Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
2Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
MODUL PAI SMA KELAS XII

MODUL PAI SMA KELAS XII

Ratings: (0)|Views: 17 |Likes:
Published by Kelly Johnson
MODUL PAI SMA KELAS XII
MODUL PAI SMA KELAS XII

More info:

Published by: Kelly Johnson on Jan 08, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/16/2014

pdf

text

original

 
BAB IPENDAHULUANA.
 
Latar Belakang Masalah
Elite agama Islam, yang oleh kalangan masyarakat Jawa khususnya disebutkiai,
1
seringkali dijadikan bahan perbincangan para pengamat dan bahkan olehpara kiai sendiri, menyangkut tentang layak tidaknya mereka menerimamodernisasi. Sebagian kalangan berpendapat bahwa kiai seharusnya berperan sajasebagai pengayom umat terutama dalam kehidupan agama, dan karena itu lebihtepat jika menghindarkan diri dari arus budaya modernisasi yang bersifatkeduniawian.
2
Sebaliknya, terdapat pendapat lain yang mengatakan bahwa tidak ada alasan kiai harus fanatik terhadap modernisasi sebab nilai modernisasi secarapositif dapat kita adopsi sehingga dalam tataran kebutuhan unsur keduniawiankita tidak tertinggal.Dalam suasana silang pendapat seperti itu, ternyata di Mojokerto terdapatkiai yang mengadopsi nilai modernisasi. Dari sekitar 182 pesantren yang berada diMojokerto, ternyata ada tiga pesantren yang telah bergeser dari model salafi kemodel khalafi. Dasar pemikiran kiai terhadap perubahan pesantren salaf kepesantren khalaf melalui beberapa alasan.
Pertama,
bisa ditelusuri dari sumberajaran agama Islam sendiri, yang memiliki lingkup tidak hanya pada aspek ritualdan bimbingan moral, tetapi juga pada nilai-nilai disemua sisi kehidupan - baik dalam ilmu pengetahuan, ekonomi, hukum, sosial, maupun persoalan politik.
Sekalipun ajaran Islam lewat kitab suci al Qur‟an memberikan tuntunan yang
bersifat garis besar, tetapi tidak sedikit ajaran yang memberikan pesan-pesanmengenai penerimaan terhadap kemajuan, termasuk dalam kehidupan sehari-hari.Dan dalam hal ini, modernisasi tidaklah bertentangan sama sekali dengan kaidahyang
 syar’i
.Dalam kaitan ini, sangat menarik untuk memperhatikan bagaimana kaumMuslim memahami sebuah penegasan dalam al-Qur`an, yang menyatakan bahwa
1
Slamet Effendy, Yusuf,
 Dinamika Kaum Santri
,
 
(Jakarta: Rajawali Pers, 1983), hal. 154.
2
 http://GagasanModernisasi Islam Cak Nur dan Harun Nasution Dinilai Keliru ada kabarapa.htm, diakses 2 Mei 2011.
 
1
 
Kami tidak pernah mengutus seorang Utusan pun kecuali untuk memberikan pelajaran dengan bahasa kaumnya, agar ia dapat membuat segala sesuatunya jelas bagi mereka
”.
3
Menurut Nurcholis Madjid, dengan cara tersebut, al-Qur`anmenunjukkan bahwa risalah Islam karena universalitasnya, dapat diadaptasikandengan lingkungan kultural mana pun dan diwaktu kapan saja. Hal ini tentu sajamembutuhkan relatifitas yang dapat mengantarkan manusia pada arus modernisasiyang positif dan konstruktif.
4
 Kemajuan yang terus berkelindan dengan masyarakat, menunjukkan bahwamodernisasi tidak hanya mengarah pada kebutuhan tersier namun mengarah pada
kebutuhan yang sekunder dimana risalah Allah telah menyapa “
 Demi masa.Sesungguhnya setiap manusia akan benar-benar berada dalam kerugian. Kecualiorang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, dan nasehat-menasehatidengan kebenaran dan nasehat-menasehati dengan kesabaran
.”
5
Manusiasemacam ini, mengambil dari ilmu-ilmu masa kini secara optimal dan dengansegala kemampuannya berupaya untuk dapat unggul dibidangnya. Akan tetapi iamenggunakannya untuk tujuan mulia, yaitu melayani kebenaran, kebaikan, dansegala yang bermanfaat bagi manusia.
6
 Disisi lain, manusia menurut Islam adalah makhluk Allah yang paling muliadan unik. Ia terdiri dari jiwa dan raga yang masing-masing mempunyai kebutuhansendiri-sendiri. Manusia dalam pandangan Islam adalah makhluk rasional,sekaligus mempunyai nafsu kebinatangan. Ia mempunyai organ-organ kognitif,seperti hati (
qalb
), intelek (
aql
), dan kemampuan-kemampuan fisik, dan lain-lain.Dengan berbagai potensi semacam ini, manusia dapat menyempurnakan sisikemanusiaannya, sehingga dapat menjadi pribadi yang sangat dekat dengan tuhan,tetapi bisa juga menjadi manusia yang sangat hina karena nafsu kebinatangannya.
7
 
