ia telah memelihara setengah bagian dari imannya, karena itu, hendaklah ia takwa (takut) kepada Allah dalam bagian yang lain." Ulama Nahdlatul Ulama (NU) juga telah menetapkan fatwa terkait nikah beda agama. Fatwa itu ditetapkan dalam Muktamar ke-28 di Yogyakarta pada akhir November 1989. Ulama NU dalam fatwanya menegaskan bahwa nikah antara dua orang yang berlainan agama di Indonesia hukumnya tidak sah. 17

Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah juga telah menetapkan fatwa tentang penikahan beda agama. Secara tegas, ulama Muhammadiyah menyatakan bahwa seorang wanita Muslim dilarang menikah dengan pria non-Muslim. Hal itu sesuai dengan surat al-Baqarah ayat 221, seperti yang telah disebutkan di atas. "Berdasarkan ayat tersebut, laki-laki Mukmin juga dilarang nikah dengan wanita non-Muslim dan wanita Muslim dilarang walinya untuk menikahkan dengan lakilaki non-Muslim," ungkap ulama Muhammadiyah dalam fatwanya. Ulama Muhammadiyah pun menyatakan kawin beda agama juga dilarang dalam agama Nasrani. Dalam perjanjian alam, kitab ulangan 7:3, umat Nasrani juga dilarang untuk menikah dengan yang berbeda agama. "Dalam UU No 1 tahun 1974 pasal 2 ayat 1 juga disebutkan bahwa: "Pernikahan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu." "Jadi, kriteria sahnya perkawinan adalah hukum masing-masing agama yang dianut oleh kedua mempelai," papar ulama Muhammadiyah dalam fatwanya. Ulama Muhammadiyah menilai pernikahan beda agama yang dicatatkan di kantor catatan sipil tetap tak sah nikahnya secara Islam. Hal itu dinilai sebagai sebuah perjanjian yang bersifat administratif. Ulama Muhammadiyah memang mengakui adanya perbedaan pendapat tentang bolehnya pria Muslim menikahi wanita nonMuslim berdasarkan surat al-Maidah ayat 5. "Namun, hendaknya pula dilihat surat Ali Imran ayat 113, sehingga dapat direnungkan ahli kitab yang bagaimana yang dapat dinikahi laki-laki Muslim," tutur ulama Muhammadiyah. Dalam banyak hal, kata ulama Muhammadiyah, pernikahan wanita ahli kitab dengan pria Muslim banyak membawa kemadharatan. "Maka, pernikahan yang demikian juga dilarang." Abdullah ibnu Umar RA pun melarang pria Muslim menikahi wanita non-Muslim.
www.republika.co.id

3)KONSEP GENDER MENURUT ISLAM Secara umum, Islam memandang laki-laki dan wanita dalam posisi yang sama, tanpa ada perbedaan. Masing-masing adalah ciptaan Allah yang
18

dibebani

dengan

tanggungjawab

melaksanakan

ibadah

kepada-Nya,

menunaikan titah-titah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Dalam kacamata islam, konsep gender adalah suatu tatanan untuk menghormati, melindungi, bahkan memuliakan wanita. Ajaran Islam yang menggambarkan konsep gender antara lain: a.
Kesetaraan dalam Kewajiban Beribadah dan Pahalanya

Hampir seluruh syariat Islam dan hukum-hukumnya berlaku untuk kaum Adam dan kaum Hawa secara seimbang. Begitu pun dengan janji pahala dan ancaman siksaan. Tidak dibedakan satu dengan yang lainnya. Masing-masing dari mereka memiliki kewajiban dan hak yang sama dihadapan Allah sebagai hamba-hamba-Nya. Berikut adalah petikan ayatayat al Qur`an yang menjelaskan tentang pandangan Islam dalam hal ini:


Dan tidaklah aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku. (QS. Adz-Dzariyat [51]: 56)


Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun. (QS. An Nisa [4]: 124)

b.

Perbedaan Kodrat

Namun demikian, bukan berarti kaum laki-laki dan wanita menjadi sama dan setara dalam segala hal. Menyetarakan keduanya dalam semua peran, kedudukan, status sosial, pekerjaan, jenis kewajiban dan hak sama dengan melanggar kodrat. Karena, kenyataan yang tidak dapat dipungkiri bahwa antara laki-laki dan wanita terdapat perbedaanperbedaan mendasar, hingga jika kita melihat keduanya dengan kasat mata sekalipun. Secara biologis dan kemampuan fisik, laki-laki dan
19

perempuan jelas berbeda. Begitu pun dari sisi sifat, pemikiran-akal, kecenderungan, emosi dan potensi masing-masing juga berbeda. Apalagi wanita dengan tabiatnya melakukan proses reproduksi, mengandung, melahirkan, menyusui, menstruasi, sementara laki-laki tidak. Adalah tidak adil jika kita kemudian memaksakan suatu peran yang tidak sesuai dengan tabiat dan kecenderungan dasar dari masingmasing jenis tersebut. Allah berfirman menghiyakatkan perkataan istri Imran,


Dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. (QS. Ali Imran [3]: 36) c.
Hukum Syariat antara Laki-laki dan Wanita

Di antara ketetapan syariat yang Allah khususkan bagi laki-laki adalah soal kepemimpinan. Allah berfirman,


Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. (QS. An-Nisa` [4]: 34) Posisi strategis ini Allah berikan kepada laki-laki karena ia sesuai dengan tabiat dan kodrat penciptaannya, sebagaimana yang telah disebutkan. Dalam rumah tangga, laki-laki adalah pemimpin yang bertanggungjawab menjaga dan memelihara urusan orang-orang yang berada dibawah kepemimpinannya dari para istri dan anak-anak, termasuk menjamin pakaian, makanan dan rumah mereka. Dengan catatan, kepemimpinan atau kekuasaan seorang laki-laki atas wanita itu bermakna penjagaan, perhatian dan pengaturan, bukan dalam arti kesewenang-wenangan, otoritarian dan tekanan.

20

Begitu pula dalam kepemimpinan pada ranah-ranah publik seperti jabatan kepala negara, kehakiman, menejerial, atau perwalian seperti wali nikah dan yang lainnya, semua itu juga hanya diberikan kepada lakilaki dan tidak kepada wanita. Dalam ibadah dan ketaatan, laki-laki secara khusus dibebani kewajiban jihad, shalat jumat dan berjamah di masjid, disyariatkan bagi mereka adzan dan iqamah. Syariat juga menetapkan perceraian berada di tangan laki-laki, dan bagian waris dua bagi laki-laki dan satu untuk wanita. Adapun hukum-hukum yang khusus untuk kaum wanita juga banyak. Baik dalam ibadat, muamalat dan lain-lain. Bahkan sebagian para ulama menulis secara khusus buku-buku yang berkaitan dengan hukum-hukum wanita. (Lihat Hirsah al Fadhlah, hal. 22) d.
Sikap Seorang Mukmin dan Mukminah

Syaikh Bakr bin Abdillah Abu Zaid rahimahullah menyimpulkan, dari perbedaan-perbedaan hukum yang telah ditetapkan oleh Allah tersebut, maka ada tiga sikap yang harus kita ambil: Pertama, beriman dan menerima perbedaan-perbedaan antara laki-laki dan wanita baik secara fisik, psikis, atau hukum syari, serta hendaknya masing-masing merasa ridha dengan kodrat Allah dan ketetapanketetapan hukum-Nya. Kedua, tidak boleh bagi masing-masing dari laki-laki atau wanita menginginkan sesuatu yang telah Allah khususkan bagi salah satunya dalam perbedaan-perbedaan hukum tersebut dan mengembangkan perasaan iri satu sama lain disebabkan perbedaan-perbedaan tersebut. Oleh karena itu Allah melarang hal itu dengan firman-Nya,

21

Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karuniaNya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. An Nisa` [4]: 32) Tentang sebab turunnya ayat ini, Mujahid menuturkan, Ummu Salamah berkata, Wahai Rasulullah, mengapa laki-laki berperang sementara kami tidak? Dan mengapa kami hanya mendapatkan setengah dari harta waris? Maka turunlah ayat ini. (Diriwayatkan oleh al Thabari, Imam Ahmad, Hakim dan yang lainnya) Ketika, jika al Qur`an dengan jelas melarang untuk sekedar iri, maka apalagi mengingkari dan menentang perbedaan-perbedaan syari antara laki-laki dan wanita ini dengan cara memropagandakan isu kesetaraan gender. Hal ini tidak boleh bahkan termasuk kekufuran. Karena ia merupakan bentuk penentangan terhadap kehendak Allah yang bersifat kauni yang telah menciptakan tabiat tadi, laki-laki dan perempuan bentuk dengan perbedaan-perbedaan sekaligus pengingkaran

terhadap teks-teks syari yang bersifat qathi dalam pembedaanpembedaan hukum antara keduanya. 4)

Bab Waris Terlampir

5)KONSEP SOSIAL POLITIK DAN BUDAYA DALAM ISLAM


Demokrasi Dalam Islam Demokrasi dapat dikatakan lahir dari ajaran Islam dan merupakan system politik islam yang kemudian dipelajari dan dikembangkan oleh peradaban barat. Pengertian Sistem Politik Islam Dalam fikih siasah disebutkan bahwa garis besar fikih siasah meliputi: (Acep Djazuli, 2000:15) a. Siasah dusturiyah (Tata Negara Dalam Islam) b. Siasah Dauliyyah (Politik yang mengatur hubungan antara satu negara Islam dengan negara Islam yang lain atau dengan Negara sekuler lainnya) 22

c. Siasah Maaliyah (Sistem ekonomi negara) Prinsip-Prinsip Dasar Siasah (Politik) Dalam Islam (Siasah Dusturiyah) a. Musyawarah

b. Pembahasan bersama
c. Tujuan bersama yakni untuk mencapai suatu keputusan

d. Keputusan itu merupakan penyelesaian dari suatu masalah yang dihadapi


bersama e. Keadilan, f. Al-Musaawah atau persamaan g. Al-Hurriyah (kemerdekaan/kebebasan) h. Perlindungan jiwa raga dan harta masyarakat Prinsip-Prinsip Politik Luar Negeri Dalam Islam (Siasah Dauliyyah) Menurut Ali Anwar, ada beberapa prinsip politik luar negeri dalam Islam, yakni: (Ali Anwar, 2002: 195). a. Saling menghormati fakta-fakta dan traktat-traktat (Q.S. 8:58; 9:4,7; 16:91; 17:34) b. Kehormatan dan integrasi nasional (Q.S. 16:92) c. Keadilan Universal (Internasional) (Q.S. 5:8) d. Menjaga perdamaian abadi (Q.S. 5:61) e. Menjaga kenetralan negara-negara lain (Q.S. 4:89,90) f. Larangan terhadap eksploitasi para imperalis (Q.S.6:92)

g. Memberikan perlindungan dan dukungan kepada orang-orang Islam yang hidup


di negara lain(Q.S. 8:72) h. Bersahabat dengan kekuasaan-kekuasaan netral (Q.S 60:8,9) i. Kehormatan dalam hubungan international (Q.S.55:60) j. Persamaan keadilan untuk para penyerang (Q.S.2:195; 16:126; 42:40). Umat Islam Indonesia dapat menyetujui Pancasila dan UUD 45 setidak-tidaknya atas dua pertimbangan: a. Nilai-nilainya dibenarkan oleh ajaran agama Islam

b. Fungsinya sebagai kesepakatan antar berbagai golongan untuk mewujudkan


kesatuan politikbersama.
http://abi-aslam.blogspot.com

23

HAM Menurut Konsep Islam Hak asasi dalam Islam berbeda dengan hak asasi menurut pengertian yang umum dikenal. Sebab seluruh hak merupakan kewajiban bagi negara maupun individu yang tidak boleh diabaikan. Rasulullah saw pernah bersabda: "Sesungguhnya darahmu, hartamu dan kehormatanmu haram atas kamu." (HR. Bukhari dan Muslim). Maka negara bukan saja menahan diri dari menyentuh hak-hak asasi ini, melainkan mempunyai kewajiban memberikan dan menjamin hak-hak ini. Sebagai contoh, negara berkewajiban menjamin perlindungan sosial bagi setiap individu tanpa ada perbedaan jenis kelamin, tidak juga perbedaan muslim dan non-muslim. Islam tidak hanya menjadikan itu kewajiban negara, melainkan negara diperintahkan untuk berperang demi melindungi hak-hak ini. Dari sinilah kaum muslimin di bawah Abu Bakar memerangi orang-orang yang tidak mau membayar zakat. Negara juga menjamin tidak ada pelanggaran terhadap hak-hak ini dari pihak individu. Sebab pemerintah mempunyai tuga sosial yang apabila tidak dilaksanakan berarti tidak berhak untuk tetap memerintah. Allah berfirman: "Yaitu orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukannya di muka bumi, niscaya mereka menegakkan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat maruf dan mencegah perbuatan munkar. Dan kepada Allah-lah kembali semua urusan." (QS. 22: 4) Jaminan Hak Pribadi Jaminan pertama hak-hak pribadi dalam sejarah umat manusia adalah dijelaskan Al-Quran: "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya... dst." (QS. 24: 27-28) Dalam menjelaskan ayat ini, Ibnu Hanbal dalam Syarah Tsulatsiyah Musnad Imam Ahmad menjelaskan bahwa orang yang melihat melalui celah-celah ointu atau melalui lubang tembok atau sejenisnya selain membuka pintu, lalu tuan rumah melempar atau memukul hingga mencederai matanya, maka tidak ada hukuman apapun baginya, walaupun ia mampu membayar denda. Nash Quran dan Sunnah tentang HAM Meskipun dalam Islam, hak-hak asasi manusia tidak secara khusus memiliki piagam, akan tetapi Al-Quran dan As-Sunnah memusatkan perhatian pada hakhak yang diabaikan pada bangsa lain. Nash-nash ini sangat banyak, antara lain: 24

a. Dalam al-Quran terdapat sekitar empat puluh ayat yang berbicara mengenai paksaan dan kebencian. Lebih dari sepuluh ayat bicara larangan memaksa, untuk menjamin kebebasan berfikir, berkeyakinan dan mengutarakan aspirasi. Misalnya: "Kebenaran itu datangnya dari Rabb-mu, barangsiapa yang ingin beriman hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin kafir, biarlah ia kafir." (QS. 18: 29) b. Al-Quran telah mengetengahkan sikap menentang kedzaliman dan orang-orang yang berbuat dzalim dalam sekitar tiga ratus dua puluh ayat, dan memerintahkan berbuat adil dalam lima puluh empat ayat yang diungkapkan dengan kata-kata: adl, qisth dan qishas. c. Al-Quran mengajukan sekitar delapan puluh ayat tentang hidup, pemeliharaan hidup dan penyediaan sarana hidup. Misalnya: "Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu membunuh orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan ia telah membunuh manusia seluruhnya." (QS. 5: 32). Juga Quran bicara kehormatan dalam sekitar dua puluh ayat. d. Al-Quran menjelaskan sekitar seratus lima puluh ayat tentang ciptaan dan makhluk-makhluk, serta tentang persamaan dalam penciptaan. Misalnya: "... Orang yang paling mulia diantara kamu adalah yang paling bertawa diantara kamu." (QS. 49: 13) Rumusan HAM dalam Islam Apa yang disebut dengan hak asasi manusia dalam aturan buatan manusia adalah keharusan (dharurat) yang mana masyarakat tidak dapat hidup tanpa dengannya. Para ulama muslim mendefinisikan masalah-masalah dalam kitab Fiqh yang disebut sebagai Ad-Dharurat Al-Khams, dimana ditetapkan bahwa tujuan akhir syariah Islam adalah menjaga akal, agama, jiwa, kehormatan dan harta benda manusia. Islam berbeda dengan sistem lain dalam hal bahwa hak-hak manusia sebagai hamba Allah tidak boleh diserahkan dan bergantung kepada penguasa dan undang-undangnya. Tetapi semua harus mengacu pada hukum Allah. Sampai kepada soal shadaqah tetap dipandang sebagaimana hal-hal besar lain. Misalnya Allah melarang bershadaqah (berbuat baik) dengan hal-hal yang buruk. "Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu nafkahkan dari padanya..." (QS. 2: 267).
1. Hak-hak Alamiah

