• Embed Doc
  • Readcast
  • Collections
  • CommentGo Back
Download
 
1
ISLAM DI SIMPANG JALAN
Oleh:
Muhammad Assad
Muhammad Asad
 
Kelahiran Austria (1900) dengan nama Leopold Weiss
 
Belajar kitab-kitab suci Yahudi - Kristen dengan bahasa Ibrani - Aramea,Polandia dan Jerman.
 
Belajar sejarah, falsafah dan psikologi.
 
Wartawan United Telegraph di Berlin (1921).
 
Wartawan Frankfurter Zeitung dan koresponden di Timur Tengah (1922-1926).
 
Masuk Islam di Berlin dan memilih nama Muhammad Asad (1926).
 
Tinggal di Hejaz dan Najd (Saudi Arabia) (1926-1932).
 
Menjelajah wilayah-wilayah negeri Islam (1932-1947) kecuali AsiaTenggara.
 
Bersahabat dengan tokoh-tokoh Islam, termasuk Raja Abdul 'Aziz, IbnuSaud dan Muhammad Iqbal.
 
Membatalkan rencana ke Indonesia dan Asia Tenggara karena ditugaskanmembentuk dan mengepalai Departemen Rekonstruksi Islam Pakistan(1947-1951).
 
Mengepalai bagian Timur Tengah Kementerian Luar Negeri Pakistan.
 
Menjadi Duta Tetap Pakistan untuk PBB
 
Menulis Islam at the Crossroads (1935), The Road to Mecca (1952) danThe Message of the Quran.
 
Muhammad Asad diangkat sebagai warga negara kehormatan di berbagainegeri Islam; terakhir tinggal di Maroko.
 
2
 Alhamdu lillahi wahdahu wasshalatu wassalamu 'ala man la nabiyya ba'dahu.
 
KATA PENDAHULUAN
Jarang ummat manusia terjerumus dalam kecemasan intelektual seperti yangterjadi pada zaman kita kini. Kita bukan saja dihadapkan pada tumpukan masalah-masalah yang membutuhkan pemecahan-pemecahan baru yang tidak tanggung-tanggung, tetapi juga sudut pandangan di mana masalah-masalah itu tampil dihadapan kita berlainan dengan segala yang pernah kita kenal sebelumnya.Di negeri mana saja, masyarakat telah mengalami perubahan-perubahanfundamental. Jalannya perubahan ini di mana-mana berlainan; tetapi di setiapnegeri kita dapat melihat energi desak yang sama, yang tidak mengizinkan kitaberhenti atau bersikap ragu-ragu.Dunia Islam tidak terkecuali dalam hal ini. Di sini kita lihat pula kebiasaan-kebiasaan dan idea-idea lama menghilang dan munculnya kebiasaan dan idea-ideabaru. Kemana tujuan perkembangan baru ini? Sejauh mana pencapaiannya?Sejauh mana kesesuaiannya dengan misi kultural Islam?Isi buku ini sekali-kali tidak bendak berhebat-hebat dengan memberikan suatu jawaban yang panjang lebar atas seluruh lingkup pertanyaan di atas. Karenaruangnya yang terbatas maka hanya satu dari masalah-masalah yang menghadangkaum Muslimin sekarang, yaitu sikap yang harus kita ambil terhadap peradabanBarat, telah kami pilih untuk dibicarakan. Namun cakupan yang sangat luas daripokok masalah ini memerlukan kita untuk meluaskan penyelidikan tentang aspek-aspek dasar agama Islam, terutama berkenaan dengan prinsip Sunnah. Di sinitidak mungkin untuk memberikan lebih dari garis-garis besar melulu dari satutema yang cukup luas untuk berjilid-jilid buku tebal. Tetapi betapapun juga --ataubarangkali justru karena itu-- saya merasa yakin bahwa sketsa singkat ini akanmerupakan suatu rangsangan bagi orang lain untuk pemikiran lebih jauh atasmasalah yang begitu penting ini.Dan sekarang tentang diri saya sendiri; apabila seorang muallaf berkata kepadamereka, kaum Muslimin berhak mengetahui betapa dan mengapa ia memeluk agama Islam.Dalam tahun 1922 saya meninggalkan negeri saya, Austria, untuk membuatperjalanan melalui Afrika Utara dan Asia sebagai koresponden istimewa suatukoran Eropa dan sejak waktu itu saya melalukan hampir seluruh waktu saya diTimur Tengah. Perhatian saya terhadap bangsa-bangsa yang saya hubungi padamulanya hanya sebagai perhatian seorang asing. Saya melihat di sini suatu tatamasyarakat yang secara fundamental berbeda dengan pandangan hidup orangEropa; dan sejak semula telah tumbuh dalam diri saya perasaan simpati ataskehidupan yang lebih tenang --saya seharusnya mengatakan: lebih insani-- dankonsepsi hidup yang lebih damai dibanding dengan mode hidup yang tergesa-gesadan mekanis di Eropa. Rasa simpati ini berangsur-angsur membawa saya padasatu penyelidikan mengenai sebab-sebab perbedaan mode hidup semacam itu, dan
 
