• Embed Doc
  • Readcast
  • Collections
  • CommentGo Back
Download
 
2
D a p u r I n f o
J
udul di atas menjadi salah satu perbincanganpada pertemuan atau diskusi tentangamandemen RUU Kesehatan di ruang diskusilantai dua gedung Rifka Annisa pada Senin, 22 Agustuslalu. Bermula dari tersebarnya sms (short massage ser-vice) di sejumlah kalangan yang mencobamenganalisadan kemudian menginformasikan padapihak lain bahwa amandemen RUU kesehatanmelegalisasi aborsi di Indonesia. Salah satu sms berbunyidemikian: Kirimkan sms ke 9949 Jangan sahkan RUUyang melegalkan aborsidibutuhkan 3 juta sms.Salah satu pasal yang menjadi latarbelakangkontroversi tersebut adalah pasal 77 dan 80 tentangbab kesehatan reproduksi. Sesungguhnya jika ditelitibersama bunyi Pasal tersebut sebenarnya adalahsebagai berikut:
Pasal 77
a. Setiap orang mempunyai hak untuk dapatmenjalankan kehidupan reproduksi dankehidupan seksual yang sehat, aman, bebas daripaksaan atau kekerasan.b.Setiap orang mempunyai hak untuk secarabertanggungjawab menentukan kehidupanreproduksinya, bebas dari diskriminasi, paksaan,atau kekerasan.c.Setiap orang mempunyai hak untukbertanggungjawab menentukan sendiri kapan danseberapa ingin bereproduksi.
Pasal 80
1.Pemerintah wajib mencegah, melindungi,menyelamatkan kaum perempuan dari praktikpengguguran kandungan yang tidak ber-tanggungjawab dan tidak aman melalui peraturan-peraturan perundang-undangan.2. Pelayanan pengguguran kandungan yang tidakbertanggungjawab sebagaimana dimaksudkan ayat10 meliputi tindakan:a.Yang dilakukan dengan paksaan dan tanpapersetujuan perempuan yang bersangkutanb.Yang dilakukan oleh tenaga kesehatan yang tidakprofesionalc.Yang dilakukan tanpa mengikuti standar profesiyang berlaku, ataud.Yang dilakukan secara diskriminatif dan lebihmengutamakan pembayaran daripada kesehatanperempuan yang bersangkutanBegitulah sesungguhnya bunyi pasal-pasal tersebutdan kemudian oleh sejumlah pihak tertentu diinterpretasikansebagai pelegalan aborsi.Meskipun setiap orang berhak untukmenginterpretasi akan suatu hal, namun setidaknya perbedaanpendapat ini tidak dibenarkan sebagai provokator” untukmelemahkan semangat perjuangan hak reproduksi. Karenarealitas yang ada masih banyak atau mungkin akan semakinbanyak kaum perempuan mati karena aborsi yang tidak aman, jika persoalan ini tidak ada yang mempedulikan.Oleh karena itu, apakah benar amandemen RUUkesehatan punya maksud hanya sekadar pelegalan aborsi ataumungkin punya tujuan yang lebih luas dengan lebihmemperhatikan aspek hak dan kesehatan reproduksi yangtentunya sangat membantu perempuan.Diskusi bersama Ninuk Widyantoro sebagai TimAdvokasi amandemen RUU Kesehatan dan pengurusYayasan Kesehatan Perempuan, menjadi lebih jelas. Persoalantersebut dibahas dari sudut pandang perempuan dan tentuatas dasar kesetaraan. Kendati demikian perbedaan pendapatpasti ada, tetapi bukan berarti bahwa amandemen tersebutdengan serta merta “semau-maunya” mengedepankan aborsi.Tetapi keadaan itu diatur agar tidak melulu perempuanmenjadi korban akibat adanya aborsi tidak aman. Banyakfaktor yang memicu kondisi ini seperti minimnya sex educa-tion, kurangnya perhatian pemerintah karena tidak adaundang-undangnya dan lain sebagainya.***
Legalisasi AborsiLegalisasi Aborsi
 