25

Hak-hak alamiah manusia telah diberikan kepada seluruh ummat manusia sebagai makhluk yang diciptakan dari unsur yang sama dan dari sumber yang sama pula (lihat QS. 4: 1, QS. 3: 195).
a. Hak Hidup

Allah menjamin kehidupan, diantaranya dengan melarang pembunuhan dan meng-qishas pembunuh (lihat QS. 5: 32, QS. 2: 179). Bahkan hak mayit pun dijaga oleh Allah. Misalnya hadist nabi: "Apabila seseorang mengkafani mayat saudaranya, hendaklah ia mengkafani dengan baik." Atau "Janganlah kamu mencaci-maki orang yang sudah mati. Sebab mereka telah melewati apa yang mereka kerjakan." (Keduanya HR. Bukhari).
b. Hak Kebebasan Beragama dan Kebebasan Pribadi

Kerukunan hidup beragama bagi golongan minoritas diatur oleh prinsip umum ayat "Tidak ada paksaan dalam beragama." (QS. 2: 256). Sedangkan dalam masalah sipil dan kehidupan pribadi (ahwal syakhsiyah) bagi mereka diatur syariat Islam dengan syarat mereka bersedia menerimanya sebagai undang-undang. Firman Allah: "Apabila mereka (orang Yahudi) datang kepadamu minta keputusan, berilah putusan antara mereka atau biarkanlah mereka. Jika engkau biarkan mereka, maka tidak akan mendatangkan mudharat bagimu. Jika engkau menjatuhkan putusan hukum, hendaklah engkau putuskan dengan adil. Sesungguhnya Allah mengasihi orang-orang yang adil." (QS. 5: 42). J
c. Hak Bekerja

Islam tidak hanya menempatkan bekerja sebagai hak tetapi juga kewajiban. Bekerja merupakan kehormatan yang perlu dijamin. Nabi saw bersabda: "Tidak ada makanan yang lebih baik yang dimakan seseorang daripada makanan yang dihasilkan dari usaha tangannya sendiri." (HR. Bukhari). Dan Islam juga menjamin hak pekerja, seperti terlihat dalam hadist: "Berilah pekerja itu upahnya sebelum kering keringatnya." (HR. Ibnu Majah).
2. Hak Hidup

Islam melindungi segala hak yang diperoleh manusia yang disyariatkan oleh Allah. Diantara hak-hak ini adalah :
a. Hak Pemilikan

26

Islam menjamin hak pemilikan yang sah dan mengharamkan penggunaan cara apapun untuk mendapatkan harta orang lain yang bukan haknya, sebagaimana firman Allah: "Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain diantara kamu dengan jalan bathil dan janganlah kamu bawa urusan harta itu kepada hakim agar kamu dapat memakan sebagian harta benda orang lain itu dengan jalan berbuat dosa padahal kamu mengetahuinya." (QS. 2: 188). Oleh karena itulah Islam melarang riba dan setiap upaya yang merugikan hajat manusia. Islam juga melarang penipuan dalam perniagaan. Sabda nabi saw: "Jual beli itu dengan pilihan selama antara penjual dan pembeli belum berpisah. Jika keduanya jujur dalam jualbeli, maka mereka diberkahi. Tetapi jika berdusta dan menipu berkah jualbei mereka dihapus." (HR. Al-Khamsah) Islam juga melarang pencabutan hak milik yang didapatkan dari usaha yang halal, kecuali untuk kemashlahatan umum dan mewajibkan pembayaran ganti yang setimpal bagi pemiliknya. Sabda nabi saw: "Barangsiapa mengambil hak tanah orang lain secara tidak sah, maka dia dibenamkan ke dalam bumi lapis tujuh pada hari kiamat." Pelanggaran terhadap hak umum lebih besar dan sanksinya akan lebih berat, karena itu berarti pelanggaran tehadap masyarakat secara keseluruhan.
b. Hak Berkeluarga

Allah menjadikan perkawinan sebagai sarana mendapatkan ketentraman. Bahkan Allah memerintahkan para wali mengawinkan orang-orang yang bujangan di bawah perwaliannya (QS. 24: 32). Aallah menentukan hak dan kewajiban sesuai dengan fithrah yang telah diberikan pada diri manusia dan sesuai dengan beban yang dipikul individu.
c. Hak Keamanan

Dalam

Islam,

keamanan

tercermin

dalam

jaminan

keamanan

mata

pencaharian dan jaminan keamanan jiwa serta harta benda. Firman Allah: "Allah yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan." (QS. Quraisy: 3-4). Diantara jaminan keamanan adalah hak mendpat suaka politik. Ketika ada warga tertindas yang mencari suaka ke negeri yang masuk wilayah Darul Islam. Dan masyarakat muslim wajib memberi suaka dan jaminan maka 27 keamanan kepada mereka bila mereka meminta. Firman Allah: "Dan jika seorang dari kaum musyrikin minta perlindungan kepadamu,

lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah ke tempat yang aman baginya." (QS. 9: 6).
d. Hak Keadilan

Diantara hak setiap orang adalah hak mengikuti aturan syariah dan diberi putusan hukum sesuai dengan syariah (QS. 4: 79). Dalam hal ini juga hak setiap orang untuk membela diri dari tindakan tidak adil yang dia terima. Firman Allah swt: "Allah tidak menyukai ucapan yang diucapkan terusterang kecuali oleh orang yang dianiaya." (QS. 4: 148). Merupakan hak setiap orang untuk meminta perlindungan kepada penguasa yang sah yang dapat memberikan perlindungan dan membelanya dari bahaya atau kesewenang-wenangan. Bagi penguasa muslim wajib menegakkan keadilan dan memberikan jaminan keamanan yang cukup. Sabda nabi saw: "Pemimpin itu sebuah tameng, berperang dibaliknya dan berlindung dengannya." (HR. Bukhari dan Muslim).
e. Hak Saling Membela dan Mendukung

Kesempurnaan iman diantaranya ditunjukkan dengan menyampaikan hak kepada pemiliknya sebaik mungkin, dan saling tolong-menolong dalam membela hak dan mencegah kedzaliman. Bahkan rasul melarang sikap mendiamkan sesama muslim, memutus hubungan relasi dan saling berpaling muka. Sabda nabi saw: "Hak muslim terhadap muslim ada lima: menjawab salam, menjenguk yang sakit, mengantar ke kubur, memenuhi undangan dan mendoakan bila bersin." (HR. Bukhari).
f. Hak Keadilan dan Persamaan

Allah mengutus rasulullah untuk melakukan perubahan sosial dengan mendeklarasikan persamaan dan keadilan bagi seluruh umat manusia (lihat QS. Al-Hadid: 25, Al-Araf: 157 dan An-Nisa: 5). Manusia seluruhnya sama di mata hukum. Sabda nabi saw: "Seandainya Fathimah anak Muhammad mencuri, pasti aku potong tangannya." (HR. Bukhari dan Muslim). http://www.angelfire.com Musyawarah Dalam Islam Musyawarah adalah suatu kelaziman fitrah manusia dan termasuk tuntuntan stabilitas suatu masyarakat. Musyawarah bukanlah tujuan pada asalnya, tetapi disyariatkan dalam agama Islam untuk mewujudkan keadilan diantara manusia, 28

dan juga untuk memilih perkara yang paling baik bagi mereka, sebagai perwujudan tujuan-tujuan syariat dan hukum-hukumnya, oleh karena itu musyawarah adalah salah satu cabang dari cabang-cabang syariat agama, mengikuti serta tunduk pada dasar-dasar syariat agama. Ayat ayat tentang musyawarah Pertama : Tentang Kewajiban Kepala Pemerintahan Untuk Bermusyawarah Artinya : Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu, kemudian apabila kamu telah membulatkan Imran : 159] Kedua : Dalam Mensifati Berbagai Kondisi Kaum Muslimin Secara Umum Yang Senantiasa mereka [Asy-Syuura : 38] Bahwasanya syariat Islam telah datang dengan menetapkan asas musyawarah ini. Allah 158]
http://almanhaj.or.id

tekad, maka bertawakal

kepada Allah.

Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepadaNya [Ali-

Bermusyawarah

Artinya : Sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara

berfirman.

Artinya : Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu [Ali-Imran :

6) WASIAT DAN HIBAH DALAM ISLAM


Wasiat Terkadang seorang mempunyai kewajiban yang wajib dia tunaikan kepada orang lain, sementara dia tidak tahu kapan dia akan meninggal. Karenanya Rasulullah shallallahu berwasiat. Pelaksanaan wasiat dianggap syah bila memenuhi syarat wasiat berikut : a. Bagi orang yang mewasiatkan harus baligh, berakal sehat dan atas kehendak sendiri b. Bagi orang yang menerima wasiat secara hukum jelas ada, orang diberi wasiat menerima (tidak menolak), dan bukan merupakan ahli waris yang berhak alaihi wasallam memerintahkan untuk menuliskan wasiat dan memberikan batasan-batasan yang harus diperhatikan oleh setiap orang yang

29

menerima warisan dari orang yang berwasiat kecuali memperoleh persetujuan yang lain. c. bagi harta atau sesuatu yang diwasiatkan tidak lebih dari sepertiga dari seluruh harta yang ditinggalkan d. dapat berpindah milik dari seseorang kepada orang lain e. jelas keberadaannya ketika wasiat diucapkan f. dapat memberi manfaat secara hakiki g. tidak bertentangan dengan hukum syara, misalnya wasiat agar membuat bangunan megah diatas kuburannya h. Sighat wasiat harus dapat dimengerti atau dipahami, baik dengan lisan maupun tulisan. Selain itu penerimaan wasiat diucapkan setelah orang yang berwasiat meninggal dunia. Dalil Dalil Tentang Wasiat Dari Abdullah bin Umar radhiallahu anhuma bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: Tidaklah seseorang mewasiatkan suatu hak untuk seorang muslim, lalu wasiatnya belum ditunaikan hingga dua malam, kecuali wasiatnya itu diwajibkan di sisinya. (HR. Al-Bukhari no. 2738 dan Muslim no. 1627) Dari Saad bin Abi Waqqash radhiallahu anhu dia berkata: Aku berkata, Wahai Rasulullah, aku mau berwasiat untuk menyerahkan seluruh hartaku (kepada putrid tunggalku, pent.). Beliau bersabda, Tidak boleh. Aku berkata, Kalau setengahnya? Beliau bersabda, Tidak boleh. Aku berkata, Kalau sepertiganya? Beliau bersabda: Ia sepertiganya dan sepertiga itu sudah banyak. Sesungguhnya jika kamu meninggalkan ahli warismu dalam keadaan kaya itu lebih baik daripada kamu meninggalkan mereka dalam keadaan miskin lalu mengemis kepada manusia dengan menengadahkan tangan-tangan mereka. (HR. Al-Bukhari no. 2742 dan Muslim no. 1628) Abu Umamah Al Bahili radhiallahu anhu berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda pada saat khutbah haji wada: Sesungguhnya Allah Taala telah memberi masing-masing orang haknya, karenanya tidak ada wasiat bagi ahli waris. (HR. Abu Daud no. 3565, At-Tirmizi no. 2120, Ibnu Majah no. 2704, dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Irwa` 30

Al-Ghalil no. 1655) Dari Aisyah radhiallahu anha bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam: Ibuku meninggal dunia secara mendadak, dan aku menduga seandainya dia sempat berbicara maka dia akan bersedekah. Apakah dia akan memperoleh pahala jika aku bersedekah untuknya (atas namanya)?. Beliau menjawab, Ya. (HR. Al-Bukhari no. 2960 dan Muslim no. 1004)
http://al-atsariyyah.com http://kitab-fiqih.blogspot.com

Hibah Hibah, huruf haa dikasrah dan baa difathah, adalah pemberian seseorang akan hartanya kepada orang lain di masa hidupnya dengan cuma-cuma, tanpa imbalan. Rukun dan Syarat Hibah a. Pemberi hibah (wahib) b. Penerima hibah (mauhub lahu) c. Barang yang dihibahkan (mauhub) d. Akad (ijab kabul)

