Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
2Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Evaluasi Dampak (ANDAL)

Evaluasi Dampak (ANDAL)

Ratings: (0)|Views: 456 |Likes:
Evaluasi dampak dalam AMDAL (Bab VI)
Evaluasi dampak dalam AMDAL (Bab VI)

More info:

Categories:Types, Research
Published by: zulfikarishak_300660 on Jan 21, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/01/2014

pdf

text

original

 
ANDAL KEGIATAN PEMBANGUNAN JALAN BOJONGGEDE - KEMANG 
 
VI-1
VI. EVALUASI DAMPAK PENTING
 
A. TELAAHAN TERHADAP DAMPAK PENTING
Evaluasi dampak penting dilakukan secara holistik adalah telaahan secara totalitas terhadap berbagai
dampak yang bersifat penting 
yang ditelaah sebagai satu kesatuan yang saling terkait dan salingpengaruh-mempengaruhi sehingga diketahui sejauh mana perimbangan dampak penting yangbersifat positif dengan yang bersifat negatif dengan menggunakan Metode Matriks tiga Tahap
Fisher and Davies (1973)
, menurut
Fisher and Davies 
metode ini dapat dipergunakan untuk melakasanakanprediksi, interpretasi dan evaluasi dampak. Matriks
Fisher and Davies 
merupakan metode yangmenggunakan langkah-langkah yang terdiri dari: i) menyusun matriks evaluasi dasar terhadapkomponen lingkungan, ii) menyusun matriks untuk melakukan identifikasi dan prediksi dampak, dan iii)menyusun matriks evaluasi dampak dan keputusan.
1. Evaluasi Dasar terhadap Komponen Lingkungan
Dalam melaksanakan identifikasi dampak dan memprediksi dampak perlu disusun suatu matriksevaluasi dasar terhadap kondisi lingkungan. Pada hakekatnya matriks evaluasi dasar ini dimaksudkanuntuk dapat memperolah data tentang rona lingkungan dan berbagai sifat dari sesuatu parameter komponen lingkungan. Matriks evaluasi dasar disusun dengan cara:a. Disusun daftar parameter komponen lingkungan yang diduga terkena dampak pembangunan.parameter komponen lingkungan ini disusun berdasar kelompok geofisik, biotis dan sosialekonomi budaya dan kesehatan masyarakat;b. Setiap parameter ditentukan kondisinya pada saat studi yaitu Rona Lingkungan Awal. Kondisisetiap paramater dibedakan menjadi 3 yaitu: bagus, sedang dan jelek. Ketiga hal ini perluditentukan untuk mempermudah dalam memberikan skala keadaan sekarang. Skala kualitaslingkungan dapat menggunakan pedoman baku mutu kualitas lingkungan atau denganmenggunakan tabel standar kualitas lingkungan yang telah dipersiapkan terlebih dahulu;c. Keadaan komponen kualitas lingkungan sekarang ditentukan dengan memberikan nilai skala 1
 –
5. Angka 1 berarti kondisi paramater lingkungan sangat jelek, angka 2, 3, 4 dan 5 masing-masing berarti jelek, sedang, bagus dan sangat bagus;d. Skala kepentingan terhadap proyek diberikan dalam bentuk angka-angka 1 terhadap parameter yang tidak penting terhadap proyek, angka 2 yang tidak penting, angka 3 sedang, angka 4sesuatu paremeter itu penting dan angka 5 sesuatu parameter itu sangat penting;e. Demikian juga dengan kepekaan terhadap pengelolaan bagi setiap parameter juga harusditentukan. Nilai kepekaan terhadap sesuatu parameter lingkungan terhadap pengelolaan jugaditentukan dengan memberi angka-angka 1 bagi parameter yang sangat tidak peka, angka 2tidak peka, angka 3 berarti sedang, angka 4 peka dan angka 5 sangat peka terhadap upayapengelolaan. Dasar untuk penentuan kepekaan terhadap pengelolaan sebagai berikut.
 
