D a p u r I n f o
!
MENJELANG
pelaksanaan Workshop Peliputan -Pemantauan Wartawan tentang KesehatanReproduksi di Era Otonomi Daerah yang akandilaksanakan bulan Oktober dan Desember 2003mendatang, LP3Y bekerjasama dengan STARH
(Sus- taining Technical Achievement of Reproductive Health)
menggelar Training of Trainers (TOT). Train-ing bagi para calon fasilitator ini dilaksanakan di Jogja Plaza Hotel pada 23 - 26 September lalu.Sebanyak 8 orang calon fasilitator dari media cetakdan radio, selain mengikuti
training
, juga menyusunmodul yang akan digunakan untuk pelatihan bagi wartawan.Setelah dibuka oleh Direktur LP3Y, Drs. AshadiSiregar,
Training of Trainers
diawali dengansambutan dari Deputi Keluarga Sejahtera danPemberdayaan Keluarga BKKBN Drs. ImamHariyadi MSc. Dalam sambutannya, Imam Hariyadiselain menjelaskan tentang kerjasama antara BKKBNdan STARH, juga mengupas secara singkat tentangnasib BKKBN yang harus mengalami likuidasi, sertaisu kesehatan reproduksi di era otonomi daerah.Selain Imam Hariyadi, hadir pula sebagaipemateri di hari pertama berturut-turut dari STARH:dr Bimo, Ndaru Kuntoro dan Kemal Suryawijaya,serta Drs Lufthi Sabri SKM MSc dari BKKBN. Sayang,dr Bimo yang seharusnya banyak mengupas TinjauanUmum tentang Kesehatan Reproduksi, justru lebihbanyak berkisah tentang STARH, khususnya Advokasi Untuk Perubahan Kebijakan KB/KR (Keluarga Berencana/Kesehatan Reproduksi). Bimomenyebutkan, untuk kegiatan di kabupaten,khususnya Program Peningkatan Kapasitas danFasilitasi Advokasi, STARH menggandeng INSIST.Sedang
Media Advocacy,
yakni kegiatan pelatihandan pendampingan bagi jurnalis untuk peningkatanliputan media tentang KB/KR di era otonomi daerah,STARH bekerjasama dengan LP3Y.Pertanyaan dari peserta pun akhirnya berkutatseputar STARH. Dedy dari SKH Bernas misalnya,meminta komentar tentang penilaian STARH ataspemberitaan media seputar isu KesehatanReproduksi. Menurut Bimo, media memang sangatdiharapkan dapat mengangkat topik-topik KB/KR dalam liputannya. Namun Bimo tak banyakberkomentar tentang penilaian STARH sendiriterhadap pemberitaan media tentang KB/KR selamaini.Berbeda dengan Dedy, Anggit yang pernahaktif sebagai wartawan di SKH Bernas dan Solo Pos justru tertarik mempertanyakan logo bintangberwarna biru yang dipilih STARH. Kalau warnabirunya, itu warna Keluarga Berencana kan biru, ya, jawab Bimo. Kendati lebih banyak memaparkantentang program-program STARH, namun dr Bimo juga sempat menjelaskan tentang KesehatanReproduksi. Bimo menyoroti tentang perlunyaperubahan kebijakan yang semula bersifat
provider center
, harus segera diubah menjadi
client center
atau
community center.
Menyinggung tentangKeluarga Berencana, dr Bimo menegaskan, KeluargaBerencana tetap harus diperhatikan, terutama di eraotonomi daerah sekarang ini. Kuncinya sekarangpada pemerintah kabupaten dan kota, tegas Bimo.Sementara itu detail tentang KB/KR yangdilaksanakan BKKBN dipaparkan Lufthi Sabri.Kepada peserta training, Lufthi mempresentasikan
Success Story
Keluarga Berencana. Lufthimenyebutkan, sejak diluncurkan secara nasional padatahun 1970 hingga tahun 2003 ini, tingkatpenggunaan kontrasepsi di Indonesia sudah lebihdari 50 persen. Lebih kurang enampuluh persen,kata Lufthi. Dari perjalanan waktu selama lebih dari32 tahun ini, pemerintah menurut Lufthi telahmencanangkan paradigma baru Keluarga Berencana.Di antaranya adalah memfokuskan pada kualitaspelayanan, mentaati hak reproduksi, program yangberorientasi pada klien, pemberdayaan masyarakatdan klien, serta mengurangi peran pemerintah.Tujuan strategisnya adalah menegaskanakseptabilitas dan konsistensi pengguna pelayananKB/KR yang berkualitas, Lufthi menandaskan.
Giliran Fasilitatoryang di Training
(Dari Training of Trainers Kesehatan Reproduksi di Era Otonomi Daerah)
Leave a Comment