Cara mendapatkan
NEWSLETTER
PMP AIDS: Kirimkan identitas serta nama media Anda, akan kami kirimkan secara gratis. Informasi yang kamimuat di
NEWSLETTER
dapat dikutip atau disiarkan tanpa ijin asal menyebut sumber. Apabila anda memiliki informasi tentang HIV/AIDS yang layakuntuk disebarkan kepada masyarakat luas, silakan kirim dan akan kami muat. Anda dapat menghubungi kami ke alamat: LP3Y Jl.Kaliurang Km 13,7Ngemplak, Sleman, Yogyakarta 55584 atau via telepon dan faksimili No. (0274)896016, email: lp3y@idola.net.id dan situs http://www.lp3y.org
Penanggung Jawab : Ashadi Siregar Pimpro/Pemimpin Redaksi : Slamet Riyadi Sabrawi Staf Redaksi : Ismay Prihastuti, Masduki, Th. Puspitawati, Rondang Pasaribu Sekretaris Redaksi : W. Nurcahyo Lay out : Ari R.
L P 3 Y d a n F o r d F o u n d a t i o n
Edisi 75 Juli 2004
ISSN 0853-7402
1
D a f t a r I s i
Pengantar Redaksi.....................1
Kalender....................................2
-Mendiskusikan Kembali KB/KR-Sosialisasi Penanggulangan HIV/AIDS
Dapur Info.................................3
Oleh-Oleh dari Konferensi AIDS XV
Analisis Info...............................7
Perempuan sebagai Doping
Sumber Info...............................9
Wawancara bersama Richard Gere
Spesial Info.............................11
Pemberitaan Pembunuhan Perempuan
Info Buku.................................13
-Mendobrak Tafsir Agama-Menunggu Keadilan untuk Perempuan
Inside Info (Statistik AIDS )......16
UNDANGAN
itu datang beruntun. Keduanya melalui emailpada medio Juni lalu. Pertama,
Raks Thai Foundation
(RTF),sebuah LSM yang bergerak dalam perberdayaan masyarakatmarginal. RTF mengundang saya untuk berpartisipasi dalamKonferensi AIDS Internasional XV, 11-16 Juli 2004 diBangkok. Dan dalam kegiatan AIDS Interaksi Asia-Afrikayang digelar di
Global Village
. Semua biaya mereka tanggung.Kedua,
Inter Press Service
wilayah Asia Pasifik, sebuahasosiasi nirlaba jurnalis profesional tanpabatas kewarganegaraan dan politik yang didirikan pada 1964. Johanna Son,Direktur IPS AP, mengundang sayapada 9 Juli 2004 untuk memaparkantopik
Language, Media and HIV/AIDS
dalam sebuah diskusi yang dihadirisekitar 15 jurnalis berbagai negara(Thailand, Kamboja, Laos, Vietnam,Burma, Filipina, Singapura, Australia,Indonesia). Mereka akan meliputKonferensi AIDS tersebut sertamenuliskannya dalam sebuah koran(berbentuk tabloid) bernama
Terraviva
.Oplagnya sekitar 5000 eks terbit selamakonferensi berlangsung saban pagi hari.Di Jakarta saya setiap hari menugasireporter, di sini saya malah ditugaskan sebagai reporter,ujar Agnes Aristiarini, redaktur
Kompas
, yang mewakiliIndonesia dalam tim
Terraviva
. Semua kegiatan diatasdidukung oleh Rockefeller Foundation.Delegasi Indonesia tergolong besar yakni 115 orang.Indonesia menggelar 2
booth
(ruang pamer) masing-masing Yayasan Pelita Ilmu dan Yayasan Spiritia. Kedua ruang tersebut menyatu dan kemudian didaulat menjadi tempatpertemuan antar peserta konferensi dariIndonesia. Berbagai pengumuman kecil(siapa menunggu siapa, ketemu di mana,ada acara apa) ditempel di dinding ruang pamer itu. Termasuk ketika mengundang peserta Indonesia agar menghadiripresentasi Jusuf Kalla, mantan KetuaKomisi Penanggulangan AIDS Nasional.Dengan jumlah delegasi sebesar itu,manfaat apa yang bisa diterapkan (pascakonferensi) di Indonesia? Meski PutuUtami, tampil berkebaya di acarapenutupan konferensi mewakili Odha,membaca
statement
singkat yang menggugah kemanusian kita, adakah itukelak akan kita jadikan aksi yang lebihpeduli, tanpa stigma dan diskriminasi?
(Srs)
Leave a Comment