demokratisasi, kesejahteraan, kesetaraan gender, pluralisme dan Hak Asasi Manusia(HAM). Mereka lebih dikenal dengan nama kelompok Islam liberal-progresif.Kontestasi antara dua kecenderungan gerakan pemikiran Islam di atas tampaknya masihakan terus berlangsung seiring dengan perkembangan-perkembangan sosial politik di erareformasi ini. Terbukanya kran-kran kebebasan informasi sebagaimana digariskan dalamUUD 1945 hasil amandemen tahun 2002 Pasal 28 F turut membuka dan memperluascakupan kontestasi kedua mainstream gerakan pemikiran Islam tersebut. Implikasi darikontestasi tersebut adalah terjadinya, apa yang disebut, Bassam Tibi sebagai ”war of weltanschauungen (worldviews)” atau perang pemikiran (ghazw al-fikr). Perang pemikiran ini, menurut Bassam Tibi, adalah bagian dari kontestasi propagandis kelompok Islam literal-konservatif disatu pihak melawan kelompok Islam liberal-progresif dipihak lain.MEDIA DAN PERANG PEMIKIRAN ISLAMDi dalam perang pemikiran Islam, kegiatan saling meng-counter pemikiran lawan-lawanmereka, menurut Muis Naharong (2005), menunjukkan bahwa kedua kelompok Islamtersebut memang sangat menekankan pentingnya berperang dalam bidang pemikiran, idedan gagasan (ghazw al-fikr). Hal ini juga di dorong oleh tekad dan semangat untuk mempertahankan dan menyebarluaskan pemikiran, penafsiran, dan paham serta prinsipkeagamaan yang mereka anut. Perang pemikiran Islam akhirnya juga dianggap sebagaistrategi untuk melindungi umat Islam. Bagi kelompok Islam literal-konservatif perang pemikiran merupakan strategi untuk melindungi umat Islam dari bahaya liberalisme,sekularisme, dan pluralisme agama. Akan tetapi, sebaliknya, bagi kelompok Islam liberal- progresif perang pemikiran justru dilakukan untuk melindungi umat Islam dari bahayaliteralisme, konservativisme, formalisme dan radikalisme agama.Kegiatan saling mengcounter pemikiran dan bahkan menyebarluaskan pemikiran Islam,yang telah dilakukan oleh kedua kelompok Islam tersebut telah menciptakan ruang, dimana mereka kemudian saling berlomba dan berupaya memanfaatkan saluran-saluranmedia yang ada dari mulai majalah, koran, jurnal sampai kepada website. Muis Naharongmencatat bahwa kelompok Islam literal-konservatif di Indonesia telah berhasil meluaskan produksi mereka dalam bidang penerbitan. Misalnya penerbit Gema Insani Press (GIP)yang menerbitkan buku-buku Islami dan sudah bertahan sejak lama. Selain GIP, sekarang juga muncul penerbit buku-buku Islami bercorak literal-konservatif. Gerakan tarbiyahmenerbitkan majalah Sabili, Ummi, Saksi, Tarbawi dan lainnya. Hizb Tahrir Indonesia(HTI) memproduksi majalah Al-wafie dan buletin al-Islam. Kelompok Salafimenerbitkan majalah seperti as-Sunnah, Salafy, as-Syariah, al-Furqon dan lain-lainya.Bahkan, kelompok Islam literal-konservatif dari faksi intelektual di ISTAC, IIUMMalaysia telah dianggap sukses dengan penerbitan jurnal Islamia-nya. YayasanHiadayatulah juga menerbitkan majalah Suara Hidayatullah. Di dunia maya (cyber),kelompok-kelompok Islam literal-konservatif tersebut masing-masing juga punya websitesendiri-sendiri. Yang cukup sukses diantaranya www.hidayatullah.com.Sementara itu, kelompok-kelompok Islam liberal-progresif di Indonesia juga tak mau