• Embed Doc
  • Readcast
  • Collections
  • CommentGo Back
 
Harta Karun Jengis Khan – Serial Pedang Kayu Harum6
 KOTA An-keng terletak di tepi Sungai Yang-ce, sebuah kota besar di utara Sungai itudari Propinsi An-hwi. Karena letaknya yang strategis, dekat dengan Sungai besar Yang-ce yang datang dari kota besar Wu-han dan menuju ke kota Nan-keng, makakota An-keng ini amat ramai dan menjadi pusat perdagangan yang diangkut melaluiSungai itu. Perdagangan yang amat ramai di kota itu membuat An-keng menjaditempat yang banyak dikunjungi para pedagang sehingga bukan hanya toko-tokobesar, akan tetapi juga restoran-restoran dan hotel-hotel tumbuh bagaikan jamur dimusim hujan.Selain terkenal sebagai kota dagang yang ramai, juga An-keng mempunyai tempatplesiran di tepi Sungai Yang-ce yang sengaja dibuat oleh pemerintah daerah. Tempatini adalah sebuah telaga buatan yang mendapatkan airnya dari sungai itu dan disekitar telaga ini ditanami bunga-bunga yang indah. Juga telaga itu sendirimerupakan tempat bersantai yang menarik. Di satu bagian terdapat tanaman bungateratai merah putih yang melatarbelakangi angsa-angsa putih berleher panjang yangberenang-renang dengan cantiknya di sekitar bunga-bunga teratai itu. Ada bagian dimana orang dapat memancing ikan, berperahu, atau duduk dengan santainya direstoran-restoran di tepi danau buatan, minum arak sambil menikmati pemandanganindah, melihat perahu-perahu berlalu lalang ditumpangi muda mudi yang asikberpacaran. Angin yang sejuk membuat orang makin betah dan suasana yangnyanian itu membuat orang lupa bahwa dia telah menghabiskan seekor bebekpanggang yang terkenal di tempat itu, ditemani arak seguci kecil! Makin mabok,makin menarik dan indahlah suasana di sekitar Telaga Teratai Merah Putih di kota An-keng dan di sana sini terdengar sasterawan-sasterawan yang sudah mabok bernyanyiatau membaca sajak-sajak yang indah. Makin siang, suasana menjadi semakinmeriah, apa lagi karena beberapa orang hartawan telah menyewa sekelompokwanita pemain musik dan penyanyi, membawa mereka ke dalam perahu dan suaranyanyian dan yang-kim mengalun bersama-sama permukaan air danau yangdiguncang oleh perahu-perahu itu.Di dalam sebuah di antara restoran-restoran yang dibangun di tepi pantai,bangunannya merupakan panggung agak tinggi yang menjulur ke air sehingga paratamu yang duduk makan minum seolah-olah merasa berada di atas perahu besaryang tidak bergerak, nampak sepasang orang muda duduk sambil menghadapibebek panggang dan arak. Mereka itu merupakan pasangan yang cocok dan sedapdipandang. Yang pria berusia kurang lebih duapuluh tiga tahun, berkulit muka putihdengan sepasang alis hitam berbentuk golok, wajahnya tampak sekali dan gerak-geriknya amat halus. Pakaiannya seperti pakaian seorang pemuda pelajar, akantetapi kulau biasanya para pelajar itu berpakaian dan bersikap sederhana, sebaliknyapakaian pemuda itu rapi sekali, bahkan mendekati pesolek walaupun sikapnya tidakberlebih-lebihan seperti biasa sikap pemuda-pemuda bangsawan yang kerjanyahanya menjual tampang dan memamerkan kekayaan padahal batinnya kosong.Pemuda ini berpakaian rapi, bersikap halus dan senyum manis selalu tersungging dibibirnya. Akan tetapi, kalau ada orang yang sudah biasa berkecimpung di duniapersilatan dan mempunyai pandang mata seorang ahli, tentu dia curiga terhadappemuda halus tampan ini. Sepasang matanya mencorong penuh kekuatan, tajammenusuk seperti hendak menembus dada orang lain untuk menjenguk isi hatinya.Selain itu, juga ada sesuatu tersembunyi dalam gerakan halus itu, sesuatu yangmembayangkan kekuatan yang amat hebat. Regangan-regangan jari tangannyakalau bergerak, kedudukan tubuh dan kedua lengannya, bagi orang yangberpemandangan tajam tentu akan mengenal gerakan otomatis seorang ahli silat!
1
 
