Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
2Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Puisi Bugis

Puisi Bugis

Ratings: (0)|Views: 118 |Likes:
Published by geraldhiew
Kebudayaan Bugis
Kebudayaan Bugis

More info:

Published by: geraldhiew on Jan 28, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/19/2013

pdf

text

original

 
RUJUKAN: http://www.telukbone.org/index.php?option=com_content&task=view&id=4206&Itemid=1130
PUISI BUGIS
Panggilan dari AtasBukitDitulis Oleh gitaSunday, 13 June 2010 Nyanyian Ombak mengalun di teluk Kapas-kapas menari ria di atas air Menghibur nelayan mencari ikanTanda Semangat juang masih adaPanggilan luhur dari tanah leluhur Senandung pusaka kampung halamanPenawar duka dikala gundahRindu dendam tiada gunaPayung emas berdiri melambaiMengucap salam selamat datangAngin bertiup layar terkembangIngin bertolak menagih janjiSungguh indah warna pelangiTak jenuh mata memandangBukit berbunga tawarkan sariHarumn baunya melanglang negeriBangkitlah karena raga masih adaSenyumlah karena nafas masih adaJabatlah karena jemari masih adaBahagialah karena rindu masih ada
 Sebungkah harapan ingin mendayung biduk kehidupanbersamamu, dalam suka maupun duka kita jalani seia sekata,namun harapan itu, terlalu jauh untuk kurengkuh, terlalutinggi gunung Bawa Karaeng untuk kudaki, kita jauhberbeda. Maafkanlah aku, kini aku sadari bahwa akulah yang bersalah, memang kita jauh berbeda, kau adalah anak kota,sedang aku hanyalah seorang anak desa yang miskin, akulah yang mencoba menabur segenggam garam di tengah laut,mendekatkan sebuah Loyang dengan Emas. Sebelum kau remukkan seluruh tulang persendianku dan kaurenggaskan tangkai pucuk daun kehidupanku, maka izinkan pulalah daku pergi ke yang lain, yang aku tak tau sedang menanti, derita atau bahagia.
 
 Kalau dulu kau angkat aku dari mulut singa, kenapa sekarang kau hempaskan kemulut buaya ……..??. Selamat berpisah sayang, Do’aku selalu menyertaimu, semogahari-hari esokmu kan cerah, secerah rembulan tak berbalut awan
.(Cuplikan Perjalanan Hidup Dahlan Palingei ) NyanyianSandiwaraDitulis Oleh gitaMonday, 15 August 2011 Nyanyian SandiwaraSejak lama kau lantunkan irama sunyiMenerjang menepis senda guraukuMenembus dinding sejuta RamadhankuMerobek sunyi hening malamkuDan malam ini juga engkau hadir Sudah sejak lama kau berhenti melantunBahkan saat ini kau tidak lagi punya hatiTak pernah kau sesali yang terjadi padakuTak pernah kau tersentuh oleh iba dan kasihanKau tak seperti duluAku adalah batu karang yang tegar Selalu berbuat yang terbaik hingga tak pernah menyesalSelalu berpikir dengan logika hingga tak pernah ibaBagiku membantu orang sekuat tenaga lebih baik dari sekadar kasihanBukan sekadar nyayian sandiwaraSayangku, hari ini aku harus melihatmu dalam sakit yang sangatAkan ku usahakan segala macam obat untukmuAkan ku jaga kamu sepanjang siang dan malamTapi jangan kau pinta aku untuk bersedihBukan sekadar nyayian sandiwaraAku selalu bersyukur atas semua yang diberikan oleh Tuhan kuAku juga sangat senang ketika kamu sakit sekaliAku berharap itu adalah pembersih dari dosa-dosamuDan aku berharap setelah bersih, kamu segera kembali kepada-NyaBukan sekadar nyayian sandiwaraJangan katakan aku ini kejam
 
Aku ini terlalu bersyukur atas apa punRasa bahagia hatiku ini tak terhingga besarnyaSemenjak aku Ridho Dia sebagai TuhankuBukan sekadar nyayian sandiwara by Gita 13/08/2011Cenrana BoneSaturday, 23 July 2011Udara gerimis pagi berselimut kabut putihdingin menyentuh kulit ari yang telanjangmendung dan suramBagaikan satu panorama simbolik pada perasaan sayu, hibadan sebuah tangisan. Cenrana, ku datang...membawa seribu amanat dan harapan.Dulu kau ditinggalkan masih dalam baraKami pergimencari sinar kehidupan di rantauKami tidak pernah lupa pada pesananKami tidak pernah lupa pada warisanSemangat kental kami masih seperti dulu...sebab kita warisan Bugis Pejuang Cenrana,walau telah ratusan tahun kau ditinggalkanrupanya, kau masih gersangkau tak seindah yang ku bayangkansebagaimana layar kaca bening menyodorkan adengan-adenganwaktu kau dipersada pancasila kemegahan. Kini yang ada hanya sawah sebebas mata memandangserta pohon-pohon lontara yang berselerakkan.Kemanakah perginya kehebatanmu waktu kau ditinggalkan dulu.Dulu, kau punya segala-gala.Kemewahan, kedaulatan, kemakmuran, kekuasaan.Adakah kegemilangan itu hanya semusim.Tidak bergantikah pemikir sehebat Kajao Laliddong @ La MellongKemana perginya orang secerdas lagi pintar seperti To'Ciung, To' Accana, Nenek Malloma atau Arung Bila.Atau kita masih dijajah, hingga kita lebih daif dari dulu. Lihat saja sungai mu, dulu gah dipersada duniaMerupakan pusat maritim, pusat perdagangan ke seluruh nusantara.Tapi kini cuma menjadi saksi bisu pada segala adegan, peristiwa bersejarah

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->