Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
6Activity
P. 1
Etnis Tionghoa di Era Reformasi

Etnis Tionghoa di Era Reformasi

Ratings: (0)|Views: 317 |Likes:
Published by Peter Kasenda

Masa pemerintahan Orde Baru dengan sistem kontrol politik yang ketat, telah mengabaikan kebebasan individu dan kelompok sosial untuk mengungkapkan diri secara penuh. Di samping itu, rezim otoriter Orde Baru yang represif tidak menghiraukan hak-hak kelompok minoritas atau kelompok-kelompok sosial untuk diakui menurut keadaan dan situasi mereka. Sejarah telah membuktikan bahwa sistem politik otoritarianisme yang mengagung-agungkan prinsip kekuasaan absolut dan homogen tidak akan bertahan lama. Sejak persitiwa Mei 1998 yang ditandai dengan dengan keruntuhan rezim Soeharto, arus reformasi mengalir deras ke segala arah dan meresap ke semua pelosok tanah air. Arus reformasi itu menyentuh kelompok atau orang dari kalangan yang berbeda agama, etnis, budaya, bahasa, adat dan sebagainya. Sebagai akibat, terjadilah semacam politik keterbukaan yang membawa dampak perubahan politik pada seluruh domain kehidupan. Secara umum kita menyaksikan ledakan kuat untuk berpartisipasi dan tuntutan dahsyat untuk mendapat pengakuan akan hak-hak serta identitas dari kelompok yang berbeda-beda. Sekali lagi, ledakan ini terjadi hampir di semua lapisan masyarakat dan di seluruh pelosok tanah air. Indonesia sebagai negara yang bertaburan etnik, agama, bahasa, budaya, kelompok sosial dan nilai memiliki tantangan tersendiri. Tantangan yang paling utama adalah bagaimana meramu segala emtitas perbedaan yang incommensurable itu menjadi suatu tatanan masyarakat yang demokratis. Tentu, tantangan ini bukan saja tugas yang harus dipikul oleh politik. Walaupun kita menyadari bahwa panggilan politik adalah menata kehidupan bersama dan berjuang untuk meramu segala perbedaan menjadi suatu well-ordered-society. Tampaknya, kita selalu berhadapan dengan dilemma politik bahwa mengakui dan menghormati segala perbedaan dan identitas kelompok pada gilirannya memberi atau menciptakan ruang bagi perpecahan atau desintegrasi. Kita tahu bahwa tuntutan untuk menghormati diversitas kultural sebagai bagian dari politik identitas lahir dari reaksi terhadap pengabaian hak-hak kelompok minoritas dalam sejarah. Pengabaian seperti ini telah menimbulkan ancaman separasi atau pemisahan diri. Apalagi dalam jargon politik, kategori minoritas selalu dipertentangkan dengan yang mayoritas, dan kelompok minoritas selalu dikonotasikan sebagai yang tidak berdaya, yang tidak berpengaruh, yang kalah, yang terpinggir, yang terpencil, yang digolongkan sebagai masyarakat kelas dua, dan lain sebagainya. Ekslusifitas politik semacam ini berdampak pada politik pengabaian, khususnya pengabaian terhadap kelompok-kelompok etnis, agama, budaya dan nilai-nilai tertentu. Kecenderungan politik seperti ini juga tampak paling kuat dalam tindakan-tindakan untuk menyingkirkan, meminggirkan, mengucilkan, mengasingkan dan menendang keluar semua kelompok minoritas atau kelompok yang berbeda. Pluralitas, perbedaan, diversitas tidak lagi dilihat sebagai kekayaan atau sebagai mata rantai yang memperkokoh rasa kesatuan, tetapi malah dianggap sebagai ancaman yang dapat mencederai demokrasi dan toleransi. Pada hakikatnya, demokrasi mengandung nilai-nilai yang inklusif karena demokrasi mempertemukan segala yang berbeda atau yang berlainan melalui suatu konsepsi politik yang disebut warga negara. Kita tahu bahwa inklusivitas demokrasi ditandai oleh “the goverment of all the people“. Penekanan pada aspek “ semua rakyat “ di sini hendaklah dilihat sebagai ciri identitas kolektif yang kuat dan demokrasi. Demokrasi menuntut solidaritas dan komitmen bersama dari semua rakyat dengan tingkatan toleransi multikultural yang tinggi. Tuntutan agar demokrasi menjadi lebih optimal hanya mungkin terjadi apabila semua rakyat akan dapat mengenal satu sama lain, dan memiliki cita rasa akan komitmen terhadap orang lain. Oleh karena itu, nilai-nilai seperti saling pengertian, saling menaruh kepercayaan dan komitmen timbal balik harus senantiasa diperbaharui atau dirumuskan secara baru. Ini semua bukan hal yang gampan

