Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
3Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Delimitasi Batas Maritim Antara Indonesia Dan Malaysia

Delimitasi Batas Maritim Antara Indonesia Dan Malaysia

Ratings: (0)|Views: 160 |Likes:
Published by AF Nata

More info:

Published by: AF Nata on Dec 31, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/07/2013

pdf

text

original

 
1
MERAJUT DINDING MAYA:Delimitasi Batas Maritim antara Indonesia dan Malaysia
1
 
I Made Andi Arsana
2
 madeandi@ugm.ac.id
Intisari
Karena posisi geografisnya, Indonesia bertetangga dengan setidaknya sepuluh negara yangdengan semuanya Indonesia perlu menetapkan batas maritim. Hingga bulan November 2010,Indonesia masih harus menuntaskan penetapan batas maritim dengan beberapa negara, salahsatunya Malaysia. Dengan Malaysia, Indonesia harus menyelesaikan batas maritim di empatkawasan yaitu Selat Malaka, Laut China Selatan, Laut Sulawesi dan Selat Singapura (TanjungBerakit).Penyelesaian batas maritim antara Indonesia yang belum tuntas terbukti menimbulkanberbagai persoalan. Ketegangan antara Indonesia dan Malaysia akibat sengketa di kawasanperbatasan maritim telah dan masih terjadi hingga saat ini. Sengketa terkait Blok Ambalatyang muncul tahun 2005 dan 2009 serta insiden Tanjung Berakit adalah dua isu besar yangmenyita perhatian banyak pihak. Makalah ini membahas dua isu utama tersebut, diawalidengan pemaparan prinsip dasar penguasaan laut oleh negera-negara di dunia berdasarkankonsep hukum laut internasional. Selanjutnya, opsi penyelesaian batas maritim dari aspek teknis/geospasial dan hukum akan disajikan.
 Kata kunci:
 
 Indonesia, Malaysia,
 
batas maritim, delimitasi, kedaulatan, hak berdaulat, aspek teknis/geospasial hukum laut.
Abstract
Due to its geographical location, Indonesia shares border areas with at least ten neighbours,with which maritime boundaries need to be settled. At the time of writing (November 2010),Indonesia has yet to finalise its maritime boundaries with some States including Malaysia.With Malaysia, Indonesia has yet to finalise maritime boundaries in four main locations:Malacca Strait, South China Sea, Sulawesi Sea and Singapore Strait (off Tanjung Berakit).It has been evident that pending maritime boundaries can spark problems between Indonesiaand Malaysia. Dispute over Ambalat Block in 2005 and 2009 and the recent incident in thewaters off Tanjung Berakit are two main attention-grabbing issues. This paper discusses theseissues, preceded by discussion on the principles of coastal States’ maritime entitlementpursuant to international law of the Sea. Following the discussion, this paper provides optionson settling maritime boundaries in technical/geospatial and legal perspective.
 Keywords:
 
 Indonesia, Malaysia, maritime boundary, delimitation, sovereignty, sovereignrights, technical/geospatial aspects of the law of the sea.“Good fences make good neighbors” (Robert Frost)
1
Makalah disampaikan pada Seminar Nasional “Diplomasi Perbatasan: Strategi Indonesia Mengalahkan KlaimMalaysia dalam Perundingan” yang diselenggarakan oleh Jurusan Hubungan Internasional, UniversitasGadjah Mada pada tanggal 8 Desember 2010 di Yogyakarta.
2
Dosen Teknik Geodesi, Universitas Gadjah Mada yang sedang menyelesaikan pendidikan doktor dengan kajianbatas maritim Indonesia di University of Wollongong, Australia. Tulisan ini adalah pendapat pribadi.
 
2
1.
 