Macam Macam Hibah a. Hibah Barang adalah memberi harta atau barang kepada pihak lain yang mencakup materi dan nilai manfaat harta atau barang tersebut yang pemberiannya tanpa ada tendensi (harapan) apapun. b. Hibah manfaat yaitu memberi harta atau barang kepada pihak lain agar dimanfaatkan harta atau barang yang dihibahkan itu, namun materi harta atau barang itu tetap menjadi milik pemberi hibah. Hibah manfaat terdiri dari hibah berwaktu (hibah muajjalah) dan hibah seumur hidup (al-amri) Mencabut Hibah Hibah yang dicabut, di antaranya sebagai berikut. a. Hibah orang tua (bapak) terhadap anaknya, karena bapak melihat bahwa mencabut hibahnya itu demi menjaga kemaslahatan anaknya. b. Dirasakan ada unsur ketidakadilan di antara anak-anak yang menerima hibah c. Apabial dengan adanya hibah itu ada kemungkinan menimbulkan iri hati dan fitnah dari pihak lain. 31

Beberapa Masalah Mengenai Hibah a. Pemberian Orang Sakit yang Hampir Meninggal Hukumnya adalah seperti wasiat, yaitu penerima harus bukan ahli warisnya dan dan jumlahnya tidak lebih dari sepertiga harta. Jika penerima itu ahli waris maka hibah itu tidak sah. Jika hibah itu lebih dari sepertiga harta maka yang dapat diberikan kepada penerima hibah (harus bukan ahli waris) hanya sepertiga harta. b. Penguasaan Orang Tua atas Hibah Anaknya Jumhur ulama berpendapat bahwa seorang bapak boleh menguasai barang yang dihibahkan kepada anaknya yang masih kacil dan berada dalam perwakilannya atau kepada anak yang sudah dewasa, tetapi lemah akalnya. Pendapat ini di dasarkan pada kebolehan meminta kembali hibah seseorang kepada anaknya. c. Dorongan Melakukan Hibah Dari Abu Hurairah ra, dari Nabi saw, Beliau bersabda, Wahai para wanita muslim, janganlah sekali-kali seorang tetangga perempuan merasa hina memberikan kepada tetangganya yang perempuan, walaupun sekedar ujung kuku kambing. (Muttafaqun alaih: Fathul Bari V: 197 no: 2566 dan Muslim II: 714 no: 1030). Juga darinya (Abu Hurairah ra), bahwa Nabi saw bersabda, Saling memberi hadiahlah di antara kalian, niscaya kalian akan saling mencintai. (Hasan: Shahibul Jamius Shaghir no: 3004 dan Irwa-ul Ghalil 1601, Baihaqi VI: 169). d. Menerima Hibah (Pemberian) Yang Sedikit Dari Abu Hurairah ra dari Nabi saw, Beliau bersabda, Kalau aku diundang untuk menghadiri jamuan satu lengan (kambing), niscaya kuterima. (Shahih: Shahihul Jami no: 5268 dan Fathul Bari V: 199 no: 2568). e. Hadiah Yang Tidak Boleh Ditolak Dari Azrah bin Tsabit al-Anshari, ia berkata, Saya pernah datang menemui Tsumamah bin Abdullah, lalu ia memberi minyak wangi kepadaku. Ia berkata, Adalah Anas ra tidak pernah menolak (hadiah) minyak wangi dan dari Anas bahwa Nabi saw tidak pernah menolak (hadiah) minyak wangi. (Shahih: Shahihul Tirmidzi no: 2240, Fathul Bari V: 209 no: 2582 dan Tirmidzi IV: 195 no: 2941).

32

Dari Ibnu Umar ra bahwa Rasulullah saw bersabda, Ada tiga hal yang pemberiannya tidak boleh ditolak: (pertama) sandaran (bantal), (kedua) minyak wangi, dan (ketiga) susu. (Hasan: Shahih Tirmidzi no: 2241, dan Tirmidzi IV: 199 no: 2942). f. Membalas Hibah Dari Aisyah ra, ia berkata, Rasulullah saw menerima hadiah dan biasa membalasnya. (Shahih: Fathul Bari V: 210 no: 2585, Aunul Mabud IX: 451 no: 3519 dan Tirmidzi III: 227 no: 2019). g. Orang Yang Paling Utama Menerima Hadiah Dari Aisyah ra, ia berkata: Saya pernah bertanya, Ya Rasulullah, sesungguhnya saya mempunyai dua tetangga, lalu yang manakah yang kuberikan hadiah? Jawab Beliau, Yang pintunya lebih dekat kepadamu di antara mereka berdua. (Shahih: Fathul Bari V: 219 no: 2595 dan Aunul Mabud XIV: 63 no: 5133). Dari Kuraib, mantan budak Ibnu Abbas, bahwa Maimunah binti al-Harits menginformasikan kepadanya bahwa ia (Maimunah) pernah memerdekakan seorang budak perempuan yang dihamili tuannya tanpa seizin Nabi saw. Kemudian tatkala tiba hari yang menjadi gilirannya (Maimunah bin al-Harits) maka ia berkata, Ya Rasulullah, tidaklah engkau tahu bahwa saya telah memerdekakan budak perempuanku. Rasulullah bersabda, Sesungguhnya kalau engkau berikan ia kepada paman-pamanmu, niscaya pahalamu lebih besar. (Muttafaqun alaih: Fathul Bari V: 217 no: 2592, Muslim II: 694 no: 999, Aunul Mabud V: 109 no: 1674). h. Pengharaman Sikap Mengutamakan Sebagian Anak Dalam Hal Hibah Dari Numan bin Basyir ia berkata: Ayahku pernah menshadaqahkan sebagian hartanya kepadaku. Kemudian Ibuku, Amrah binti Rawahah ra menyatakan, Aku tidak ridha (terhadap shadaqah ini) hingga engkau mempersaksikan kepada Rasulullah saw. Kemudian ayahku berangkat menemui Rasulullah saw untuk mempersaksikan shadaqah yang kuterima ini kepadanya. Maka, Rasulullah bertanya kepada ayahku: Apakah engkau lakukan hal ini terhadap seluruh anakmu? Jawabnya, Tidak. Maka Rasulullah bersabda, Bertakwalah kepada Allah dan bersikap adillah terhadap anak-anakmu. Kemudian ayahku kembali (pulang), lalu dia membatalkan shadaqah itu. Dalam riwayat yang lain, Rasulullah bersabda, Maka kalau begitu janganlah engkau menjadikan diriku sebagai saksi; karena sesungguhnya aku tidak mau menjadi saksi atas perbuatan yang sewenang-wenang. Dalam riwayat yang lain (lagi) disebutkan bahwa Beliau bertanya, Apakah kamu merasa senang apabila mereka (anakanakmu) itu sama-sama bakti kepadamu? Dijawab, Ya, tentu. Maka 33

Rasulullah bersabda, Maka kalau begitu, janganlah (kamu bersikap pilih kasih). (Muttafaqun alaih: Fathul Bari V: 211 no: 2587, Muslim III: 1241 1623, Aunul Mabud IX: 457 no: 3525). i. Tidak Halal Seseorang Mengambil Kembali Pemberiannya Dan Tidak Pula Membelinya Dari Ibnu Abbas ra bahwa Nabi saw bersabda, Bagi kita tidak ada perumpamaan yang lebih buruk (lagi) daripada orang yang mengambil kembali pemberiannya, seperti anjing yang menelan kembali muntahnya. (Muttafaqun alaih: Fathul Bari V: 234 no: 2622 dan ini lafadz bagi Imam Bukhari, Muslim III: 1240 no: 1622, Aunul Mabud IX: 454 no: 3521, Tirmidzi II: 383 no: 1316 dan Nasai VI: 265). Dari Zaid bin Aslam dari bapaknya, ia bercerita: Saya pernah mendengar Umar bin Khattab ra berkata, Saya pernah membelikan (seseorang) perbekalan untuk jihad di jalan Allah yang diletakkan di atas punggung kuda, lalu perbekalan tersebut dihilangkan kemudian saya bermaksud hendak membelinya darinya, dan saya menduga ia akan menjualnya dengan harga murah. Kemudian kutanyakan hal itu kepada Nabi saw, maka Rasulullah menjawab, Janganlah engkau beli barang itu, walaupun ia memberi kepadamu dengan (harga) satu dirham, maka sesungguhnya orang yang menarik kembali shadaqahnya laksana anjing menelan muntahnya. (Muttafaqun alaih: Fathul Bari III: 353 no: 1490, Muslim III: 1239 no: 1620, Nasai V: 108, Tirmidzi meriwayatkan secara ringkas II: 89 no: 663 dan Aunul Mabud IV: 483 no: 1578). Pengecualian dari ketentuan di atas adalah pemberian seorang ayah yang memberi kepada anaknya. Dari Ibnu Umar dan Ibnu Abbas ra, keduanya mengatakan hadits ini dari Nabi saw, Beliau bersabda, Tidak halal bagi seorang laki-laki yang memberi sesuatu kemudian memintanya kembali, melainkan seorang ayah menarik kembali pemberian yang ia berikan kepada anaknya. (Shahih: Shahihul Jamius Shaghir no: 7655, Aunul Mabud IX: 455 no: 3522, Tirmidzi II: 383 no: 1316, Nasai VI: 265 dan Ibnu Majah II: 795 no: 2377). Jika pihak diberi hadiah mengembalikannya, maka tidak mengapa pihak pemberi hadiah mengambilnya kembali. Dari Aisyah ra, bahwa Nabi saw pernah shalat pada sehelai kain yang bergaris-garis, lalu sekejap Beliau melihat pada garis-garisnya. Tatkala usai shalat, Beliau bersabda, Bawalah kain ini kepada Abi Jahm dan datangkanlah untukku kain tebal yang polos dari Abi Jahm; karena sesungguhnya ia tadi (sempat) membuatku lalai dari shalatku. (Muttafaqun 34

alaih: Fathul Bari I: 482 no: 373, Muslim I: 391 no: 556, Aunul Mabud III: 182 no: 901 dan Nasai II: 72). Dari Shab bin Jatsamah al-Laitsi -ia adalah salah seorang sahabat Nabi saw-, bahwa ia pernah memberi hadiah kepada Rasulullah saw berupa keledai liar di daerah Abwaa -atau di Waddan-. Kala itu Beliau sedang berihram, lalu Beliau menolaknya. Shab berkata, Ketika Beliau melihat (rasa kesal) di wajahku karena Beliau mengembalikan hadiahku kepadaku, maka Beliau bersabda, Kami benar-benar tidak layak menolak hadiahmu, namun kami dalam keadaan berihram. (Muttafaqun alaih: Fathul Bari IV: 31 no: 1825, Muslim II: 850 no: 1193, Tirmidzi II: 170 no: 851, Ibnu Majah II: 1032 no: 3090 dan Nasai V: 183). Hikmah Hibah Adapaun hikmah dari perbuatan hibah adalah : a. menumbuhkan rasa kasih sayang di antara sesame b. menumbuhkan sikap saling tolong-menolong c. dapat mempererat tali silahturahmi d. menghindarkan diri dari berbagai malapetaka.
http://alislamu.com www.pondokg$ul.blogspot.com

7)JUAL BELI DAN HUTANG PIUTANG DALAM ISLAM


Jual Beli Jual beli adalah suatu kegiatan tukar menukar barang dengan barang lain dengan tata cara tertentu. Termasuk dalam hal ini adalah jasa dan juga penggunaan alat tukar seperti uang. Rukun Jual Beli a. Ada penjual dan pembeli yang keduanya harus berakal sehat, atas kemauan sendiri, dewasa/baligh dan tidak mubadzir alias tidak sedang boros. b. Ada barang atau jasa yang diperjualbelikan dan barang penukar seperti uang, dinar emas, dirham perak, barang atau jasa. Untuk barang yang tidak terlihat karena mungkin di tempat lain namanya salam. c. Ada ijab qabul yaitu adalah ucapan transaksi antara yang menjual dan yang membeli (penjual dan pembeli). Hal-Hal Terlarang / Larangan Dalam Jual Beli 35

a. Membeli barang di atas harga pasaran b. Membeli barang yang sudah dibeli atau dipesan orang lain. c. Memjual atau membeli barang dengan cara mengecoh/menipu (bohong). d. Menimbun barang yang dijual agar harga naik karena dibutuhkan masyarakat. e. Menghambat orang lain mengetahui harga pasar agar membeli barangnya.

f. Menyakiti penjual atau pembeli untuk melakukan transaksi.


g. Menyembunyikan cacat barang kepada pembeli. h. Menjual barang dengan cara kredit dengan imbalan bunga yang ditetapkan. i. Menjual atau membeli barang haram. j. Jual beli tujuan buruk seperti untuk merusak ketentraman umum, menyempitkan gerakan pasar, mencelakai para pesaing, dan lain-lain. Hukum-Hukum Jual Beli a. Haram Jual beli haram hukumnya jika tidak memenuhi syarat/rukun jual beli atau melakukan larangan jual beli. b. Mubah Jual beli secara umum hukumnya adalah mubah. c. Wajib Jual beli menjadi wajib hukumnya tergantung situasi dan kondisi, yaitu seperti menjual harta anak yatim dalam keadaaan terpaksa. Kesempatan Meneruskan/Membatalkan Jual Beli (Khiyar) Arti definisi/pengertian Khiyar adalah kesempatan baik penjual maupun pembeli untuk memilih melanjutkan atau menghentikan jual beli. Jenis atau macam-macam khiyar yaitu : a. Khiyar majlis adalah pilihan menghantikan atau melanjutkan jual beli ketika penjual maupun pembeli masih di tempat yang sama. b. Khiyar syarat adalah syarat tertentu untuk melanjutkan jual beli seperti pembeli mensyaratkan garansi. c. Khiyar aibi adalah pembeli boleh membatalkan transaksi yang telah disepakati jika terdapat cacat pada barang yang dibeli. Jual Beli Barang Tidak Terlihat (Salam) Arti definisi/pengertian Salam adalah penjual menjual sesuatu yang tidal terlihat / tidak di tempat, hanya ditentukan dengan sifat danbarang dalam tanggungan penjual. 36

