Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
2Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
program gizi.pdf

program gizi.pdf

Ratings: (0)|Views: 59 |Likes:
Published by ant_bee

More info:

Published by: ant_bee on Jan 30, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/20/2013

pdf

text

original

 
 PembelajaranDALAM MELAKSANAKAN PROGRAM GIZI
 Inisiasi IRI dalam penanganan balita gizi kurang dan gizi buruk melalui implementasi PD yang inklusif di Propinsi Banten”
WORKSHOP NASIONAL
5
 
Years
 
of 
 
Implementing
 
Nutrition
 
Programs
 
Using
 
the
 
Positive
 
Deviance
 
Approach
 
(Lessons
 
Learned 
 
and 
 
the
 
Way 
 
Forward)
 
Hotel
 
Bumi
 
Wiyata
 
Depok,
 
13
 
 –
 
15
 
November
 
2007
 
DEPKES RI PDRC UI PD NETWORK
 
1
Inisiasi IRIdalam penanganan masalah kurang gizi anak balitamelalui implementasi PD yang inklusif di Propinsi Banten
1
 oleh : Nanang S Dirja dan Gusrini Apon
2
 PENGANTAR
Islamic Relief mulai bekerja di Banten pada tahun 2003 melalui program airbersih dan sanitasi. Tahun 2004, program air bersih diteruskan dan ditambah denganprogram penanggulangan masalah gizi melalui pemberian makanan tambahan (PMT).Pada tahun 2005, Islamic Relief mulai melakukan uji coba menerapkan pendekatan
 positive deviance
dalam program gizi di empat desa. Tahun 2006, program gizidengan pendekatan
 positive deviance
(PD) diteruskan di 7 desa yang pelaksanaannyadiintegrasikan dengan program-program lainnya seperti program air bersih dansanitasi melalui pendekatan CLTS (
Community led total sanitation
), peningkatan taraf hidup melalui program
microfinance
, dan peningkatan akses pendidikan melaluipengembangan CLC (
Community Learning Center 
).Makalah ini hanya membahas program gizi melalui pendekatan
 positivedeviance
dengan menekankan sisi-sisi unik yang dijalankan
.
Dianggap unik karenapendekatan
 positive deviance
dilakukan secara inklusif yang dipadukan denganpendekatan lain, yaitu dengan program
out-patient teurafitic feeding
dan denganprogram perawatan di rumah sakit.
LATAR BELAKANG
Hasil baseline survey (BB/U) Islamic Relief di tujuh desa sasaran yangdilaksanakan pada bulan April 2006 menunjukkan tingginya tingkat keparahanpenderita kurang gizi. Dari 2,136 anak yang disurvey, 631 anak (30%) termasuk padakatagori gizi kurang, dan 443 (21%) menderita gizi buruk. Puluhan balita bahkansudah menunjukkan gejala-gejala klinis.Selanjutnya, dalam upaya mengurangi masalah kekurangan gizi balitatersebut, Islamic Relief membuka 26 pos gizi di 7 desa sasaran dimaksud denganmelaksanakan program pendidikan dan rehabilitasi gizi (NERP=Nutrition Educationand Rehabilitation Program). Sementara kegiatan di pos gizi berlangsung musimpaceklik datang, setelah 3 bulan memasuki musim kemarau. Akibatnya, anak anak yang termasuk pada kondisi gizi buruk semakin parah keadaannya mengingat terjadirawan pangan pada keluarga-keluarga sangat miskin.Menyadari hal ini, Islamic Relief segera mengkomunikasikan hasil baselinesurvey, kegiatan pos gizi, beserta tantangan-tantangan yang ada di lapangan kepadapihak-pihak terkait melalui sebuah rapat koordinasi yang dihadiri oleh Puskesmassetempat, Dinas Kesehatan kabupaten dan propinsi, Bappeda propinsi dan kabupaten,perwakilan rumah sakit daerah, serta kepala kecamatan. Rapat koordinasi inimenghasilkan kesepakatan bersama untuk mencegah jatuhnya korban berikutnya danberupaya untuk merehabilitasi atau memperbaiki status balita kurang gizi. Langkah-langkah yang disepakati meliputi:1.
 
