Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
2Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERHITUNG DENGAN PERMAINAN ULAR TANGGA PADA ANAK KELOMPOK B TK YUNIOR SURABAYA

MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERHITUNG DENGAN PERMAINAN ULAR TANGGA PADA ANAK KELOMPOK B TK YUNIOR SURABAYA

Ratings: (0)|Views: 3,298|Likes:
Published by Alim Sumarno
Jurnal Online Universitas Negeri Surabaya, author : RINDHA KURNIAWATI,
http://ejournal.unesa.ac.id
Jurnal Online Universitas Negeri Surabaya, author : RINDHA KURNIAWATI,
http://ejournal.unesa.ac.id

More info:

Published by: Alim Sumarno on Jan 31, 2013
Copyright:Public Domain

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/04/2013

pdf

text

original

 
MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERHITUNG DENGANPERMAINAN ULAR TANGGA PADA ANAK KELOMPOK BTK YUNIOR SURABAYA
Rindha KurniawatiPG PAUD, Fip, Unesa,rindhakurniawati@gmail.com 
Abstrak
Pada kenyataan di lapangan teridentifikasi dari 20 jumlah anak kelompok B yang hadir, hanya 6atau 33% yang mampu dalam bidang pengembangan kemampuan berhitung, sedangkan 14 anak atau 67%masih memerlukan bantuan guru. Rendahnya kemampuan berhitung 1-20 pada anak kelompok B TKYunior, yakni proses pembelajaran masih berpusat pada guru. di samping itu guru TK Yunior hanyamenggunakan metode ceramah dan pemberian tugas saja, sehingga pembelajaran terkesan berjalanmonoton dan cenderung konvensional. Mengarah pada alternatif pemecahan permasalahan yang ada padaanak kelompok B di TK Yunior, peneliti berupaya menemukan solusi pemecahan masalah melaluiPenelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan perlakuan 2 (dua) siklus, yang didukung dengan pemanfaatanpermainan ular tangga.Rumusan permasalahan yang dibahas pada penelitian ini, salah satunya adalah Bagaimanakahpeningkatkan kemampuan berhitung 1-20 pada anak kelompok B TK Yunior Surabaya, setelah penerapanpermainan ular tangga dalam proses pembelajaran, dengan tujuan Untuk mengetahui keberhasilan prosespembelajaran melalui penerapan permainan ular tangga sebagai upaya peningkatan kemampuan berhitung1-20 pada anak kelompok B TK Yunior Surabaya.Kata kunci: kemampuan berhitung 1-20, permainan ular tangga
Abstract
The field data shows that among 20 children of group B, there are only six children or 33% whohave counting skill, and 14 children or 67 % still need teachers guidance. the law counting skill of group B at TK is caused by the learning and teaching process which still only focuses on the teachers. Besidesthat TK Yunior teachers only use lecturing and assignment method, therefore the learning and teaching process are monotonous and tends to be conventional activity. To solve this problem, there researcher tries to conduct a classroom action research by using snake and ladders game.The research problem discussed in this research is how the improvement of counting 1-20activity at group B children of TK Yunior after the children are given snake and ladders game in their leaning process is. The purpose of this research is to know the success of learning activity by using snakeand ladders game to improve children’s counting skill at group B TK Yunior SurabayaKeywords: counting skill of 1-20, snake and ladders game
Pendahuluan
Masa lima sampai enam tahun pertamakehidupan anak sebagaimana yang tertera padamodul yang diterbitkan oleh Depdiknas (2009:1), anak TK merupakan masa di manaperkembangan kognitif, motorik, intelektual,emosional, bahasa dan sosial berlangsungdengan sangat cepat sehingga menentukan masadepan anak. Di masa inilah semuaperkembangan anak mulai terbentuk dancenderung menetap sampai usia dewasa.Dengan demikian betapa pentingnya pendidikanawal bagi anak TK yang memberikan bekaluntuk mempersiapkan diri menerima pengajaranbagi kehidupan selanjutnya.
 
Usia prasekolahmerupakan usia yang sangat strategis untuk menerima rangsangan-rangsangan dari luar,melalui pemberian rangsangan-rangsanganpositif untuk pertumbuhan dan perkembangananak menjadi maksimal.Kematangan kognitif pada anak prasekolah, secara garis besar, Piaget (dalamSuparno, 2001:24-25), mengelompokkanmenjadi empat tahap, yaitu tahap
sensorimotor 
 (0-2 tahun), tahap
 praoperasi
(2-7 tahun), tahap
operasi konkret 
(7-11 tahun) dan tahap
operasi formal
(11 tahun - dewasa). Tahap sensorimotorlebih ditandai dengan pemikiran anak 
 