Masa pemerintahan Orde Baru dengan sistem kontrol politik yang ketat, telah mengabaikan kebebasan individu dan kelompok sosial untuk mengungkapkan diri secara penuh. Di samping itu, rezim otoriter Orde Baru yang represif tidak menghiraukan hak-hak kelompok minoritas atau kelompok-kelompok sosial untuk diakui menurut keadaan dan situasi mereka. Sejarah telah membuktikan bahwa sistem politik otoritarianisme yang mengagung-agungkan prinsip kekuasaan absolut dan homogen tidak akan bertahan lama. Sejak persitiwa Mei 1998 yang ditandai dengan dengan keruntuhan rezim Soeharto, arus reformasi mengalir deras ke segala arah dan meresap ke semua pelosok tanah air. Arus reformasi itu menyentuh kelompok atau orang dari kalangan yang berbeda agama, etnis, budaya, bahasa, adat dan sebagainya. Sebagai akibat, terjadilah semacam politik keterbukaan yang membawa dampak perubahan politik pada seluruh domain kehidupan. Secara umum kita menyaksikan ledakan kuat untuk berpartisipasi dan tuntutan dahsyat untuk mendapat pengakuan akan hak-hak serta identitas dari kelompok yang berbeda-beda. Sekali lagi, ledakan ini terjadi hampir di semua lapisan masyarakat dan di seluruh pelosok tanah air. Indonesia sebagai negara yang bertaburan etnik, agama, bahasa, budaya, kelompok sosial dan nilai memiliki tantangan tersendiri. Tantangan yang paling utama adalah bagaimana meramu segala emtitas perbedaan yang incommensurable itu menjadi suatu tatanan masyarakat yang demokratis. Tentu, tantangan ini bukan saja tugas yang harus dipikul oleh politik. Walaupun kita menyadari bahwa panggilan politik adalah menata kehidupan bersama dan berjuang untuk meramu segala perbedaan menjadi suatu well-ordered-society. Tampaknya, kita selalu berhadapan dengan dilemma politik bahwa mengakui dan menghormati segala perbedaan dan identitas kelompok pada gilirannya memberi atau menciptakan ruang bagi perpecahan atau desintegrasi. Kita tahu bahwa tuntutan untuk menghormati diversitas kultural sebagai bagian dari politik identitas lahir dari reaksi terhadap pengabaian hak-hak kelompok minoritas dalam sejarah. Pengabaian seperti ini telah menimbulkan ancaman separasi atau pemisahan diri. Apalagi dalam jargon politik, kategori minoritas selalu dipertentangkan dengan yang mayoritas, dan kelompok minoritas selalu dikonotasikan sebagai yang tidak berdaya, yang tidak berpengaruh, yang kalah, yang terpinggir, yang terpencil, yang digolongkan sebagai masyarakat kelas dua, dan lain sebagainya. Ekslusifitas politik semacam ini berdampak pada politik pengabaian, khususnya pengabaian terhadap kelompok-kelompok etnis, agama, budaya dan nilai-nilai tertentu. Kecenderungan politik seperti ini juga tampak paling kuat dalam tindakan-tindakan untuk menyingkirkan, meminggirkan, mengucilkan, mengasingkan dan menendang keluar semua kelompok minoritas atau kelompok yang berbeda. Pluralitas, perbedaan, diversitas tidak lagi dilihat sebagai kekayaan atau sebagai mata rantai yang memperkokoh rasa kesatuan, tetapi malah dianggap sebagai ancaman yang dapat mencederai demokrasi dan toleransi. Pada hakikatnya, demokrasi mengandung nilai-nilai yang inklusif karena demokrasi mempertemukan segala yang berbeda atau yang berlainan melalui suatu konsepsi politik yang disebut warga negara. Kita tahu bahwa inklusivitas demokrasi ditandai oleh “the goverment of all the people“. Penekanan pada aspek “ semua rakyat “ di sini hendaklah dilihat sebagai ciri identitas kolektif yang kuat dan demokrasi. Demokrasi menuntut solidaritas dan komitmen bersama dari semua rakyat dengan tingkatan toleransi multikultural yang tinggi. Tuntutan agar demokrasi menjadi lebih optimal hanya mungkin terjadi apabila semua rakyat akan dapat mengenal satu sama lain, dan memiliki cita rasa akan komitmen terhadap orang lain. Oleh karena itu, nilai-nilai seperti saling pengertian, saling menaruh kepercayaan dan komitmen timbal balik harus senantiasa diperbaharui atau dirumuskan secara baru. Ini semua bukan hal yang gampan