Bagi anak-anak dengan status gizi kurang dan gizi buruk tahap awal akandirehabilitasi melalui pos gizi. Pos ini akan melaksanakan kegiatanpendidikan dan rehabilitasi gizi (NERP) yang dijalankan kader posyandu atasdampingan Islamic Relief dan bidan desa.
1
Disampaikan pada workshop nasional “5 Years Implementing Nutrition Programs Using the PositiveDeviance Approach”. Depok, 13-15 November 2007 kerjasama Depkes, PDRC-UI, dan PD Network.
2
Staff pada Islamic Relief (LSM internasional yang berkantor pusat di Birmingham – UK)
 
22.
 
Bagi balita dengan status gizi buruk yang sudah memperlihatkan gejala klinisakan dilakukan rawat jalan di klinik gizi yang dijalankan oleh puskesmassetempat. Di klinik gizi akan ada pemeriksaan dokter spesialis anak dandilanjutkan dengan pemberian
teuraphitic feeding
Formula 75 (F75) untuk anak dalam tahap stabilisasi dan Formula 100 (F100) untuk tahap rehabilitasi.Klinik Gizi dibuka 3 hari seminggu. Bagi balita peserta pos gizi yang tidak memperlihatkan kemajuan atau bahkan kondisinya lebih buruk juga akandirujuk ke klinik gizi.3.
 
Bagi balita yang tidak dapat ditangani di klinik gizi akan ditangani melaluiperawatan di Rumah Sakit Umum Daerah.Sebagai tindaklanjut dari rapat koordinasi tersebut, pada tanggal 16 Agustus2007, sebanyak 250 anak gizi buruk hasil baseline survey dikirim ke klinik gizi.Hasilnya, 42 di antaranya diidentifikasi telah menunjukkan gejala klinis sepertikwasiorkor atau marasumus atau marasmic kwasiorkor. Sembilan belas diantara 42anak tersebut (45%) telah terinfeksi penyakit sehingga perlu tindakan medis yangsegera. Karenanya, disepakati sembilan belas anak tersebut dikirim ke rumah sakitdaerah untuk mendapatkan pemeriksaan laboratorium lebih lanjut. Hasilnya, 2diantaranya langsung dirawat di rumah sakit, sisanya memperoleh rawat jalan.Kegiatan di atas menandai berlangsungnya kegiatan rehabilitasi danpendidikan gizi di pos gizi yang inklusif dengan klinik gizi di puskesmas danperawatan di rumah sakit. Hal ini sekaligus menandakan adanya harmonisasi dankerjasama efektif antara pihak-pihak terkait dalam menanggulangi masalah gizi,yakni:1.
 
Islamic Relief mendampingi kader dalam melaksanakan rehabilitasi danpendidikan gizi di pos gizi.2.
 
Puskesmas memberikan pelayanan pemeriksanaan kesehatan, konseling gizi,dan pemberian perlakuan
teurafitic feeding
di Klinik Gizi;3.
 
Dinas Kesehatan Kabupaten menyediakan dokter spesialis untuk diperbantukan pada pelayanan Klinik Gizi di Puskesmas;4.
 
Dinas Kesehatan Propinsi menyediakan uang transport sebesar dua puluh riburupiah bagi penderita gizi buruk yang akan berobat ke Klinik Gizi dan rumahsakit;5.
 
Pihak Desa dan Kecamatan memberikan pelayanan cepat dalam pengurusanadminsitrasi gakin/askeskin manakala ada keluarga balita gizi buruk yangharus menjalani perawatan rumah sakit;6.
 
Pengadaan F75 dan F1OO untuk keperluan
teurafitic feeding
di Klinik Gizidisediakan secara bersama-sama.
PROFIL DAERAH SASARAN
Tingkat kemiskinan di desa-desa sasaran merupakan representasi kompleksitasmasalah gizi buruk di Indonesia yang menyangkut rendahnya tingkat pendidikan,rendahnya pendapatan, kurangnya kualitas dan kuantitas asupan, buruknya sanitasi,dan lain-lain. Beberapa data menonjol hasil
baseline survey
Islamic Relief di 10
3
desasasaran (jumlah responden 4,631 KK miskin versi BPS Banten, 2005) yangdilaksanakan pada bulan April-Mei 2006 sebagai berikut:
3
Islamic Relief bekerja di 10 desa sasaran. 7 desa yang paling parah kemiskinannya dengan tingkatpenderita gizi buruk dan kurang di atas 30% dijadikan daerah kerja program rehabilitasi dan pendidikangizi, yaitu Desa Terumbu, Kilasah, Warungjaud, dan Kasunyatan <Kab. Serang>, desa Pasirkupa,Cilangkap, dan Sykamekarsari <Kab. Lebak>.

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->