3
JUDUL
di atasmerupakanrekomendasi untuklangkah LP3Yselanjutnya dalamprogram integrasiAGKR (AIDS-Gender-KesehatanReproduksi) yangmerupakan daribenang merah hasildiskusi SeminarEvaluasi ProgramIntegrasi AIDS-Gender-KesehatanReproduksi, LP3Y-Ford Foundation, Jogjakarta Plaza Hotel, Jumat-Sabtu6-7 Februari 2004. Acara ini dihadiri 28 peserta yangmempunyai keterkaitan dengan program tersebut baikpernah sebagai narasumber, fasilitator, alumni, mitramaupun bentuk lain. Beberapa peserta di antaranyaLies Marcoes, Sita Aripurnami, Tuti Parwati, RuhaeniDzuhatin, ‘Trio Libels’ tiga sekawan Daniel Dhakidae,Hotman Siahaan dan Saur Hutabarat.Untuk ‘membuka’ sejarah tentang programkerjasama dengan Ford Foundation ini, diawalipengantar Direktur LP3Y, Ashadi Siregar danpemaparan program keseluruhan oleh Slamet RiyadiSabrawi. Sesi pertama seminar diisi pemaparan petasituasi makro mengenai dunia per-LSM-an dandikaitkan dengan posisi LP3Y sebagai institusi yang
concern
terhadap isu AGKR. Lies Marcoes menguraisejak dari Konferensi Mexico 1975 di mana saat itu isu-isu ekonomi tidak berhasil di negara berkembang didunia III. Kaum feminis menyalahkan karenaperempuan tidak diajak berperan serta. DalamKonferensi Nairobi 1985 muncul paradigma relasigender. Isu ini merupakan isu sepihak dari LSM danakademisi, pemerintah tidak mau menanggapi.Tahun 1994 dalam ICPD (KonperensiInternasional untuk kependudukan dan Populasi) diKairo mulai didengungkan
‘Reproductive Health & Re- productive Rights’.
Relasi gender saja dianggap tidakmenyelesaikan masalah, karena ada isu yang spesifiktentang perempuan, yaitu tubuh dan seksualitasnya.Di sini, unsur-unsur media, lembaga agama dan LSMmulai dilibatkan oleh
funding agencies.
Dalam konteksinilah LP3Ymelahirkanprogramnya yangbertujuanmengajak persuntuk berpihakpada korban,yakni jurnalismeempati. Tahun1995 konperensidi Beijingmenghembuskan
Gender Mindstreaming
,negara dianggaptidak berpihakpada isu gender. Peran LP3Y pada situasi ini yang pal-ing pas adalah menjembatani situasi makro denganmikro melalui jurnalisme.Diskusi yang terjadi memunculkan beberapapertanyaan di antaranya, sejauh mana capaian targetdalam pelatihan yang selama ini diselengga-rakanLP3Y? Apa sebenarnya targetnya, mungkin secarakuantitas bisa ditunjuk-kan sudah sekian jurnalis yangikut pelatihan. Namun berapa persen dari yang ikutpelatihan benar-benar bisa menerapkan ilmunya?Apalagi selama ini workshop yang diselenggarakanoleh LP3Y dinilai lebih ditujukan pada jurnalis yunior,reporter. Sepulang dari pelatihan mereka kebanyakantidak bisa ‘berkutik’ ketika liputannya kandas di mejaredaktur. Oleh karena itu LP3Y perlu mengubahkebijakannya agar tujuan yang diharapkan, jurnalismeempati yang berpihak pada korban dan prosesselanjutnya terjadi perubahan kebijakan, bisa terwujud.
PROGRAM VS OTONOMI DAERAH
Pilihan isu AGKR sebagai program, ke depannyamenghadapai tantangan besar seiring ditetapkannyaotonomi daerah. Lies Marcoes memandang era otonomidaerah lebih sebagai suatu ‘masalah’. Di masasebelumnya, pusat masih mempunyai hak danwewenang untuk mengontrol, terutama masalahpendanaan dalam program, dengan mulai berlakunyaotonomi daerah, bukan hanya kontrol yang tidak ada,bahkan isu-isu AGKR menjadi prioritas ke sekian.Otonomi daerah juga memunculkan kembalikonservatismedalam agama, fragmentasi kelompok.
PERLUNYA PROGRAMEKSEKUTIF MEDIA
D a p u r I n f o
Pimpro PMP-AGKR, Slamet Riyadi sedang memberikan presentasi-nya
Leave a Comment