Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
1Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Analisis Aitem Skala Multidimensi

Analisis Aitem Skala Multidimensi

Ratings: (0)|Views: 99 |Likes:
Published by mahmialter

More info:

Published by: mahmialter on Dec 28, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/28/2012

pdf

text

original

 
Psikometri
«Perbedaan Pengertian Aspek dan Dimensi dalam Pengembangan Alat UkurMenganalisis Data via ITEMAN »
 Analisis Faktor ,Koefisien Reliabilitas,penyusunan skala,Seleksi Aitem
Analisis Aitem pada Skala Multidimensi
Saya sering sekali ditemui mahasiswa yang sedang menyusun skala pengukuran. Mereka melaporkan bahwa aitem-aitemskala yang mereka tulis banyak yang rontok dalam analisis aitem, alias memiliki dayadiskriminasi yang rendah. Korelasiaitem-total sebagian besar aitem skala sangat rendah. Saya lalu meminta beberapa mahasiswa menganalisis faktor datatry-out alat ukur yang mereka lakukan. Hasil analisis menunjukkan bahwa data mereka menghasilkan faktor yangmajemuk, padahal harusnya menghasilkan faktor tunggal. Dengan kata lain, pengukuran mereka bersifat multidimensi.Prosedur seleksi aitem hendaknya dilakukan pada data yang unidimensi yang ditunjukkan dengan kesamaan domainukur. Unidimensi artinya domain ukurnya tunggal, sedangkan multidimensi artinya domain ukurnya adalah majemuk.Jika kita paksakan menyeleksi aitem-aitem skala pengukuran yang bersifat multidimensi secara bersama-sama, makahasil yang didapat adalah seperti kasus yang dialami oleh mahasiswa saya tadi. Sebagian besar aitem banyak gugur dalam analisis. Aitem-aitem memasuki bus yang tujuannya berbeda-beda akan tetapi dipaksa untuk mengarah pada satutujuan. Akibatnya, aitem-aitem banyak yang berontak dan memilih turun dari bus. Seperti itulah analogi jika kitamenganalisis data yang bersifat multidimensi namun dijadikan dalam satu sistem analisis yang sama.Sesuatu yang bijak jika kita menghargai perbedaan orientasi masing-masing orang. Dalam dunia psikometri,kebijaksanaan itu dapat diterapkan juga pada analisis aitem. Analisis aitem dilakukan secara terpisah berdasarkandimensi ukurnya. Jika ada tiga dimensi ukur, maka analisis aitem dilakukan secara terpisah pada masing-masing dimensi.Penelitian menunjukkan bahwa koefisian alpha akan menghasilkan estimasi reliabilitasyang baik jika dikenakan padapengukuran multidimensi. Dengan menganalisis setiap dimensi secara terpisah, maka kita akan mendapatkan tigakoefisien alpha. Koefisien alpha adalah uji reliabilitas yang hanya membutuhkan pengukuran unidimensi untukmemberikan estimasi yang tepat (Gliem & Gliem, 2003).Koefisien alpha pada umumnya akan meningkat seiring dengan peningkatan interkorelasiantara aitem skala dan olehkarenanya dikenal sebagai estimasi konsistensi internal. Karenaitu interkorelasi antar aitem tes menjadi maksimal ketikasemua item mengukur konstruk yang sama (unidimensi).Penelitian menunjukkan bahwa alpha tidak sensitif terhadap sifat multidimensionalitas data. Artinya, meski diterapkan datapengukuran yang bersifat multidimensional koefisien alpha bisa sangat tinggi. Apalagi jika jumlah aitem pengukuran lebihdari 15 buah. Kondisi ini merupakan salah satu kelemahan koefisien alpha. Nilai alpha yang tinggi belum tentu bagus jikatingginya dikarenakan overestimasi. Juga belum tentu bagus jika memiliki eror standar pengukuran yang nilainya tinggipula. Khusus untuk menangani data yang bersifat multidimensi, Cronbach sebagai penyusun koefisien reliabilitas alpha,telah menyusun formula tersendiri. Namanya koefisien reliabilitas alpha berstrata (
