• Embed Doc
  • Readcast
  • Collections
  • CommentGo Back
 
2. ORIENTALIS DAN KEBUDAYAAN ISLAM
Tantangan pihak OrientalisWASHINGTON IRVING sebagai penulis terkemuka telah menjadi kebanggaanAmerika Serikat terhadap bangsa-bangsa lain dalam abad ke-19. Dia telah menulis buku tentang sejarah hidup Nabi. Dalam buku ini dibentangkannya sejarah Nabi itudengan kemampuan retorika yang cukup besar sehingga tidak sedikit bagian-bagianyang dapat memikat hati pembacanya. Disamping kemampuannya itu kadang terlihat juga kejujurannya, tapi kadang tampak pula tidak toleran dan penuh prasangka. Bukuini disudahi dengan sebuah penutup yang menjelaskan pokok-pokok ajaran rukunIslam, serta apa yang dikiranya sumber-sumber yang berdasarkan sejarah yang telahdijadikan landasan ajaran itu, didahului dengan soal keimanan kepada Tuhan, kepada para malaikat, kitab-kitab, para rasul dan hari kemudian. Kemudian katanya:"Rukun keenam dan terakhir daripada rukun akidah Islam (rukun iman) ialah jabariah.1 Sebagian besar kemenangan Muhammad dalam perang didasarkan kepadaajaran ini. Segala peristiwa yang terjadi dalam hidup sudah ditentukan lebih dulu olehtakdir Tuhan, sudah tertulis dalam 'Papan Abadi'2 sebelum Tuhan menciptakan alamini, dan bahwa nasib dan ajal manusia semua sudah ditentukan, sudah tak dapatdielakkan lagi. Dengan cara apa pun menurut kemampuan usaha dan pikiran manusia,sudah tak dapat dimajukan lagi. Dengan keyakinan ini kaum Muslimin terjun kemedan perang tanpa merasa takut sama sekali. Kalau mati dalam pertempurandemikian ini sama dengan mati syahid yang akan langsung masuk surga, makamereka yakin salah satu ini pasti akan mereka capai -syahid atau menang.Irving dan jabariah"Ajaran yang menentukan, bahwa manusia tidak berdaya dengan kemauannya yang bebas itu untuk menghindari dosa atau selamat dari siksa, sebagian kaum Musliminmenganggapnya bertentangan dengan keadilan dan rahmat Tuhan. Beberapa golongantimbul. Mereka berusaha dan terus berusaha hendak meringankan dan memberi penjelasan mengenai ajaran yang membingungkan ini. Tetapi jumlah yang masihsangsi tidak banyak. Mereka ini tidak termasuk golongan Sunnah (orthodoks)."Muhammad mendapat inspirasi tentang ajaran ini tepat pada waktunya. Memang iniilham yang luar biasa terjadi pada waktu yang tepat sekali. Kejadian ini persis sesudahPerang Uhud yang malang itu, yang tidak sedikit makan korban sahabat-sahabatnya,termasuk Hamzah pamannya. Ketika itulah, tatkala kesedihan dan kegelisahan sedangmencekam hati sahabat-sahabat yang mengelilinginya, peraturan ini dikeluarkan -- bahwa manusia tak dapat mengelak dari kematian, bila ajal sudahm tiba, sama saja ditempat tidur atau di medan perang ..."Kiranya orang takkan dapat melukiskan suatu ajaran yang lebih tepat dari ini untuk mendorong sekelompok tentara yang bodoh tidak berpengalaman itu menyerbu secara buas ke medan perang. Mereka sudah diyakinkan, kalau hidup mendapat rampasan perang, kalau mati mendapat surga! Karena ajaran ini juga tentara Muslimin sudahhampir tak dapat dikalahkan lagi. Akan tetapi ini juga yang mengandung racun yangakan menghancurkan kekuasaan Islam itu. Begitu pengganti-pengganti Nabi itu berhenti sebagai penakluk, begitu mereka menyarungkan kembali pedangnya untuk selama-lamanya, ajaran jabariah ini pun mulai pula mengerumit (menggerogoti) untuk merusak. Urat-saraf Muslimin sudah peka terhadap perdamaian, juga sudah peka
 