More info:

Published by: Peter Kasenda on Jan 15, 2013
Copyright:Traditional Copyright: All rights reserved

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
See more
See less

03/02/2014

 
Peter Kasenda
Etnis Tionghoa di Era Reformasi
Pendekatan Multikulturalisme
 
Masa pemerintahan Orde Baru dengan sistem kontrol politik yang ketat,telah mengabaikan kebebasan individu dan kelompok sosial untumengungkapkan diri secara penuh. Di samping itu, rezim otoriter Orde Baruyang represif tidak menghiraukan hak-hak kelompok minoritas ataukelompok-kelompok sosial untuk diakui menurut keadaan dan situasimereka. Sejarah telah membuktikan bahwa sistem politik otoritarianismeyang mengagung-agungkan prinsip kekuasaan absolut dan homogen tidak akan bertahan lama.Sejak persitiwa Mei 1998 yang ditandai dengan dengan keruntuhan rezimSoeharto, arus reformasi mengalir deras ke segala arah dan meresap kesemua pelosok tanah air. Arus reformasi itu menyentuh kelompok atauorang dari kalangan yang berbeda agama, etnis, budaya, bahasa, adat dansebagainya. Sebagai akibat, terjadilah semacam politik keterbukaan yangmembawa dampak perubahan politik pada seluruh domain kehidupan.Secara umum kita menyaksikan ledakan kuat untuk berpartisipasi dantuntutan dahsyat untuk mendapat pengakuan akan hak-hak serta identitasdari kelompok yang berbeda-beda. Sekali lagi, ledakan ini terjadi hampir disemua lapisan masyarakat dan di seluruh pelosok tanah air.Indonesia sebagai negara yang bertaburan etnik, agama, bahasa, budaya,kelompok sosial dan nilai memiliki tantangan tersendiri. Tantangan yang paling utama adalah bagaimana meramu segala emtitas perbedaan yang
incommensurable
itu menjadi suatu tatanan masyarakat yang demokratis.Tentu, tantangan ini bukan saja tugas yang harus dipikul oleh politik.Walaupun kita menyadari bahwa panggilan politik adalah menata kehidupan bersama dan berjuang untuk meramu segala perbedaan menjadi suatu
well-ordered-society
. Tampaknya, kita selalu berhadapan dengan dilemma politik  bahwa mengakui dan menghormati segala perbedaan dan identitas kelompok  pada gilirannya memberi atau menciptakan ruang bagi perpecahan ataudesintegrasi.
1
 
Kita tahu bahwa tuntutan untuk menghormati diversitas kultural sebagai bagian dari politik identitas lahir dari reaksi terhadap pengabaian hak-hak kelompok minoritas dalam sejarah. Pengabaian seperti ini telahmenimbulkan ancaman separasi atau pemisahan diri. Apalagi dalam jargon politik, kategori minoritas selalu dipertentangkan dengan yang mayoritas,dan kelompok minoritas selalu dikonotasikan sebagai yang tidak berdaya,yang tidak berpengaruh, yang kalah, yang terpinggir, yang terpencil, yangdigolongkan sebagai masyarakat kelas dua, dan lain sebagainya. Ekslusifitas politik semacam ini berdampak pada politik pengabaian, khususnya pengabaian terhadap kelompok-kelompok etnis, agama, budaya dan nilai-nilai tertentu. Kecenderungan politik seperti ini juga tampak paling kuatdalam tindakan-tindakan untuk menyingkirkan, meminggirkan,mengucilkan, mengasingkan dan menendang keluar semua kelompok minoritas atau kelompok yang berbeda.Pluralitas, perbedaan, diversitas tidak lagi dilihat sebagai kekayaan atausebagai mata rantai yang memperkokoh rasa kesatuan, tetapi malahdianggap sebagai ancaman yang dapat mencederai demokrasi dan toleransi.Pada hakikatnya, demokrasi mengandung nilai-nilai yang inklusif karenademokrasi mempertemukan segala yang berbeda atau yang berlainan melaluisuatu konsepsi politik yang disebut warga negara. Kita tahu bahwainklusivitas demokrasi ditandai oleh “the goverment of all the people“.Penekanan pada aspek “ semua rakyat “ di sini hendaklah dilihat sebagai ciriidentitas kolektif yang kuat dan demokrasi. Demokrasi menuntut solidaritasdan komitmen bersama dari semua rakyat dengan tingkatan toleransimultikultural yang tinggi. Tuntutan agar demokrasi menjadi lebih optimalhanya mungkin terjadi apabila semua rakyat akan dapat mengenal satu samalain, dan memiliki cita rasa akan komitmen terhadap orang lain. Oleh karenaitu, nilai-nilai seperti saling pengertian, saling menaruh kepercayaan dankomitmen timbal balik harus senantiasa diperbaharui atau dirumuskan secara baru. Ini semua bukan hal yang gampang dalam berpolitik. Kita selalutergoda untuk jatuh kermbali kedalam cara-cara yang lama sambilmenyangkal setiap problem dan situasi politik yang nyata. Ini menyebabkandilemma dalam berdemokrasi.Hal yang penting adalah kita harus menyadari dan mengakui dilemma berdemokrasi ini agar kita sanggup menemukan pengertian –pengertian baruyang lebih kreatif sebagai bentuk identitas politik kita. Kita tidak perlumemperkokoh identitas kita lewat homogenitas yang artificial belakasebagai dasar untuk hidup bersama dalam damai. Yang kita butuhkan adalah
2
 