3
D a p u r I n f o
Amandemen RUU Kesehatan ini dibuatkarena dalam UU Kesehatan terdahulu yakni UUNo.23/1992 sudah semestinya diperbaharui, mengingatlatarbelakang di antaranya Kesepakatan KonferensiInternational tentang Kependudukan danPembangunan atau International Conference onPopulation and Development (ICPD) di Kairo, Mesirpada 1994 menegaskan bahwa pentingnyatanggungjawab negara untuk memenuhi hak kesehatanreproduksi. Dan pada tahun 2000 pemerintah jugamenyepakati Millennium Development Goals (MGDs) yangantara lain menegaskan kembali bahwa pentingnya negaramemenuhi hak kesehatan termasuk reproduksi.Namun selama ini apakah yang terjadi?Apakahpemerintah Indonesia telah mengimplementasikankesepakatan itu?Amandemen RUU Kesehatan tahun 1992itu dimaksudkan untuk merealisasikan kesepakatan tersebut,karena selama ini UU untuk membantu perempuan dalampersoalan hak reproduksi ini belum ada. Sehinggaamandemen RUU Kesehatan yang dibuat bersama-sama itusebenarnya untuk memperjuangkan kesehatan reproduksiperempuan, bukan semata-mata masalah aborsi.Pengguguran kandungan yang selama ini menjadirealitas sosial dimaksudkan agar ada penanganan atau undang-undang yang mengatur persoalan itu. Sehingga angka kematianperempuan baik akibat melahirkan ataupun akibatpengguguran kandungan tidak terus meningkat. Mengingatangka aborsi yang terjadi di Indonesia cukup tinggi.Departemen Kesehatan mencatat setiap tahunnya terjadi 700ribu kasus aborsi, atau 30% dari keseluruhan kasus aborsi(sekitar 2 juta kasus). Juga tingkat kematian ibu akibat aborsicukup tinggi. Sekitar 11% dari 307 kematian ibu/perempuansaat melahirkan disebabkan aborsi tidak aman. (Media Indo-nesia, 28/8). Angka kematian perempuan itu tidak termasukpenyakit lain seperti seperti akibat kanker, diabetes, HIVdan lain-lain.Dalam persoalan ini, mengapa amandemen RUUKesehatan tidak ada yang mempersoalkan substansinya,padahal salah satu dasar dari amandemen itu adalahmerealisasikan hasil kesepakatan internasional yang selamaini masih belum terlaksana. Dengan kata lain sesungguhnyaamandemen tersebut adalah memperjuangkan hak kesehatanreproduksi perempuan.Untuk lebih jelasnya berikut ini adalah sembilanalasan penting perlunya perubahan UU No. 23/1992(selanjutnya ditulis UU 23/92) tentang kesehatan sebagaiberikut:1.UU 23/92 sudah 14 tahun dan hampir tidak bisadilaksanakan, karena tidak mungkin dibuat dantidak berhasil disusun PP-nya (baru ada 5 PP yangsudah dibuat dari 29 PP yang diamanatkan)2.Ada pasal-pasal dalam UU 23/92 yang tidak sinkrondengan UU yang lain.3.UU 23/92 terlalu sempit dalam mengatur teknologikedokteran4.UU 23/92 belum memperhatikan kesehatan remajayang mempunyai kekhususan secara fisiologis danpsikologis5.UU 23/92 menempatkan perempuan hanya sebagaibagian dari keluarga, dan tidak memperhatikan aspekkesehatan reproduksinya (sesuai kesepakatan Kairo, 1994)6.UU 23/92 belum mengatur berbagai bentukpelayanan kesehatan yang ada di Indonesia (sepertirumahsakit, pengobatan tradisional dan alternatif).Demikian juga masalah obat tradisional.7.UU 23/92 tidak menyebut tentang tanggungjawabPemda terhadap kesehatan masyarakat sesuaidengan UU desentralisasi.8.Dalam UU 23/92 peran serta masyarakat kurang mendapattempat. (seharusnya masyarakat tidak hanya membantutapi juga ikut aktif merencanakan, melaksanakan danmengawasi. Contoh: kasus tsunami Aceh)9.UU 23/92 belum mencerminkan amanat UUD 1945 tentangtanggungjawab negara dalam menyediakan pelayanankesehatan orang miskin, lansia, dan anak terlantarMengingat adanya amandemen RUU kesehatan itu,dalam diskusi Ninuk juga menyinggung tentangpemerintahan Indonesia yang masih mengabaikan sejumlahkesepakatan yang telah diratifikasinya. Namun sesungguhnyaIndonesia saat ini sedang mendapat sorotan dari WHO
(World Health Organization)
, sebagai badan dunia PerserikatanBangsa-Bangsa yang menangani masalah kesehatan, terutamatentang kesehatan reproduksi ini. Sehingga WHO melakukanHuman Right Tools untuk melihat apakah pemerintah betul-betul care atau tidak terhadap persoalan ini. Hal ini bisadibuktikan dari dua segi:1.Perangkat Hukum. Apakah pemerintah Indone-sia punya
legal protection 
seperti misalnyaperaturan-peraturan atau ada standar operasipelayanan (SOP) dalam menangani masalah-masalah yang berkaitan dengan hak dankesehatan reproduksi ini?2.Statistik. Adakah penurunan hal-hal yang buruk,misalnya angka kematian perempuan/ibu. Sebagaidaerah yang menjadi tolak ukur dalam HumanRight tools ini adalah Madura dan Yogyakarta.Upaya WHO dalam mengadakan “penilaian”mengenai hal ini sebenarnya adalah untuk menegurnegara-negara yang tidak mengimplementasikan hasil kesepakatanKairo, dan Indonesia merupakan salah satu negara yangbelum mengimplementasikan kesepakatan itu. Olehkarenanya pada kesempatan akhir diskusi Ninuk mengatakan,sebagai daerah yang dipilih WHO, para aktivis LSM diYogyakarta diminta untuk membantu demi kelancaran jalannya program tersebut.
(may)
 