ANDAL KEGIATAN PEMBANGUNAN JALAN BOJONGGEDE - KEMANG 
 
VI-2 
1) Fisik Kimiaa) Iklim Mikro
Kegiatan permbersihan lahan dan pembongkaran bangunan akan menyebabkan hilangnya vegetasipada lahan seluas 43,6 ha. Fungsi vegetasi sebagai peneduh dan penyerap polutan, maka denganadanya perubahan lahan tersebut akan berdampak terhadap perubahan iklim mikro (peningkatansuhu dan peneurunan kelembaban). Kondisi lahan tanpa vegetasi diprakirakan akan berlangsungselama kegiatan konstruksi berlangsung. Peningkatan suhu dan penurunan kelembaban akanberpengaruh terhadap kenyaman thermal masyarakat sekitar. Selain itu, peningkatan iklim mikro jugaakan berdampak terhadap fungsi fisiologis tanaman lain di sekitar lokasi.Perubahan iklim mikro pada tahap operasi dari kegiatan pengoperasian jalan dan jembatan danpemeliharaan jalan dan jembatan. Pengoperasian jalan yaitu meningkatnya jumlah kendaraanbermotor mengakibatkan terjadi pencemaran udara. Konsentrasi penduduk pada wilayah tertentuditambah dengan adanya industri dan perdagangan serta transportasi kota yang padat menyebabkantejadinya
thermal polution 
yang kemudian membentuk pulau panas atau
heat island.
Pulau-pulaupanas terjadi karena adanya emisi panas yang direfleksikan dari permukaan bumi ke atmosfir.Pertumbuhan sektor industri dan bisnis di sepanjang jalan Bojonggede-Kemang diprakirakan akanmeningkat, hal ini akan berdampak juga terhadap perubahan tata guna lahan yaitu perubahan tutupanlahan dari pertanian menjadi bangunan tempat usaha (industri, pertokoan, dll) atau perumahan.Menurut Grey dan Deneke (1986), sinar matahari yang sampai ke permukaan bumi mengalami prosesrefleksi, transmisi dan absorbsi. Pulau panas pada umumnya terdapat pada bagian wilayah kota tidakbervegetasi, kemudian proses tersebut saling bersinergi dalam meningkatkan suhu udara. Darikegiatan pemeliharaan jalan dan jembatan yang salah satu kegiatannya adalah pemeliharaantanaman pada RTH seluas 30 % yang telah ditanam pada tahap konstruksi. Diprakirakan dalam waktu5 tahun pertumbuhan tanaman pada RTH sudah optimal. Hal tersebut akan berpengaruh terhadapmembaiknya kondisi iklum mikro (penurunan suhu dan peningkatan kelembaban). Tauhid (2008)mengemukakan bahwa luas 10 % penutupan vegetasi pohon hutan kota mampu menurunkan suhu0,9
o
C. Sedangkan peningkatan kelembaban dengan adanya penghijauan yaitu sekitar 4 % (Asiani,2009). Perubahan iklim mikro akan mempengaruhi kenyamanan masyarakat sekitar lokasi studi,namun dengan pengelolaan yang baik dampak perubahan iklim mikro dapat terbalikkan. Dengandemikian kepekaan terhadap pengelolaan tahap konstruksi dan operasi adalah
peka (4).
 
b) Kualitas Udara dan Debu
Seperti telah diuraikan pada Bab V, bahan berupa material konstruksi akan diangkut dari lokasi quarryyang berada di daerah Rumpin (15 Km dari proyek), Cigudeg (25 dari proyek), dan Jonggol (30 dariproyek), melalui jalur jalan arteri: Parung, kemudian melalui jalan lokal hingga ke lokasi studi di DesaBojongbaru. Penimbunan alat berat dan material konstruksi akan dilakukan di tiga lokasi, di sekitar Desa Bojongbaru, Desa Tajurhalang, dan Desa Jampang. Untuk mencapai dua lokasi penimbunanlainnya dipergunakan jalan lokal eksisting. Peningkatan intensitas kendaraan yang melalui jalur angkut tersebut akan mengakibatkan peningkatan konsentrasi debu, gas CO,
NOx 
dan SO
2
di udaraambien di sepanjang jalan yang dilalui kendaraan. Besarnya peningkatan kandungan polutan udaratersebut masih berada di bawah nilai ambang batas yang ditetapkan menurut PP No. 41 tahun 1999.Walaupun demikian wilayah sebaran dampak cenderung luas hingga radius 30 km dari lokasi proyek
 
