Harta Karun Jengis Khan – Serial Pedang Kayu Harum6
"Hi-hik, itulah karena engkaupun sama dengan dia. Beberapa tahun lagi danengkaupun akan menangisi usia tuamu seperti dia, hidup sebatang-kara dankesepian, hi-hik!" "Ihh, mana mungkin? Kan ada engkau di sisiku?" "Akupun akan tua dan meratapi nasibku kalau aku bersikap sepertimu. Itulah yanglucu. Kenapa dia menyesali hari tuanya? Lihat, bukankah danau ini, Sungai Yance itu, jauh lebih tua dari pada kita, dari pada sasterawan cengeng tadi? Namun lihat,berkurangkah keindahannya? Nampakkah tuanya? Adakah penyesalan pada danaudan sungai, dan pohon-pohon tua di seberang itu, akan ketuaannya? Sama sekalitidak, mereka semua itu masih tetap muda, cantik menarik bahkan dalam ketuaanmereka sekalipun." Pemuda itu memandang serius dan mengangguk-angguk. "Ada isinya dalamucapanmu itu, sayang. Memang. keindahan dan kebahagiaan terdapat di mana-manadan pada saat apapun. Seorang mudapun tidak akan dapat melihat keindahan danmenikmati kebahagiaan kalau dia tidak mengenal indahnya SAAT INI. Dia, sepertisasterawan itu, hanya akan menyesali diri, menyalahkan nasib, menginginkan hal-halyang tidak ada, maka datanglah kekecewaan, penyesalan dan duka cita. Wah, wah,sepagi ini engkau sudah mulai berfilsafat!" Gadis itu tertawa. "Alam seindah ini, cuaca senyaman ini, hawa sesejuk ini, siapaorangnya yang tidak berobah menjadi penyair dan ahli filsafat?" Tiba-tiba pemuda itu menyentuh tangan si gadis yang terletak di atas meja. Gadisitu terkejut karena sentuhan itu bukan sentuhan biasa, melainkan sentuhan yangmenyatakan guncangan perasaan. Maka iapun menengok dan memandang ke arahpemuda itu memandang ke luar jendela dan iapun melihat seorang laki-lakimendayung perahunya lewat di bawah tempat itu dengan tergesa-gesa. Laki-laki itusudah setengah tua dan dari pakaiannya mudah diketahui bahwa dia adalah seorangdusun sederhana. Akan tetapi wajahnya pucat dan matanya terbelalak ketakutan.Dan agak jauh di belakangnya, sebuah perahu lain meluncur dengan cepatnya.Perahu ini ditumpangi oleh dua orang laki-laki yang kelihatan kokoh kuat dan kasar,yang mendayung perahu itu dengan amat cepatnya, mengejar perahu pertama itudan pada wajah mereka terbayang kemarahan dan keganasan. Karena banyakperahu berlalu lalang di situ, orang tidak akan tahu bahwa perahu yang ditumpangioleh kakek dusun itu sedang dikejar oleh dua orang dalam perahu yang lebih besaritu. Hanya karena pemuda dan gadis itu duduk di atas dan kebetulan memandang ketelaga dan melihat wajah orang di perahu pertama, mereka melihat hal yang tidakwajar ini. Apa lagi karena memang keduanya memiliki pandang mata yang amattajam, berbeda dari kebanyakan orang lain.
3
Leave a Comment