terhadap kekayaan materi yang dibolehkan oleh Qur'an, dan yang merupakan pemisahan yang tajam antara prinsip-prinsip ini dengan agama Kristen, agama sucidan kasih sayang. Seorang Muslim yang ditimpa kemalangan menganggapnya sebagainasib yang sudah ditakdirkan Tuhan dan tak dapat dihindarkan, jadi harus tunduk danmenerima, selama segala daya upaya dan pikiran manusia memang tidak berguna."Rumus yang berbunyi: "Tolonglah dirimu, Tuhan akan menolongmu" dipandang oleh pengikut-pengikut Muhammad tak dapat dilaksanakan, bahkan sebaliknya yangmereka ambil. Dari sanalah salib berhasil mengikis bulan sabit. Adanya bulan sabit inisampai sekarang di Eropa - yang pada suatu waktu pernah mencapai kekuatan yangluar biasa hanyalah karena perbuatan negara-negara Kristen yang besar-besar; ataulebih tepat lagi: karena persaingan mereka sendiri. Bertahannya bulan sabit itu barangkali untuk menjadi bukti yang baru, bahwa: "barang siapa menggunakan pedang akan binasa oleh pedang."Demikianlah kata-kata Washington Irving, orang yang dengan studinya itu belummemungkinkan ia dapat menangkap jiwa Islam dan dasar kebudayaannya. Salahsekali pendapatnya dalam mengartikan soal al-qadza wal-qadar (kadar atau takdir)serta soal ajal itu. Barangkali dia masih dapat dimaafkan mengingat beberapa bukuIslam yang dijadikan bahan bacaannya membuat dia berpendirian demikian itu. Tetapisebaliknya Qur'an, tidak dapat diukur dengan kalimat "Tolonglah dirimu, Tuhan akanmenolongmu" dari segi kuatnya dorongan Qur'an supaya orang percaya kepada dirisendiri, dan bahwa manusia mendapat imbalan sesuai dengan perbuatan serta niatyang melahirkan perbuatan itu."Katakan: 'Wahai umat manusia! Kebenaran dari Tuhan sudah datang. Barang siapamenurut jalan yang benar, maka kebenaran itu buat kebaikan dirinya, dan barangsiapa menjadi sesat, dia sesat karena dirinya juga'." (Qur'an, 10: 108.)Qur'an dan takdir "Barang siapa menurut jalan yang benar, maka kebenaran itu buat kebaikan dirinya;dan barang siapa menjadi sesat, dia sesat karena dirinya juga. Seseorang tidak dapatmemikulkan beban orang lain, dan Kami tiada akan menjatuhkan siksaan sebelumKami mengutus seorang rasul." (Qur'an, 17: 15)."Barang siapa menghendaki keuntungan akhirat akan Kami tambahkan keuntunganitu, dan barangsiapa menghendaki keuntungan dunia akan Kami berikan juga. Tetapidi akhirat ia tidak mendapat bagian." (Qur'an, 42: 20)"Tuhan tidak akan mengubah nasib sesuatu golongan kalau mereka tidak mengubahnasib mereka sendiri." (Qur'an, 13: 11.)Dan contoh serupa ini banyak sekali dalam Qur'an. Jelas sekali ia menunjukkan bahwa manusia mendapat pahala atau mendapat siksa sumbernya pada kehendak dan perbuatannya sendiri. Tuhan mendorong manusia berusaha dan mencari rejeki untuk makannya di muka bumi ini. Mereka disuruh berjuang di jalan Allah dengan ayat-ayatyang cukup jelas dan kuat seperti yang sudah kita baca sebagian dalam buku ini. Inisama sekali tidak sesuai dengan apa yang dikatakan Irving dan beberapa penulisBarat, bahwa Islam agama tawakal, serba tak acuh dan pasrah, mengajar pemeluknya bahwa mereka tidak berkuasa atas diri mereka sendiri untuk mendatangkan kebaikan
 
