Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
1Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Aisyiyah Dan Gerakan Pemberdayaan Perempuan

Aisyiyah Dan Gerakan Pemberdayaan Perempuan

Ratings: (0)|Views: 648|Likes:

More info:

Published by: Annro Choichanni Charmersvip on Jan 24, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/24/2013

pdf

text

original

 
„AISYIYAH DAN GERAKAN PEMBERDAYAAN PEREMPUAN
 
Sejarah dan Identitas'Aisyiyah
 Ajaran Islam tentang perempuan yang dipahami KHA Dahlan adalah bahwaperempuan setara dengan laki-laki, perempuan mempunyai kesempatan yang sama denganlaki-laki untuk mengenyam pendidikan formal dan menjalankan peran kemasyarakatan,seperti berdakwah secara aktif di ruang publik karena laki-laki dan perempuan memilikipotensi yang sama untuk meraih prestasi hidup, dan mereka sama-sama punya hak dankewajiban untuk menuntut ilmu. Oleh karena itu, lembaga-lembaga dan institusi-institusisosial mesti membuka dan memberi kesempatan yang sama bagi perempuan dan laki-lakiuntuk mengaktualisasikan dirinya sebagai
khalifah
 
 fil ard 
.
Komentar 
:Pemberdayaan perempuan dalam kehidupan sosial kemasyarakatan adalah suatukonsekuensi logis dari upaya pemberdayaan pendidikan kaum perempuan. Ketika tingkatpendidikan kaum perempuan telah cukup baik dan sejajar dengan kaum laki-laki, makaadalah sangat logis jika mereka juga diberi kesempatan dan peran sosial yang sama nilainyadengan para kaum laki-laki.Sedikit berbeda dengan Muhammadiyah, 'Aisyiyah lebih menyorot dan fokus padamasalah yang menimpa perempuan-perempuan muslim di saat itu. Pengaruh budaya padamasa itu, terutama adanya pengaruh mistik, feodalisme dan penjajahan membuat kondisiperempuan sangat memprihatinkan. Kondisi tersebut muncul karena budaya yang dianut dimasyarakat bersifat patriarkhi, yaitu mengutamakan, mementingkan dan menguntungkanlaki-laki dan sebaliknya menomorduakan, menganggap tidak penting dan menzolimiperempuan. Hal itu semua tidak sejalan dengan nilai-nilai Islam yang memuliakan danmenjunjung tinggi martabat perempuan.
Komentar 
:
 
Kenyataan yang ada dalam Muhammadiyah ini sebenarnya juga melanda hampirsebagian besar Ormas lainnya di Indonesia, bahkan boleh dikatakan itu sudah menjadirealitas sosial bangsa ini dimana dominasi patriarkhi memang masih sangat besar dalamkehidupan sosial kemasyarakatan. Tetapi dengan melihat posisi Muhammadiyah sebagaigerakan pembaharuan Islam dan gerakan modernis Islam di Indonesia, kenyataan inisangatlah memprihatinkan. Muhammadiyah sangat diharapkan bisa menjadi peloporpemberdayaan perempuan Islam dalam peran sosial kemasyarakatannya setelah sebelumnyaMuhammadiyah dianggap cukup berhasil dalam mempelopori peningkatan pendidikan kaumperempuan Islam di Indonesia.
 Pemberdayaan Perempuan oleh 'Aisyiyah
 Sebagaimana telah disebutkan bahwa perhatian KHA Dahlan dan Nyai Dahlan sangatbesar terhadap kedudukan, peran, dan pemberdayaan perempuan. Hal ini dapat dilihat mulaidari pendiri Persyarikatan ini memberi kesempatan dengan menganjurkan anak perempuanmasuk sekolah formal dan mempersiapkan kader-kader pemimpin perempuan melaluipendidikan formal dan gemblengan beliau dan istrinya di
internat 
(asrama puteri yang jugaadalah rumah beliau). Selain itu, hal tersebut juga dapat dilihat dari pesan beliau kepada parasahabatnya dan murid-muridnya supaya berhati-hati dengan urusan 'Aisyiyah (organisasiperempuan Muhammadiyah). Kalau dapat memimpin dan membimbing mereka, insya Allahmereka akan menjadi orang yang sangat membantu dan teman setia dalam melancarkanPersyariakatan Muhammadiyah menuju cita-citanya, dan kepada murid perempuannya beliau juga berpesan supaya urusan dapur tidak dijadikan sebagai penghalang untuk menjalankantugas dalam menghadapi masyarakat. Sepintas lalu ungkapan tersebut memberi kesan bahwa
 pendiri Persyarikatan ini memposisikan perempuan sebagai “yang dipimpin, di bimbing dan pembantu” ungkapan ini seakan
-akan memposisikan perempuan sebagai yang kedua dan
ungkapan “urusan dapur tidak dijadikan sebagai penghalang” dapat bermakna
double burden
 (beban kerja ganda) bagi perempuan, namun bila dicermati dengan melihat situasi dankondisi masyarakat pada waktu itu dan membandingkan dengan gerakan emansipasi diEropayang baru dirintis sejak perang dunia pertama (1914-1918). Perempuan Indonesia sudahmenuntut ilmu setara dengan kaum laki-laki atas anjuran KHA Dahlan pada tahun 1913,maka kita akan menyadari bahwa pemahaman dan gerakan yang dilakukan PendiriMuhammadiyah pada waktu itu betul-betul sudah maju dan mendahului bangsa lain.

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->