Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
1Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Mendewasakan Pemahaman Keagamaan Umat Islam

Mendewasakan Pemahaman Keagamaan Umat Islam

Ratings: (0)|Views: 120|Likes:
Published by Yelius Jeye Wardane

More info:

Published by: Yelius Jeye Wardane on Jan 29, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, DOC, TXT or read online from Scribd
See More
See less

01/06/2014

pdf

text

original

 
Khutbah Jumat 
MENDEWASAKAN PEMAHAMAN KEAGAMAAN UMATISLAM , .:"! ": ,. ":)48.(
 Artinya
:
Untuk tiap umat-umat di antara kamu, kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nyasatu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, laludiberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu,
(Qs. Al-Maidah: 48).
" : " " : .() "
 Artinya
:"
 Agama itu mudah dan tidak sukar 
". Beliau juga bersabda,"
Ringankanlah dan janganlah mempersulit. Berilah kabamenyenangkan dan janganlah menakut-nakuti
," (Al-Hadits).
KHUTBAH PERTAMA
Iftitâh!
Hadirin sekalian!
Setelah memanjatkan puji syukur ke hadirat Ilahi Rabbi sangPenguasa jagad raya, marilah kita menyanjungkan salawat dan salam
1
 
ke haribaan jungjunan alam pembawa risalah suci, Nabi MuhammadSaw. seraya untuk terus saling memesankan dan mengingatkanantarsesama kita akan iman dan kualitas ketakwaan.
Hadirin sekalian!
Bagaimana cara meningkatkan kualitas umat beragama, khususnyaumat Islam, merupakan persoalan penting dan krusial yang senantiasamesti menjadi perhatian bersama. Terlebih, munculnya berbagai konflikdengan wajah agama –khususnya di tanah air- kerap kali terjadi dimana-mana. Baik itu konflik intra agama maupun antaragama. Bahkan,bukan sekedar konflik agama, lebih jauh telah mengarah pada multikonflik sosial. Di mana agama, suku, ras, golongan, dan keyakinanberalih fungsi menjadi kekuatan ampuh dalam membinasakan danmemusnahkan yang lain (
collective violence
).Berikutnya, dalam perkembangan temporer, wajah agama justrutampil lebih menyeramkan lagi. Di mana kejahatan kemanusiaan yangsadis dan represif akhir-akhir ini kerap mewarnai kehidupan umatberagama. Tak tanggung-tanggung, meminjam slogan Naguib Mahfouz,novelis Mesir terkenal; yang membantai maupun yang dibantai sama-sama mengatasnamakan Tuhan dan agama (
The Battle for God
)!Inilah beberapa bukti nyata kebelumdewasaan yang pada saat yangsama menggambarkan ketidakarifan cara beragama yangdikembangkan umat beragama akhir-akhir ini (baca: krisis beragama).Sebagaimana pernah disinyalir Syekh Yusuf Qardlawi dalam bukunyayang cukup monumental, "
 Al-Shahwah al-Islâmiyyah: min-a 'l-muhaqah ila 'l-Rusyd
", sebagai sikap kekanak-kanakan dalamberagama. Bahwa tanda-tanda beragama yang masih pubertas jika kitaselalu menampilkan sikap-sikap yang cenderung emosional, selalugrasak-grusuk (
instant 
), dan menyeramkan (
hyperheroic
).Padahal, agama sejatinya tidak menghendaki dan bahkan selalumenghindari kejahatan, kebatilan, kekerasan, maupun kekacauan.Sebagaimana makna harfiah agama;
a
berarti tidak dan
gama
artinyakacau, yang disongsong agama tiada lain keharmonisan danperdamaian yang selanjutnya menjanjikan ketentraman hidup bagiseluruh umat manusia maupun masa depan kemanusiaan.Ini menyimbolkan, bahwa agama yang benar, damai, danmenyejukkan, adalah agama yang selalu memperhatikan moralitasmasyarakat sekaligus pada saat yang sama, mampu menghindarkan diridari berbagai kejahatan yang mengancam ketentraman dankenyamanan hidup suatu komunitas masyarakat. Inilah yang selalumenjadi
trademark 
ajaran Islam yang sekaligus menempel pada fungsiserta misi kerasulan sebagai "
rahmatan li 'l-'âlamîn
".
Hadirin sekalian!
2
 
 Jika kekacauan dan kekerasan terjadi dalam suatu komunitasberagama, tentunya hal tersebut merupakan kenyataan yang sangatironi. Namun demikian, letak kekeliruannya jelas bukan terletak padaagama itu sendiri. Melainkan, pada keterbatasan maupun kepicikanpara pemeluknya dalam memahami fungsi dan memaknai hakikatberagama. Masing-masing kita selalu merasa benar sendiri danmenutup rapat-rapat kemungkinan benar dari yang lain.Inilah yang pernah disebut Syekh Muhammad Abduh (1849-1905)sebagai, "
al-islâm-u mahjûb-un bi 'l-muslimîn
", (Bahwa ajaran Islammandek disebabkan perilaku umat Islam sendiri). Konflik antaragamamaupun ketegangan sosial, kebanyakannya terjadi bukan karena tujuankemaslahatan beragama, melainkan semata ambisi dan kepentingannon-agama. Tuhan dan agama hanya dijadikan legitimasi dan kedokuntuk menahbiskan berbagai kejahatan kemanusiaan.Dalam posisi Islam yang selalu tertuduh sebagai ajaran yang anti-perdamaian inilah,
Khâtib
memandang penting bagaimana kita kembalimeresume dan memahami hakikat dan tujuan beragama seharusnya.Selanjutnya, akan
Khâtib
ketengahkan pula alasan doktrinal seputarfilsafat perbedaan guna memahami pluralisme sebagai realitaskosmologis yang niscaya (
sunnatullah
) agar kita berikutnya mampubersikap toleran pada yang lalin. Kemudian juga akan menyinggungsoal ide dasar perdamaian dan seputar makna persatuan, memahamimusuh utama umat, dan akhirnya pada bagaimana cara mendewasakanpemahaman keagamaan yang menjadi pokok bahasan khutbah Jumatkali ini.
Tujuan beragama
Hadirin sekalian!
 Tujuan utama agama, Islam terutama, tidaklah hanya bersifatspiritual-etik dan intelektual belaka. Tetapi mesti mewacana danmemisikan ketentraman hidup secara sosial. Makna terminologi sosial,tiada lain "keragaman" yang selanjutnya merupakan keniscayaan
sunnatullah
yang berlaku di seluruh jagad raya ini. Inilah realitaskosmologis yang tidak bisa kita ingkari kenyataannya. Sebagaimanadifirmankan Tuhan dalam Qs. Al-Hujurât ayat 13, bahwa realitasperbedaan merupakan kesengajaan Tuhan, yang karenanya, menjadikenscayaan sosial.Realitas keragaman itu jelas mesti kita sikapi dalam kerangka nilaimisioner "
lita'ârafû
" (untuk saling memahami), bukan untuk salingmenggempur, membinasakan, dan memusnahkan yang lain yangberbeda dengan kita! Atau, dalam bahasa yang begitu luhur danbijaksana, sebagaimana dilansir ayat di muka, perbedaan dilahirkan
3

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->