atau keburukan, jadi tak ada gunanya mereka berusaha dan berkehendak, sebab usahadan kehendaknya tergantung kepada takdir Tuhan. Kalau kita berusaha danditakdirkan takkan memberi hasil atas usaha kita, tidak akan berhasil juga. Sebaliknyakalaupun kita tidak berusaha tapi sudah ditakdirkar; kita akan menjadi orang kaya,orang kuat atau menjadi orang beriman, kita pun akan jadi demikian tanpa ada usahaatau kerja. Ayat-ayat yang sudah kita kemukakan itu menolak dan bertentangan sekalidengan pendapat ini.Mereka-yang menghubungkan sikap tawakal kaum Muslimin pada masa-masa belakangan ini berpegang pada ayat terakhir, seperti firman Tuhan ini:"Nyawa yang harus menemui kematiannya, hanyalah dengan ijin Tuhan, sebabwaktunya sudah ditentukan." (Qur'an, 3: 145)."Setiap umat sudah mempunyai waktunya tertentu. Apabila sudah tiba waktunya,mereka takkan dapat mengundurkan atau memajukannya barang sedikit pun juga."(Qur'an, 7: 34)."Setiap peristiwa yang terjadi di bumi dan pada dirimu sendiri sudah ditentukanterlebih dulu sebelum Kami menciptakannya. Buat Tuhan hal semacam ini mudahsekali." (Qur'an, 57: 22)."Katakan: Takkan ada yang menimpa kita, kalau tidak sudah ditentukan Tuhan kepadakita. Dialah Pelindung kita, dan orang-orang yang beriman kepadaNya-lahmempercayakan diri." (Qur'an, 9: 51)Kalau pun itu yang menjadi pegangan mereka, sebenarnya mereka tidak dapatmenangkap arti ayat-ayat itu dan yang semacamnya serta hubungan erat yangdigambarkan antara hamba dengan Tuhannya. Mereka sudah terdorong dengandugaan bahwa Islam mengajarkan orang pasrah; padahal yang sebenarnya Islammenyuruh orang berjuang dan bersedia mati sebagai pahlawan, mempertahankanharga diri dan kehormatannya, dengan kebudayaannya yang dibangun atas dasar  persaudaraan dan kasih-sayang.Sebenarnya ayat-ayat itu dan yang sejalan dengan itu telah melukiskan suatukenyataan ilmiah yang telah diakui pula oleh sebagian besar filsuf-filsuf dan sarjana-sarjana Barat dengan diberi nama mazhab jabariah (fatalisma) juga danmenghubungkan pengertian jabr (nasib) ini kepada hukum alam dan sejumlahkehidupan biologis yang ada, sebaliknya daripada akan menghubungkannya kepadakehendak dan kekuasaan Allah. Mazhab yang sudah diakui oleh sebagian besar filsuf-filsuf Barat ini tidak lebih puas, tidak lebih toleran, juga tidak lebih sesuai untuk umatmanusia daripada mazhab filsafat yang disarikan dari Qur'an Suci itu, seperti yangakan kita lihat nanti.Jabariah ilmiah (scientific determinism) ini berpendapat, bahwa ikhtiar3 yang ada pada kita dalam kehidupan ini ialah ikhtiar nisbi dengan nilai yang kecil sekali,sedang pendapat tentang ikhtiar nisbi ini lebih banyak bergantung kepada keperluanhidup sosial dari segi praktisnya daripada kepada kenyataan ilmiah atau filsafat. Kalaumazhab ikhtiar ini tidak dijadikan suatu keputusan, akan sulit juga masyarakatmenemukan suatu patokan sebagai dasar hukumnya dan batas-batasnya, akan
of 00

Leave a Comment

You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...
You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...