BAB V - DARI MASA KERASULAN SAMPAI ISLAMNYA UMAR Percakapan Khadijah dengan Waraqa b. Naufal
MUHAMMAD sedang tidur. Khadijah menatapnya dengan hati penuh kasih danharapan, kasih dan harapan terhadap orang yang tadi mengajaknya bicara itu.Setelah dilihatnya ia tidur nyenyak, nyenyak dan tenang sekali, ditinggalkannya orangitu perlahan-lahan. Ia keluar, dengan pikiran masih pada orang itu, orang yang pernahmenggoncangkan hatinya. Pikirannya pada hari esok, pada hari yang akanmemberikan harapan baik kepadanya. Harapannya, suami itu akan menjadi nabi atasumat, yang kini tengah hanyut dalam kesesatan. Ia akan membimbing mereka denganajaran agama yang benar serta akan membawa mereka ke jalan yang lurus. Tetapi,sungguhpun begitu, menghadapi masa yang akan datang, ia merasa kuatir sekali,kuatir akan nasib suami yang setia dan penuh kasih-sayang itu. Dibayangkannyadalam hatinya apa yang telah diceritakan kepadanya itu. Dibayangkannya itu malaikatyang begitu indah, yang memperlihatkan diri di angkasa, setelah menyampaikanwahyu Tuhan kepadanya dan yang kemudian memenuhi seluruh ruangan itu. Selalu iamelihat malaikat itu kemana saja ia mengalihkan muka. Khadijah masih mengulangikata-kata yang dibacakan dan sudah terpateri dalam dada Muhammad itu.Semua itu dibentangkan kembali oleh Khadijah di depan mata hatinya. Kadangterkembang senyum di bibir, karena suatu harapan; kadang kecut juga rasanya, karenatakut akan nasib yang mungkin akan menimpa diri Al-Amin kelak.Tidak tahan ia tinggal seorang diri lama-lama. Pikirannya berpindah-pindah dariharapan yang manis sedap kepada kesangsian dan harap-harap cemas. Terpikir olehnya akan mencurahkan segala isi hatinya itu kepada orang yang sudah dikenalnya bijaksana dan akan dapat memberikan nasehat.Untuk itu, kemudian ia pergi menjumpai saudara sepupunya (anak paman), Waraqa b. Naufal. Seperti sudah disebutkan, Waraqa adalah seorang penganut agama Nasraniyang sudah mengenal Bible dan sudah pula menterjemahkannya sebagian ke dalam bahasa Arab. Ia menceritakan apa yang pernah dilihat dan didengar Muhammad danmenceritakan pula apa yang dikatakan Muhammad kepadanya, dengan menyebutkan juga rasa kasih dan harapan yang ada dalam dirinya. Waraqa menekur sebentar,kemudian katanya: "Maha Kudus Ia, Maha Kudus. Demi Dia yang memegang hidupWaraqa. Khadijah, percayalah, dia telah menerima Namus Besar1 seperti yang pernahditerima Musa. Dan sungguh dia adalah Nabi umat ini. Katakan kepadanya supayatetap tabah."Khadijah pulang. Dilihatnya Muhammad masih tidur. Dipandangnya suaminya itudengan rasa kasih dan penuh ikhlas, bercampur harap dan cemas. Dalam tidur yangdemikian itu, tiba-tiba ia menggigil, napasnya terasa sesak dengan keringat yangsudah membasahi wajahnya. Ia terbangun, manakala didengarnya malaikat datangmembawakan wahyu kepadanya:"O orang yang berselimut! Bangunlah dan sampaikan peringatan. Dan agungkanTuhanmu. Pakaianmupun bersihkan. Dan hindarkan perbuatan dosa. Jangan kaumemberi, karena ingin menerima lebih banyak. Dan demi Tuhanmu, tabahkanhatimu." (Qur'an 74: 1 - 7)
Leave a Comment