Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
1Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Iman, Ibadah Dan Akhlak

Iman, Ibadah Dan Akhlak

Ratings: (0)|Views: 118 |Likes:
Published by miftah_ayah_hatta

More info:

Published by: miftah_ayah_hatta on Jan 07, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/07/2013

pdf

text

original

 
1
 
IMAN DAN IBADAHMENDIDIK MANUSIA BERAKHLAK AL-KARIMAHOleh: MiftahulhaqA.
 
Pendahuluan
Islam merupakan agama yang komprehenship
(syumul)
. Ajarannya tidak hanyabeorientasi pada penghambaan diri kepada Tuhan, tetapi menyangkut seluruh aspek kehidupan, termasuk bagaimana berperilaku dan berhubungan dengan sesama makhluq.Ajaran Islam yang sempurna ini dikelompokkan ke dalam 4 (empat) aspek pokok kajian, yaitu aqidah, ibadah, akhlaq, dan muamalah. Keempat pokok kajian ini tidak dapat berdiri sendiri, tetapi memiliki keterkaitan dan saling mempengaruhi satu samalain sehingga dapat mencapai kesempurnaan
(kaffah)
dalam ber-Islam.Kehadiran Islam selaku agama tentunya bukanlah tanpa maksud. Agamaberfungsi sebagai pembimbing dan pemberi keseimbangan hidup bagi manusia. Karenaagama berisikan berbagai peraturan Tuhan yang bersifat mutlak bagi manusia di semuatempat dan waktu sehingga peraturan yang dibuat Tuhan betul-betul adil. Secarapraksis, menurut Syukur (2006: 29-30) peranan agama dalam kehidupan manusia dapatdilihat dari berbagai aspek, baik itu aspek keagamaan (
religius/ritual
), psikologis (jiwa),antropologis, sosiologis, hakekat kemanusiaan dan moral
(ethic)
.Secara tegas Allah menyatakan bahwa tujuan penciptaan manusia adalah untuk beribadah. Kecenderungan untuk beribadah atau bertuhan ini merupakan kecenderunganyang telah Allah berikan kepada manusia sejak awal penciptaannya. Sehingga potensiketuhanan yang dimiliki oleh setiap manusia merupakan fitrah yang terintegrasi dalamdiri dan sulit untuk dilepaskan. Melalui upaya pemeliharaan potensi ketuhanan danpelaksanaan ibadah serta kekuatan potensi akal manusia senantiasa berupaya untuk 
 
2
 
meningkatkan kualitas kemanusiaannya yang masih belum sempurna. Kesempurnaandiri inilah, menurut Syukur & Usman, F (2009: 10-11), yang sering disebut sebagai
insan kamil,
yaitu seorang manusia yang telah mencapai
maqam
(peringkat perjalananruhani) menuju Tuhan, yang mana segenap potensi
asma
dan sifat Tuhan yangterpendam dalam dirinya telah dapat teraktualisasi secara seimbang.Secara garis besar, seorang mukmin untuk meningkatkan kualitas jiwanyasehingga mencapai kesempurnaan diri dapat melalui beberapa tahapan. Hidayat (2008:14) menyatakan bahwa setidaknya ada tiga tahapan bago seorang mukmin untuk menggapai kesempurnaan dirinya, yaitu;
Pertama, dzikir 
atau
ta’alluq
kepada Tuhan.Yaitu berusaha mengingat dan mengikatkan kesadaran hati dan pikiran kepada Allah,kapan dan di mana pun berada.
Kedua, takhalluq,
yaitu secara sadar meniru sifat-sifatTuhan sehingga sorang mukmin memiliki sifat-sifat mulia sebagaimana sifat-sifat-Nyaatau disebut juga sebagai proses internalisasi sifat Tuhan ke dalam diri manusia.
Ketiga,tahaqquq
, yaitu suatu kemampuan untuk mengaktualisasikan kesadaran dan kapasitas
dirinya sebagai seorang mukmin yang dirinya sudah ”didominasi” sifat
-sifat Tuhansehingga tercermin dalam perilakunya yang serba suci dan mulia
(akhlaqul karimah).
Tiga tahapan untuk mencapai kesempurnaan diri seorang mukmin di atasmenunjukkan bahwa setiap ajaran Islam itu memiliki korelasi satu sama lain. Tigatahapan di atas dapat dikelompokkan ke dalam tiga ajaran mendasar Islam, yaitu
iman
 (dzikir dan pengikatan kesadaran diri dan pikiran kepada Allah),
ibadah
(prosesinternalisasi nilai-nilai Tuhan), dan
akhlaq
(aktualisasi nilai-nilai Tuhan dalamkehidupan). Tulisan ini berupaya untuk mengungkap bagaimana korelasi antara imandan ibadah dalam upaya mewujudkan sikap dan perilaku mulia
(akhlaqul karimah)
.
 
3
 
B.
 
Iman, Ibadah, dan Akhlaqa.
 
Iman
Iman dalam pandangan Syukur (2006: 39) pada dasarnya adalah percaya danmembenarkan bahwa tiada Tuhan kecuali Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan-Nya. Pengertian ini membawa tidak hanya pada obyek-obyek rukun iman saja, tetapi juga mencakup pengimanan atas kewajiban shalat, zakat, puasa, haji dan sebagainya,demikian juga mengimani pengharaman sesuatu dan semua larangan-Nya. Iman yangsesungguhnya, menurut Qardlawi (2003: 27) adalah kepercayaan yang terhujam dikedalaman hati dengan penuh keyakinan, tak ada perasaan syak dan ragu-ragu, sertamempengaruhi orientasi kehidupan, sikap dan aktifitas keseharian. Iman dengandemikian tidak hanya terhenti pada tataran lisan atau hati saja, tetapi harus diteruskandalam perilaku yang nyata.Hal ini sama dengan penegasan Munir (2008: 87) yang menyatakan bahwa imanmemiliki unsur-unsur yaitu membenarkan dengan hati (
tasdiq bil qalb
),mengucapkan dengan lisan (
iqrar bil lisan)
, dan melakukan perbuatan dengananggota badan
(al-amal bil arkan)
. Ketiga unsur ini merupakan satu kesatuan,sehingga untuk membuktikan seseorang beriman haruslah direalisasikan denganamal perbuatan. Perbedaan dalam menggunakan ketiga macam unsur tersebut,berakibat pada kualitas iman seseorang. Gambaran mengenai keterikatan danketerpaduan antar unsur ini dapat dilihat pula dalam pernyataan Imam al-
Auza‟i,
sebagaimana dikutip oleh Ubaidah (2008: 226) bahwa tidaklah akan lurus iman itukecuali dengan perkataan, dan tidaklah akan lurus iman itu kecuali dengan perkataandan perbuatan. Dan tidaklah akan lurus iman, perkataan, dan perbuatan kecualidengan niat yang sesuai dengan sunnah (tuntunan) Nabi SAW.

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->