• Embed Doc
  • Readcast
  • Collections
  • CommentGo Back
Page22
The Mannequin Of Dharma
RoroSyin
Grey
Grey
Grey
Grey
Here we go,

Sayup-sayup mengiringi langkah yang diseret oleh waktu yang menghujani nafasku. Aku seperti patung di estalase toko, apa yang di lihat harus tersenyum. Tapi kali ini begitu terpaksa. Melirik malu-malu kaca berkarat, yang hampir kutinggalkan karena tak ada yang berubah. Lihat tubuhku. Menari tak beraturan. Semua lemak siap menyerang hari tuaku nanti. Ah lemak menggantung di lengan, perut, paha, betis, punggung, pinggang mereka seperti tetelan yang menghimpit orga jantungku. Dan menyempitkan aliran darahku.

Wow\u2026.

Ada yang lain dari pemerah bibir ibuku. Aku tak percaya setiap wanita bisa disulap menjadi cantik bila memakainya, benarkah? lalu kucoba. Kulukis sisi atas. Menarik juga, lalu warna hitam bibirku berubah menjadi merah hati. Aku tersenyum kembali. Percayakah sekarang bahwa perkakas serbuk rias dapat membuat kita cantik dalam hitungan menit dan meluntur dalam hitungan jam. Tapi tetap saja topeng. Setidaknya begitu menurutku.

Entah sudah berapa lama aku seperti gadis kecil yang terkejut oleh perubahan. Setidaknya begitulah yang dia katakan kepadaku di tengah malam. Aku jadi teringat masa awal akil baliq. Melihat lawan jenis seperti lotere. Dan hari ini aku marasakan hal seperti itu lagi. Perlukah aku berkaca? Apakah

Page23
The Mannequin Of Dharma
RoroSyin

wajar jika aku menginginkannya, mendapatkannya. Semenit saja. Tanpa harus melukai perempuannya. Tanpa harus dicap wanita penggoda. Dan bolehkan aku berdoa agar dia cepat dicampakkan lagi. Aku siap menampung, aku siap menghibur, aku siap memberinya harapan baru. Aku bisa menerima apa adanya dia. Sungguh!!! bolehkah aku berpikiran seperti itu?

\u201cHallo\u201d

Dia dengan kata-katanya yang lembut. Saling bertukar cerita. Membeberkan jadwal acara yang sepertinya tak mengharapkan aku bertemu denganya esok hari. Entahlah\u2026.

Teringat dia seperti teringat opera sabun\u201cSEX AND THE CITY\u201d Dia memang contoh nyata dari Mr. Big. Tapi aku sangat berkeberatan bila dijadikan sepertiCarrie dalam kehidupannya. Menghabiskan waktu bercerita tentang pria yang lalu-lalang dalam kehidupan. Menenggak segelas martini yang diganti kopi olehku. Merokok tanpa pandang bulu. Lalu menutup hari di depan jurnal. Atau seorang calon wanita bernamaCinta yang memainkan gitarnya sambil memikirkan masRangga-nya. Bahkan balada Hirose dan Hikaru. Mengharukan cerita di layar kaca namun semua itu terkadang nyata. Karena itu terjadi padaku.

Aku di sini yang menanti deringan telepon. Mencoba menekan nomornya. Tapi keangkuhan ini rupanya tak sepakat. Sabar nanti pasti ada kabarnya\u2026\u2026.

Bolehkah aku berkata \u201cKANGEN\u201d Tapi sepertinya belum pantas. Tapi ini kualami meridukan kritikan pedasnya yang melebihi taburan merica. Merindukan kehengingan sesaat dikala berbicara. Aku benci harus begini. Mengalami dilemma yang

Page24
The Mannequin Of Dharma
RoroSyin

rancu. Tapi aku ingin jujur terhadap diri sendiri. Mesejajarkan melodijazz dengan kebutuhan akan seseorang yang mungkin kini hanya tersenyum kecil atau tertawa dengan teman- temannya.

Aku hanya akan berucap \u201cAKU KANGEN\u201c Tidak berharap dia
datang membacakkan puisi di balik tirai jendela.
Sabarlah\u2026

Bersabar itukah jawabannya. Membuat mataku tak terpejam lagi malam ini. Adakah aku dalam dirinya dalam satu detik saja. TUHAN\u2026.. jangan jadikan aku mulai mewajibkan dia harus ada dalam kehidupanku. Aku percaya. Sungguh. Cepatlah pagi, cukup dia tahu bahwa aku ada. Tapi jangan salahkan aku bila mulai merindukan kehadiranya, karena kau yang memulai. Dari mulai menatap, berkata, menganalisa seenak jidat, bersungut- sungut sedikit menghujat dan selalu begitu hingga aku begitu menghapal gerak-geriknya. Dengan raut muka yang sedih dia jual cerita sedihnya hingga aku merasa iba, lalu mengorek tentang masa laluku Tiba-tiba ada kau menjadi peduli dengan misiku di dunia. Lalu di dekatmu seperti ditelanjangi dan dimuntahkan. Ingat kau yang membuatnya menjadi begini.

\u201dSekali lagi, di mana kamu sayang? Aku menunggu. Aku tak mengeluh

meski bermandikan peluh. Apakah pernah terlintas dalam pikiranmu tentang aku walaupun saat dirimu sedang high. Sial! Aku benci keadaan ini. Aku benci jadi nomer dua dalam hidupmu. Tapi aku bahagia selalu jadi yang pertama ketika kau ada masalah. Bajingan kau pikir aku tong sampah!\u201d

Aku di sini melihat telepon yang begitu ringkih sepeti aku yang
terlihat kuat padahal tak mampu hidup dengan menunggu.
of 00

Leave a Comment

You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...
You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...