Harta Karun Jengis Khan – Serial Pedang Kayu Harum6
  Temannya juga amat menarik perhatian. Seorang wanita muda yang usianyasebaya, andaikata lebih tua sedikitpun tidak akan ketahuan karena memang wanitaitu cantik sekali dan ada kelembutan yang membuat ia nampak lebih muda dari padatemannya. Wanita muda itu cantik jelita dan manis, kulitnya putih kemerahan danseperti juga temannya itu, iapun berpakaian indah. Wajahnya yang cantik manis itutidak memakai hiasan terlalu tebal, dan memang hal itu tidak perlu, bahkan mungkinakan merusak kecantikannya yang aseli. Bibir yang tipis penuh itu memang tidakmembutuhkan pemerah lagi karena sudah merekah merah dan selalu seperti basah.Alisnya yang kecil panjang itu memang sudah hitam sekali, tidak perlu ditambahpenghitam alis lagi. Ketawanya cerah dan suaranya merdu. Sepasang matanya jugaakan membuat ahli silat yang berpemandangan tajam terkejut karena mata itukadang-kadang mencorong, kadang-kadang mengeluarkan sinar yang demikiandingin menyeramkan, akan tetapi kadang-kadang juga penuh gairah yang hangatdan hidup. Sejak tadi keduanya duduk di restoran itu, makan minum, bercakap-cakap, kadang-kadang berbisik-bisik dan nampak nyata kasih sayang terpancar padapandang mata mereka kalau mereka sudah berbisik-bisik saling pandang seperti itu.Ada kalanya mereka kelihatan seperti sepasang muda mudi yang asik berpacaran,akan tetapi kadang-kadang mereka bicara serius. Ketika terdengar suara nyanyiandan suara sasterawan-sasterawan tua yang mabok bersajak di atas perahunya yangmeluncur tanpa tujuan di atas air, terdengar wanita muda itu tertawa merdu dantangan kirinya menutupi mulut dengan gaya yang menarik. "Apa yang kauketawakan?" tanya pemuda itu sambil menatap wajah temannyadengan penuh kagum. Sudah tiga tahun dia hidup di samping gadis ini namun setiapkali dia masih terpesona mengagumi kecantikannya. Kalau gadis itu sudah tertawa,dengan sepasang matanya ikut tertawa, hidungnya yang kecil itu agak dikernyitkanseperti itu, ada sesuatu yang membuatnya merasa terharu, keharuan yang munculkarena rasa sayang yang amat besar yang seolah-olah menembus jantungnya danmembuat dia yakin betapa besar rasa cintanya kepada gadis ini. Rasa cinta inilahyang mendatangkan semua keindahan dan kecantikan itu. Bagi pandang mata oranglain, belum tentu gadis itu akan nampak sedemikian cantik dan indahnya di waktutertawa seperti itu, akan tetapi bagi dia, dunia seolah-olah ikut tertawa bersamamata yang bersinar-sinar, hidung yang tertarik ke atas dan gigi yang mengintaisekilas di balik sepasang bibir merah basah yang terbuka itu. "Kau tidak dengar sajak sasterawan tua yang berdiri bergoyang-goyang mabok diatas perahunya yang lewat tadi?" "Tentu saja. Sajaknya indah dan dia mengeluh tentang hari tuanya. Dia inginselamanya tinggal muda untuk menikmati keindaban Danau Teratai Merah Putih." jawab si pemuda. "Sajak itu menyedihkan, kenapa kau tertawa mendengarnya?Kurasa tidak ada lucunya di situ." 
2
 
Harta Karun Jengis Khan – Serial Pedang Kayu Harum6
"Hi-hik, itulah karena engkaupun sama dengan dia. Beberapa tahun lagi danengkaupun akan menangisi usia tuamu seperti dia, hidup sebatang-kara dankesepian, hi-hik!" "Ihh, mana mungkin? Kan ada engkau di sisiku?" "Akupun akan tua dan meratapi nasibku kalau aku bersikap sepertimu. Itulah yanglucu. Kenapa dia menyesali hari tuanya? Lihat, bukankah danau ini, Sungai Yance itu, jauh lebih tua dari pada kita, dari pada sasterawan cengeng tadi? Namun lihat,berkurangkah keindahannya? Nampakkah tuanya? Adakah penyesalan pada danaudan sungai, dan pohon-pohon tua di seberang itu, akan ketuaannya? Sama sekalitidak, mereka semua itu masih tetap muda, cantik menarik bahkan dalam ketuaanmereka sekalipun." Pemuda itu memandang serius dan mengangguk-angguk. "Ada isinya dalamucapanmu itu, sayang. Memang. keindahan dan kebahagiaan terdapat di mana-manadan pada saat apapun. Seorang mudapun tidak akan dapat melihat keindahan danmenikmati kebahagiaan kalau dia tidak mengenal indahnya SAAT INI. Dia, sepertisasterawan itu, hanya akan menyesali diri, menyalahkan nasib, menginginkan hal-halyang tidak ada, maka datanglah kekecewaan, penyesalan dan duka cita. Wah, wah,sepagi ini engkau sudah mulai berfilsafat!" Gadis itu tertawa. "Alam seindah ini, cuaca senyaman ini, hawa sesejuk ini, siapaorangnya yang tidak berobah menjadi penyair dan ahli filsafat?"  Tiba-tiba pemuda itu menyentuh tangan si gadis yang terletak di atas meja. Gadisitu terkejut karena sentuhan itu bukan sentuhan biasa, melainkan sentuhan yangmenyatakan guncangan perasaan. Maka iapun menengok dan memandang ke arahpemuda itu memandang ke luar jendela dan iapun melihat seorang laki-lakimendayung perahunya lewat di bawah tempat itu dengan tergesa-gesa. Laki-laki itusudah setengah tua dan dari pakaiannya mudah diketahui bahwa dia adalah seorangdusun sederhana. Akan tetapi wajahnya pucat dan matanya terbelalak ketakutan.Dan agak jauh di belakangnya, sebuah perahu lain meluncur dengan cepatnya.Perahu ini ditumpangi oleh dua orang laki-laki yang kelihatan kokoh kuat dan kasar,yang mendayung perahu itu dengan amat cepatnya, mengejar perahu pertama itudan pada wajah mereka terbayang kemarahan dan keganasan. Karena banyakperahu berlalu lalang di situ, orang tidak akan tahu bahwa perahu yang ditumpangioleh kakek dusun itu sedang dikejar oleh dua orang dalam perahu yang lebih besaritu. Hanya karena pemuda dan gadis itu duduk di atas dan kebetulan memandang ketelaga dan melihat wajah orang di perahu pertama, mereka melihat hal yang tidakwajar ini. Apa lagi karena memang keduanya memiliki pandang mata yang amattajam, berbeda dari kebanyakan orang lain.
3
of 00

Leave a Comment

You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...
You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...