Rukun Salam sama seperti jual beli pada umumnya. 1. Pembayaran dilakukan di muka pada majelis akad. 2. Penjual hutang barang pada si pembeli sesuai dengan kesepakatan. 3. Brang yang disalam jelas spesifikasinya baik bentuk, takaran, jumlah, dan sebagainya. http://organisasi.org Hutang Piutang Hutang piutang (Arab, ) adalah suatu transaksi di mana seseorang meminjam harta benda kepada orang lain dengan janji akan dikembalikan pada waktu yang telah ditentukan. Hutang termasuk muamalah (transaksi) antara manusia yang cukup mendapat perhatian dalam Islam karena ada unsur ekonomi dan hak individu yang dalam Islam sangat dihormati

Pengertian hutang adalah memberikan sesuatu--yang memiliki nilai-- yang menjadi hak milik pemberi pinjaman kepada peminjam dengan pengembalian di kemudian hari sesuai perjanjian dengan jumlah yang sama. Contoh, A meminjam emas 10 gram pada B. Maka B wajib mengembalikan utang tersebut pada A sebanyak 10 gram emas atau uang senilai itu pada waktu yang telah ditentukan. Dalil Seputar Hutang Piutang a. Quran Surat Al-Baqarah 2:282

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah mengajarkannya, meka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berhutang itu mengimlakkan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikitpun daripada hutangnya. Jika yang berhutang itu orang yang lemah akalnya atau 37

lemah (keadaannya) atau dia sendiri tidak mampu mengimlakkan, maka hendaklah walinya mengimlakkan dengan jujur. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (di antaramu). Jika tak ada dua oang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa maka yang seorang mengingatkannya. Janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil; dan janganlah kamu jemu menulis hutang itu, baik kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya. Yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah dan lebih menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu. (Tulislah muamalahmu itu), kecuali jika mu amalah itu perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, maka tidak ada dosa bagi kamu, (jika) kamu tidak menulisnya. Dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli; dan janganlah penulis dan saksi saling sulit menyulitkan. Jika kamu lakukan (yang demikian), maka sesungguhnya hal itu adalah suatu kefasikan pada dirimu. Dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. b. Hadits riwayat Ahmad dan Tirmidzi Artinya: Nasib seorang mukmin tergantung pada hutangnya sampai ia melunasinya. c. Hadits riwayat Muslim Artinya: Mati di jalan Allah (mati syahid) menebus segala sesuatu kecuali hutang. d. Hadits riwayat Bukhari Artinya: Aku adalah paling utamanya orang beriman. Barang siapa yang mati dan punya hutang maka wajib melunasi. Barangsiapa yang meninggalkan harta maka hutang itu dikenakan pada ahli warisnya. Wajib Membayar Hutang Dari dalil Quran dan hadis seputar hutang di atas, jelaslah bahwa membayar atau melunasi hutang wajib hukumnya. Bahkan setelah yang punya hutang mati tetap wajib membayar hutang dan kewajiban itu menjadi kewajiban ahli warisnya. Keutamaan (Fadhilah) Memberi Hutang a. Hadits riwayat Muslim 38

Artinya: Barangsiapa meringankan sebuah kesusahan (kesedihan) seorang mukmin di dunia, Allah akan meringankan kesusahannya pada hari kiamat. Barangsiapa memudahkan urusan seseorang yang dalam keadaan sulit, Allah akan memberinya kemudahan di dunia dan akhirat. Barangsiapa menutup aib seseorang, Allah pun akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat. Allah akan senantiasa saudaranya. Sabar Dalam Menagih Hutang Orang yang menghutangi hendaknya berhati-hati dalam memberi pinjaman agar tidak kecewa di kemudian hari. Pertama, harus dilihat dulu rekam jejak (track record) orang yang hendak berhutang. Kedua, lakukan transaksi hutang piutang secara tertulis seperti perintah dalam QS Al-Baqarah 2:282. Apabila dua hal di atas sudah dipenuhi dan ternyata yang berhutang tidak melunasi hutang sesuai janjinya, maka penghutang hendaknya bersabar dan memberi perpanjangan masa pembayaran hutang. a. Berdasarkan QS Al-Baqarah 2:280 Artinya:Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. b. Hadits Riwayat Muslim Artinya: Barangsiapa memberi tenggang waktu bagi orang yang berada dalam kesulitan untuk melunasi hutang atau bahkan membebaskan utangnya, maka dia akan mendapat naungan Allah. c. Hadits Riwayat Bukhari Artinya: Dulu ada seorang pedagang biasa memberikan pinjaman kepada orang-orang. Ketika melihat ada yang kesulitan, dia berkata pada budaknya: Maafkanlah dia (artinya bebaskan utangnya). Semoga Allah memberi ampunan pada kita. Semoga Allah pun memberi ampunan padanya. Hutang Untuk Keperluan Mendesak (Darurat) 39 menolong hamba-Nya, selama hamba tersebtu menolong

Walaupun berhutang itu boleh (mubah), namun hendaknya dilakukan untuk kebutuhan yang penting dan mendesak karena ada bahaya apabila tidak mampu membayar hutang. Jangan hutang untuk kebutuhan konsumtif seperti memperbarui mobil atau mengganti perabot rumah yang masih cukup baik, dll. Nabi memerintahkan agar kita hidup penuh syukur dengan cara melihat ke bawah bukan ke atas: Artinya: Lihatlah kepada orang yang lebih rendah darimu (taraf ekonominya). Jangan melihat orang yang lebih tinggi darimu. Hal itu lebih baik agar kamu tidak melupakan nikmat (anugerah) Allah padamu. http://www.alkhoirot.net Keutamaan Pedagang yang Menghutangkan Dagangannya. Islam memuji pedagang yang menjual barang kepada pembeli yang tidak mampu membayar tunai, lalu memberi tempo, membolehkan pembelinya berhutang. Islam menjanjikan pedagang itu berpotensi masuk surga, sebagaimana hadits Rasulullah saw: Bahwasanya ada seseorang yang meninggal dunia lalu dia masuk surga, dan ditanyakanlah kepadanya, amal apakah yang dahulu kamu kerjakan? Ia menjawab, Sesungguhnya dahulu saya berjualan. Saya memberi tempo (piutang) kepada orang yang dalam kesulitan, dan saya memaafkan terhadap mata uang atau uang. (HR. Muslim) Menurut ulama pensyarah hadits, kata-kata memaafkan terhadap mata uang atau uang di situ adalah, bahwa yang bersangkutan memberikan kemurahan kepada pengutang dalam membayar hutangnya. Bila terdapat sedikit kekurangan pembayaran dari yang semestinya, kekurangan itu di abaikan dengan hati lapang.

Keutamaan Bagi Pemberi Pinjaman Siapa yang memberi pinjaman atas kesusahan orang lain, maka dia ditempatkan di bawah naungan singgasana Allah pada hari kiamat. (HR. Thabrani, Ibnu Majah, Baihaqi)

40

Siapa meminjamkan (harta) kepada orang lain, maka pahala shadaqah akan terus mengalir kepadanya setiap hari dengan jumlah sebanyak yang dipinjamkan, sampai pinjaman tersebut dikembalikan. (HR. Muslim, Ahmad, Ibnu Majah). "Dua kali memberikan pinjaman, sama derajatnya dengan sekali memberi shadaqah." (HR. Bukhari, Muslim, Thabrani, Baihaqi). Siapa yang ingin diselamatkan oleh Allah dari kesulitan-kesulitan hari kiamat, maka hendaklah ia mempermudah urusan seseorang atau hendaklah ia membebaskan hutangnya. (HR. Muslim) Hutang dapat Membahayakan Akhlaq Sebaliknya, Islam menyuruh pembeli menghindari hutang semaksimal mungkin jika ia mampu membeli dengan tunai. Karena hutang, menurut sabda Rasulullah SAW, " Berhati-hatilah kamu dalam berhutang, sesungguhya hutang itu mendatangkan kerisauan di malam hari dan kehinaan di siang hari." (HR. AlBaihaqi). Hutang juga dapat membahayakan akhlaq seseorang, sabda Rasulullah, Sesungguhnya seseorang apabila berhutang, maka dia sering berkata lantas berdusta, dan berjanji lantas memungkiri. (HR. Bukhari). Ancaman bagi Peminjam yang Lalai Ruh seorang mukmin yang meninggal dunia akan terus menggantung selama hutangnnya belum dilunasi. ( HR.Turmudzi ). Bila ada orang yang masuk surga karena piutang, kelak akan ada juga orang yang kehabisan amal baik dan akan masuk neraka karena lalai membayar hutang. Sabda Rasulullah SAW: Barangsiapa (yang berhutang) di dalam hatinya tidak ada niat untuk membayar hutangnya, maka pahala kebaikannya akan dialihkan kepada yang memberi piutang. Jika masih belum terpenuhi, maka dosa-dosa yang memberi piutang akan dialihkan kepada orang yang berhutang. (HR. Baihaqi, Thabrani, Hakim). Rasulullah pernah menolak menshalatkan jenazah seseorang yang diketahui masih meninggalkan hutang dan tidak meninggalkan harta untuk membayarnya. Sabda Rasulullah, Akan diampuni orang yang mati syahid semua dosanya, kecuali hutangnya. (HR. Muslim). Adab Hutang Piutang dalam Islam a. Hutang piutang ditujukan untuk kebaikan. 41

b. Agama Islam membolehkan adanya hutang-piutang, untuk tujuan kebaikan. Tidak dibenarkan meminjam atau memberi pinjaman untuk keperluan maksiat. (HR. Bukhari, Muslim, Ibnu Majah, Hakim) c. Pentingnya Bukti Tertulis dalam Hutang Piutang Firman Allah SWT "Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu'amalah (jual-beli, hutang piutang, sewa menyewa) tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dan dengan orang benar. yang Dan janganlah itu penulis enggan ia / menuliskannya menulis, sebagaimana hendaklah Allah mengajarkannya, berhutang maka hendaklah

mengimlakkan

membacakan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikitpun daripada hutangnya. Jika yang berhutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau dia sendiri tidak mampu mengimlakkan, maka hendaklah walinya mengimlakkan dengan jujur " (Al-Baqarah:282) d. Hadirkan Saksi "..Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (di antaramu). Jika tak ada dua oang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa maka yang seorang mengingatkannya. Janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil; dan janganlah kamu jemu menulis hutang itu, baik kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya. Yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah dan lebih menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu. (Tulislah mu'amalahmu itu), kecuali jika mu'amalah itu perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, maka tidak ada dosa bagi kamu, (jika) kamu tidak menulisnya. Dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli" (Al-Baqarah:282) e. Jangan Saling Menyulitkan Islam melarang kita saling menyulitkan muamalah hutang piutang atau pun berbuat kecurangan "dan janganlah penulis dan saksi saling sulit menyulitkan. Jika kamu lakukan (yang demikian), maka sesungguhnya hal itu adalah suatu kefasikan pada dirimu. Dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (Al-Baqarah:282) f. Pengembalian Hutang Tidak Boleh Diakadkan Lebih dari Dana Pinjaman. Pembayaran hutang tidak boleh melebihi jumlah pinjaman. Selisih pembayaran dari pinjaman dan pengembalian adalah riba. Jika pinjam uang sejuta, 42

kembalinya pun sejuta, tidak boleh lebih. Apabila si peminjam melebihkan uang pengembalian (tanpa perjanjian sebelumnya atau paksaan) maka kelebihannya itu menjadi hadiah sebagaimana sabda Rasulullah SAW, " Boleh ada kelebihan pembayaran, berubah menjadi hadiah, asal tidak diakadkan sebelumnya." (HR. Bukhari, Muslim, Abdur Razak). Selain itu, kita pun dilarang memberikan syarat macam-macam kepada peminjam, "Jangan ada syarat lain dalam utang-piutang kecuali (waktu) pembayarannya." (HR. Ahmad, Nasai). g. Pemberi Pinjaman Dibolehkan Untuk Meminta Jaminan " Jika kamu dalam perjalanan (dan bermu'amalah tidak secara tunai) sedang kamu tidak memperoleh seorang penulis, maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang). Akan tetapi jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya (hutangnya) dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya; dan janganlah kamu (para saksi) menyembunyikan persaksian. Dan barangsiapa yang menyembunyikannya, maka sesungguhnya ia adalah orang yang berdosa hatinya; dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (Al-Baqarah:283)

h. Sebaiknya memberi tempo pembayaran kepada yang meminjam agar ada


kemudahan untuk membayar. (HR. Muslim, Ahmad). "Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan.." (Al-Baqarah:280) i. Jangan menagih sebelum waktu pembayaran yang sudah ditentukan. (HR. Ahmad) j. Hendaknya menagih dengan sikap yang lembut penuh maaf. (HR. Bukhari, Muslim, Tirmidzi). Boleh menyuruh orang lain untuk menagih utang, tetapi terlebih dahulu diberi nasihat agar bersikap baik, lembut dan penuh pemaaf kepada orang yang akan ditagih. (HR. Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Hakim). Alloh akan memberikan kasih sayangnya kepada orang yang bermurah hati ketika menagih utang. (HR. Bukhori). k. Sebaiknya memaafkan orang yang berutang apabila ditagih belum mampu membayar karena Alloh akan memaafkan si piutang di hadapan-Nya nanti. (HR. Bukhori dan Muslim) l. Menyedekahkan hutang terhadap orang yang menemui kesulitan / kesukaran mengembalikannya, itu lebih baik. " Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui." (Al-Baqarah:280)

43

Adab bagi Peminjam a. Sebaik-baik orang adalah yang mudah dalam membayar hutang (tidak menunda-nunda). (HR. Bukhari, Nasai, Ibnu Majah, Tirmidzi). b. Yang berhutang hendaknya berniat sungguh-sungguh untuk membayar. (HR. Bukhari, Muslim) c. Menunda-nunda hutang padahal mampu adalah kezaliman. (HR. Thabrani, Abu Dawud). d. Barangsiapa menunda-nunda pembayaran hutang, padahal ia mampu membayarnya, maka bertambah satu dosa baginya setiap hari. (HR. Baihaqi). e. Bagi yang memiliki hutang dan ia belum mampu membayarnya, dianjurkan banyak-banyak berdoa kepada Allah agar dibebaskan dari utang, serta banyakbanyak membaca surat Ali Imran ayat 26. (HR. Baihaqi) f. Disunnahkan agar segera mengucapkan tahmid (Alhamdulillah) setelah dapat membayar utang. (HR Bukhari, Muslim, Nasai, Ahmad). - (Ali Athwa/SHW) Majalah Suara Hidayatullah edisi 10/XV/Dzulqadah-Dzulhijjah 1423. http://cahayailmu.info

Riba Di bidang transaksi ekonomi, Islam melarang keras praktik riba. Secara etimologis (lughawi) riba ( )adalah isim maqshur, berasal dari rabaa yarbuu. Asal arti kata riba adalah ziyadah yakni tambahan atau kelebihan. Secara terminologis (istilah) riba adalah setiap kelebihan antara nilai barang yang diberikan dengan nilai-tandingnya (nilai barang yang diterimakan). (Lihat Ibnul Arabi dalam .)