alpha stratified 
) yang dapat dikenakanuntuk menghitung reliabilitas pada pengukuran multidimensi.
Rekomendasi
Yang dapat saya rekomendasikan dalam hal ini adalah agar para penyusun skala mengidentifikasi sifat data ataupengukuran yang dilakukan. Jika hasil identifikasi menunjukkan bahwa data bersifat multidimensional (terdiri dari banyakdimensi/faktor) maka saya sarankan untuk menganalisis secara terpisah berdasarkan tiap dimensi, dilanjutkan denganmenggunakan koefisian alpha berstrata untuk melaporkan reliabilitas pengukuran yang dilakukan. Sebaliknya jikamendapati dimensi tunggal, maka peneliti dapat menganalisis semua aitem secara bersamaan. Koefisien alpha secaraluas diyakini secara tidak langsung menunjukkan sejauh mana satu set item mengukur konstruk laten unidimensionaltunggal sehingga kita harus mengidentifikasi dimensionalitas pengukuran. Contoh prosedur ini dapat dilihat pada websiteberikutsedangkan prosedur analisis faktor dapat dilihat pada websiteberikutSaran saya ini sebenarnya merujuk pada prosedur penyusunan skala secara yang dijelaskan oleh Hikins. Dalamtahap-tahap penyusunan skala yang ditulis dia meletakkan tahap identifikasi reliabilitas (internal konsistensi) setelahtahap analisis faktor. Analisis faktor berguna untuk mengidentifikasi dimensionalitas pengukuran.
Referensi
Gliem, J. A., & Gliem, R. R. (2003). Calculating , Interpreting , and Reporting Cronbach ’ s Alpha Reliability Coefficient for Likert-Type Scales.
October 
, (1992), 82-88.
Like0
This entry was posted on September 2, 2010, 16:38 and is filed under Penyusunan Alat Ukur ,Psikometrika. You can follow any responses to this entry throughRSS 2.0. You canleave a response, or trackbackfrom your own site.
Search
TULISAN TERBARU
Semua Model Salah, Tapi ada Beberapa yangBermanfaatEstimasi Parameter dan Ketepatan Modeldalam Analisis Data KategorikalBerkenalan dengan Regresi Probit
LANGGANAN TULISAN VIA EMAIL
Langganan Posting TerbaruLangganan Tanya JawabKlik, tulis email dan aktivasikan pada email anda
TANYA JAWAB
Wahyu Widhiarso
onTanya JawabLaura onTanya Jawab
Wahyu Widhiarso
onTanya Jawab
zain
onTanya Jawab
zain
onTanya Jawab
Wahyu Widhiarso
onTanya Jawab
Wahyu Widhiarso
onTanya Jawab Arih onTanya Jawabrayi onTanya JawabRadja onTanya Jawab
Wahyu Widhiarso
onProsedur PengujianValiditas Isi melalui Indeks Rasio ValiditasIsi (CVR)bangkit seandi taroreh onProsedur Pengujian Validitas Isi melalui Indeks RasioValiditas Isi (CVR)
SHARE KE FB
Log inEntriesRSSCommentsRSSWordPress.org
METODOLOGI PENELITIANMODEL PERSAMAANSTRUKTURALPENELITIAN EKSPERIMENPENYUSUNAN ALAT UKURPSIKOMETRIKAREFLEKSISOFTWARE ANALISISSTATISTIKAUNCATEGORIZED
Menulis untuk Memahami
Diskusi Metodologi Penelitian
Daftar IsiPaperTanya JawabDownloadLinksAbout Me
Analisis Aitem pada Skala Multidimensi | Diskusi Metodologi Penelitianhttp://wahyupsy.blog.ugm.ac.id/2010/09/02/analisis-aitem-pada-skala-m...1 of 417/09/2012 10:48
 