3saya jadi tertarik pada ajaran-ajaran agama Islam. Pada saat itu perhatian sayatidak cukup untuk menarik saya memeluk agama Islam, tetapi hal itu membukapandangan baru pada saya tentang masyarakat manasia yang sedang maju, yangprogresif, terorganisir dengan seminimal mungkin konflik ke sesama dan perasaanpersaudaraan sungguh-sungguh yang maksimal. Namun sebenarnya kehidupankaum Muslimin sekarang tampak sangat ketinggalan dari kemungkinan-kemungkinan ideal yang diberikan dalam ajaran-ajaran agama Islam. Segala yangdalam masa kemurnian Islam dahulunya merupakan pendorong gerak maju dikalangan kaum Muslimin, sekarang telah berubah menjadi sikap masa bodoh dankemacetan; segala yang dalam zaman kejayaan Islam dahulunya merupakanrahmat dan kesiapsiagaan untuk berkorban, sekarang berubah menjadi kepicikandan kehidupan seenaknya di antara kaum Muslimin.Terdesak oleh penemuan akan kenyataan ini dan dibingungkan olehketidaksesuaian antara dulu dan kini, saya berusaha memecahkan masalah yangdihadapkan kepada saya ini dari titik pandangan yang lebih dekat: saya berusahamembayangkan diri saya dalam lingkungan Islam. Hal itu hanyalah experimenintelektual melulu: dan ini menerangkan kepada saya, dalam waktu yang sangatsingkat, penyelesaian masalah ini dengan sebenarnya. Saya menyadari bahwasatu-satunya sebab kemunduran sosial dan kultural kaum Muslimin terletak dalamkenyataan bahwa mereka secara berangsur angsur melalaikan jiwa ajaran-ajaranIslam. Islam masih ada pada mereka, tetapi tinggal jasad tanpa jiwanya. Satu-satunya unsur yang dahulu tegak mengokohkan dunia Islam sekarang menjadisebab kelemahannya; masyarakat Islam telah dibangun sejak dari permulaannyahanya atas dasar agamawi, dan pelemahan-pelemahan unsur itu tentu melemahkanstruktur kulturalnya --dan bahkan mungkin akan menyebabkan musnahnya.Makin saya mengerti betapa kongkrit dan betapa praktisnya ajaran-ajaran Islam,makin tebal hasrat saya bertanya mengapa kaum Muslimin telah meninggalkanpenerapannya yang riil. Saya bicarakan hal ini dengan banyak pemuka-pemukaIslam, hampir pada semua negeri antara Lybia dan Pamir, antara Selat Bosporusdan Laut Arabia. Hal itu hampir mengikat persoalan saya seluruhnya yangakhirnya meliputi segala urusan-urusan intelektual saya dalam dunia Islam.Godaan pertanyaan itu terus menebal dalam jiwa saya --sehingga saya, seorangbukan-muslim berkata kepada seorang Muslim seakan-akan saya hendak membelaIslam dari kekeliruan dan sikap masa bodoh mereka. Saya tidak melihatkemajuannya, hingga pada suatu hari --waktu itu musim semi tahun 1925 dipegunungan Afghanistan-- seorang gubernur propinsi yang muda usia berkatakepada saya: "Tetapi anda seorang Muslim, hanya anda sendiri tidak mengetahuinya". Saya terkejut oleh kata-kata itu dan berdiam diri.Tetapi ketika saya kembali ke Eropa lagi dalam tahun 1926, saya menyadaribahwa satu-satunya konsekuensi yang logis dari sikap saya itu adalah memeluk agama Islam.Demikianlah keadaan-keadaan yang berhubungan dengan menjadi Muslimnyasaya. Sejak saat itu berulang-ulang saya bertanya pada diri: "Mengapa engkaumemeluk agama Islam?" Dan saya harus mengaku: saya tidak tahu jawabannya
of 00

Leave a Comment

You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...
You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...