Macam-Macam Riba Dalam Islam Ada dua macam jenis riba yaitu riba al-fadhl ( ) dan riba al-nasi'ah (.) Riba al-Fadhl disebut juga dengan riba jual beli adalah penambahan dalam jualbeli barang yang sejenis. Riba ini terjadi apabila seseorang menjual sesuatu dengan sejenisnya dengan tambahan, seperti menjual emas dengan emas, mata uang dirham dengan dirham, gandum dengan gandum dan seterusnya. 44

hadits riwayat Bukhari dan Muslim berikut: Bilal datang kepada Rasulullah SAW dengan membawa korma kualitas Barni (baik). Lalu Rasulullah SAW bertanya kepadanya, "Dari mana kurma itu ?". Ia menjawab , "Kami punya kurma yang buruk lalu kami tukar bdli dua liter dengan satu liter". Maka Rasulullah bersabda: "Masya Allah, itu juga adalah perbuatan riba. Jangan kau lakukan. Jika kamu mau membeli, juallah dahulu kurmamu itu kemudian kamu beli kurma yang kamu inginkan. Riba an-Nasi'ah disebut juga riba hutang piutang adalah kelebihan (bunga) yang dikenakan pada orang yang berhutang oleh yang menghutangi pada awal transaksi atau karena penundaan pembayaran hutang. Riba nasi'ah ada dua jenis sebagai berikut:

1. A meminjamkan/menghutangkan uang atau benda berharga lain pada B.


Bentuknya ada dua: (a) A menetapkan tambahan (bunga) pada awal transaksi. (b) A tidak menetapkan bunga di awal transaksi, akan tetap saat B tidak mampu melunasi hutang pada saat yang ditentukan, maka A membolehkan pembayaran ditunda asal dengan bunga. 2. A membeli emas atau perak pada B dengan menunda penerimaannya/tidak langsung saling terima.

Perbedaan khasnya, riba nasi'ah adalah jual beli barang yang sama jenisnya tapi tidak secara kontan. Sedangkan riba fadhl adalah jual beli barang dengan kelebihan atau hutang piutang dengan bunga. Ulama sepakat atas keharaman riba nasi'ah. Sementara terjadi ikhtilaf (beda pendapat) atas keharaman riba fadhl, tapi mayoritas mengharamkannya. Hukum Riba Dalam Islam Hukum riba adalah haram dan termasuk dari dosa besar karena akan menyebabkan kesengsaraan kaum dhuafa, menzalimi orang miskin, eksploitasi si kaya pada si miskin, menutup pintu sedekah dan kebajikan serta membunuh rasa empati antar manusia yang berbeda strata sosial ekonominya. Dalil Haramnya Riba a. Al-Baqarah 2:278 45

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. b. Al-Baqarah 2:279 Artinya: Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya. c. Hadits sahih riwayat Muslim: Artinya: Nabi Muhammad Rasulullah melaknat pemakan, wakil, penulis dan dua saksi transaksi riba. d. Hadits sahih riwayat Bukhari dan Muslim (mutafaq alaih): Artinya: Jauhilah tujuh dosa besar. Apa itu ya Rasulullah. Nabi menjawab: syirik, sihir, membunuh, memakan riba, makan harta anak yatim, lari saat perang, menuduh zina pada perempuan muslimah bersuami. Pendapat Yang Mengharamkan Bank Konvensional Jumhur (mayoritas) ulama mengharamkan bank konvensional karena adanya praktek bunga bank yang secara prinsip sama persis dengan riba. Baik itu bunga pinjaman, bunga tabungan atau bunga deposito. Praktik Perbankan Yang Diharamkan Praktik perbankan konvensional yang haram adalah a. menerima tabungan dengan imbalan bunga, yang kemudian dipakai untuk dana kredit perbankan dengan bunga berlipat.

b. memberikan kredit dengan bunga yang ditentukan


c. segala praktik hutang piutang yang mensyaratkan bunga.

d. Bagi ulama yang mengharamkan sistem perbankan nasional, bunga bank


adalah riba. Dan karena itu haram. Praktik Bank Konvensional Yang Halal Namun demikian, pendapat yang mengharamkan tidak menafikan adanya sejumlah layanan perbankan yang halal seperti: a. layanan transfer uang dari satu tempat ke tempat lain dengan ongkos pengiriman; b. menerbitkan kartu ATM; c. menyewakan lemari besi; d. mempermudah hubungan antarnegara. 46

Ulama Dan Lembaga Yang Mengharamkan Bank Konvensional a. Pertemuan 150 Ulama terkemuka dalam konferensi Penelitian Islam di bulan Muharram 1385 H, atau Mei 1965 di Kairo, Mesir menyepakati secara aklamasi bahwa segala keuntungan atas berbagai macam pinjaman semua merupakan praktek riba yang diharamkan termasuk bunga bank. b. Majmaal Fiqh al-Islamy, Negara-negara OKI yang diselenggarakan di Jeddah pada tanggal 10-16 Rabiul Awal 1406 H/22 Desember 1985; c. Majma Fiqh Rabithah alAlam al-Islamy, Keputusan 6 Sidang IX yang diselenggarakan di Makkah, 12-19 Rajab 1406 d. Keputusan Dar It-Itfa, Kerajaan Saudi Arabia, 1979; e. Keputusan Supreme Shariah Court, Pakistan, 22 Desember 1999; f. Majmaul Buhuts al-Islamyyah, di Al-Azhar, Mesir, 1965. g. Fatwa Dewan Syariah Nasional (DSN) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Tahun 2000 yang menyatakan bahwa bunga bank tidak sesuai dengan syariah. h. Keputusan Sidang Lajnah Tarjih Muhammadiyah tahun 1968 di Sidoarjo menyatakan bahwa sistem perbankan konvensional tidak sesuai dengan kaidah Islam. i. Keputusan Munas Alim Ulama dan Konbes NU tahun 1992 di Bandar Lampung. j. Keputusan Ijtima Ulama Komisi Fatwa se-Indonesia tentang Fatwa Bunga (interest/faidah), tanggal 22 Syawal 1424/16 Desember 2003. k. Keputusan Rapat Komisi Fatwa MUI, tanggal 11 Dzulqaidah 1424/03 Januari 2004, 28 Dzulqaidah 1424/17 Januari 2004, dan 05 Dzulhijah 1424/24 Januari 2004. Pendapat Halalnya Bank Konvensional Beberapa alasan para ulama ahli fiqih yang menghalalkan bank konvensional adalah

a. bunga bank bukanlah riba yang dilarang seperti yang disebut dalam Quran dan
hadits

b. riba adalah bunga yang berlipat ganda; sedang bunga pinjaman bank tidaklah
demikian.

Ulama Dan Lembaga Yang Menghalalkan Bank Konvensional

a. Syekh Al-Azhar Sayyid Muhammad Thanthawi menilai bunga bank bukan riba
dan halal. 47

b. Ibrahim Abdullah an-Nashir. dalam buku Sikap Syariah Islam terhadap


Perbankan

c. Keputusan

Majma

al-Buhust

al-Islamiyah

2002

membahas

soal

bank

konvensional.

d. A.Hasan Bangil, tokoh Persatuan Islam (PERSIS), secara tegas menyatakan


bunga bank itu halal.

e. Dr.Alwi Shihab dalam wawancaranya dengan Metro TV berpendapat bunga bank


bukanlah riba dan karena itu halal. Alsan Ulama Dan Lembaga Yang Menghalalkan Bank Konvensional

a. Menurut Sayyid Muhammad Thanthawi bank konvensional/deposito itu halal


dalam berbagai bentuknya walau dengan penentuan bunga terlebih dahulu. Menurutnya, di samping penentuan tersebut menghalangi adanya perselisihan atau penipuan di kemudian hari, juga karena penetuan bunga dilakukan setelah perhitungan yang teliti, dan terlaksana antara nasabah dengan bank atas dasar kerelaan mereka.

b. Dr. Ibrahim Abdullah an-Nashir mengatakan, Perkataan yang benar bahwa


tidak mungkin ada dan kekuatan tidak ada Islam tanpa ditopang dengan tanpa kekuatan ditopang perekonomian, kekuatan perekonomian

perbankan, sedangkan tidak ada perbankan tanpa riba. Ia juga mengatakan, Sistem ekonomi perbankan ini memiliki perbedaan yang jelas dengan amalamal ribawi yang dilarang Al-Quran yang Mulia. Karena bunga bank adalah muamalah baru, yang hukumnya tidak tunduk terhadap nash-nash yang pasti yang terdapat dalam Al-Quran tentang pengharaman riba.

c. Isi keputusan Majma al-Buhust al-Islamiyah 2002:


"Mereka mereka yang dalam bertransaksi dengan atau bank-bank konvensional kegiatan dan yang menyerahkan harta dan tabungan mereka kepada bank agar menjadi wakil menginvestasikannya dalam berbagai dibenarkan, dengan imbalan keuntungan yang diberikan kepada mereka serta ditetapkan terlebih dahulu pada waktu-waktu yang disepakati bersama orangorang yang bertransaksi dengannya atas harta-harta itu, maka transaksi dalam bentuk ini adalah halal tanpa syubhat (kesamaran), karena tidak ada teks keagamaan di dalam Alquran atau dari Sunnah Nabi yang melarang transaksi di mana ditetapkan keuntungan atau bunga terlebih dahulu, selama kedua belah pihak rela dengan bentuk transaksi tersebut."

48

Allah berfirman: "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan harta di antara kamu dengan jalan yang batil. Tetapi (hendaklah) dengan perniagaan yang berdasar kerelaan di antara kamu. (QS. an-Nisa': 29). Kesimpulannya, penetapan keuntungan terlebih dahulu bagi mereka yang menginvestasikan harta mereka melalui bank-bank atau selain bank adalah halal dan tanpa syubhat dalam transaksi itu. Ini termasuk dalam persoalan "AlMashalih Al-Mursalah", bukannya termasuk persoalan aqidah atau ibadatibadat yang tidak boleh dilakukan atas perubahan atau penggantian.

d. Kata A. Hasan Bangil bunga bank itu halal. karena tidak ada unsur lipat
gandanya. Kesimpulan Hukum Bank Konvensional Dalam Islam Mayoritas ulama (jumhur) sepakat bahwa praktik bunga yang ada di perbankan konvensional adalah sama dengan riba dan karena itu haram. Walaupun ada sejumlah layanan perbankan yang tidak mengandung unsur bunga dan karena itu halal. Namun demikian, ada sejumlah ulama yang menganggap bahwa bunga bank bukanlah riba dan karena itu halal hukumnya. Bagi seorang muslim yang taat dan berada dalam kondisi yang ideal dan berada dalam posisi yang dapat memilih, tentunya akan lebih baik kalau berusaha menjauhi praktik bank konvensional yang diharamkan. Namun, apabila terpaksa, Anda dapat memanfaatkan segala layanan bank konvensional karena ada sebagian ulama yang menghalalkannya.
http://www.alkhoirot.net

8)MAKANAN DAN MINUMAN MENURUT ISLAM


Pada prinsipnya semua makanan dan minuman yang asd di dunia ini halal semua untuk dimakan dan diminum kecuali ada larangan dari Allah yaitu yang terdapat dalam Al Quran dan yang terdapat dalam hadist Nabi Muhammad SAW. Makanan Yang Dihalalkan Allah SWT Segala jenis makanan apa saja yang ada di dunia halal untuk dimakan kecuali ada larangan dari Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW untuk dimakan. Agama Islam menganjurkan kepada pemeluknya untuk memakan makanan yang halal dan baik. Makanan halal maksudnya makanan yang diperoleh dari usaha yang diridhai Allah. Sedangkan makanan yang baik adalah yang bermanfaat bagi tubuh, atau makanan bergizi. 49

Makanan halal dari segi jenis ada tiga :

a. Berupa hewan yang ada di darat maupun


kambing, sapi, burung, ikan.

di laut, seperti kelinci, ayam,

b. Berupa nabati (tumbuhan) seperti padi, buah-buahan, sayur-sayuran dan lainlain.

c. Berupa hasil bumi yang lain seperti garam semua.