COMMENTS (7)RELATED POSTS
#1by
Triantoro Safaria
on December 7, 2011 - 10:48
Pak Wahyu Yth.Saya membaca sebuah buku karangan Schuyler W. Huck yg berjudul Statistical Misconceptions (2009) Taylor &Francis. Pada bab ttg Reliability dan Validity, ia mengatakan bahwa “the test’s collection of questions does nothave any level of reliability or validity” ….the test cannot correctly be said to have a test-retest reliability of .80ect….dia berargumen bahwa “all of the different kinds of reliability and validity are based on the score generated byadministrating a test to a group of examinees. Change the nature of the examinee group will likely change thequantitative properties of RB/VD”dia kemudian melanjutkan ” for this reason, it is imperative that reliability and validity be viewed as residing in thescores that become available after the test is administrated, not in the test itself. Argumen lainnya adalah dia mengatakan bahwa “statistical indices of RB/VD will vary from group to group…for this reason, any r-based estimate of RB/VD ought to be thought of as just that – an estimate”.kemudian dia melanjutkan..”if the test itself possesd these psychometric properties of RB/VD, then no estimatewould be needed!”.Kalau menurut kesimpulan saya, adalah salah kalau kita mengatakan bhw skala stress ini memiliki Cronbachalpha sebesar = 0.88, krn menurutnya ini adalah sebuah kesalahan pemahaman terhdp statistik/psikometri. yangbenar adalah skala stress mendapatkan estimasi Cronbach alpha sebesar= 0.78. Jadi scr tegas ia mengatakansemua alat ukur psikologis tidak dapat dikatakan memiliki skor alpha, tetapi diestimasi mendapatkan alphasebesar .88 dari pengujian thdp sample penelitian.Bgm pendapat pak wahyu atas argumen dari Huck ini. (sbb bidang saya bukan psikometri). Terima kasih.
#2 byWahyu Widhiarso on December 8, 2011 - 08:24
Salam kenal Pak Triantoro, terima kasih telah mampir di blog saya.Pendapat Huck tersebut benar. Buku-buku daras psikometri telah membahas hal ini.Reliabilitas dan validitas bukanlah properti tes, dia adalah properti pengukuran atau skor.Tidak ada istilah tes yang reliabel, adanya adalah pengukuran yang reliabel. Demikian jugaskor, yang valid adalah skor bukan tesnya.Reliabilitas dan validitas adalah sample bound. Reliabilitas skala A ketika diterapkan didesa X dan Y kemungkinan akan berbeda. Jadi setiap pengukuran harus dilaporkanreliabilitasnya, karena reliabilitas adalah properti pengukuran. Permasalahan ini diatasi olehpendekatan teori respons aitem yang tidak terpengaruh oleh sampel.Reliabilitas adalah hasil estimasi konsistensi hasil pengukuran, bukan properti tes atauskala. Jadi pelaporan yang tepat adalah seperti ini. “Hasil estimasi reliabilitas pengukuranSkala Stress dengan menggunakan koefisien alpha menghasilkan alpha<0.8”. Pernyataanini menunjukkan bahwa reliabilitas adalah hasil estimasi properti pengukuran, kedua karenaestimasi koefisien alpha adalah lower bound estimator dari true reliability, maka seharusnyadisimbilkan dengan tanda “kurang dari”.
#3by
Triantoro Safaria
on December 7, 2011 - 11:22
Saya juga teringat dgn konsep alm. Prof. Sutrisno Hadi yaitu try-out terpakai. Walaupun msh ada perdebatan ttghal tersebut. Kalau melihat pendapat Huck di atas yg mengatakan“all of the different kinds of reliability and validity are based on the score generated by administrating a test to agroup of examinees. Change the nature of the examinee group will likely change the quantitative properties of RB/VD”dan“statistical indices of RB/VD will vary from group to group…”sehingga skala yg sdh diuji pd sampel pilot study, seharusnya ttp diuji lagi reliabilitas Cronbach alphanya padasampel penelitian yg target. Hal ini krn hasil estimasi reliabilitasnya pasti berbeda, dan bisa jadi ada aitem yggugur (item-total corr yg rendah).kalau menurut pedpt Huck di atas, menurut saya try-out terpakai yg dikemukan oleh Prof. Sutrisno Hadi adalahbisa dilakukan, krn diestimasikan pada sampel penelitian yg sesungguhnya (bkn sampelpilot study). bahkan justru estimasi ini yg lebih mengambarkan estimasi reliabilitas alat ukur tersebut utk kelompok sampel ini, sdgkan estimasi RB pd sampel pilot study krg mengambarkan sbb berasal dari group yg berbeda.Bgm menurut Pak Wahyu?? Terima Kasih.
#4 byWahyu Widhiarso on December 8, 2011 - 08:42
Betul, koefisien alpha berbasis teori skor murni klasik psikometri yang sangat terpengaruholeh karakteristik sampel. Oleh karena itu setiap prosedur pengukuran diharapkanmelaporkan reliabilitas pengukuran yang dilakukan.Masalah try out terpakai..Psikometri dan statistik memiliki perbedaan. Gampangannya, psikometri adalah persiapanalat ukur, sedangkan statistik adalah pengujian hipotesis. Alat ukur harus siap dulu, barudipakai untuk penelitian (menguji hipotesis). Penggabungan keduanya dalam tataran tertentuakan menghasilkan keputusan yang bias, kecuali menggunakan beberapa teknik analisislanjut. Misalnya model yang bisa merangkum eror pengukuran dan eror prediksi (residual)dalam satu sistem.Jadi, sebelum maju perang siapkan dulu senjata kita. Kalau senjata kita telah teruji,menghasilkan tembakan yang akurat (skor valid) dan arah tembakannya konsisten (reliabel)maka kita siap maju perang.Properti psikometris tes (pengukuran, skor, etc) sangat terpengaruh karakteristik sampel.Oleh karena itu, ketika melakukan pilot test, diharapkan sampel yang dilibatkan adalahrepresentatif, heterogen dan large sizes. Jadi, ketika skala diberikan pada orang lain,
Analisis Aitem pada Skala Multidimensi | Diskusi Metodologi Penelitianhttp://wahyupsy.blog.ugm.ac.id/2010/09/02/analisis-aitem-pada-skala-m...2 of 417/09/2012 10:48
 