ANDAL KEGIATAN PEMBANGUNAN JALAN BOJONGGEDE - KEMANG 
 
VI-3 
yaitu sepanjang jalur pengangkutan. Kegiatan mobilisasi alat berat dan bahan ini berlangsung secaraintermitten selama tahap konstruksi yaitu sekitar 9 bulan, dan dapat terbalikan seiring dengan·berakhirnya tahap konstruksi. Dengan demikian jelas bahwa paparan polutan udara terhadappenduduk yang tinggal di sekitar jalur angkut tidak terus menerus.Kegiatan pematangan lahan yang melakukan pembukaan lahan seluas 43,6 ha, diprakirakanmenimbulkan peningkatan konsentrasi debu di udara ambien pada saat kegiatan berlangsung hinggamencapai 1268 ug/m3, sementara dari aktivitas buldozer, backhoe dan crawler diprakirakanmemberikan kontribusi emisi gas buang sebesar 1,88 ug/m3 untuk debu, 3,21 ug/m3 untuk 502, 9,96ug/m3 untuk NOx dan 8,85 ug/m3 untuk CO. Peningkatan tersebut jika dikumulatifkan dengankonsentrasi ambien rata-rata masih berada di bawah ambang batas yang dipersyaratkan, kecualiuntuk debu. Namun demikian pada saat pematangan lahan juga terjadi pengangkutan bahan bekasgalian dan bahan timbunan sehingga peningkatan kandungan gas-gas pencemar di udara akansemakln tinggi. Wilayah persebaran dampak akan meluas hingga radius 30 km serta masyarakat yangakan terkena dampak akan lebih banyak. Kandungan debu hingga 1268 ug/m3 akan mengganggu jarak pandang baik bagi pekerja ataupun masyarakat yang tinggal berdekatan dengan lokasi kegiatan,sehingga resiko terjadinya kecelakaan kerja semakin tinggi. Paparan debu juga berimplikasi padameningkatnya resiko kejangkitan penyakit saluran pernafasan seperti ISPA dan penumonia.Dengan beroperasinya Jalan Bojonggede - Kemang, maka jalan tersebut akan bertindak sebagaisumber emisi garis
(line source)
bagi peningkatan gas-gas polutan di udara ambien. Kadar gas-gas diudara ambien pada saat beroperasinya jalan diprakirakan meningkat namun peningkatannya masih dibawah ambang batas berdasarkan PP No. 41 tahun 1999. Peningkatan yang mencolok, adalahparameter CO (karbon monoksida) dan NOx (nitrogen oksida). Kedua gas ini merupakan polutanutama dari sektor transportasi. Peningkatan volume kendaraan di sepanjang jalan Bojonggede-Kemang diprakirakan akan melebihi 2% per tahun, karena di kawasan ini akan terjadi percepatanpertumbuhan pembangunan di berbagai sektor seperti industri dan bisnis. Dengan demikian akanterjadi peningkatan konsentrasi polutan secara gradual dan berlangsung selama beroperasinya jalanBojonggede- Kemang. Pada suatu saat dalam masa pengoperasian jalan, konsentrasi polutantersebut akan melewati ambang batas, meskipun CO dan Nox dapat bereaksi secara kimiawi denganzat lain menjadi senyawa yang lebih stabil, yaitu CO akan teroksidasi menjadi CO
2
dan NOx akantereduksi menjadi gas ammonia. Kondisi ini terjadi karena kecepatan pembentukan emisi lebih besar dibanding kecepatan penyisihannya. Penurunan kualitas udara tersebut bersifat akumulatif dengansedikit
reversible 
. Dengan demikian maka secara umum skala kepekaan terhadap pengelolaandampak dari peningkatan kualitas udara dan debu tahap konstruksi dan operasi adalah
sangat peka(5).c) Kebisingan
Kebisingan sebesar 65-74 dBA pada jarak 20 meter dari sumber juga berlangsung secara intermittendi siang hari sehingga pengaruhnya terhadap gangguan pendengaran relatif kecil. Menurut Whyte,
et al.,
1980
 
lingkungan dengan tingkat kebisingan lebih besar dari 104 dBA atau kondisi kerja yangmengakibatkan seseorang harus menghadapi tingkat kebisingan leb!h besar dari 85 dBA selama lebihdari 8 jam per hari tergolong sebagai
high level of noise related risk.
Dengan demikian kebisinganyang timbul dari kegiatan mobilisasi alat berat dan bahan tergolong beresiko rendah terhadap

Activity (2)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 thousand reads
1 hundred reads

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->