• Embed Doc
  • Readcast
  • Collections
  • 2
    CommentGo Back
 
MAARIF Vol. 3, No. 2 Mei 2008
1
MEDIA MAARIF
MAARIF
Vol. 3, No. 2 Mei 2008
Penasehat
: Abdul Munir Mulkhan, Jeffrie Geovanie,Haedar Nashir, M. Deddy Julianto, M. Amin Abdullah,Rizal Sukma, Sudibyo Placidus.
Pemimpin Umum :
Raja Juli Antoni
Pemimpin Redaksi :
Fajar Riza Ul Haq
Dewan Redaksi :
Ahmad Imam Mujadid Rais, EndangTirtana, Joko Sustanto, Siti Sarah Muwahidah.
Sekretaris :
M. Supriadi
Distribusi dan Sirkulasi :
Iwan SetiawanRedaksi mengundang para cendekiawan, agamawan, peneliti, dan aktivis untuk mengirimkantulisan, baik berupa hasil penelitian maupun gagasan, sesuai dengan visi dan misi MAARIF In-stitute. Tulisan merupakan hasil karya sendiri, belum pernah dipublikasikan, penulisan mengacustandar ilmiah, dan panjang tulisan 6000-10.000 karakter. Redaksi berhak menyeleksi dan mengedittulisan tanpa mengurangi atau menghilangkan substansi. Media MAARIF terbit tiap dua bulan.
Salam Redaksi
................................................................................................. 2
Artikel
Kebangkitan Nasional dan Kebangkitan Nasionalisme
 M.C. Ricklefs
....................................................................................................... 4 
 Jelang 80 Tahun Kebangkitan Nasional
 A. Syafii Maarif 
....................................................................................................
10
Islam, Nasionalisme, dan Keindonesiaan
 Achmad Jainuri
....................................................................................................
13
Islam dan Awal Kebangkitan Nasionalisme Di Indonesia
Yudi Latif 
..........................................................................................................
21
Opini
Mengakhiri Benturan Ideologi: Islam Vs Nasionalisme
Choirul Mahfud
..................................................................................................
43
Muhammadiyah, MAARIF Institute, dan Gerakan Kebangsaan
Lukman Hakim
..................................................................................................
54
Bedah Buku
Keperempuanan Illahiah dalam Sajak-sajak Goeth
..................................................
59
Catatan Redaksi
Deklarasi PHNOM PENH 2008
.........................................................................
64
Call for Paper
Islam dan Pancasila: Perspektif A. Syafii Maarif
Imam Muhlis
.......................................................................................................
68
Perspektif 
Hizb ut-Tahrir a Postcolonial Analysis: Neo-Colonialists in the Making?
Reed Taylor 
..........................................................................................................
84
Rekening 
Yayasan Ahmad Syafii Maarif :Bank Permata Cabang MID Plaza.
No. Rekening : 0701136993
Sekretariat
: Jl. Muria No.7, Guntur, Setiabudi, Jakarta Selatan 12980Telp.021-32403058 Fax.021-8296127website: www.maarifinstitute.orge-mail: jurnal@maarifinstitute.org
Pengelola
 
MAARIF Vol. 3, No. 2 Mei 2008
2
Salam Redaksi
Siapa bilang 100 tahun kebangkitan nasional jatuh pada tanggal 20 Mei2008? Sebagai satu stasiun (
maqam
) dari matarantai sejarah, “keputusanpolitik” mengenai titik mangsa kebangkitan nasional masih dan pastimemunculkan pendapat lain, suara-suara beda yang perlu didengardan dipertimbangkan. Karena kejujuran suatu sejarah akan sangattergantung sejauhmana kita bersedia menghiraukan kenyataan-kenyataan lain yang mungkin pangkalnya bukan darimana kitaberanjak.Faktanya, Pemerintah Republik Indonesia menetapkan 20 Mei 2008sebagai monumen 100 tahun Hari Kebangkitan Nasional, bertepatandengan berdirinya Budi Utomo 20 Mei 1908 silam, sebagaimana tertuangdalam Surat Keputusan Presiden RI No. 5 Tahun 2008. Tanpa bermaksud“merongrong” pelbagai hajatan satu abad kebangkitan nasional yangtumpah ruah dimana-mana, penting kiranya kita mencermati ulang titiksilang bahkan kemungkinan titik temu pelbagai pendapat terkait wacanakebangkitan nasional dan nasionalisme.Pemahaman tentang gerakan nasional dan gerakan nasionalis masihharus ditelusuri, apa yang membedakannya dari gerakan kesukuanataupun primordial? Karena, misalnya, sejarawan terkemuka M.C.Ricklefs membedakan kedua hal tersebut. Gerakan nasional belum tentunasionalis. Begitu pula sebaliknya. Bagi sejarawan seperti Ricklefs, TaufikAbdullah, dan Syafii Maarif, 100 tahun kebangkitan nasional bukanberpijak dari kelahiran Budi Otomo, 20 Mei 1908. Namun mereka punyapandangan berbeda mengenai kapan dan siapa sesungguhnya yanglayak dinobatkan pada posisi Budi Utomo sekarang ini.Sartono Kartodirdjo (2005) memandang Budi Utomo (BU) punyakontribusi penting dalam proses kebangkitan nasional karena Kongres1 BU tahun 1908 telah berhasil menemukan rumusan inklusif mengenai“persaudaraan nasional” meskipun warna Javanosentrisme masih kental.Masih sebatas “Bangsa Jawa”. Bagi Taufik Abdullah (2005), justruPerhimpunan Indonesia (PI) yang berdiri 1923 di Belanda merupakan
of 00

Leave a Comment

You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...
You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...