• Embed Doc
  • Readcast
  • Collections
  • CommentGo Back
Download
 
EARTHLY HUMAN BEING - 2Learning is a Process
Ibnu merasa sangat lega setelah dia memaparkan hasil telaahannyakepada Buya Nur. Seperti biasanya, Buya hampir hampir tidak berkomentar.Hanya sesekali Buya mengajukan pertanyaan agar Ibnu menambah penjelasanuraiannya.Dalam hal ini Ibnu yakin bahwa Buya bertanya bukannya tidak tahu, ataubutuh keterangan tambahan. Ibnu yakin bahwa Buya bertanya adalah untukmenunjukkan atensinya. Inilah salah satu akhlak Buya yang dikagumi Ibnu.Kapan saja, dan kepada siapa saja, Buya selalu menunjukkan atensi, perhatianpenuh saat mendengarkan orang itu bicara. Buya tidak pernah membedakanapakah dia menghadapi orang awam atau orang berilmu. Perlakuan danperhatian Buya sama kepada orang kaya atau orang miskin, pejabat atau rakyatbiasa. “Bukankah ini merupakan buah dari akhlak yang terpuji?”, bisik Ibnu padadirinya sendiri.Ibnu semakin larut dalam
flash bac
. Malam itu pekan lalu, sepertibiasanya, pertemuan Ibnu dengan Buya berakhir menjelang tengah malam.Masih terngiang di telinga Ibnu, Buya berkata sembari berdiri sebelum beranjakmenuju ke mihrab, “Ibnu. Asah terus otak dan hatimu. Telaah lebih lanjut apayang telah engkau pelajari dariku. Dan kamu jangan ragu ragu mengemukakanpendapat. Ingat,
agama itu adalah akal
. Tidak ada agama tanpa akal. Janganpernah membatasi diri sendiri dalam mempergunakan akalmu.
Biarlah akalmenjelalajah bebas, meng-eksplorasi baik realita maupun hakekat segalasesuatu.
Insyaallah nanti hatimu akan membimbing dan mengarahkannya.Karena itu hatimu harus diisi dengan
iman yang benar dan yakin
, harus
dibersihkan dari kotoran dan penyakit 
. Yang berbahaya adalah kalau akalmubebas menjelajah sementara hatimu tidak berfungsi, karena
kotor 
atau
sakit 
.Dalam keadaan tidak seimbang antara akal dan hati, maka seseorang akanmudah
tersesat 
. Orang yang lebih kuat akalnya tetapi lemah hatinya, mudahtersesat di wilayah manusia bumi. Sedangkan orang yang kuat hatinya tanpaakal yang seimbang, akan mudah tersesat di wilayah manusia langit. Saya mintakamu camkan ini benar benar.” Sambil mengakhiri ucapannya Buya Nur berbalikpelan dan berjalan menuju mihrab. Ibnu diam dengan khidmat. Kata kata Buya
1
 
barusan bukanlah hal yang mudah untuk difahami. Kalimatnya sederhana danbisa dimengerti. Namun
inti pesan
yang disampaikan Buya memerlukanpemahaman tersendiri. Karena itu Ibnu hanya menyimak dan mencatat baikbaik dalam memorinya. “Suatu saat nanti akan saya minta Buya menjelaskanlebih lanjut”, kata Ibnu berbisik pada dirinya sendiri.“Ibnu mana gambar yang kamu bikin pekan lalu”, kata Buya sembariduduk. Ibnu kaget dan tersentak dari arus
flash back 
nya yang kebablasan. Tanpa diketahuinya Buya sudah ada didepannya. Ibnu cepat cepatmengkonsolidasi dirinya kedalam kekinian. Dia menyerahkan gambar grafik yangdia buat berdasarkan telaahannya atas kertas
usang
yang diberikan Buya.Selama beberapa saat Buya memperhatikannya dengan saksama.Kemudian bertanya kepada Ibnu: “Apa yang engkau fahami dari garis miring OB,Ibnu?”. Ibnu masih belum sepenuhnya keluar dari arus
flash back 
nya. Denganagak terbata bata dia menjawab sekenanya: “Buya, menurut saya itu adalahyang menunjukkan arah jalan naik ke atas. ”Buya Nur diam. Wajahnya menunjukkan bahwa beliau sedang berpikir.Seperti biasanya, diamnya Buya bagi Ibnu merupakan suatu pelajaran. Ya,memang Buya senantiasa berpikir sebelum menyampaikan sesuatu. Saatdiamnya itu, seolah mengajari Ibnu bagaimana seorang yang berilmu harusbersikap hati hati dalam berbicara. Buya seakan akan sedang memberi nasehat
O ABConwardu wardGod ward
WilayahManusiaBumiOrientasi AkhiratWilayahManusiaLangitOrientasi Duniawi
 