Makanan yang halal dari usaha yang diperolehnya, yaitu :

a. Halal makanan dari hasil bekerja yang diperoleh dari usaha yang lain seperti
bekerja sebagai buruh, petani, pegawai, tukang, sopir, dll.

b. Halal makanan dari mengemis yang diberikan secara ikhlas, namun pekerjaan
itu halal , tetapi dibenci Allah seperti pengamen.

c. Halal makanan dari hasil sedekah, zakat, infak, hadiah, tasyakuran, walimah,
warisan, wasiat, dll.

d. Halal makanan dari rampasan perang yaitu makanan yang didapat dalam
peperangan (ghoniyah). Minuman Yang Dihalalkan Segala jenis minuman apa saja yang ada di dunia ini halal untuk diminum kecuali ada larangan yang mengharamkan dari Allah dan Nabi Muhammad SAW. Minuman halal menurut jenisnya ada tiga, yaitu :

a. Halal minuman yang dihasilkan oleh hewani seperti susu sapi, madu, minyak
samin, dll.

b. Halal minuman yang dihasilkan oleh tumbuhan seperti jice wortel, juice jeruk,
juice anggur, juice tomat, juice avokad, dll. Manfaat Makanan Dan Minuman Dihalalkan Diantara beberapa manfaat menggunakan makanan dan minuman halal, yaitu :

a. Membawa ketenangan hidup dalam kegiatan sehari-hari, b. dapat menjaga kesehatan jasmani dan rohani, c. Mendapat perlindungan dari Allah SWT, d. Mendapatkan iman dan ketaqwaan kepada Allah SWT, e. Tercermin kepribadian yang jujur dalam hidupnya dan sikap apa adanya, f. Rezeki yang diperolehnya membawa barokah dunia akhirat.
Pengertian Makanan dan Minuman Haram 50

Banyak terjadi salah sangka dari masyarakat bahwa menjari rezeki yang haram saja sulit, apalagi yang halal. Hal itu malah memicu banyak kesalahapahaman tentang sebagai halal orang dan haram suatu rezeki. Akhirnya, hal banyak itu masyarakat banyak menghalalkan segala cara untuk mencari rezeki, padahal belum tentu halal. Kita bertaqwa hendaknya menghindari dengan mempelajari Al Quran dan Hadist tentang pengertian halal dan haram. Makanan Yang Diharamkan Makanan yang diharamkan agama, yaitu makanan dan minuman yang diharamkan di dalam Al Quran dan Al Hadist, bila tidak terdapat petunjuk yang melarang, berarti halal. Haramnya makanan secara garis besar dapat dibagi dua macam :

a. Haram aini, ditinjau dari sifat benda seperti daging babi, darang, dan bangkai.
Haram karena sifat tersebut, ada tiga :

Berupa hewani yaitu haramnya suatu makanan yang berasal dari hewan

seperti daging babi, anjing, ulat, buaya, darah hewan itu, nanah dll. Berupa nabati (tumbuhan), yaitu haramnya suatu makanan yang berasal

dari tumbuhan seperti kecubung, ganja, buah, serta daun beracun. Minuman buah aren, candu, morfin, air tape yang telah bertuak berasalkan ubi, anggur yang menjadi tuak dan jenis lainnya yang dimakan banyak kerugiannya.

Benda yang berasal dari perut bumi, apabila dimakan orang tersebut,

akan mati atau membahayakan dirinya, seperti timah, gas bumi. Solar, bensin, minyak tanah, dan lainnya.

b. Haram sababi, ditinjau dari hasil usaha yang tidak dihalalkan olah agama. Haram sababi banyak macamnya, yaitu : Makanan haram yang diperoleh dari usaha dengan cara dhalim, Makanan haram yang diperoleh dari hasil judi, undian harapan, Hasil haram karena menjual makanan dan minuman haram seperti Hasil haram karena telah membungakan dengan riba, yaitu Hasil memakan harta anak yatim dengan boros / tidak benar.
51

seperti mencuri, korupsi, menipu, merampok, dll. taruhan, menang togel, dll. daging babi, , miras, kemudian dibelikan makanan dan minuman. menggandakan uang.

Minuman Yang Diharamkan

Pada prinsipnya segala minuman apa saja halal untuk diminum selama tidak ada ayat Al Quran dan Hadist yang mengharamkannya. Bila haram, dan dilakukan, maka niscaya tidak barokah, namun masih dikonsumsi

malah membuat penyakit di badan. Minuman yang haram secara garis besar, yakni : a. Berupa hewani yang haramnya suatu minuman dari hewan, seperti darah sapi, darah kerbau, bahkan darah untuk obat seperti darah ular, darah anjing, dan lain-lain. b. Berupa nabati atau tumbuhan seperti tuak dari buah aren, candu, morfin, air tape bertuak dari bahan ubi, anggur telah bertuak, dan lain sebagainya. c. Berupa berasal dari perut bumi yaitu : haram diminum sepeti solar, bensin, spiritus, dan lainnya yang membahayakan.
Mudlarat Makanan dan Minuman Haram

Ada beberapa mudlarat lainnya, yaitu : a. Doa yang dilakukan oleh pengkonsumsi makanan dan minuman haram, tidak mustajabah (maqbul). b. Uangnya banyak, namun tidak barokah, diakibatkan karena syetan mengarahkannya kepada kemaksiatan dengan uang itu. c. Rezeki yang haram tidak barokah dan hidupnnya tidak tenang. d. Nama baik, kepercaan, dan martabatnya jatuh bila ketahuan. e. Berdosa, karena telaha malanggar aturan Allah f. Merusak secara jasmani dan rohani kita.
http://firmanazka.blogspot.com

9)EKONOMI ISLAM
Pengertian Ekonomi Islam Ekonomi Islam merupakan ilmu yang mempelajari perilaku ekonomi manusia yang perilakunya diatur berdasarkan aturan agama Islam dan didasari dengan tauhid sebagaimana dirangkum dalam rukun iman dan rukun Islam. Tujuan Ekonomi Islam 52

Prof.Muhammad Abu Zahrah mengatakan ada tiga sasaran hukum Islam yang menunjukan bahwa Islam diturunkan sebagai rahmat bagi seluruh umat manusia, yaitu: a. Penyucian jiwa agar setiap muslim bisa menjadi sumber kebaikan bagi masyarakat dan lingkungannya. b. Tegaknya keadilan dalam masyarakat. Keadilan yang dimaksud mencakup aspek kehidupan di bidang hukum dan muamalah. c. Tercapainya maslahah (merupakan puncaknya). Para ulama menyepakati bahwa maslahah yang menjad puncak sasaran di atas mencaku p lima jaminan dasar: keselamatan keyakinan agama ( al din) kesalamatan jiwa (al nafs) keselamatan akal (al aql) keselamatan keluarga dan keturunan (al nasl) keselamatan harta benda (al mal) Prinsip-Prinsip Ekonomi Islam Secara garis besar ekonomi Islam memiliki beberapa prinsip dasar: a. Berbagai sumber daya dipandang sebagai pemberian atau titipan dari Allah swt kepada manusia. b. Islam mengakui pemilikan pribadi dalam batas-batas tertentu. c. Kekuatan penggerak utama ekonomi Islam adalah kerja sama. d. Ekonomi Islam menolak terjadinya akumulasi kekayaan yang dikuasai oleh segelintir orang saja. e. Ekonomi Islam menjamin pemilikan masyarakat dan penggunaannya direncanakan untuk kepentingan banyak orang. f. Seorang mulsim harus takut kepada Allah swt dan hari penentuan di akhirat nanti. g. Zakat harus dibayarkan atas kekayaan yang telah memenuhi batas (nisab) h. Islam melarang riba dalam segala bentuk.
Sumber: Buku Saku Lembaga Bisnis Syariah yang diterbitkan oleh Pusat Komunikasi Ekonomi Syariah. http://islampeace.clubdiscussion.net

Ruang Lingkup Dan Ideologi Ekonomi Islam Terdapat kesamaan antara sistem Ekonomi Islam dengan sistem Ekonomi Konvensional, diantaranya adalah sebagai berikut : 53

a. Sama-sama memiliki anggapan yang sama bahwa Ekonomi di dalam suatu negara itu merupakan hal yang sangat penting. b. Sama-sama memiliki tujuan yang sama yaitu untuk mewujudkan masyarakat yang sejahtera.
Namun karena kedua sistem ekonomi tersebut berasal dari ideologi yang berbeda, maka terdapat perbedaan diantara keduanya. Perbedaan itu dapat dipaparkan sebagai berikut : Sistem Ekonomi Konvensional memandang manusia sebagai makhluk individu dan sebagai makhluk sosial yang dalam menjalankan kegiatan ekonomi bertujuan untuk mencari keuntungan, meskipun dalam pelaksanakannya menggunakan niat, komoditas serta cara yang salah, tetap sah asalkan tidak melanggar UndangUndang. Sedangakan Sistem Ekonomi Islam memandang manusia sebagai makhluk individu, sosial dan religius, sehingga dalam pelaksanaannya baik dalam hal niat, komoditas dan caranya harus memperhatikan kaidah-kaidah dan sesuai/ bersumber dari Al Quran dan Sunnah. Menurut Syaikh Yusuf Qordawi, ada 4 karakteristik dalam Ekonomi Islam. Antara lain :

a. Ciri Berketuhanan
Maksud dari ciri berketuhanan adalah bahwa Ekonomi Islam meyakini bahwa manusia diciptakan oleh Allah untuk menjadi khalifah dengan bekerja dan beraktivitas sesuai dengan AturanNya. Dan untuk menjalankan itu semua manusia diberi akal, qalbu, panca indera. Dan dalam pelaksanaannya manusia kelak akan dimintai pertanggungjawabannya pada yaumul hisab. Adapun ayat-ayat yang menjelaskan tentang ciri ketuhanan antara lain sebagai berikut : Allah berfirman dalam surat Al Baqarah ayat 30 : Artinya : Ingatlah ketika Rabb-mu berfirman kepada para Malaikat: Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi. Mereka berkata: Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa 54

bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau? Rabb berfirman: Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui. (QS. 2:30)

b. Ciri Kemanusiaan
Maksud dari ciri Kemanusiaan adalah bahwa Ekonomi Islam meyakini bahwa manusia diciptakan oleh Allah sebagai khalifah di bertindak sebagai subyek dan obyek. Adapun ayat-ayat yang menjelaskan tentang ciri kemanusiaan, adalah sebagai berikut: Q.S Al Baqaraah ayat 22

Artinya :
Dialah Yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui. (QS. 2:22)

c. Ciri Etika
Maksud dari ciri Etika adalah bahwa Ekonomi Islam meyakini bahwa untuk menciptakan kesejahteraan manusia mempunyai cara atau aturan yang bersumber dari Al Quran dan Hadits serta tidak boleh melanggar kedua sumber tersebut. Al Araf ayat 85. Artinya : Dan (Kami telah mengutus) kepada penduduk Mad-yan saudara mereka, Syuaib. Ia berkata: Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Ilah bagimu selain-Nya. Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Rabbmu. Maka sempurnakanlah takaran dan timbangannya, dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Allah memperbaikinya. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika betul-betul kamu orang-orang yang beriman. (QS. 7:85)

d. Ciri Sikap Pertengahan


55

Maksud dari ciri sikap pertengahan adalah bahwa dalam dalam menjalankan kegiatan ekonomi tidak boleh berlebih-lebihan dahn tidak menghendaki kekurangan. Sebagaimana yang difirmankan Allah dalam Q.S Al Qasas ayat 77. Artinya : Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenimatan) dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (QS. 28:77) Beberapa ekonom memberikan penegasan bahwa ruang lingkup dari ekonomi islam adalah masyarakt muslim dan Negara muslim itu sendiri. Ruang lingkup ekonomi islam yang tampaknya menjadi administrasi kekurangan sumber sumber daya manusia dipandang dari konsepsi etik kesejahteraan dalam islam. Oleh karena itu, ekonomi islam tidak hanya hal hal non material yang tunduk kepada larangan islam tentang konsumsi dan produksi
http://almaratusshalihah.wordpress.com http://putracenter.net/2009/01/22/definisi-ekonomi-dalam-islam-menurut-para-ahli/ http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2010/04/pengertian-ekonomi-syariah/ http://www.masbied.com/search/pengertian-dan-ruang-lingkup-ekonomi-syariah http://kjksmadani.wordpress.com/2009/01/30/pengertian-tujuan-dan-prinsip-ekonomi-islam/

Etos Kerja Muslim Nilai-nilai etos dan etika kerja seorang muslim itulah yang kemudian perlu kita bicarakan. 1. Selalu Melakukan Perhitungan dan Perencanaan. Di dalam Al-Quran, Allah Swt juga menegaskan keharusan melakukan perencanaan yang matang, Allah berfirman yang artinya: Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok, dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan (QS 59:18). 2. Menghargai Waktu.

56

Manakala perputaran waktu terabaikan dari aktivitas kerja yang shaleh, maka kerugian akan dialami seseorang, Allah berfirman yang artinya: Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orangorang yang beriman dan beramal shaleh (QS 103:1-3). 3. Selalu Ingin Yang Terbaik. Seorang muslim selalu dituntut untuk meraih yang terbaik, ilmu yang banyak harus terus diperbanyak, prestasi yang tinggi harus disempurnakan dan begitulah seterusnya. Allah berfirman yang artinya: Maka apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lain (QS 94:7). 4. Hemat. etos kerja seorang muslim membuat dia sangat efisien dan jauh dari prilaku boros, tidak hanya dalam masalah harta, tapi juga waktu, tenaga, sumber daya, fasilitas dan sebagainya, Allah berfirman: Dan janganlah kamu menghamburhamburkan hartamu secara boros, sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara syaitan dan syaitan itu sangat ingkar kepada Tuhannya (QS 17:26-27). 5. Fastabikul Khairat. Keharusan kita berlomba-lomba dalam kebajikan dikemukakan Allah dalam AlQuran yang artinya: Dan tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebajikan. Dimana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu (QS 2:148). 6. Bersikap Mandiri. Kemandirian sikap kadangkala harus dimulai dari kemandirian ekonomi, hal ini apabila seseorang kehidupan ekonomi ditunjang oleh pihak lain, maka dia tidak bisa leluasa menunjukkan sikapnya, apalagi bila sikap itu bertentangan dengan keinginan yang memberikan tunjangan ekonomi. Kemandirian ekonomi ini dicontohkan oleh sahabat Abdurrahman bin Auf yang tidak mau diberi setengah harta dari Saad bin Rabi di Madinah.