4
D a p u r I n f o
S
iang hari di ruangpertemuanLP3Y,hadir sejumlahper-sonel Jaringan OdhaYogyakarta ( JOY). Merekaadalah Prima, Yani, Yayang,Dedi, Eka dan Jenny sertabeberapa staf LP3Y. Kala itu,Kamis, 4 Agustus, para stafdan relawan JOY punya tujuankhusus yakni berpamitansecara resmi untukmeninggalkan gedung LP3Y.Semula, pada Desember 2001kantor JOY menempatigedung yang berada diharus mendampingi temanOdha atau melakukankonsultasi yang biasanyaberpusat di RumahsakitSardjito.Kurang lebih selama4 tahun mereka mengelolaorganisasi tersebut, danmereka sangat bersyukurhingga saat ini masih bisaeksis. Perlu diketahuikegiatan yang selama inidilakukan banyak sekali diantaranya; membuatpamflet, leaflet atau stikermengenai informasi HIV/ 
Perpisahan dengan JOY(Jaringan Odha Yogyakarta)
belakang atau area kampus LP3Y.Sejarah berdirinya JOY dimulai pada tahun 2001itu. Dengan semangat besar meski menempati ruangyang tidak terlalu besar, mereka, para anggota JOYmenjalani kegiatannya. Mulai dari pertemuan rutinbersama Odha dan relawan hingga membuat pernak-pernik seperti gelang, kalung atau stiker sebagai aksimereka dalam mengkampanyekan HIV/AIDS.JOY yang sampai saat ini masih dipimpin Primamengungkapkan, perpindahan mereka ke daerah yanglebih dekat dengan pusat kota, dimaksudkan agarmemudahkan teman-teman anggota JOY datang lebihgiat jika mereka mengadakan acara atau pertemuan.Karena diakui jarak kantor LP3Y yang jauh denganpusat kota menyebabkan mereka kurang efisien jikaAIDS. JOY juga melakukan konseling dan membantudalam pengadaan obat ARV.Sudah diketahui banyak kegiatan yangdilakukan mereka untuk memberdayakan masyarakatterhadap persoalan HIV/AIDS ini. Tujuan JOY yangingin mengembalikan” bahwa Odha juga punya perandi masyarakat. Menghilangkan stigma, menghapusdiskriminasi itulah bagian dari perjuangan terbentuknyaJOY, selain membantu para Odha yang baru mengetahuibahwa ia HIV positif. Perjuangan itu memang tidakmudah. Semua itu butuh semangat dan kerelaan hatiuntuk membantu mereka dalam memperoleh hak-haknya sebagai manusia, meski sudah terinfeksi HIV.Sebagai koordinator program, Prima punyaharapan agar JOY tetap eksis di masyarakat dalam
Sebuah “cindea mata” dari yang berpamitan (Primakepada yang di pamiti (bang Rondang)
of 00

Leave a Comment

You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...
You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...