berdasarkan tindakan inderawi. Tahappraopcrasi diwarnai dengan mulai digunakannyasimbol-simbol untuk menghadirkan suatu bendaatau pemikiran khususnya penggunaan bahasa.Tahap operasi konkret ditandai denganpenggunaan aturan logis dan jelas. Tahapoperasi formal dicirikan dengan pemikiranabstrak, hipotesis, deduktif serta induktif.Tahap-tahap tersebut saling berkaitan. Urutantahap-tahap tidak dapat ditukar atau dibalik,karena tahap sesudahnya mengandaikanterbentuknya tahap sebelumnya.Lebih lanjut Piaget (dalam Suparno,2001: 24-25), menegaskan bahwa kemampuananak menggunakan simbol-simbol untuk menghadirkan suatu benda atau pemikiran,dilakukan melalui penggunaan bilangan yangdapat menggantikan obyek, peristiwa, dankegiatan, misalnya dengan aktivitas menghitungdari 1-20. Kemudian berhitung mundur.Aktivitas ini mampu meningkatkan kepekaandan kemampuan anak untuk mengamati pola-pola logis numerik (bilangan) serta kemampuanuntuk berpikir rasional/logis.Pengembangan kemampuan berhitung1-20 pada anak merupakan salah satukemampuan dasar yang dipersiapkan, bertujuanagar anak mampu mengolah perolehanbelajarnya, menemukan bermacam-macamalternatif pemecahan masalah, pengembangankemampuan logika matematika, pengetahuanruang dan waktu, kemampuan memilah danmengelompokkan, dan persiapanpengembangan kemampuan berpikir teliti.Mengingat efek penting dari materipengembangan kemampuan berhitung 1-20sejak dini, maka dari itu, sangat perlu kiranyadiberikan rangsangan, dorongan dan dukunganberapa program pembelajaran yang terencana,bermanfaat dan menyenangkan. Di sinilah peranguru sangat diperlukan, untuk itu sebagai guruTK harus dapat mengembangkan danmengaktualisasikan pengembangan pembelaja-ran kemampuan berhitung 1-20 di sekolahsesuai dengan kreativitasnya, sejauh tidak bertentangan dengan prinsip dan asaspembelajaran di TK.Pada kenyataan di lapanganmenunjukkan masih banyaknya permasalahanyang merujuk pada ketidakmampuan anak dalam hal berhitung 1-20. Pernyataan tersebutdibuktikan dengan kondisi kemampuanberhitung anak kelompok B TK YuniorSurabaya. Berdasarkan hasil dari pengamatanpada studi pendahuluan, yang dilaksanakanpada awal semester I tahun pelajaran 2012--2013, teridentifikasi dari 20 jumlah anak hadir,hanya 6 atau 33% yang mampu dalam bidangpengembangan kemampuan berhitung, yangmeliputi: kemampuan mengurutkan bilangan 1-20, menghitung benda-benda, dan mengerjakanatau menyelesaikan penjumlahan danpengurangan tanpa bantuan guru, sedangkan 14anak atau 67% masih memerlukan bantuanguru.Kondisi rendahnya kemampuanberhitung 1-20 pada anak kelompok B TK,salah satunya diakibatkan oleh faktor guru,yakni guru kurang mampu menerapkanpendekatan dan metode pembelajaran yangdapat meningkatkan kualitas pembelajaran.Selama ini guru di TK Yunior masih seringmenggunakan metode ceramah dan pemberiantugas saja, sehingga pembelajaran terkesanberjalan monoton dan cenderung konvensional,dalam arti proses pembelajaran masih berpusatpada guru. Peran guru lebih dominan, disamping itu guru TK Yunior kurang mampumemaksimalkan pemakaian media sebagai alatbantu pembelajaran, sehingga terjadi verbalismepada anak. Sikap guru dalam mengajar anak TK, layaknya mengajar anak SD dengansuasana keseriusan yang tinggi, sehinggaterkesan membebani anak.Mengarah pada alternatif pemecahanpermasalahan yang ada pada anak kelompok Bdi TK Yunior yaitu meningkatkan kemampuanberhitung 1-20, menuntut guru TK Yunior,untuk mampu mengelola proses pembelajarandengan menerapkan permainan. Padahakikatnya melalui permainan dalammempelajari sesuatu, anak tidak akan merasasedang belajar. Sehingga anak akan lebihmerasa nyaman dalam mengikuti aktivitas yangada. Model pembelajaran yang menggunakanteknik permainan akan membantu memudahkanmereka untuk mempelajari sesuatu tanpa merasasedang belajar. Dengan demikian, teknik permainan dapat dikembangkan untuk membantu penguasaan anak-anak terhadapaspek-aspek khusus, termasuk dalammengembangkan kemampuan berhitung padaanak. Salah satu contoh permainan yang akandigunakan sebagai bahan kajian analisispenelitian, terkait dengan rendahnyakemampuan berhitung pada anak kelompok BTK Yunior, yakni permainan ular tangga.Alasan digunakan permainan ulartangga, bertujuan untuk memperjelas konsep,pola, dan urutan bilangan, mampu memuaskanrasa ingin tahu, membayangkan, danmenterjemahkan pengalaman bermain tersebutmenjadi sesuatu yang bermakna bagi anak, sertamengembangkan kemampuan menjumlah (anak tidak diberi tugas menulis). Di samping ituteknik permainan ular tangga dapat
 
dikembangkan untuk membantu penguasaananak-anak terhadap aspek-aspek, khususnyapada materi pengembangan kemampuanberhitung
Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian dalam latarbelakang di atas, maka permasalahan dalampenelitian ini dirumuskan sebagai berikut:1.
 