http://www.mindemangan.sch.id

Aspek Pekerjaan dalam Islam Aspek pekerjaan dalam Islam meliputi empat hal yaitu :

a. Memenuhi kebutuhan sendiri


57

Islam sangat menekankan kemandirian bagi pengikutnya. Seorang muslim harus mampu hidup dari hasil keringatnya sendiri, tidak bergantung pada orang lain. Hal ini diantaranya tercermin dalah hadist berikut : Dari Abu Abdillah yaitu az-Zubair bin al-Awwam r.a., katanya: Rasulullah s.a.w. bersabda: Niscayalah jikalau seseorang dari engkau semua itu mengambil talitalinya untuk mengikat lalu ia datang di gunung, kemudian ia datang kembali di negerinya dengan membawa sebongkokan kayu bakar di atas punggungnya, lalu menjualnya,kemudian dengan cara sedemikian itu Allah menahan wajahnya yakni dicukupi kebutuhannya, maka hal yang semacam itu adalah lebih baik baginya daripada meminta-minta sesuatu pada orang-orang, baik mereka itu suka memberinya atau menolaknya. (Riwayat Bukhari)

b. Memenuhi kebutuhan keluarga


Bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga yang menjadi tanggungannya adalah kewajian bagi seorang muslim, hal ini bisa dilihat dari hadist berikut : Rasulullah saw bersabada, Cukuplah seseorang dianggap berdosa jika ia menelantarkan orang-orang yang menjadi tanggung jawabnya. (HR. Ahmad, Abu Daud dan al-Hakim) Menginfaqkan harta bagi keluarga adalah hal yang harus diutamakan, baru kemudian pada lingkungan terdekat, dan kemudian lingkungan yang lebih luas.

c. Kepentingan seluruh makhluk


Pekerjaan yang dilakukan seseorang bisa menjadi sebuah amal jariyah baginya, sebagaimana disebutkan dalam hadist berikut : Dari Anas, Rasulullah saw bersabda, tidaklah seorang mukmin menanam tanaman, atau menabur benih, lalu burung atau manusia atau hewan pun makan darinya kecuali pasti bernilai sedekah baginya. (HR Bukhari)

d. Bekerja sebagai wujud penghargaan terhadap pekerjaan itu sendiri


Islam sangat menghargai pekerjaan, bahkan seandainya kiamat sudah dekat dan kita yakin tidak akan pernah menikmati hasil dari pekerjaan kita, kita tetap diperintahkan untuk bekerja sebagai wujud penghargaan terhadap pekerjaan itu sendiri. Hal ini bisa dilihat dari hadist berikut : Dari Anas RA, dari Rasulullah saw, beliau bersabda, Jika hari kiamat terjadi, sedang di tanganmu terdapat bibit tanaman, jika ia bisa duduk hingga dapat menanamnya, maka tanamlah. (HR Bukhari / Kitab Adab al-Mufrad)

e. Larangan Meminta-Minta
58

Hadits Abdullah bin Umar, ia mengatakan : Rasulullah saw bersabda, Senantiasa seseorang meminta-minta hingga ia datang pada ghari kiamat, sedang di hidungnya tidak terdapat daging sedikit pun. (HR Bukhari). Sungguh, meminta-minta tidaklah dibenarkan kecuali bagi 3 orang, orang miskin yang sangat membutuhkan atau orang yang berutang banyak atau orang yang terbebani oleh kewajiban diat.

Kualitas Etik Kerja Berikut ini adalah kualitas etik kerja yang terpenting untuk dihayati :

a. Ash Sholah (baik dan bermanfaat)


Islam hanya memerintahkan atau menganjurkan pekerjaan yang baik dan bermanfaat bagi kemanusiaan, agar setiap pekerjaan mampu memberi nilai tambah dan mengangkat derajat manusia baik secara individu maupun kelompok. Dan masing-masing orang memperoleh derajat-derajat (seimbang) dengan apa yang dikerjakannya. (al-Anam: 132)

b. Al Itqon (Kemantapan atau perfectness)


Kualitas kerja yang itqan atau perfect merupakan sifat pekerjaan Tuhan (baca: Rabbani), kemudian menjadi kualitas pekerjaan yang islami (an-Naml: 88). Rahmat Allah telah dijanjikan bagi setiap orang yang bekerja secara itqan, yakni mencapai standar ideal secara teknis. Untuk itu, diperlukan dukungan pengetahuan dan skill yang optimal.

c. Al Ihsan (Melakukan yang terbaik atau lebih baik lagi)


Kualitas ihsan mempunyai dua makna dan memberikan dua pesan, yaitu sebagai berikut. Pertama, ihsan berarti yang terbaik dari yang dapat dilakukan. Dengan makna pertama ini, maka pengertian ihsan sama dengan itqan. Pesan yang dikandungnya ialah agar setiap muslim mempunyai komitmen terhadap dirinya untuk berbuat yang terbaik dalam segala hal yang ia kerjakan. Kedua ihsan mempunyai makna lebih baik dari prestasi atau kualitas pekerjaan sebelumnya. Makna ini memberi pesan peningkatan yang terusmenerus, seiring dengan bertambahnya pengetahuan, pengalaman, waktu, dan sumber daya lainnya. Adalah suatu kerugian jika prestasi kerja hari ini menurun dari hari kemarin, sebagaimana dinyatakan dalam sebuah hadits Nabi saw. Keharusan berbuat yang lebih baik juga berlaku ketika seorang muslim membalas jasa atau kebaikan orang lain. Bahkan, idealnya ia tetap berbuat yang lebih baik, hatta ketika membalas keburukan orang lain (Fusshilat :34, dan an Naml: 125) 59

d. Al Mujahadah (Kerja keras dan optimal)


Dalam banyak ayatnya, Al-Quran meletakkan kulaitas mujahadah dalam bekerja pada konteks manfaatnya, yaitu untuk kebaikan manusia sendiri, dan agar nilai guna dari hasil kerjanya semakin bertambah. (Ali Imran: 142, alMaidah: 35, al-Hajj: 77, al-Furqan: 25, dan al-Ankabut: 69). Mujahadah dalam maknanya yang luas seperti yang didefinisikan oleh Ulama adalah istifragh ma fil wusi, yakni mengerahkan segenap daya dan kemampuan yang ada dalam merealisasikan setiap pekerjaan yang baik. Dapat juga diartikan sebagai mobilisasi serta optimalisasi sumber daya. Sebab, sesungguhnya Allah SWT telah menyediakan fasilitas segala sumber daya yang diperlukan melalui hukum taskhir, yakni menundukkan seluruh isi langit dan bumi untuk manusia (Ibrahim: 32-33). Bermujahadah atau bekerja dengan semangat jihad (ruhul jihad) menjadi kewajiban setiap muslim dalam rangka tawakkal sebelum menyerahkan (tafwidh) hasil akhirnya pada keputusan Allah (Ali Imran: 159, Hud: 133).

e. Tanafus dan Taawun (Kompetisi dan tolong menolong)


Al-Quran dalam beberapa ayatnya menyerukan persaingan dalam kualitas amal solih. Pesan persaingan ini kita dapati dalam beberapa ungkapan Qurani yang bersifat amar atau perintah. Ada perintah fastabiqul khairat (maka, berlomba-lombalah kamu sekalian dalam kebaikan) (al-Baqarah: 108).

f. Mencermati Nilai Waktu


Jika kita melihat mengenai kaitan waktu dan prestasi kerja, maka ada baiknya dikutip petikan surat Khalifah Umar bin Khatthab kepada Gubernur Abu Musa al-Asyari ra, sebagaimana dituturkan oleh Abu Ubaid, Amma badu. Ketahuilah, sesungguhnya kekuatan itu terletak pada prestasi kerja. Oleh karena itu, janganlah engkau tangguhkan pekerjaan hari ini hingga esok, karena pekerjaanmu akan menumpuk, sehingga kamu tidak tahu lagi mana yang harus dikerjakan, dan akhirnya semua terbengkalai. (Kitab al-Amwal, 10)
http://www.masjidalamanah.com

10)

PROSES KEJADIAN MANUSIA MENURUT AL-QURAN

Al quran sebagai kitab yang ilmiah dan dapat dibuktikan secara ilmu pengetahuan dalam isinya juga menjelaskan bagamana proses terbentuknya manusia di dalam rahim wanita. Yang mana keterangan al quran ini telah dibuktikan kebenaranya oleh dunia medis.

60

Berikut rangkuman proses pembentukan manusia menurut al quran 1. NUTFAH iaitu peringkat pertama bermula selepas persenyawaan atau minggu pertama. Ianya bermula setelah berlakunya percampuran air mani Maksud firman Allah dalam surah al-Insan : 2 "Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia daripada setitis air mani yang bercampur yang Kami (hendak mengujinya dengan perintah dan larangan), kerana itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat " Menurut Ibn Jurair al-Tabari, asal perkataan nutfah ialah nutf ertinya air yang sedikit yang terdapat di dalam sesuatu bekas samada telaga, tabung dan sebagainya. Sementara perkataan amsyaj berasal daripada perkataan masyj yang bererti percampuran

2. ALAQAH : Peringkat pembentukan alaqah ialah pada hujung minggu pertama /


hari ketujuh. Pada hari yang ketujuh telor yang sudah disenyawakan itu akan tertanam di dinding rahim (qarar makin). Selepas itu Kami mengubah nutfah menjadi alaqah. Firman Allah yang bermaksud "Kemudian Kami mengubah nutfah menjadi alaqah" al-Mukminun : 14 Kebanyakan ahli tafsir menafsirkan alaqah dengan makna segumpal darah. Ini mungkin dibuat berasaskan pandangan mata kasar. Alaqah sebenarnya suatu benda yang amat seni yang diliputi oleh darah. Selain itu alaqah mempunyai beberapa maksud : sesuatu yang bergantung atau melekat pacat atau lintah suatu buku atau ketulan darah Peringkat alaqah adalah peringkat pada minggu pertama hingga minggu ketiga did alam rahim. 3. MUDGHAH Pembentukan mudghah dikatakan berlaku pada minggu keempat. Perkataan mudghah disebut sebanyak dua kali di dalam al-Quran iaitu surah al-Hajj ayat 5 dan surah al-Mukminun ayat 14 Firman Allah yang bermaksud "lalu Kami ciptakan darah beku itu menjadi seketul daging" al-Mukminun : 14 Diperingkat ini sudah berlaku pembentukan otak, saraf tunjang, telinga dan anggota-anggota yang lain. Selain itu sistem pernafasan bayi sudah 61

terbentuk.Vilus yang tertanam di dalam otot-otot ibu kini mempunyai saluran darahnya sendiri. Jantung bayi pula mula berdengup. Untuk perkembangan seterusnya, darah mula mengalir dengan lebih banyak lagi kesitu bagi membekalkan oksigen dan pemakanan yang secukupnya. Menjelang tujuh minggu sistem pernafasan bayi mula berfungsi sendiri. 4. IZAM DAN LAHM Pada peringkat ini iaitu minggu kelima, keenam dan ketujuh ialah peringkat pembentukan tulang yang mendahului pembentukan oto-otot. Apabila tulang belulang telah dibentuk, otot-otot akan membungkus rangka tersebut. Firman Allah yang bermaksud : "Lalu Kami mengubahkan pula mudghah itu menjadi izam da kemudiannya Kami membalutkan Izam dengan daging"al-Mukminun : 14 Kemudian pada minggu ketujuh terbentuk pula satu sistem yang kompleks. Pada tahap ini perut dan usus , seluruh saraf, otak dan tulang belakang mula terbentuk. Serentak dengan itu sistem pernafasan dan saluran pernafasan dari mulut ke hidung dan juga ke pau-paru mula kelihatan. Begitu juga dengan organ pembiakan, kalenjar, hati, buah penggang, pundi air kencing dan lain-lain terbentuk dengan lebih sempurna lagi. Kaki dan tangan juga mula tumbuh. Begitu juga mata, telinga dan mulut semakin sempurna. Pada minggu kelapan semuanya telah sempurna dan lengkap. 5. NASY'AH KHALQAN AKHAR Pada peringkat ini iaitu menjelang minggu kelapan , beberapa perubahan lagi berlaku. Perubahan pada tahap ini bukan lagi embrio tetapi sudah masuk ke peringkat janin.Pada bulan ketiga, semua tulang janin telah terbentuk dengan sempurnanya Kuku-kukunya pun mula tumbuh. Pada bulan keempat, pembentukan uri menjadi cukup lengkap menyebabkan baki pranatel bayi dalam kandungan hanya untuk menyempurnakan semua anggota yang sudah wujud. Walaupun perubahan tetap berlaku tetapi perubahannya hanya pada ukuran bayi sahaja. 6. NAFKHUR-RUH Iaitu peringkat peniupan roh. Para ulamak Islam menyatakan bilakah roh ditiupkan ke dalam jasad yang sedang berkembang? Mereka hanya sepakat mengatakan peniupan roh ini berlaku selepas empat puluh hari dan selepas terbentuknya organ-organ tubuh termasuklah organ seks. Nilai kehidupan mereka telah pun bermula sejak di alam rahim lagi. Ketika di alam rahim 62

perkembangan mereka bukanlah proses perkembangan fizikal semata-mata tetapi telahpun mempunyai hubungan dengan Allah s.w.t melalui ikatan kesaksian sebagaimana yang disebutkan oleh Allah di dalam al-Quran surah alA'raf : 172. Dengan ini entiti roh dan jasad saling bantu membantu untuk meningkatkan martabat dan kejadian insan disisi Allah s.w.t http://lailizah.tripod.com Bayi Tabung Dalam Islam Teknologi ini telah dirintis oleh PC Steptoe dan RG Edwards pada 1977. Hingga kini, banyak pasangan yang kesulitan memperoleh anak, mencoba menggunakan teknologi bayi tabung. Bayi tabung dikenal dengan istilah pembuahan in vitro atau dalam bahasa Inggris dikenal sebagai in vitro fertilisation. Ini adalah sebuah teknik pembuahan sel telur (ovum) di luar tubuh wanita. Bayi tabung adalah salah satu metode untuk mengatasi Prosesnya masalah terdiri kesuburan ketika metode proses lainnya ovulasi tidak berhasil. hormonal,

dari

mengendalikan

secara

pemindahan sel telur dari ovarium dan pembuahan oleh sel sperma dalam sebuah medium cair. Lalu bagaimanakah hukum bayi tabung dalam pandangan Islam? Dua tahun sejak ditemukannya teknologi ini, para ulama di Tanah Air telah menetapkan fatwa tentang bayi tabung/inseminasi buatan. Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam fatwanya menyatakan bahwa bayi tabung dengan sperma dan ovum dari pasangan suami-istri yang sah hukumnya mubah (boleh). Sebab, ini termasuk ikhtiar yang berdasarkan kaidah-kaidah agama. Namun, para ulama melarang penggunaan teknologi bayi tabung dari pasangan suami-istri yang dititipkan di rahim perempuan lain. "Itu hukumnya haram," papar MUI dalam fatwanya. Apa pasal? Para ulama menegaskan, di kemudian hari hal itu akan menimbulkan masalah yang rumit dalam kaitannya dengan warisan. Para ulama MUI dalam fatwanya juga memutuskan, bayi tabung dari sperma yang dibekukan dari suami yang telah meninggal dunia hukumnya haram. "Sebab, hal ini akan menimbulkan masalah yang pelik, baik dalam kaitannya dengan penentuan nasab maupun dalam hal kewarisan," tulis fatwa itu. Lalu bagaimana dengan proses bayi tabung yang sperma dan ovumnya tak berasal dari pasangan suami-istri yang sah? MUI dalam fatwanya secara tegas 63

