• Embed Doc
  • Readcast
  • Collections
  • CommentGo Back
Download
 
D a f t a r I s i
Pengantar Redaksi....................1
Kalender...................................2
Diskusi Meja Bundar untuk Eksekutif Media
Dapur Info................................3
Dari Pelatihan Asisten Redaktur MI
Analisis Info..............................7
-Infotaintment = Womentainment-“Virus” dalam Praktek Jurnalisme
Sumber Info..............................9
Kaum Marginal yang Juga Punya Hak
Spesial Info...........................11
Ruang Publik Bagi Perempuan
Info Buku...............................13
-Duka Perempuan dalam Sebuah Sejarah-Menuju Pers yang Independen & Berwibawa
Profil.....................................16
L P 3 Y d a n F o r d F o u n d a t i o n
Edisi 71 Maret 2004
ISSN 0853-7402
Cara mendapatkan
 
NEWSLETTER
 
PMP AIDS: Kirimkan identitas serta nama media Anda, akan kami kirimkan secara gratis. Informasi yang kamimuat di
NEWSLETTER
 
dapat dikutip atau disiarkan tanpa ijin asal menyebut sumber. Apabila anda memiliki informasi tentang HIV/AIDS yang layakuntuk disebarkan kepada masyarakat luas, silakan kirim dan akan kami muat. Anda dapat menghubungi kami ke alamat: LP3Y Jl.Kaliurang Km 13,7Ngemplak, Sleman, Yogyakarta 55584 atau via telepon dan faksimili No. (0274)896016, email: lp3y@idola.net.id dan situs http://www.lp3y.org
Penanggung Jawab : Ashadi Siregar Pimpro/Pemimpin Redaksi : Slamet Riyadi Sabrawi Staf Redaksi : Ismay Prihastuti, Masduki, Th. Puspitawati, Rondang Pasaribu Sekretaris Redaksi : W. Nurcahyo Lay out : Ari R.
1
TUMBEN
, halaman depan LP3Y ramai pada suatu sore.Beberapa orang muda bergabung dengan anak-anak yangtinggal di lingkungan LP3Y bermain bola. Ramai karena sambilmenendang atau merebut bola mereka juga berteriak. Belumpara supporternya yang juga tak kalah berteriak, meski jumlahnya tak lebih dari 13 orang. Itulah cara Asisten RedakturMedia Indonesia memanfaatkan waktu sambil menunggu bus jemputan ke tempat penginapan mereka.Sejumlah 17 Asred itu berlatih di LP3Ymulai 1 hingga 13 Maret 2004, mulaipukul 08.00 - 17.00 WIB.Media Indonesia termasuk salahsatu institusi pers yang rajin mengirimkanwartawannya berlatih di Yogya. Pada 19-28 Mei 2003 sekitar 30 redaktur senior juga melaksanakan penyegaran di LP3Y,laiknya bedhol deso. Sedang 20an Asredlainnya menyusul berlatih pada 17-30Mei 2004.Memacu pasukan kuli tinta iniberlatih di tengah persaingan media yangkeras menjadi keharusan bagi institusiyang ingin tetap unggul. Pelatihan singkat(sekitar 10 hari) ini memang lebihdifokuskan untuk memoles skill yangsudah mereka punyai, selain mengingatkan kembalikomitmen mereka kepada visi & misi institusi yang merekageluti Mungkin ada beberapa dari mereka yang menganggaphal itu sebagai rekreasi. Jamak saja. Tetapi ada juga yangmenikmati kebersatuan mereka, menabalkan tim kerja yangkuat. Karena dalam keseharian di Jakarta mereka lebihbersikap individualis akibat rutinitas tugas.Selama musim pesta rakyatberdemokrasi ini LP3Y memang memilihuntuk tidak ikut terlibat memeriahkanpesta lima tahunan tersebut. Pada Pemilu1999 kami sangat antusias melibatkan diridalam pesta yang masih segar beraromareformasi. Kami, kala itu, berkeliling diberbagai daerah untuk melatih parawartawan dalam meliput Pemilu.Dan kali ini kami memilih untukmembangkitkan kembali semangat dasar jurnalisme. Melatih hal-hal dasar yangseharusnya dikuasai dengan benar oleh jurnalis. Masyarakat yang lagibersemangat mencari dan memperolehinformasi yang layak harus diimbangidengan kesigapan, kecepatan, ketelitiandan kejujuran para jurnalisnya.
(srs)
 
