Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
2Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
KPHPedang Keramat Thian Hong Kiam

KPHPedang Keramat Thian Hong Kiam

Ratings:

4.33

(3)
|Views: 1,406|Likes:
Published by stephenspw
Kho PIng Ho, Indonesian Best Fighting Story Teller. All in Indonesian - Untuk Pencinta Kho Ping Ho. Selamat menikmati
Kho PIng Ho, Indonesian Best Fighting Story Teller. All in Indonesian - Untuk Pencinta Kho Ping Ho. Selamat menikmati

More info:

Published by: stephenspw on Feb 10, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
See More
See less

06/14/2009

 
Pedang Keramat Thian Hong Kiam
1
Pada tahun 870 sampai 873 rakyat Tiongkok menderita hebat sekali karena buruknyapemerintah yang dipegang oleh Dinasti Tang. Pembesar-pembesar dari yang terkecil sampaiyang terbesar, dari yang terendah sampai yang tertinggi, semua melakukan korupsi besar-besaran, hingga tenaga dan harta benda rakyat diperas habis-habisan.Di antara sekalian pembesar-pembesar koruptor tinggi, kaum Thaikam (orang kebiri) yangpaling hebat menjalankan peranan. Mereka ini tidak saja berpengaruh di dalam istanakaisar, tapi meluas sampai keluar hingga boleh dibilang, semua pembesar militer dan sipilberada dalam genggaman tangan mereka. Lebih dari setengah bagian dari pada seluruhtanah di ibukota dikuasai oleh para Thaikam ini.Para petani, atau lebih tepat disebut buruh tani, bekerja di atas tanah tuan-tuan besar inimelebihi kerja seekor kerbau. Sedangkan para petani yang memiliki sedikit tanah,dikenakan pajak yang sangat tinggi. Untuk tiap mou sawah, seorang petani harus membayarpajak dari 50 sampai 100 kati gandum.Tentu saja ini merupakan delapan bagian dari pada hasil tanah mereka. Apalagi ketikadalam tahun 873 di daerah Shantung dan Honan terserang musim kering yang hebat,sedangkan pajak yang telah ditetapkan itu sama sekali tidak berubah atau dikurangi.Celakalah nasib kaum tani. Siapa yang tidak kuat membayar pajak sebagaimana yang telahditetapkan, dihukum berat.Hukuman yang paling ringan adalah hukum cambuk lima puluh kali. Tapi hukuman yangdisebut paling ringan inipun sering mengantar nyawa seseorang ke alam baka, karenasiapakah yang kuat menahan pukulan cambuk besar sampai lima puluh kali, sedangkantubuh yang dicambuk itu telah begitu kurus kering karena kurang makan?Ada nasehat-nasehat kuno yang menyatakan bahwa rakyat jelata akan tunduk dan menurutapabila perut mereka kenyang, maka kenyangkanlah dulu rakyat jelata jika menghendakiNegara tenteram dan aman. Pada tahun 874, terbuktilah betapa tepatnya kata-kata itu.Para petani yang terjepit dan menderita dengan perut kosong, tak dapat bertahan lagi danmenjadi nekad. Maka pecahlah pemberontakan pertama di Cang-yuang (Shantung) yangdipimpin oleh Ong Sien Ci, dan pemberontakan ini didukung oleh hampir seluruh rakyatkecil. Pada tahun berikutnya, rakyat di Coa-chau memberontak pula, dipimpin oleh seorangpatriot bernama Oey Couw.Empat tahun kemudian, Ong Sien Ci tewas dalam sebuah pertempuran melawan tentarakerajaan Tang di Hupeh. Akan tetapi dalam sesuatu revolusi suci, tewasnya seorang duaorang, bahkan ratusan atau ribuan orang, tak menjadi soal dan sama sekali takkanmemadamkan api revolusi yang menggelora. Mati satu maju dua, gugur seratus majuseribu.Demikianlah, setelah Ong Sien Ci tewas, Oey Couw segera menggantikan dan memegangpimpinan atas barisan pemberontak yang berjumlah tidak kurang dari enam puluh laksaorang. Oey Couw yang gagah perkasa menjalankan taktik gerilya di sepanjang propinsiHupeh, Kiangsi, Cekiang dan An hwei lalu memutar dan kembali ke Honan, hingga dalamoperasinya ini, Oey Couw telah melakukan semacam “long march” yang jauhnya sepuluhribu li lebih.
PDF created with pdfFactory Pro trial versionwww.pdffactory.com
 
