• Embed Doc
  • Readcast
  • Collections
  • CommentGo Back
Download
 
1
Daftar Isi
Pengantar Redaksi ................ 1
Kalender ............................... 2
TOT Kesehatan Reproduksi di Era OTDA
Dapur Info ............................ 3
KTD dan “Free Choice” bagi Ibu
Analisis Info.......................... 7
Cover Both Side yang tak Berimbang
Spesial Info .......................... 9
Poligami dalam Bingkai Televisi
Sumber Info.......................... 9
Penghentian Kehamilan, Tinjauan Islam
Info Buku............................ 13
-
Radio Siaran di Era Reformasi
- Perempuan di Mata Wartawan
Profil .................................. 16
Cara mendapatkan
 
NEWSLETTER 
 
PMP AIDS: Kirimkan identitas serta nama media Anda, akan kami kirimkan secara gratis. Informasi yang kami muatdi
NEWSLETTER 
 
dapat dikutip atau disiarkan tanpa ijin asal menyebut sumber. Apabila anda memiliki informasi tentang HIV/AIDS yang layaka untukdisebarkan kepada masyarakat luas, silakan kirim dan akan kami muat. Anda dapat menghubungi kami ke alamat: LP3Y Jl.Kaliurang Km 13,7Ngemplak, Sleman, Yogyakarta 55584 atau via telepon dan faksimili No. (0274)896016, email: lp3y@idola.net.id dan situs http://www.lp3y.org
Penanggung Jawab :
Ashadi Siregar
Pimpro/Pemimpin Redaksi :
Slamet Riyadi Sabrawi
Staf Redaksi :
Ismay Prihastuti, Laily Rahmawati, Masduki, Th. Puspitawati, Rondang Pasaribu
Sekretaris Redaksi :
W. Nurcahyo
L P 3 Y d a n F o r d F o u n d a t i o n
Edisi 64 Agustus 2003
ISSN 0853-7402
RUANG
 
Langendriyo Hotel Yogya Plaza pada 21 Agustus laluterlihat tampak sedikit ramai, karena pada hari itu sejumlah aktivisdan redaktur berada di ruang tersebut. Adapun aktivitas yang sedang berlangsung yakni diskusi mengenai kehamilan yang tidak dikehendaki (KTD) dengan tinjauan psikologis, medis dan agama. Acara yang diselenggarakan atas kerjasama LP3Y-Pokdisus- YPI-YKP dan didukung oleh
Ford Foundation 
ini sebenaranya untuk persiapanacara
 Jogya Roundtable Meeting 
, sebuahpertemuan internasional denganmengundang negara-negara untuk mendiskusikan pengadaan obat ARV (antiretroviral) yang sudah sedemikianmendesak. Workshop AIDS dan KesehatanReproduksi untuk Redaktur ini punberlangsung selama 3 hari, 20-22 Agustus.Sejumlah narasumber yang hadir pada workshop kali ini yaitu Mudrajat Kuncoro,Zubaeri Djurban, Samsuridjal Djauzi,Ninuk Widiantoro, Ova Emilia,Faqihuddien Abdul Kadir, Nunuk Murniatidan Ashadi Siregar. Workshop yang cukup singkat inidihadiri 15 redaktur yang berasal dari media,cetak, radio dan televisi. Perwakilan mediacetak berasal dari Lampung Pos, MediaIndonesia, Suara Pembaruan, Kedaulatan Rakyat, Bernas, dan SoloPos. Sedangkan dari radio diwakili oleh PTPN Rasitania Solo,Sonora, Trijaya Yogya, RRI Yogyakarta. Selanjutnya dari televisidiwakili oleh Lativi, Trans, dan Metro TV. Adapun tujuan utama workshop ini adalah agar jurnalis paham tentang peta permasalahandalam upaya meningkatkan akses terapi ARV, serta mampu secarajeli membaca kasus-kasus kesehatanreproduksi yang ada di masyarakat.Meski berlangsung singkat, akhirnya workshop juga menghasilkan sebuahrekomendasi yang bisa digunakan sebagaiacuan umum untuk media tersebut. Semogarekomendasi yang dibuat bersama ini bisasegera disosialisasikan pada institut masing-masing, sehingga pemberitaan tentang  AIDS yang selama ini masih sering memojokkan Odha, tidak lagi berlakudemikian karena tahapnya sudah pada padaperjuangan dalam pengadaan ARV yang murah. Lebih lagi jika dalam peliputan yang berkaitan dengan isu apapun, baik AIDSmaupun kesehatan reproduksi, denganmengutamakan perspektif perempuansudah semestinya dilakukan. Hal ini tentudemi tercapainya peniadaan pihak-pihak 
 powerless 
yang masih sering termarginalisasi.
(May)
 