Apakah penerapan permainan ular tanggadalam proses pembelajaran, dapatmeningkatkan kemampuan berhitung 1-20pada anak kelompok B TK YuniorSurabaya?2.
 
Bagaimanakah aktivitas anak kelompok BTK Yunior dalam proses pembelajaranyang menerapkan permainan ular tangga?3.
 
Bagaimanakah aktivitas guru dalam prosespembelajaran yang menerapkan permainanular tangga?
Kajian Anak Usia Dini
Sebagaimana termuat dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang SistemPendidikan Nasional, pasal 1 angka 14menyatakan bahwa Pendidikan Anak Usia Dini(PAUD) adalah suatu upaya pembinaan yangditujukan kepada anak sejak lahir sampai usiaenam tahun yang dilakukan melalui pemberianrangsangan pendidikan untuk membantupertumbuhan dan perkembangan jasmani danrohani agar anak memiliki kesiapan dalammemasuki pendidikan lebih lanjut. Usia 4-6tahun merupakan bagian dari PAUD. Pada usiatersebut merupakan masa peka yang pentingbagi anak untuk mendapatkan pendidikan.Pengalaman yang diperoleh anak darilingkungan termasuk stimulasi yang diberikandari orang dewasa, akan mempengaruhikehidupan anak di masa mendatang. Untuk itudiperlukan upaya yang mampu memfasilitasianak dalam masa tumbuh kembangnya.Pendapat lain dari Sujiono (2010:73),PAUD adalah suatu upaya pembinaan yangditujukan kepada anak sejak lahir sampaidengan usia enam tahun yang dilakukan melaluipemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapandalam memasuki pendidikan lebih lanjut,pengertian seperti ini berarti mencakup anak-anak yang masih dalam asuhan orang tua, anak-anak yang berada dalam TPA (TempatPenitipan Anak), Kelompok Bermain (
PlayGroup
), dan Taman Kanak-Kanak (TK).Alur pemikiran di atas relevan denganpendapat dari Yamin dan Sanan (2010:4), yangmenyatakan bahwa usia dini sangat menentukanbagi perkembangan dan pertumbuhan anak selanjutnya. Oleh Sebab itu masa ini merupakanmasa peka dan masa emas dalam kehidupananak. Hal ini mengisyaratkan bahwa semuapihak perlu memahami akan pentingnyapendidikan pada masa usia dini untuk optimalisasi seluruh aspek perkembangan anak.Walaupun secara yuridis anak usia 4-6tahun, menurut pendapat dari Montolalu(2008:9.3), tidak wajib mengikuti pendidikananak usia dini di Taman Kanak-Kanak (TK),akan tetapi secara teoritis pendidikan TamanKanak-Kanak (TK) sangat penting dalampendidikan anak. Hal ini dikarenakan usiaprasekolah merupakan usia yang sangatstrategis untuk menerima rangsangan-rangsangan dari luar.Mengingat pentingnya pendidikan usiadini, maka anak perlu diberikan rangsangan-rangsangan, dorongan-dorongan, dan dukunganberupa program kegiatan yang terencana,bermanfaat, dan yang mneyenangkan. Untuk ituanak memerlukan pendekatan pembelajaran dariseorang pendidik yang memahami anak dengansegala sifat dan keunikannya sesuai denganprinsip-prinsip pembelajaran anak usia dini.
Hakikat Pengembangan Kognitif Pada AnakUsia Dini
Pengertian kognitif yang diadaptasidari pendapat Kurrien (2004: 8), adalah suatuproses berpikir yang berupa kemampuan untuk menghubungkan, menilai dan mempertimbang-kan sesuatu. Dapat juga dimaknai sebagaikemampuan untuk memecahkan masalah atauuntuk menciptakan karya yang dihargai dalamsuatu kebudayaan.Pernyatan di atas relevan denganpendapat dari Patmonodewo (1994: 39), yangmengemukakan bahwa, kognitif seringkalidiartikan sebagai kecerdasan atau berpikir.Kognitif adalah pengertian yang luas mengenaiberpikir dan mengamati, jadi merupakantingkah laku yang mengakibatkan orangmemperoleh pengetahuan atau yang dibutuhkanuntuk menggunakan pengetahuan.Perkembangan kognitif menunujukkanperkembangan dari cara anak berpikir.Kemampuan anak untuk mengkoordinasikanberbagai cara berpikir untuk menyelesaikanberbagai masalah yang dapat dipergunakansebagai tolok ukur pertumbuhan kecerdasan.Konsep dasar kemampuan kognitif pada istilah anak, meliputi konsep tentangwarna, bentuk, ukuran, tekstur, bau. Pada saatyang sama, aktivitas-aktivitas tersebutdirancang untuk membantu anak mengembangkan lima proses mental atau

Activity (2)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 thousand reads
1 hundred reads

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->