Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
2Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Peran Bahasa dalam Sebuah Peperangan: Kajian Diakronis dalam Penggunaan huruf Braille dan Navajo code

Peran Bahasa dalam Sebuah Peperangan: Kajian Diakronis dalam Penggunaan huruf Braille dan Navajo code

Ratings: (0)|Views: 15 |Likes:
Sebuah peperangan selalu memunculkan cerita yang menarik untuk dibahas dalam sebuah wacana tentang sejarah terjadinya dan penemuan-penemuan muktahir yang menyertainya. Salah satunya yaitu penggunaan kode bahasa untuk penunjang strategi perang.
Sebuah peperangan selalu memunculkan cerita yang menarik untuk dibahas dalam sebuah wacana tentang sejarah terjadinya dan penemuan-penemuan muktahir yang menyertainya. Salah satunya yaitu penggunaan kode bahasa untuk penunjang strategi perang.

More info:

Published by: David Setiadi, M.Hum. on Dec 28, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/01/2013

pdf

text

original

 
Peran Bahasa dalam Sebuah Peperangan:Kajian Diakronis dalam Penggunaan huruf Braille dan Navajo code
David SetiadiSebuah peperangan selalu memunculkan cerita yangmenarik untuk dibahas dalam sebuah wacana tentangsejarah terjadinya dan penemuan-penemuanmuktahir yang menyertainya. Selama ini kita lebihdikenalkan kepada kemajuan teknologi persenjataandalam setiap perang yang terjadi. Lalu sebagai contohkita dikenalkan dengan jenis senjata mulai dari AK-47,Revolver, Teknologi Bom Atom, dan lainnya.Berbagai penemuan teknologi tersebut merupakanbagian dari perang yang terjadi disudut yang lain
selain untuk mendominasi dunia
sebagai perang para ilmuan dari setiap negara yang salingberlawanan. Seperti pada penciptaan teknologi bom atom, Jerman memiliki tekniknya dengan sumberdaya manusia yang menciptakan teknologi tersebut, namun celakanya sumber daya inti (uranium) tidakdimilikinya. Sementara Amerika memiliki sumber daya alam berkaitan dengan uranium tersebut, namun
 
teknologinya (SDM) belum mencapai taraf seperti yang Jerman miliki. Perang terjadi dalam berbagaibidang, dengan memaksimalkan segala potensi yang ada untuk saling mengalahkan satu sama lainnya.Namun, di sisi yang lain peran bahasa, yang digunakan oleh peretas kode perintah dalam sebuahpeperangan luput dari perhatian kita. Dalam konteks seperti ini saya berusaha mengungkapkan perihaltersebut yang berpusat pada kepentingan pragmatis huruf Braille oleh tentara Prancis saat perang, danpenggunaan Bahasa suku Navajo yang digunakan tentara Amerika ketika perang dunia II.Alasan yang muncul dari pemilihan dua peristiwa yang terpaut jauh waktu terjadinya itu adalah padaperkembangan teknologi yang melatarbelakanginya, terutama dalam kaitannya dengan penggunaanbahasa tulis dan lisan. Huruf Braille dengan media teks tulis tentunya mempertimbangkan bahan dan jenis huruf dalam setiap wacana yang tertuang dalam teks tersebut. Sandi Navajo sebagai sandi peranglebih menarik lagi, karena Sandi tersebut ada dalam bahasa lisan yang merupakan bahasa suku Indian.Menariknya penggunaan bahasa Navajo sebagai sandi rahasia merupakan cara muktahir
pada saatperang dunia II
yang dilakukan oleh tentara Amerika dengan memanfaat suku Indian.Rentang waktu yang jauh tersebut membuat penggunaan huruf Braille tercatat sebagai bagian darisejarah sandi perang yang pertama kali digunakan. Amerika dengan segala pengembangan teknologiyang dilakukannya tidak mampu bertahan lama dengan segala keunggulannya, cara konvensional yangakhirnya dilakukan adalah dengan menggunakan bahasa suku Indian Navajo tersebut. TampaknyaAmerika belajar dari penggunaan praktis huruf Braille yang jauh hari digunakan tentara Prancis abad 19.Huruf Braille adalah sejenis sistem tulisan sentuh yangdigunakan oleh orangbuta.Sistem ini diciptakan olehseorang Perancis yang bernamaLouis Brailleyang butadisebabkan kebutaan waktu kecil. Ketika berusia 15tahun, Braille membuat suatu tulisan tentara untukmemudahkan tentara untuk membaca ketika gelap.Tulisan ini dinamakan huruf Braille. Namun ketika ituBraille tidak mempunyai huruf W.
 
Munculnya inspirasi untuk menciptakan huruf-huruf yang dapat dibaca oleh orang buta berawal dariseorang bekas perwira artileriNapoleon,KaptenCharles Barbier.Barbier menggunakan sandi berupa garis-garis dan titik-titik timbul untuk memberikan pesan ataupun perintah kepada serdadunya dalamkondisi gelap malam. Pesan tersebut dibaca dengan cara meraba rangkaian kombinasi garis dan titikyang tersusun menjadi sebuah kalimat. Sistem demikian kemudian dikenal dengan sebutan
night writing
 atau tulisan malam.Demi menyesuaikan kebutuhan para tunanetra, Louis Braillemengadakan uji coba garis dan titik timbul Barbier kepadabeberapa kawan tunanetra. Pada kenyataannya, jari-jaritangan mereka lebih peka terhadap titik dibandingkan garissehingga pada akhirnya huruf-huruf Braille hanyamenggunakan kombinasi antara titik dan ruang kosong atauspasi. Sistem tulisan Braille pertama kali digunakan di
L’Instit 
ution Nationale des Jeunes Aveugles
, Paris, dalamrangka mengajar siswa-siswa tunanetra.Kontroversi mengenai kegunaan huruf Braille di Perancissempat muncul hingga berujung pada pemecatan Dr. Pignier sebagai kepala lembaga dan laranganpenggunaan tulisan Braille di tempat Louis mengajar. Karena sistem baca dan penulisan yang tidak lazim,sulit untuk meyakinkan masyarakat mengenai kegunaan dari huruf Braille bagi kaum tunanetra. Salahsatu penentang tulisan Braille adalah Dr. Dufau, asisten direktur
L’Inst 
itution Nationale des Jeunes Aveugles
. Dufau kemudian diangkat menjadi kepala lembaga yang baru. Untuk memperkuat gerakananti-Braille, semua buku dan transkrip yang ditulis dalam huruf Braille dibakar dan disita. Namundikarenakan perkembangan murid-murid tunanetra yang begitu cepat sebagai bukti dari kegunaan huruf Braille, menjelang tahun 1847 sistem tulisan tersebut diperbolehkan kembali.Pada tahun 1851 tulisan Braille diajukan pada pemerintah negara Perancis agar diakui secara sah olehpemerintah. Sejak saat itu penggunaan huruf Braille mulai berkembang luas hingga mencapai negara-negara lain. Pada akhir abad ke-
19 sistem tulisan ini diakui secara universal dan diberi nama ‘tulisanBraille’. Di tahun 1956, Dewan Dunia untuk Kesejahteraan Tunanetra (
The World Council for the Welfareof the Blind 
) menjadikan bekas rumah Louis Braille sebagai museum. Kediaman tersebut terletak diCoupvray, 40 km sebelah timur Paris.

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->