2
K a l e n d e r
PERSOALAN
terkait dengan isu Kesehatan Reproduksisebenarnya dapat dikatakan bukan sesuatu yang asing samasekali bagi pekerja profesional media massa. Pengenalanatau pengetahuan atas persoalan dimaksud bisa terjadimelalui pengalaman pribadi, pengalaman anggota keluargaatau kenalan. Akan tetapi, pengenalan atau pengetahuan yang diperoleh lewat cara tersebut tidak selalu memberikangambaran utuh tentang persoalan dimaksud. Selain itu,seringkali persoalan yang terjadi semata-mata dilihat sebagaikasus perseorangan. Tidak terpikirkan bahwa persoalanserupa mungkin sedang dihadapi lebih banyak orang. Dankarena itu, persoalan terkait dengan kesehatan reproduksibelum tentu termasuk realitas yang dipandang layak untuk diliput atau diberitakan.Suatu pelatihan tentang kesehatan reproduksi bagipekerja profesional media massa, dirancang tidak hanyaagar para profesional tersebut mengetahui dan memahamisecara utuh persoalan yang terkait dengan kesehatanreproduksi. Lebih dari itu,pengetahuan dan pengenalanyang diperoleh diharapkanakan menumbuhkan suatukesadaran bahwa persoalankesehatan reproduksi penting mendapat perhatian berbagaipihak. Dan berkat kesadaransemacam itu, para profesionalmedia massa itu kemudiantergerak untuk meliput danmemberitakan realitas terkaitseusai pelatihan.
Training of Trainers
PELATIHAN WARTAWAN
Tentang
KESEHATAN REPRODUKSIDI ERA OTONOMI DAERAH
 Akan tetapi, keberhasilan suatu pelatihan jugatergantung pada peran sejumlah orang yang menjalankanfungsi tertentu dalam penyelenggaraan pelatihantersebut, mereka adalah para fasilitator. Upaya memfasilitasipeserta pelatihan untuk memahami suatu konsep, ataumempraktekkan konsep itu saat pelatihan, merupakan salahsatu fungsi fasilitator yang sangat penting. Oleh sebab itu,sebagai bagian dari persiapan pelatihan tentang kesehatanreproduksi untuk prfofesional media massa, yang merupakan kerjasasama LP3Y dan STARH, sejak tanggal23-26 September 2003 akan dilangsungkan Training of  Trainers bagi calon fasilitator.Dalam training selama empat hari ini kepada paracalon fasilitator akan diberikan pembekalan dengan metodeceramah dan diskusi sejak pukul 08.00 - 17.00, denganberbagai materi dari berbagai narasumber pula. Materinyaantara lain :
No.Nama MateriNarasumbe
1.Kesehatan Reproduksi:Dr. BimoTinjauan Umum2.Kesehatan Reproduksi:Lufthi SabrieKB/KR di Indonesia3.Kesehatan Reproduksi:Dr. Detty S, MPH, Ph.DRemaja, Ibu/Anak4.Kesehatan Reproduksi:Dr. Detty S, MPH, Ph.DIMS/AIDS5.Kebijakan Publik dan Otonomi DaerahMuhajir Darwin, Ph.D6.Jurnalisme EmpatiAshadi Sirega
 