Latar Belakang
Persoalan terkait dengan isu Kesehatan Reproduksi/ Keluarga Berencana sebenarnya dapat dikatakan bukansesuatu yang asing sama sekali bagi pekerja profesionalmedia massa (cetak, radio dan televisi). Pengenalanatau pengetahuan atas persoalan dimaksud bisa terjadimelalui pengalaman pribadi, pengalaman anggotakeluarga atau kenalan, dan sebagainya.Akan tetapi, pengenalan atau pengetahuan yangdiperoleh lewat cara tersebut tidak selalu memberikangambaran utuh tentang persoalan dimaksud. Selainitu, seringkali persoalan yang terjadi semata-matadilihat sebagai kasus perseorangan. Tidak terpikirkanbahwa persoalan serupa mungkin sedang dihadapilebih banyak orang. Dan karena itu, persoalan terkaitdengan kesehatan reproduksi belum tentu termasukrealitas yang dipandang layak untuk diliput dandiberitakan.Suatu pelatihan tentang kesehatan reproduksibagi pekerja profesional media massa, dirancang tidakhanya agar para profesional tersebut mengetahui danmemahami secara utuh persoalan yang terkait dengankesehatan reproduksi. Lebih dari itu, pengetahuandan pengenalan yang diperoleh diharapkan akanmenumbuhkan suatu kesadaran bahwa persoalankesehatan reproduksi penting mendapat perhatianberbagai pihak. Dan berkat kesadaran semacam itu,para profesional media massa itu kemudian tergerakuntuk meliput dan memberitakan realitas terkait seusaipelatihan.Apalagi dalam era desentralisasi yg diwujudkandalam UU No.22/1999, Pemerintah Daerah mempunyaipeluang dan kewenangan besar untuk memberiperhatian pada permasalahan lokal, termasuk didalamnya masalah kesehatan reproduksi. Namun,seberapa pentingkah isu kesehatan reproduksimemperoleh perhatian dari eksekutif, legislatif danstake holder setempat?Untuk inilah pekerja profesional (dalam hal inikoresponden maupun redaktur media cetak sertaproduser perbincangan di radio) dilibatkan dalamprogram LP3Y & STARH (
Sustaining Technical Achievement in Reproductive Healt
, sebuah program dari
John Hopkins University 
yang didukung oleh USAID). Danyang perlu diketahui, dari setiap daerah yang medianyadilibatkan dalam program ini, STARH sudahmemfasilitasi terbentuknya sebuah tim, disebut TimDistrik, yang terdiri tokoh, pemimpin organisasikemasyarakatan, organisasi profesi, yang masing-masing memiliki kepedulian terhadap permasalahanKesehatan Reproduksi. Tim ini selain dapat menjadirujukan, narasumber, juga merupakan mitra dalammembangun aliansi strategis guna memberdayakan
stake holder 
setempat. (Advokasi stake holder inidilakukan tersendiri oleh INSIST)Sejak Oktober 2003 LP3Y bersama STARHdidukung John Hopkins University-USAID mengadakanworkshop untuk wartawan cetak dan praktisi radiobertajuk KB/KR di Era Otonomi Daerah. Pesertaworkshop berasal dari media (cetak/radio) yangberada/menjangkau 12 kabupaten ((Boyolali,Purbalingga, Malang, Kediri, Cianjur, Sukabumi, Lebak,Tulangbawang, Ogan Komiring Ilir, Bangka, PematangSiantar dan Deli Serdang).Hasil liputan/perbincangan ini akan dipaparkandalam sebuah forum, dimana peserta forum terbatasini adalah eksekutif/manajer atau produser dariberbagai media nasional (cetak/radio/televisi). Pesertaforum ini diharapkan dapat mengkritisi substansi hasilkerja mereka serta sharing. Oleh karena itu forum yangpas adalah Diskusi Meja Bundar untuk Eksekutif Media,di mana masing-masing peserta setara dan secara aktifdapat berdiskusi tentang problema KB/KR di Era Otdadengan hasil liputan/perbincangan peserta workshopsebagai pemicunya, sedang sebagian kecil pesertaadalah pelaku program di lapangan yang dapatmenceritakan tentang berbagai kendala yang dihadapi.
Tujuan
1)Memperoleh umpan-balik serta sharing bagaimanamedia (cetak/radio/-televisi) sebaiknyamenganggendakan permasalahan KB/KR di EraOtonomi Daerah.2)Memberikan rekomendasi terhadap KebijakanRedaksional media massa tentang seberapa pentingpersoalan KB/KR dipaparkan kepada publik melaluimedia.
Kalender
2
EKSEKUTIF MEDIA
“Kesehatan Reproduksi/Keluarga berencana di Era Otonomi Daerah
Jogjakarta Plaza Hotel, Selasa – Rabu, 27-28 April 2004
Diskusi Meja Bundar untu
 
