3
D a p u r I n f o
Amandemen RUU Kesehatan ini dibuatkarena dalam UU Kesehatan terdahulu yakni UUNo.23/1992 sudah semestinya diperbaharui, mengingatlatarbelakang di antaranya Kesepakatan KonferensiInternational tentang Kependudukan danPembangunan atau International Conference onPopulation and Development (ICPD) di Kairo, Mesirpada 1994 menegaskan bahwa pentingnyatanggungjawab negara untuk memenuhi hak kesehatanreproduksi. Dan pada tahun 2000 pemerintah jugamenyepakati Millennium Development Goals (MGDs) yangantara lain menegaskan kembali bahwa pentingnya negaramemenuhi hak kesehatan termasuk reproduksi.Namun selama ini apakah yang terjadi?Apakahpemerintah Indonesia telah mengimplementasikankesepakatan itu?Amandemen RUU Kesehatan tahun 1992itu dimaksudkan untuk merealisasikan kesepakatan tersebut,karena selama ini UU untuk membantu perempuan dalampersoalan hak reproduksi ini belum ada. Sehinggaamandemen RUU Kesehatan yang dibuat bersama-sama itusebenarnya untuk memperjuangkan kesehatan reproduksiperempuan, bukan semata-mata masalah aborsi.Pengguguran kandungan yang selama ini menjadirealitas sosial dimaksudkan agar ada penanganan atau undang-undang yang mengatur persoalan itu. Sehingga angka kematianperempuan baik akibat melahirkan ataupun akibatpengguguran kandungan tidak terus meningkat. Mengingatangka aborsi yang terjadi di Indonesia cukup tinggi.Departemen Kesehatan mencatat setiap tahunnya terjadi 700ribu kasus aborsi, atau 30% dari keseluruhan kasus aborsi(sekitar 2 juta kasus). Juga tingkat kematian ibu akibat aborsicukup tinggi. Sekitar 11% dari 307 kematian ibu/perempuansaat melahirkan disebabkan aborsi tidak aman. (Media Indo-nesia, 28/8). Angka kematian perempuan itu tidak termasukpenyakit lain seperti seperti akibat kanker, diabetes, HIVdan lain-lain.Dalam persoalan ini, mengapa amandemen RUUKesehatan tidak ada yang mempersoalkan substansinya,padahal salah satu dasar dari amandemen itu adalahmerealisasikan hasil kesepakatan internasional yang selamaini masih belum terlaksana. Dengan kata lain sesungguhnyaamandemen tersebut adalah memperjuangkan hak kesehatanreproduksi perempuan.Untuk lebih jelasnya berikut ini adalah sembilanalasan penting perlunya perubahan UU No. 23/1992(selanjutnya ditulis UU 23/92) tentang kesehatan sebagaiberikut:1.UU 23/92 sudah 14 tahun dan hampir tidak bisadilaksanakan, karena tidak mungkin dibuat dantidak berhasil disusun PP-nya (baru ada 5 PP yangsudah dibuat dari 29 PP yang diamanatkan)2.Ada pasal-pasal dalam UU 23/92 yang tidak sinkrondengan UU yang lain.3.UU 23/92 terlalu sempit dalam mengatur teknologikedokteran4.UU 23/92 belum memperhatikan kesehatan remajayang mempunyai kekhususan secara fisiologis danpsikologis5.UU 23/92 menempatkan perempuan hanya sebagaibagian dari keluarga, dan tidak memperhatikan aspekkesehatan reproduksinya (sesuai kesepakatan Kairo, 1994)6.UU 23/92 belum mengatur berbagai bentukpelayanan kesehatan yang ada di Indonesia (sepertirumahsakit, pengobatan tradisional dan alternatif).Demikian juga masalah obat tradisional.7.UU 23/92 tidak menyebut tentang tanggungjawabPemda terhadap kesehatan masyarakat sesuaidengan UU desentralisasi.8.Dalam UU 23/92 peran serta masyarakat kurang mendapattempat. (seharusnya masyarakat tidak hanya membantutapi juga ikut aktif merencanakan, melaksanakan danmengawasi. Contoh: kasus tsunami Aceh)9.UU 23/92 belum mencerminkan amanat UUD 1945 tentangtanggungjawab negara dalam menyediakan pelayanankesehatan orang miskin, lansia, dan anak terlantarMengingat adanya amandemen RUU kesehatan itu,dalam diskusi Ninuk juga menyinggung tentangpemerintahan Indonesia yang masih mengabaikan sejumlahkesepakatan yang telah diratifikasinya. Namun sesungguhnyaIndonesia saat ini sedang mendapat sorotan dari WHO
(World Health Organization)
, sebagai badan dunia PerserikatanBangsa-Bangsa yang menangani masalah kesehatan, terutamatentang kesehatan reproduksi ini. Sehingga WHO melakukanHuman Right Tools untuk melihat apakah pemerintah betul-betul care atau tidak terhadap persoalan ini. Hal ini bisadibuktikan dari dua segi:1.Perangkat Hukum. Apakah pemerintah Indone-sia punya
legal protection
seperti misalnyaperaturan-peraturan atau ada standar operasipelayanan (SOP) dalam menangani masalah-masalah yang berkaitan dengan hak dankesehatan reproduksi ini?2.Statistik. Adakah penurunan hal-hal yang buruk,misalnya angka kematian perempuan/ibu. Sebagaidaerah yang menjadi tolak ukur dalam HumanRight tools ini adalah Madura dan Yogyakarta.Upaya WHO dalam mengadakan “penilaian”mengenai hal ini sebenarnya adalah untuk “menegur” negara-negara yang tidak mengimplementasikan hasil kesepakatanKairo, dan Indonesia merupakan salah satu negara yangbelum mengimplementasikan kesepakatan itu. Olehkarenanya pada kesempatan akhir diskusi Ninuk mengatakan,sebagai daerah yang dipilih WHO, para aktivis LSM diYogyakarta diminta untuk membantu demi kelancaran jalannya program tersebut.
(may)
Leave a Comment