3
D a p u r I n f o
KTD dan‘Free Choice’ bagi Ibu
Oleh : Fadmi Sustiwi *
 ABORSI
. Istilah ini memang sudahdikenal luas dan ‘dihindari’. Bahasaumum menyebutnya sebagaipengguguran kandungan namunseorang ahli fiqh yang juga DirekturFahmina Institute Cirebon Faqihuddin Abdulkadir yang melihat fenomena inidengan menggunakan ‘perspektif perempuan’ memilih istilah ‘penghentiankehamilan secara tidak aman’. Istilah yang banyak ini juga menjadikan banyaknyapraktik atau metode yang dilakukan para‘penjual jasa’ aborsi. Mulai dari dukun,bidan hingga dokter.Berpuluh tahun kesalahpaha-man arti aborsi telah terjadi. Aborsi yang diartikan sebagai pembunuhan bayiternyata justru telah membunuh ibu. Ini bisa terjadi ketika seorang perempuan dengan kehamilan yang tidak dikehendaki (KTD)harus memilih ‘melenyapkan’ janin atau meneruskankehamilannya. Bagi yang meneruskan kehamilan tentu tidak masalah. Namun bagi yang tidak ingin meneruskan, ini menjadipersoalan. Ketika ia memiliki pengetahuan dan uang, ia bisa kedokter ahli untuk mendapatkan metode yang mutakhir dan tidak membahayakan nyawanya. “Bagi yang tidak memiliki uang, KTDini bisa menjadi petaka dan sangat mungkin akan menghilangkannyawanya,” sebut Ketua Yayasan Kesehatan Perempuan (YKP)Dra Ninuk Widyantoro.Ketiadaan pengetahuan dan uang inilah yang seringkalimembawa perempuan kepada upaya melakukan aborsi yang tidak aman. Akibatnya, coba-coba sendiri untuk aborsi denganmeminum jamu-jamu peluntur termasuk pelbagai ramuan yang dimitoskan bisa menghancurkan janin biasanya akan dilakukanpertama kali ketika seseorang menghadapi KTD. Kalau cara initidak berhasil menurut Ninuk, biasanya ia akan pergi ke dukun.Kalau sudah dalam kondisi yang parah karena cara-cara itu gagal -biasanya mengalami pendarahan berat - barulah dibawa kerumahsakit atau klinik. Jadi ketika dibawa ke rumahsakit kondisinya sudah kritis dan seringkali jiwa ibu tidak terselamatkan.Harus diakui, tidak semua kehamilan diinginkan,sekalipun si ibu terikat hubungan perkawinan secara sah.Kegagalan KB, kemiskinan, kesehatan dan alasan lain, sering mengemuka. Bahkan catatan YKP menyebutkan, duapertiga dari75 juta kehamilan tak diinginkan di dunia,berakhir dengan aborsi disengaja. Di mana20 juta di antaranya dilakukan secara tidak aman. Padahal data WHO tahun 2000menyebutkan aborsi tidak aman inimemberi kontribusi 13 persen bagikematian ibu di dunia. Namun upayapelayanan aborsi aman dilarang karenasudah bakunya pedoman yang kelirutentang aborsi - selama ini disamakandengan pembunuhan bayi - yang justruternyata membayakan nyawa ibu.Di Indonesia, penelitian YKP di 9 kota besar yakni Medan, Batam, Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya,Denpasar, Mataram dan Manado - di 8klinik dan 2 RS yang melibatkan 1.446 klien- mengungkap bila 87 persen klien yang melakukan aborsi bersatusmenikah dan sudah memiliki anak sekurangnya 2 . “Paling banyak (57,5 persen) dari mereka melakukan aborsi karena masalah-masalahpsikososial seperti kemiskinan, anak sudah lebih dari 2, aturaninstansi hanya 2 anak yang mendapat biaya dan sejenisnya.Sementara 36 persen karena gagal KB dan hanya 4 persen yang mengeluhkan kondisi fisik,” sebut Ninuk. Artinya, mereka sengajamelakukan aborsi karena pelbagai alasan.Di Indonesia, aborsi tidak boleh dilakukan. Praktik aborsimasih menjadi barang haram di negeri ini, sekalipun pro-kontra dikalangan ulama - dari pelbagai agama - sebenarnya terusberlangsung. Akibatnya aborsi menjadi pilihan sangat dilematisterlebih bagi seorang perempuan yang mengalami KTD. Daripelbagai macam alasan itu, pertimbangan moral adalah yang menjadialasan utama. Namun bagaimana dalam kasus-kasus KTD akibat perkosaan? Mengingat justifikasi selama ini hanya diberikan denganalasan medis, misal jika kelahiran diteruskan akan membahayakankesehatan ibu dan janin yang ada dalan kandungan.Harus diakui, ini bukan persoalan yang bisa dilihat dengansepele. Karena sebenarnya banyak hal yang bisa dilihat dan dijadikanpertimbangan agar perempuan dengan KTD seperti dipaparkanaktivis Komisi Nasional (Komnas) Perempuan Nunuk Murniati AP dapat ‘bebas memilih’ atau memiliki
 free choice 
untuk menentukan apa yang terjadi dalam dirinya. “Apakah ia akanmelakukan aborsi yang tentu dengan pendampingan atau konseling atau menerus-kan kehamilannya. Ia-lah yang berhak memilih-nya,”
of 00

Leave a Comment

You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...
You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...