PADA
1 Maret 2004, rombongan peserta PelatihanSingkat Asisten Redaktur Media Indonesia, baru sajaturun dari bus putih yang bertuliskan Bus Pariwisata.Pagi itu sekitar pukul delapan mereka memasukikantor LP3Y. Setelah masing-masing peserta menerimakit dan mengisi absensi kehadiran, kemudian satu-persatu meninggalkan front office, dan naik ke lantaidua untuk mengikuti acara karena pelatihan akansegera dimulai.Sekilas sepertinya agak berat untuk melakukanhal itu selama sepuluh hari. Dengan meninggalkanrutinitas pekerjaan sehari-hari di Jakarta, mereka harus“rela” memenuhi tuntutan redaksi untuk lebihmeningkatkan kualitas
output 
kerja mereka di tengahpersaingan antar suratkabar dewasa ini.Adapun alasan mereka yang berjumlah 16 orangitu dikirim ke Yogya, salah satunya karena merekamempunyai peran utama dalam menentukan kualitasberita yang dimuat Media Indonesia di tengahpersaingan ini. Ada yang membuat saya agakterkesan, yakni tentang jumlah peserta perempuan.Dari keenam belas peserta tersebut, 4 di antaranyaperempuan. Bagi saya itu sudah awal yang baikuntuk pencapaian quota 30 %. Karena biasanya darisekian banyak jumlah peserta laki-laki, jurnalisperempuan hanya satu, dan paling banyak berjumlahdua orang.Maksud lain dari pelatihan ini, selain sebagaiupaya strategis menjawab tantangan yang dihadapiakibat persaingan, Asisten Redaktur diharapkan tidakhanya memiliki kemampuan dasar profesional agardapat melaksanakan tugasnya dengan baik. Lebihdari itu, mereka diharapkan mampu memberikankontribusi penting terhadap upaya peningkatan dayasaing, hal mana akan terlihat dari sentuhan kerjayang bersangkutan terhadap berita yang akan dimuat.Memasuki hari pertama pelatihan diawalidengan pembukaan, perkenalan dan dilanjutkandengan penjelasan kurikulum, sebelum masuk padapembahasan pendalaman konsep. Peserta masihterlihat
fresh 
dan bersemanngat. Itu sebuah awal yangbaik, artinya mereka punya motivasi untuk mengikutipelatihan ini, selain motivasi terselubung lainnyaketika berada di kota Yogya ini.Minggu pertama pelatihan, semangat merekamasih ‘menyala’. Ini terlihat pada saat merekamelakukan diskusi dan mencoba mempertahankanargumennya pada saat diskusi pleno. Selain jugadalam hal kedisiplinan, mereka cukup rajin mengikutisetiap sesi baik itu diskusi kelompok, diskusi pleno,dan melakukan tugas individu.Penjelasan tentang materi, seperti apa tujuandilakukannya diskusi kelompok adalah untukmempertajam pemahaman konsep yang telahdisampaikan sebelumnya. Selain juga mengkritisi hasilkerja peserta lainnya sebagai bahan masukan yangdisampaikan pada saat diskusi pleno.Dari keseluruhan waktu yang diberikan,sebenarnya lebih banyak digunakan untukmempraktikkan konsep yang diberikan. Sedangkankurang lebih 40% waktu digunakan untuk paparankonsep.
Sosok Peserta yang Unik
Kompleksitas perilaku dan pengalaman didapatselama pelatihan berlangsung. Keunikan terjadi dariperilaku beberapa individu yang menonjol. Salah satuadalah Edy Hidayat, jurnalis berkacamata yang kocakini, sering disebut-sebut sebagai ketua kelas.Beberapa peserta lain juga vokal ketika berdiskusidan mempertahankan argumennya, meski takseagresif Edy. Namun, ada juga yang tidak banyakmengeluarkan suara.Lain halnya dengan Edy A Effendi, jurnalis sastra,itulah sebutannya karena kebetulan ia berada dibidang yang menangani masalah seni dan sastra.Meski nama awal mereka sama-sama Edy, bukanberarti mereka saling mendukung. Keduanyaterkadang saling “ngeyel” mempertahankan argumenatas persoalan yang sedang dibahas, meski dapatdikatakan mereka cukup aktif memberikan kontribusibagi berlangsungnya pelatihan ini.Peserta perempuan yang satu ini terlihatseringkali menggoda teman lainnya. Ia adalah Ade
Sakit dan Ujung-ujungnya Wisata
D a p u r I n f o
3
Dari Pelatihan AsistenRedaktur Media Indonesia
of 00

Leave a Comment

You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...
You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...