Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
1Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Pemungutan Pajak Dan Retribusi Daerah

Pemungutan Pajak Dan Retribusi Daerah

Ratings: (0)|Views: 142 |Likes:

More info:

Published by: Usaha Makanan Olahan on Jan 11, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/16/2014

pdf

text

original

 
 
PEMUNGUTAN PAJAK DAN RETRIBUSI DAERAH DALAM ERA OTONOMI DAERAHBAB
I
PENDAHULUANA. Latar Belakang Masalah
 Salah satu tujuan didirikannya Negara adalah untuk memberikankesejahteraan bagi rakyatnya, meningkatkan harkat dan martabat rakyatuntuk menjadi manusia seutuhnya. Demikian juga Negara Republik Indonesiasebagai negara merdeka dan berdaulat mempunyai tujuan dalammenjalankan pemerintahannya. Pembangunan di segala bidang dilakukanuntuk membentuk masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila danUndang-undang Dasar 1945.Untuk mencapai tujuan tersebut dalam melaksanakan tugaspemerintahan dan pembangunan senantiasa suatu negara memerlukanbeberapa unsur pendukung, salah satunya adalah tersedianya sumberpenerimaan yang memadai dan dapat diandalkan. Sumber-sumber penerimaanini sangat penting untuk menjalankan kegiatan dari masing- masing tingkatpemerintahan, karena tanpa adanya penerimaan yang cukup makaprogram-program pemerintah tidak akan berjalan secara maksimal.Semakin luas wilayah, semakin besar jumlah penduduk, semakinkompleks kebutuhan masyarakat maka akan semakin besar dana yangdiperlukan untuk membiayai kegiatan pemerintahan dan pembangunan.Penyelenggaraan otonomi daerah pada era setelah kemerdekaan Indonesia,diawali dengan terbitnya Undang-undang Nomor 1 Tahun 1945 tentang KomiteNasional Daerah. Kemudian diganti dengan Undang- Undang Nomor 22Tahun 1948 merupakan Undang-Undang Pokok tentang Pemerintahan
 
 
Daerah. Undang-undang yang berlaku selanjutnya adalah Undang-UndangNomor 1 Tahun 1957 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan Daerah; Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1965 ten
t
ang Pokok 
 – 
Pokok Pemerintahan Daerah;Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan ddaerah
.
 Pada masa reformasi, pemerintah Indonesia mengeluarkan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah danUndang-Undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan AntaraPemerintah Pusat dan Daerah
.
Diberlakukannya Undang-undang No. 22 Tahun1999 ten
t
ang Pemerintahan Daerah mengubah sistem sentralisasi pemerintahanyang terjadi sebelumnya ke arah desentralisasi dengan pemberian otonomidaerah yang nyata, luas dan bertanggungjawab kepada daerah
1
. Sis
t
empemerintahan yang bersifat desentralisasi, selain memudahkan koordinasikekuasaan dan pemerintahan juga mengakomodasi kondisi bangsa Indonesia.Wilayah kepulauan yang luas dan keanekaragaman budaya bangsa Indonesia,sehingga dibutuhkan pelaksanaan pemerintahan yang disesuaikan dengan ciridan kebiasaan dari masing-masing daerah
.
 Berbekal kekurangan pada pelaksanaan otonomi daerah sebelumnya, makapada tahun 2004, pemerintah menerbitkan Undang-Undang No. 32 Tahun 2004tentang Pemerintahan Daerah yang menggantikan Undang- undang No. 22 Tahun1999 tentang Pemerintahan Daerah. Demikian juga Undang-Undang No. 25Tahun 1999 digantikan dengan Undang-undang No. 33 tahun 2004 tentangPerimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah
.
 Salah satu komponen utama pelaksanaan desentralisasi dalamotonomi daerah adalah desentralisasi fiskal (pembiayaan otonomi daerah)
2
.Apabila pemerintah Daerah melaksanakan fungsinya secara efektif, dan
1
Agus Bandono, 2002,
 Lemahnya Etika Pelayanan Publik didalam Birokrasi
, Universitas Djuanda, Bogor.
2
 Tjip Ismail,
Pengaturan Pajak Daerah Indonesia
, Yellow Printing, Jakarta, 2007, hal 12. 
 
 
diberikan kebebasan dalam pengambilan kepu
t
usan penyediaan pelayanan disektor publik, maka mereka harus didukung sumber-sumber keuangan yangmemadai baik yang berasal dari Pendapatan Asli Daerah (PAD), termasuk 
surcharge of taxes,
Pinjaman, maupun dana Perimbangan dari Pemerintah Pusat
3
.Sumber keuangan Daerah dalam pelaksanaan desentralisasi, menurutPasal 5 ayat (1) Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 terdiri atas PendapatanDaerah dan Pembiayaan. Sedangkan pendapatan daerah menurut Pasal 5 ayat (2)Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 bersambung dengan Pasal 157Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 bersumber dari : Pendapatan AsliDaerah, Dana Perimbangan, dan Lain- lain Pendapatan. Adapun pembiayaanmenurut Pasal 5 ayat (3) Undang- Undang Nomor 33 Tahun 2004 bersumberdari : sisa lebih perhi
t
ungan anggaran daerah, penerimaan pinjaman daerah,dana cadangan daerah, dan hasil penjualan kekayaan daerah yang dipisahkan.Pajak Daerah sebagai salah satu sumber pendapatan daerah dari pendapatanasli daerah, menurut Pasal 8 Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004bersambung dengan Pasal 158 ayat (1) Undang-Undang Nomor 32 Tahun2004, ditetapkan dengan Undang-Undang, yang pelaksanaanya di daerah diaturlebih lanjut dengan Peraturan Daerah
.
Kedua pasal tersebut merupakanpenegasan dari apa yang telah diatur oleh konstitusi tertulis, yaitu Undang-Undang Dasar 1945 hasil Amandemen, khususnya Pasal 23A yang menegaskan,bahwa pajak dan pungutan lain yang bersifat memaksa untuk keperluannegara dia
t
ur dengan undang-undang
.
 Tujuan daripada reformasi terhadap peraturan perundang-undangan pajak dan retribusi daerah adalah untuk menyederhanakan dan memperbaiki jenis dan struktur perpajakan daerah, meningkatkan pendapatan daerah,memperbaiki sistem administrasi perpajakan daerah dan retribusi daerah
3
Machfud Sidik, Makalah Seminar Nasional,
 Desentralisasi Fiskal, Kebijakan, Implementasi danPandangan ke Depan Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah
, Yogyakarta, 20 April 2002, hal. 5.

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->