menyatakan hal tersebut hukumnya haram. Alasannya, statusnya sama dengan hubungan kelamin antarlawan jenis di luar penikahan yang sah alias zina. Hukum Bayi Tabung Nahdlatul Ulama (NU) juga telah menetapkan fatwa terkait masalah ini dalam forum Munas Alim Ulama di Kaliurang, Yogyakarta pada 1981. keputusan yang ditetapkan ulama NU terkait masalah bayi tabung: Pertama, apabila mani yang ditabung dan dimasukan ke dalam rahim wanita tersebut ternyata bukan mani suami-istri yang sah, maka bayi tabung hukumnya haram. Hal itu didasarkan pada sebuah hadis yang diriwayatkan Ibnu Abbas RA, Rasulullah SAW bersabda, "Tidak ada dosa yang lebih besar setelah syirik dalam pandangan Allah SWT, dibandingkan perbuatan seorang lelaki yang meletakkan spermanya (berzina) di dalam rahim perempuan yang tidak halal baginya." Kedua, apabila sperma yang ditabung tersebut milik suami-istri, tetapi cara mengeluarkannya tidak muhtaram, maka hukumnya juga haram. "Mani muhtaram adalah mani yang keluar/dikeluarkan dengan cara yang tidak dilarang oleh syara'," papar ulama NU dalam fatwa itu. Terkait mani yang dikeluarkan secara muhtaram, para ulama NU mengutip dasar hukum dari Kifayatul Akhyar II/113. "Seandainya seorang lelaki berusaha mengeluarkan spermanya (dengan beronani) dengan tangan istrinya, maka hal tersebut diperbolehkan, karena istri memang tempat atau wahana yang diperbolehkan untuk bersenang-senang." Ketiga, apabila mani yang ditabung itu mani suami-istri dan cara mengeluarkannya termasuk muhtaram, serta dimasukan ke dalam rahim istri sendiri, maka hukum bayi tabung menjadi mubah (boleh). Meski tak secara khusus membahas bayi tabung, Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah juga telah menetapkan fatwa terkait boleh tidak nya menitipkan sperma suami-istri di rahim istri kedua. Dalam fatwanya, Majelis Tarjih dan Tajdid mengung kapkan, berdasarkan ijitihad jama'i yang dilakukan para ahli fikih dari berbagai pelosok dunia Islam, termasuk dari Indonesia yang diwakili Mu hammadiyah, hukum inseminasi buat an seperti itu termasuk yang dilarang. "Hal itu disebut dalam ketetapan yang keempat dari sidang periode ke tiga dari Majmaul Fiqhil Islamy dengan judul Athfaalul Anaabib (Bayi Tabung)," papar fatwa Majelis Tarjih PP Muhammadiyah. Rumusannya, "cara kelima inseminasi itu dilakukan di luar kandungan antara dua biji suami-istri, kemudian ditanamkan 64

pada rahim istri yang lain (dari suami itu) ... hal itu dilarang menurut hukum Syara'." Sebagai ajaran yang sempurna, Islam selalu mampu menjawab berbagai masalah yang terjadi di dunia modern saat ini. http://www.republika.co.id

Kloning Dalam Perspektif Hukum Islam Definisi kloning adalah pembiakkan dengan teknik membuat keturunan dengan kode genetik yang sama dengan induknya. Istilah loning atau klonasi berasal dari kata clone (bahasa Greek) atau klona, yang secara harfiah berarti potongan/pangkasan tanaman. Dalam hal ini tanam-tanaman baru yang persis sama dengan tanaman induk dihasilkan lewat penanaman potongan tanaman yang diambil dari suatu pertemuan tanaman jantan dan betina. Melihat asal bahasa yang digunakan, dapat dimengerti bahwa praktek

perbanyakan tanaman lewat penampangan potongan/pangkasan tanaman telah lama dikenal manusia. Karena tidak adanya keterlibatan jenis kelamin, maka yang dimaksud dengan klonasi adalah suatu metode atau cara perbanyakan makhluk hidup (atau reproduksi) secara aseksual. Hasil perbanyakan lewat cara semacam ini disebut klonus/klona, yang dapat diartikan sebagai individu atau organisme yang dimiliki genotipus yang identik. Kloning terhadap manusia adalah merupakan bentuk intervensi hasil rekayasa manusia. Kloning adalah teknik memproduksi duplikat yang identik secara genetis dari suatu organisme. Klon adalah keturunan aseksual dari individu tunggal. Kloning manusia hanya membutuhkan pengambilan sel somatis (sel tubuh), bukan sel reproduktif (seperti sel telur atau sperma) dari seseorang, kemudian DNA dari sel itu diambil dan ditransfer ke dalam sel telur seseorang wanita yang belum dibuahi, yang sudah dihapus semua karakteristik genetisnya dengan cara membuang inti sel (yakni DNA) yang ada dalam sel telur itu. Kemudian, arus listrik dialirkan pada sel telur itu untuk mengelabuinya agar merasa telah dibuahi, sehingga ia mulai membelah. Sel yang sudah dibuahi ini kemudian ditanam ke dalam rahim seorang wanita yang ditugaskan sebagai ibu pengandung. Bayi yang dilahirkan secara genetis akan sama dengan genetika orang yang mendonorkan sel somatis tersebut. 65

Manfaat Kloning Teknologi kloning diharapkan dapat memberi manfaat kepada manusia, khususnya di bidang medis. Beberapa di antara keuntungan terapeutik dari teknologi kloning dapat diringkas sebagai berikut: a. Kloning manusia memungkinkan banyak pasangan tidak subur untuk mendapatkan anak.

b. Organ manusia dapat dikloning secara selektif untuk dimanfaatkan sebagai


organ pengganti bagi pemilik sel organ itu sendiri, sehingga dapat meminimalisir risiko penolakan.

c. Sel-sel dapat dikloning dan diregenerasi untuk menggantikan jaringan-jaringan


tubuh yang rusak, misalnya urat syaraf dan jaringan otot. Kemungkinan bahwa kelak manusia dapat mengganti jaringan tubuhnya yang terkena penyakit dengan jaringan tubuh embrio hasil kloning, atau mengganti organ tubuhnya yang rusak dengan organ tubuh manusia hasil kloning. Di kemudian hari akan ada kemungkinan tumbuh pasar jual-beli embrio dan sel-sel hasil kloning. d. Teknologi kloning memungkinkan para ilmuan medis untuk menghidupkan dan mematikan sel-sel. Dengan demikian, teknologi ini dapat digunakan untuk mengatasi kanker. Di samping itu, ada sebuah optimisme bahwa kelak kita dapat menghambat proses penuaan berkat apa yang kita pelajari dari kloning. e. Teknologi kloning memungkinkan dilakukan pengujian dan penyembuhan penyakit-penyakit keturunan. Dengan teknologi kloning, kelak dapat membantu manusia dalam menemukan obat kanker, menghentikan serangan jantung, dan membuat tulang, lemak, jaringan penyambung, atau tulang rawan yang cocok dengan tubuh pasien untuk tujuan bedah penyembuhan dan bedah kecantikan. Dampak Kloning Perdebatan tentang kloning dikalangan ilmuwan barat terus terjadi, bahkan dalam hal kloning binatang sekalipun, apalagi dalam hal kloning manusia. Kelompok kontra kloning diwakili oleh George Annos (seorang pengacara kesehatan di universitas Boston) dan pdt. Russel E. Saltzman (pendeta gereja lutheran). menurut George Annos, kloning akan memiliki dampak buruk bagi kehidupan, antara lain :

Merusak peradaban manusia. Memperlakukan manusia sebagai objek. Jika kloning dilakukan manusia seolah seperti barang mekanis yang bisa dicetak semaunya oleh pemilik modal. Hal ini akan mereduksi nilai-nilai kemanusiaan yang dimiliki oleh manusia hasil kloning. 66

Kloning akan menimbulkan perasaan dominasi dari suatu kelompok tertentu terhadap kelompok lain. Kloning biasanya dilakukan pada manusia unggulan yang memiliki keistimewaan dibidang tertentu. Tidak mungkin kloning dilakukan pada manusia awam yang tidak memiliki keistimewaan. Misalnya kloning Einstein, kloning Beethoven maupun tokoh-tokoh yang lain. Hal ini akan menimbulkan perasaan dominasi oleh manusia hasil kloning tersebut sehingga bukan suatu kemustahilan ketika manusia hasil kloning malah menguasai manusia sebenarnya karena keunggulan mereka dalam berbagai bidang. Hukum Kloning dalam perspektif hukum Islam Kloning terhadap tumbuh-tumbuhan atau hewan asalkan memiliki daya guna (bermanfaat) bagi kehidupan manusia maka hukumnya mubah/halal. Hal ini didasarkan pada prinsip bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini diciptakan untuk kesejahteraan manusia, kloning terhadap hewan atau tumbuhan jika memiliki daya guna bagi kehidupan manusia maka hukumnya mubah/boleh dalilnya : Q.S. Al-Baqoroh:29. Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. dan Dia Maha mengetahui segala sesuatu. Berdasarkan pengalaman yang telah dilakukan beberapa ulama dapat di ketahui mafsadat dari kloning lebih banyak daripada maslahatnya. oleh karna itu, praktek kloning manusia bertentangan dengan hukum islam dengan demikian kloning manusia dalam islam hukumnya haram. Dalil-dalil keharaman.: Q.S. An-Najm:4546. 45. Dan bahwasanya Dialah yang menciptakan berpasang-pasangan pria dan wanita. 46. Dari air mani, apabila dipancarkan. Disini menyatakan bahwa logika syariat Islam dengan nash-nashnya yang mutlak, kaidah-kaidahnya yang menyeluruh, dan berbagai tujuan umumnya, melarang praktik kloning pada manusia. Karena jika kloning ini dilakukan pada manusia, maka akan mengakibatkan berbagai kerusakan sebagai berikut. a. Hilangnya hukum variasi di alam raya. b. Kerancuan hubungan antara orang yang di kloning dengan orang hasil kloningannya. c. Kemungkinan kerusakan lainnya seperti terjangkit penyakit.

d. Kloning bertentangan dengan sunnah untuk berpasang-pasangan.


67

Pertimbangan Teologi Dalam hal ini al-Quran megisyaratkan adanya intervensi manusia didalam proses produksi manusia.Sebagaimana termaktub dalam firmanNya Q.S.al-Mukminun ayat 13-14 : 13. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). 14. Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. kemudian Kami jadikan Dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta yang paling baik. Ayat ini mengisyaratkan unsur manusia ada tiga yaitu; unsur jasad (jasadiyah), unsur nyawa (nafs), dan Unsur ruh (ruh). Bahwa asal penciptaan Manusia (Adam) dari Tanah. Pada manusia biasa melalui proses reproduksi yaitu memerlukan lakilaki dan perempuan, namun jika dilihat kembali proses kloning yang tidak lagi membutuhkan laki-laki dan perempuan untuk menciptakan suatu generasi baru, maka hal ini sangat bertentangan dengan ayat tersbut diatas.

Pertimbangan Etika Dari sudut pertimbangan moral bahwa berbagai macam riset atau penelitian hendaknya selalu dikaitkan dengan Tuhan, karena riset dengan tujuan apapun tanpa dikaitkan dengan Tuhan tentu akan menimbulkan resiko, meskipun manusia di muka bumi adalah sebagai khalifah, namun dalam mengekpresikan dan mengaktualisasikan kebesaran kreatifitasnya tersebut seyogyanya tetap mengacu pada pertimbangan moral dalam agama. Pertimbangan Hukum Dari beragam pertimbangan mungkin pertimbangan hokum inilah yang secara tegas memberikan putusan, khususnya dari para ulama fiqh yang akan menolak mengenai praktek kloning manusia selain memakai dua landasan pertimbangan di atas. Larangan ini muncul karena alasan adanya kekhawatiran tingginya frekuensi mutasi pada gen produk kloning sehingga akan menimbulkan efek buruk pada kemudian hari dari segi pembiayaan yang sangat mahal dan juga dari sudut pandang ushul fiqh bahwa jika sesuatu itu lebih banyak madharat-nya dari pada 68

manfaatnya maka sesuatu itu perlu ditolak. Dalam masalah ini terdapat beberapa pendapat ulama tentang kloning manusia diantaranya; Muhammad Quraish Shihab mengatakan, tidak pernah memisahkan ketetapan-ketetapan hukumnya dari moral sehingga dalam kasus kloning walaupun dalam segi aqidah tidak melanggar wilayah qodrat Illahi, namun karena dari moral teknologi kloning dapat mengantar kepada perpecahan manusia karena larangan lahir dari aspek ini. Munawar Ahmad Anas mengatakan bahwa paradigma al-Quran menolak kloning seluruh siklus kehidupan mulai dari kehidupan hingga kematian, adalah tindakan Illahiyah. Manusia adalah agen yang diberi amanah oleh Tuhan, karena itu penggandaan mubadzir). manusia semata-mata tak diperlukan (suatu tindakan yang

DR. Yusuf Qardhawi, Fatwa-Fatwa Kontemporer, Gema Insani, Jakarta, 2002 Ahmad Tarifin, M.A, Ilmu Alamiah Dasar, STAIN Press, Pekalongan, 2010 http://dolite.blogspot.com/2009/11/hukum-kloning-dalam-perspektif-agama.html http://blog.uin-malang.ac.id/rizkialfajri/2010/08/27/kloning-dalam-perspektif-islam/ http://adehumaidi.com/knowledge/teknologi-kloning

69

You might also like