Pedang Keramat Thian Hong Kiam
2
Akhirnya, berkat semangat para tentara rakyat yang gigih melawan tentara Tang yang hanyapandai menerima suapan dan sogokan serta merampok harta benda dan mengganggu anakbini orang itu dapat dipukul hancur.Kaisar Tang melarikan diri mengungsi ke Secuan dan pasukan petani memasuki ibukotaCang-an, disambut oleh penduduk dengan gembira dan penuh harapan.******Untuk beberapa hari semenjak tentara petani berhasil mengalahkan kerajaan Tang, dikampung-kampung dan dusun-dusun orang mengadakan perayaan dengan tari-tarian,hingga keadaannya di mana-mana meriah seperti di waktu orang merayakan hari tahunbaru. Para petani kini bebas mengerjakan sawahnya tanpa kuatir membayar pajak yang tidaksemestinya itu. Para buruh juga mendapat harapan baik, tenaga mereka tidak diperasseperti kerbau.Pada suatu pagi, di antara banyak orang yang kesemuanya adalah orang biasa yangmengenakan pakaian petani dan pengemis, tanda dari buruk dan miskinnya keadaan rakyat jelata pada waktu yang lalu, nampak dua orang keluar dari pintu gerbang ibukota Cang-an.Seorang di antara mereka ini telah berusia lima puluh tahun lebih, berjenggot panjang danterpelihara baik-baik, dan wajahnya nampak merah dan sehat. Orang kedua adalah seorangpemuda yang berusia paling banyak tujuh belas tahun dan berwajah tampan sekali.Keduanya mengenakan pakaian petani dan kepala mereka terlindung oleh caping (topipetani yang lebar dan terbuat dari pada bambu).Di punggung yang tua terikat sebuah bungkusan bundar besar, sedangkan yang mudamemanggul sebuah bungkusan kecil panjang dari sutera kuning. Tak seorangpunmemperhatikan kedua orang petani ini, kecuali, orang-orang perempuan yang kebetulanmelihat mereka karena tertarik dan kagum akan kegantengan pemuda petani itu.Orang-orang sedikit pun tak menyangka bahwa mereka ini bukanlah sembarangan orang,akan tetapi adalah seorang Pangeran dan anaknya. Orang tua itu adalah Pangeran Liu MoKong yang tadinya menjabat pangkat kepala bagian perbendaharaan kaisar.Berbeda dengan pembesar-pembesar lain, Pangeran yang menjadi ahli kesusasteraan dan juga memiliki kepandaian silat tinggi ini, tidak ikut menggila seperti yang lain dan hatinyatetap bersih. Bahkan diam-diam ia merasa tidak senang melihat keburukan-keburukan yangterjadi di lingkungan istana. Akan tetapi, ia seorang diri tentu saja tidak berani menentangpara Thaikam yang sangat berpengaruh itu.Selain memiliki kepandaian sastera yang tinggi, Liu Mo Kong juga memiliki kesabaran dankekuatan batin yang sungguh-sungguh luar biasa. Hal ini terbukti ketika terjadi peristiwayang sangat ganjil dan memalukan.Beberapa belas tahun yang lalu, ketika isteri Liu Mo Kong mengunjungi permaisuri, kaisartelah melihatnya dan jatuh cinta kepada isteri Pangeran ini. Ketika itu, isteri Liu Mo Kongtelah setahun lebih melahirkan seorang anak dan nyonya Liu ini memang sangat cantik lagimasih muda, belum lebih dari pada dua puluh tahun usianya. Sedangkan Liu Mo Kong ketikaitu telah berusia tiga puluh lima tahun.Nyonya Liu ini adalah puteri seorang hartawan dari selatan dan terkenal sekali karenakecantikannya. Dan pertemuan ini lalu disambung dengan pertemuan lain, karena kaisar
PDF created with pdfFactory Pro trial versionwww.pdffactory.com
 
