Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
3Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
konflik

konflik

Ratings: (0)|Views: 146 |Likes:
Published by Nathan Blue Silence
Contoh konflik dalam masyarakat
Contoh konflik dalam masyarakat

More info:

Categories:Types, Reviews
Published by: Nathan Blue Silence on Feb 01, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/19/2013

pdf

text

original

 
CONTOH KONLIK DALAM REALITA MASAYARAKATTUGAS INDIVIDU
UNTUK MEMENUHI TUGAS MATAKULIAHAnalisis Kebijakan dan Pengambilan Keputusanyang dibina oleh Ibu Prof. Dr. Ali Imron M.SiolehDesy Pranita Kusumawati110131436543
UNIVERSITAS NEGERI MALANGFAKULTAS ILMU PENDIDIKANJURUSAN ADMINISTRASI PENDIDIKANJanuari 2013
 
1.Konflik Adat Istiadat
Bentrok massal antarwarga desa adat di Bali hingga kini masih sering kali munculke permukaan, bahkan sampai merenggut korban jiwa, meskipun awalnya konflik ituhanya dipicu masalah sepele. Konflik adat selama tahun 2011 terjadi di sejumlah tempatdi Bali, antara lain melibatkan ratusan warga Desa Songan, Kecamatan Kintamani,Kabupaten Bangli, menyerang warga Banjar Kawan di Kota Bangli, 45 kilometer timur Denpasar. Mendengar kentongan yang dikeramatkan itu berbunyikan sebagai tanda bahaya, warga Banjar Kawan tumpah ruah ke luar rumah dengan bersenjatakan pedang,golok, panah, pentungan kayu, potongan batu bata, dan lain-lain. Akibatnya, bentrok fisik massal antarwarga yang datang menyerang dengan yang diserang, tidak bisa dihindarkanhingga mengakibatkan jatuhnya korban tewas dan belasan lainnya mengalami luka-luka pada peristiwa tragis pada 19 Juli 2011. Tidak lama kemudian peristiwa yang mencorengcitra pariwisata Bali kembali dihebohkan dengan peristiwa bentrok antara wargaKemoning dan Budaga, Kecamatan Semarapura, Kabupaten Klungkung, pada Sabtu, 17September 2011.Peristiwa yang kedua itu juga merenggut seorang korban jiwa, I Ketut Ariaka (56)dan puluhan warga dari kedua belah pihak, termasuk polisi yang mendamaikan keduakelompok yang bertikai itu juga mengalami luka-luka. Bentrok antarwarga yang saling bertetangga itu dipicu perebutan tempat suci (Pura) Dalem, kuburan (Setra) dan puraPrajapati (tempat suci dalam lingkungan kuburan). Konflik antarbanjar itu sebenarnyaterjadi sejak pertengahan 2010 dan berbagai pihak yakni Pemkab Klungkung, Polres, danMejelis Utama Desa Pekraman (MUDP) Provinsi Bali berusaha mendamaikan danmencarikan jalan yang terbaik, namun tidak membuahkan hasil sesuai yang diharapkan.Konflik yang bernuansa adat itu terus bergulir hingga akhirnya meletus bentrok antarwarga, meskipun sebelumnya telah diantisipasi Polres Klungkung denganmenempatkan personel dibantu satuan Brimob Polda Bali.Antisipasi itu dilakukan jauh sebelum meletusnya bentrok karena ada informasiwarga Kemoning akan memasang papan batas wilayah. Sementara masyarakat DesaBudaga sebelumnya sudah memasang papan nama Adat Budaga di jalan Pudak menujuPura Dalem. Berbagai antisipasi sebenarnya telah dilakukan Polres Klungkung agar tidak terjadi hal hal yang tidak diinginkan bahkan, bahkan Kapolres Klungkung memfasilitasirapat bersama Muspika yang melibatkan pengurus adat dan tokoh masyarakat kedua desayang bersengketa itu. Menurut Guru besar Fakultas Sastra Universitas Udayana Prof Dr I
 
Gde Parimartha MA, maraknya kasus-kasus bernuansa adat di Bali dirasakan sejak adanyaPeraturan Daerah (Perda) Desa Pekraman Nomor 3 tahun 2001. Perda itu memberikan bobot yang tinggi atau otonomi desa adat (desa pekraman) yang berlebihan, namun tidak mampu membangun kedamaian bagi seluruh warganya. Akibat otonomi desa adat yang berlebihan itu mengakibatkan sedikit saja terjadi konflik terus berkembang, bahkansampai melakukan pemekaran desa adat.Oleh sebab itu perda yang mengatur tentang desa Pekraman tersebut perlu direvisidan disempurnakan oleh DPRD Bali, sekaligus mengatur beban tugas antara desa dinasdan desa pekraman di Bali. Revisi dan penyempurnaan itu penting, mengingat Perda DesaPekraman Nomor 3 tahun 2001 itu hanya mengatur desa adat dan tidak menyebutkanadanya desa dinas, padahal antara desa adat dan desa dinas di Bali selama ini mengembantugas masing-masing yang satu sama lainnya saling mendukung. "Revisi perda itu dinilaisangat penting dan mendesak untuk menyelamatkan desa pekraman, sekaligus mengembantugas-tugas yang semakin berat di masa mendatang," harap Prof Parimarha.Meskipun konfik bernuansa adat belum berhasil ditangani secara tuntas,masyarakat Bali masih sangat kental menghargai adat dan budayanya di tengah eramodernisasi dewasa ini. "Demikian pula tradisi kehidupan desa adat (Pakraman) di Balihingga kini tetap kokoh dan eksis sesuai perkembangan zaman, meski hal itu diwarisi jauhsebelum Indonesia merdeka," tutur Guru besar Fakultas Hukum Universitas Udayana Prof Dr Wayan P. Windia. Masing-masing desa pekraman mempunyai adat kebiasaan atau"awig-awig" untuk mengatur tatanan kehidupan, sesuai situasi dan kondisi objektif tempat,waktu dan keadaan (desa, kala, patra). Di Bali hingga kini tercatat 1.453 desa adat, bertambah dibanding sepuluh tahun sebelumnya yang tercatat 1.371 desa tersebar didelapan kabupaen dan satu kota. Prof P. Windia menilai, peran desa pakraman dalammenyelesaikan permasalahan yang muncul di wilayahnya masing-masing sangat besar.Jika ada masalah yang muncul, baik dipicu masalah pribadi, keluarga maupun masyarakat pertama-tama akan diselesaikan oleh perangkat pimpinan (prajuru) desa adat.Jika kata sepakat tidak tercapai, permasalahan akan dibahas dalam rapat (paruman)yang melibatkan seluruh warga desa pekraman. Warga desa yang terbukti melakukan pelanggaran adat, namun tetap bersikukuh dengan pendiriannya, tidak bersedia menaatikeputusan rapat dapat dijatuhi sanksi. Sanksi tersebut mulai dari yang paling ringan berupa permintaan maaf kepada seluruh warga, sampai yang paling berat, berupa pemberhentianatau dikucilkan sebagai warga desa adat (kasepekang). Desa pakraman setelah

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->