 
GELAPTERANG
2
 
“Ibnu. Sebelum berbicara pikirkan baik baik. Pikir itu pelita hati.
Kata kata yang belum diucapkan berada dalam genggamanmu. Tetapi kata kata yangsudah diucapkan justru akan menggenggam dirimu.
Lagipula jangan pernahsampai melupakan bahwa setiap patah kata yang keluar dari ujung lidahmudicatat oleh malaikat untuk dimintai pertanggungan jawabanmu.” Begitulah Ibnuselalu mengartikan diamnya Buya sebelum mulai bicara.“Ibnu, apa yang kamu maksud dengan
atas
?”, tanya Buya.“Atas ya atas Buya. Bukannya bawah”, jawab Ibnu. Namun tiba tiba diamerasa malu sendiri dengan jawabannya yang sangat awam. Atas memangbukan bawah. Semua orang tahu. Itu tidak perlu dijelaskan. Buya tentumenghendaki jawaban yang lebih berisi.Ibnu mencoba berpikir. Dia mempergunakan nalarnya dan imaginasinyauntuk mencari jawaban yang lebih tepat. Setelah berdoa dalam hati Ibnumendapat ilham untuk menjawab pertanyaan Buya dengan lebih baik. “Segalasesuatu yang berada jauh dari pusat gravitasi bumi adalah atas Buya.” Ibnumerasa puas dengan jawabannya kali ini. Jawaban yang menurutnya lebih
ilmiah
.“Bagus Ibnu”, kata Buya. “Kamu tidak terjebak dengan pengertian yangawam. Istilah atas itu adalah relatif. Kalau kita ingat bahwa bumi ini bundar dansenantiasa berputar, maka yang kita katakan atas saat ini, sebentar lagi akanmenjadi samping dan bawah. Begitu juga bagi orang yang berada di belahanbumi lainnya.”Setelah diam sejenak Buya melanjutkan “Dengan pengertian seperti itu,maka sebetulnya dalam alam ini tidak ada atas atau bawah secara mutlak. Makabagi orang yang merasa
sedang di atas
, atau sedang menjadi
atasan
, haraptidak melupakan bahwa pada saatnya mereka akan kembali berada
di bawah.
Atau bahkan sesungguhnya mereka berada
di bawah
”.“Buya, kalau begitu garis upward O – B itu benarnya memang putus putusBuya”, tanya Ibnu. Setelah memperhatikan gambar Ibnu sekali lagi Buya Nurmenjawab: “Benar Ibnu. Sebetulnya itu adalah
batas
antara wilayah manusiabumi dengan wilayah manusia langit. Kalaupun ada manusia bumi yangmenempuh jalan lebih keatas, itu adalah
gradasi
tingkat kemelekatan merekadengan duniawi. Namun mereka masih berada di wilayah manusia bumi. Masihberorientasi duniawi. Mereka berkarya, tetapi paling paling hanya sekadar
3
of 00

Leave a Comment

You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...
You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...