Pedang Keramat Thian Hong Kiam
3
memang masih muda dan mata keranjang. Dengan bujukan-bujukan halus maka runtuhlahiman nyonya Liu hingga ia mengadakan perhubungan gelap dengan kaisar lalim itu.Ketika Pangeran Liu Mo Kong mendengar tentang ketidak setiaan isterinya, biarpun di dalamhatinya ia merasa malu, marah, dan kecewa tercampur sedih yang menghancurkan hatinya,namun ia dapat menekan perasaannya itu dan bahkan lalu menceraikannya.Semua pembesar mengetahui hal ini, akan tetapi tak seorangpun yang berani membukamulut. Tidak saja mereka takut kepada kaisar, akan tetapi juga takut untuk menyinggungperasaan dan kehormatan Liu Mo Kong yang perkasa.Anak tunggal Liu Mo Kong adalah seorang wanita dan diberi nama Liu Yang Giok. Anak inisemenjak berusia satu tahun lebih telah ditinggalkan ibunya, akan tetapi karena sayangnyakepada anak ini, Liu Mo Kong tidak mau kawin lagi dan tinggal menduda sampai Yang Giokmenjadi dewasa. Ia memberi pelajaran kesusasteraan dan ilmu silat yang tinggi kepadaputerinya ini.Pada waktu tentara kaum tani menyerbu dan menduduki ibukota, Liu Mo Kong mengajakputerinya pergi meninggalkan istana. Biarpun dia menjadi kepala bagian bendahara raja,namun ia tidak mau membawa barang-barang istana, kecuali sebatang pedang, karenamenurut kepercayaan keturunan raja-raja dulu, pedang inilah yang menjadi bukti dan yangmengesahkan kedudukan raja yang memerintah di daratan Tiongkok, di antara pusaka-pusaka keraton lain. Pedang ini adalah pedang Thian Hong Kiam.Demikian, maka pada hari itu, Liu Mo Kong menyamar sebagai petani dan puterinya yangtelah menjadi gadis remaja itulah yang menyamar dan berpakaian sebagai seorang pemudatani tampan. Yang Giok memanggul bungkusan pakaiannya, sedang pedang Thian HongKiam juga berada dalam bungkusan itu. Dan ayahnya memanggul barang-barang berhargamilik mereka sendiri.Karena ayah dan anak ini tidak mempunyai keluarga lain, maka mereka meninggalkan istanadengan hati lapang. Mereka sengaja tidak mau ikut kaisar melarikan diri ke Secuan, danketika kaisar dan sekalian hambanya melarikan diri dengan tergesa-gesa ke Secuan, Liu MoKong mengajak anaknya bersembunyi, setelah berhasil mencuri pedang pusaka Thian HongKiam.Kedua ayah dan anak itu keluar dari pintu gerbang ibukota tanpa mendapat gangguan. Akanmereka tidak tahu bahwa di istana terjadi keributan karena Oey Couw pemimpinpemberontakan itu telah mengetahui bahwa pedang Thian Hong Kiam telah lenyap.Dari para penyelidiknya ia mendengar bahwa Pangeran Liu Mo Kong tidak ikut pergimengungsi dengan kaisar dan menjadi orang terakhir yang meninggalkan istana itu. Maka iasegera memerintahkan seorang panglimanya membawa barisan mengejar Pangeran Liu MoKong itu.Sementara itu, Liu Mo Kong dan Liu Yang Giok telah pergi jauh meninggalkan kota raja.Yang Giok bernapas lega dan berkata,“Ah, untung tak seorangpun mengenal kita, ayah.”Akan tetapi, Liu Mo Kong menggeleng-gelengkan kepala, “Betapapun juga, kita harusberlaku hati-hati. Ingat, anakku, apabila sampai terjadi sesuatu, jangan kau hiraukan akubawalah pedang itu pergi jauh-jauh dan kau harus pergi ke selatan.”
PDF created with pdfFactory Pro trial versionwww.pdffactory.com

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->