PENDAHULUAN
Robert Frost bisa jadi benar dengan kalimatnya ”
good fences make good neighbours
”, bahwaterpeliharanya dinding batas yang baik akan menjamin hubungan bertetangga yang baik pula.Hal ini setidaknya terlihat pada hubungan antara Indonesia dan Malaysia dalam beberapatahun terakhir. Belum tuntasnya urusan batas maritim antara kedua negara telah menimbulkanberbagai persoalan dan ketegangan di kawasan perbatasan. Menariknya, sengketa ini bukanlahhal baru dan masih terus muncul meskipun usaha penyelesaian telah dan terus diupayakan.Pada bulan Februari 2005, hubungan Indonesia dan Malaysia mengalami ketegangan karenasengketa kepemilikan atas blok dasar laut yang oleh Indonesia disebut Blok Ambalat.Sengketa ini muncul saat perusahan minyak Malaysia, Petronas, memberikan konsesieksplorasi minyak kepada perusahaan Shell pada tanggal 16 Februari 2005. Sementara itu,Indonesia sudah memberikan konsesi untuk wilayah dasar laut yang sama kepada Unocal padatanggal 12 Desember 2004 (Sumaryo, dkk., 2007). Dengan kata lain, dalam perspektif Indonesia, Malaysia telah mengklaim kawasan yang sebelumnya telah dikelola oleh Indonesia.Hal ini menimbulkan reaksi dari berbagai kalangan di Indonesia. Tidak saja ramai dalambentuk opini di media massa, reaksi masyarakat diwujudkan dalam bentuk demonstrasi massa,protes dan bahkan aksi tanda tangan darah (Rais dan Tamtomo, 2005). Setelah lebih dariempat tahun, isu tentang Ambalat mengemuka lagi. Ketegangan antara kedua negara tetanggaterjadi lagi karena disinyalir adanya pelanggaran di wilayah perairan Ambalat oleh kapalMalaysia (Gatra, 2009). Meskipun kedua belah pihak sudah dan sedang menempuh upaya-upaya penyelesaian melalui negosiasi (Antara, 2009a), rupanya penyelesaian sengketa terkaitAmbalat belum tuntas sepenuhnya.Pada bulan Agustus 2010, ketegangan antara Indonesia dan Malaysia terjadi lagi terkaitinsiden di perairan Tanjung Berakit yang melibatkan aparat Indonesia, nelayan Malaysia danaparat Malaysia. Kejadian ini dimuat oleh berbagai media masa dan sempat menjadi isu yangsangat panas di Indonesia. Siaran pers resmi dari Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP)menyebutkan tiga petugas patroli KKP ditahan oleh Polis Laut Diraja Malaysia pada saatmenjalankan tugas di perairan Indonesia di sekitar Tanjung Berakit. Petugas Patroli itudinyatakan sedang menertibkan nelayan Malaysia yang disinyalir sedang menangkap ikan diperairan Indonesia (KKP, 2010). Senada dengan itu, pernyataan dari Kementrian Luar NegeriIndonesia (Kemlu) juga menegaskan bahwa insiden itu memang terjadi di wilayah perairanIndonesia dan Indonesia dengan segera melakukan tindakan yang dipandang perlu. Pada saatpenulisan makalah ini (November 2010), isu ini sudah mereda dan kedua negara bersepakatuntuk mengusahakan penyelesaian dengan mengintensifkan perundingan penetapan/delimitasibatas maritim antara kedua negara.Makalah ini membahas dua isu utama antara Indonesia dan Malaysia yaitu Blok Ambalat danInsiden Tanjung Berakit dari aspek teknis/geospasial dan hukum dalam konteks kedaulatandan/atau hak berdaulat. Opsi penyelesaian sengketa melalui proses delimitasi batas maritimdari tinjauan ilmiah dan teknis juga akan disampaikan. Mengawali makalah ini, akandijelaskan pula prinsip dasar penguasaan laut oleh negara-negara di dunia serta prinsip berbagilaut antarnegara tetangga yang disebut dengan proses delimitasi maritim. Karena ini adalahkajian ilmiah yang bersifat netral, tidak akan disampaikan secara eksplisit strategi Indonesiauntuk ‘mengalahkan’ Malaysia di meja perundingan seperti tema seminar ini. Meski demikian,pemaparan berbagai opsi dan kemugkinan diharapkan bisa menjadi pertimbangan bagi parapihak yang terlibat dalam penyelesaian batas maritim antara Indonesia dan Malaysia, yangujungnya adalah demi terwujud dan terpeliharanya dinding batas maya antara kedua negara.
 
3
2.
 