adanya pengalaman akan identitas nasional yang berbeda-beda dan memberiruang yang bebas, setara dan fair dalam setiap ekspresi politis. Identitas politik harus dibangun, dinegoisasi, dan secara kreatif dirancang bersamaoleh semua rakyat yang mempunyai kehendak baik demi kehidupan bersama. Tentu hal ini hanya mungkin berlangsung di bawah
the same political roof 
. Politik demokratis harus sanggung menciptakan satu atapkehidupan sebagai tempat bernaung bagi semua orang dan sebagai tempatuntuk 
 sharing 
identitas bersama dari segala macam perbedaan.Kebijakan politik diversitas di Indonesia telah lama memilih BhinekaTunggal Ika sebagai prinsip dasar. Secara kultural, prinsip kebhinekaan itutidak hanya dimengerti sebagai multiplisitas jumlah, tetapi harus dipahami juga menurut kandungan makna “diversitas “ atau “ yang lain “. Penekanan pada multilisitas jumlah akan membawa kita kepada pluralisme. Sedangkan penekanan pada diversitas akan mengantar kita pada selangkah lebih majudaripada sekadar mencapai pemahaman multiplisitas jumlah atau pluralismeitu sendiri, yakni mencapai pengakuan dan menumbuhkan respek terhadap perbedaan-perbedaan yang
incommensurable
. Oleh karena itu, kebhinekaandi sini harus kita pahami bukan hanya dalam arti keberagaman, melainkandalam pengertian sebagai perbedaan-perbedaan subtansial yang tidak bolehdireduksi menjadi satu atau dipaksakan menjadi satu kesatuan.Yang menjadi pekerjaan rumah saat ini adalah bagaimana kitamenerjemahkan kebhinekaan dalam ruang demokrasi yang dilandasi olehtoleransi. Di tengah perbedaan, kita tidak bisa memaksakan segala
comprehensive doctrine
dari latar belakang moral, agama dan pandanganhidup yang berlainan. Yang bisa kita lakukan adalah menerjemahkan semuadoktrin komprehensif yang berbeda-beda kedalam suatu forum politik publik dengan berlandaskan pada prinsip nalar politik yang bisa diterima olehsemua pihak. Tentu, prinsip dasar 
reasonable pluralism
– pluralisme yangwaras sangat penting dalam mengembangkan nalar publik untuk suatu justifikasi politik yang baik. Ini adalah salah satu bentuk dari kewajibankeadaban publik yang kita kembangkan dalam pluralisme dan demokrasi.Di jaman globalisasi ini diperlukan kesanggupan untuk mengolah danmenata segala bentuk perbedaan itu. Seringkali, perbedaan yang tidak dapatditata secara baik menjadi sumber konflik, apalagi kalau perbedaan itudijadikan sebagai dasar pembedaan segala tindakan, perbuatan, tutur kata,keyakinan, dan lain-lain. Kita harus mengakui hak untuk berbeda, tetapi kita juga harus memiliki kewajiban untuk berintegrasi.
3

Activity (6)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 thousand reads
1 hundred reads
kingstonlaw liked this
Adhe Syabani liked this
taralitbang liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->