Daftar IsiSELAMAT DATANGKontenPostsKutipan Tanya JawabPaper ResearchReferensiTanya JawabDownloadKuliahFTPPresentasi Analisis DataKompilasi Skala PsikologiData Files Artikel Buletin PsikologiLinks About MeBuku TamuSemua Model Salah, Tapi adaBeberapa yang BermanfaatEstimasi Parameter danKetepatan Model dalam Analisis Data KategorikalBerkenalan dengan RegresiProbitBerkenalan dengan AnalisisFaktor Multi GrupUji Keberfungsian AitemDiferensial denganMenggunakan RegresiLogistik Analisis Faktor KonfirmatoriMelalui Program EXCELBerkenalan dengan RegresiMultilevelReliabilitas dan ValiditasKonstruk dalam PemodelanPersamaan Struktural (SEM)Berkenalan dengan KorelasiIntrakelas (ICC)Dua Cara Proses Identifikasidalam Analisis Faktor KonfirmatoriMenerapkan Bootstrappingdalam Proses EstimasiReliabilitas
 AMOS
analisis aitem
analisis butir 
 AnalisisFaktor 
 Analisis FaktoKonfirmatoriAnalisisKelas Laten
 AnalisisKovarian
 Anava
 ANOVA
 Aspek
dif 
dimensi
Eksperimen
FaktorGuttmanIRTkategori skorKetepatanModel
KoefisienReliabilitas
KonjenerikKorelasi
Korelasi Item Total
Linieritas
Lisrel
MetodologiPenelitian
Model Rasch
MPLUS
Normalitas
penyusunan skalaPenyusunan SkalaPsikologi
Regresi
Seleksi Aitem
SEM
SPSSStatistika
SumbanganEfektif 
Teori ResponsButirUji-t
Uji AsumsiUji AsumsiUji HipotesisUkuranSampel
Validitas Isi
VariabelMediator 
VariabelModerator 
NetworkedBlogsBlog:Diskusi MetodologiPenelitianTopics:Psikometri,Metodologi Riset,Statistik Follow my blog
Submit Comment
Name (required)E-Mail (required)
(will not be published)
Website
propertinya tidak banyak berubah. Kalau sampel pilot tes kita representatif dan heterogen,maka properti tersebut akan konsisten. Ketidakonsistenan seringkali terjadi karena saatpilot test, sampelnya kurang representatif. Dan kadang malah berbeda, misalnya pilottestpada mahasiswa akan tetapi aplikasinya pada karyawan
#5by
Triantoro Safaria
on December 8, 2011 - 12:20
terima kasih Pak wahyu atas pencerahannya…..
#6by
Triantoro Safaria
on December 8, 2011 - 12:24
Bgm dgn prosedur pengujian dgn SEM Pak Wahyu. apakah alat ukur perlu di try-out terlebih dahulu pada sampelpilot study, baru kemudian diuji dgn full model melalui SEM dgn real sample. Apakah boleh ketika kita hendak menguji dgn Full model tdk melalui proses try-out alat ukur, krn pada analisisSEM Full model selain menguji struktur model juga menguji measurement model?Mohon pencerahannya?
#7 byWahyu Widhiarso on December 9, 2011 - 01:51
Meskipun SEM adalah penggabungan psikometri dan statistika, saya belum menemukan jurnal yang membahas model pengukuran dan model struktural jadi satu.Peneliti yang mengembangkan model kebanyakan menggunakan instrumen yang tervalidasi, jadi mereka tidak lagi mengevaluasi model pengukurannya lagi.Jadi, saya belum bisa menjawab. Saya masih berpatokan pada jurnal2 penelitian yang sayabaca.
Analisis Aitem pada Skala Multidimensi | Diskusi Metodologi Penelitianhttp://wahyupsy.blog.ugm.ac.id/2010/09/02/analisis-aitem-pada-skala-m...3 of 417/09/2012 10:48

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->