KLAIM DAN DELIMITASI MARITIM
Usaha negara untuk menguasai laut di masa modern sudah terjadi sejak abad ke-15 yangmelibatkan Spanyol dan Portugis melalui
bull
 
 Inter Caterea
tertanggal 4 Mei 1493 oleh PopeAlexander VI ( ___, 1917). Perkembangan selanjutnya di abad ke-20 ditandai dengan adanyausaha secara sporadis oleh berbagai negara untuk mengklaim kawasan laut misalnya sepertiyang dilakukan oleh Amerika Serikat melalui proklamasi Presiden Harry S. Truman tahun1945 (Presidential Proclamation No. 2667, 1945). Hal ini diikuti oleh negara-negara AmerikaLatin seperti Argentina, Chile, dan Peru (United Nations, 1982a). Di masa itu, banyak negaramelakukan klaim maritim secara sepihak tanpa ada ketentuan internasional yang mengatur.Dalam rangka mengatur klaim maritim oleh berbagai negara ini, PBB melakukan usahakodifikasi hukum laut yang dimulai tahun 1958. Usaha terakhir dilakukan pada konferensiPBB tentang Hukum Laut III yang berakhir tahun 1982 di Montego Bay, Jamaica. Saat itulahditetapkan United Nations Convention on the Law of the Sea 1982 (UNCLOS) yang berlakuhingga kini (United Nations, 1982b). UNCLOS merupakan konvensi hukum laut yang palingkomprehensif sehingga disebut “A Constitution of the Ocean.” (Koh, 1982).UNCLOS mengatur tentang kawasan maritim yang menjadi hak negara pantai. Kawasanmaritime ini meliputi berbagai zona yang diukur dengan lebar tertentu dari garis pangkal(
baseline
). Garis pangkal adalah garis referensi atau acuan dalam mengukur lebar zonayurisdiksi maritim. Menurut UNCLOS, beberapa jenis garis pangkal yang umum digunakanadalah garis pangkal normal (UNCLOS, Pasal 5), lurus (UNCLOS, Pasal 7), penutup mulutsungai (UNCLOS, Pasal 9), penutup mulut teluk (UNCLOS, Pasal 10), pelabuhan(UNCLOS, Pasal 11), dan elevasi pasut atau
low tide elevation
(UNCLOS, Pasal 13). Zona-zona tersebut antara lain 12 mil laut (M)
3
laut teritorial (UNCLOS, Bagian II), 24 M zonatambahan (UNCLOS, Bagian II), 200 M zona ekonomi eksklusif, ZEE (UNCLOS, Bagian V),dan landas kontinen yang lebarnya bisa mencapai 350 M atau lebih (UNCLOS, Pasal 76)seperti diilustrasikan pada Gambar 1. Selain terkait cakupan horizontal (ukuran lebar),masing-masing zona juga memiliki cakupan vertikal (lapisan) berbeda. Laut teritorial,misalnya, meliputi tiga lapisan vertikal yaitu dasar laut, tubuh air dan udara di atasnya,sedangkan landas kontinen hanya mencakup dasar laut. Sementara itu ZEE meliputi dasar lautdan tubuh air (Papanicolopulu, 2007). Selain zona maritim yang menjadi kewenangan negarapantai, di luar itu dikenal juga adanya Laut Bebas (UNCLOS, Bagian VII) dan Kawasan atau
The Area
(UNCLOS, Bagian XI).Terkait kedaulatan, pada masing-masing zona di atas juga berlaku ketentuan berbeda. Padalaut teritorial misalnya berlaku kedaulatan penuh atau
sovereignty
(UNCLOS, Pasal 2)sedangkan pada ZEE (UNCLOS, Pasal 56) dan landas kontinen (UNCLOS, Pasal 77) berlakuhak berdaulat atau
sovereign rights
. Untuk hak berdaulat, suatu negara pantai tidak menguasaisecara penuh, hanya berhak untuk mengelola kekayaan alam saja. Pada kawasan hak berdaulat, yang berlaku adalah hukum internasional, bukan hukum nasional. Untuk bisamenerapkan kedaulatan atau hak berdaulat di masing-masing zona maritim, suatu negarapantai harus menentukan batas terluar masing-masing zona maritim bagi negaranya. Hal iniberlaku untuk semua zona, kecuali untuk landas kontinen.
4
Penentuan batas terluar masing-masing zona ini dilakukan secara unilateral (sepihak, tanpa melibatkan negara lain) dan
3
Mil laut disingkat M dalam makalah ini. 1 mil laut = 1.852 meter.
4
Pada landas kontinen, hak berdaulat tidak memerlukan adanya deklarasi aktif (UNCLOS, Pasal 77), meskipuntetap diperlukan pengajuan ke PBB untuk landas kontinen di luar 200 M dari garis pangkal.

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->