Dalam kerangka keunikan manusia dengan berbagai kemungkinan yangterbuka bagi dirinya, maka ilmu pengetahuan agama dan profan mendudukitempat yang amat penting dalam kehidupan manusia. Terkait hal tersebut, maka
3
QS., Ibrahim, 14:4.
4
Mark R. Woodward,
 Jalan Baru Islam,
(Bandung: Mizan, 1999), hal. 105.
5
QS., Al-Ashr, 103: 1-3.
6
Yusuf Qardhawi,
Umat Islam Menyonsong Abad Ke-21
, (Solo: Intermedia, 2001), hal. 76.
7
 
Syafi‟i Ma‟arif,
 Membumikan Islam
, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1995), hal. 9. Dan jugadalam Nabih Abdurrahman Athman,
 Manusia dalam Tiga dimens,
(Surabaya: Bungkul Indah,1994), hal. 123.
 
modernisasi harus didasarkan pada sumber al Qur`an dan al Sunnah. Di sampingitu, mengambil nilai-nilai modernisasi yang tidak bertentangan dengan ajaran alQur`an dan al Sunnah atas prinsip mendatangkan manfaat dan maslahat, sertamenjauhkan manusia dari kemadaratan, merupakan nilai positif yang wajibdiperhitungkan. Dengan dasar ini, maka modernisasi dapat diletakkan dalamkerangka sosiologis, menjadi sarana transmisi pewarisan kekayaan sosial budayayang positif bagi kehidupan manusia.
Kedua,
dalam Islam tidak mengenal pemisahan esensial antara ilmu agamadan ilmu profan. Berbagai ilmu yang berkembang dalam Islam, memangmempunyai suatu hirarkhi. Tetapi hirarkhi ini pada akhirnya bermuara pada
 pengetahuan tentang “Yang Maha Tunggal”, subst
ansi dari segala ilmu. Hal inioleh para intelektual muslim diintegrasikan melalui ilmu-ilmu yangdikembangkan berupa peradaban yang berbeda ke dalam skema hirarkhi ilmupengetahuan menurut Islam. Alasan inilah, kenapa para ulama, filosof, teolog danilmuwan Islam sejak masa zaman keemasan Islam sangat peduli denganklasifikasi ilmu pengatahuan.
8
Pemikir-pemikir Islam modern, melihat masyarakatmuslim yang sedemikian itu mencoba merekonstruksi pemahaman-pemahamankeagamaan di tengah perubahan dan perkembangan zaman agar tidak tertinggaldengan kemajuan Barat (Eropa dan Amerika), terutama dalam merespon ilmupengetahuan dan teknologi. Pemikiran ini membawa angin pencerahan(
aufklarung
) bagi masyarakat Islam. Pemikiran ini berusaha untuk membangkitkan kembali ghirrah Islam, sebagaimana peradaban Islam dimasalampau. Revitalisasi ini tidak sekedar menselaraskan kehidupan muslim denganketentuan-
ketentuan syari‟at, tetapi kehidupan sosial yang lebih luas, termasuk 
ilmu pengetahuan dan teknologi.
9
 Oleh karena itu, mensinergikan antara idealitas dan realitas, antara wahyudan akal menjadi mutlak dilakukan dengan selalu mempertimbangkan maslahatdan manfaat bagi manusia. Ini penting dilakukan, karena disamping sains danteknologi membawa cita-cita ideal bagi manusia, juga membawa akses yang
8
Azyumardi Azra,
Pendidikan Islam: Tradisi dan Modernisasi Menuju Millenium Baru
 (Jakarta: Logos Wacana Ilmu,
 
1999), hal. xii.
9
Abdul Munir Mulkhan dkk.,
 Rekonstruksi Pendidikan dan Tradisi Pesantren, Religiusitas IPTEK,
(Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1998), hal. 80.

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->