Ketika Hujjah Tak Lagi Menjadi Prioritas Utama

 
 
 
 
 
Value This
Doc
Scribd
Average
     
Pages: 22 43
Words: 6829 13640
Characters: 43376 81678
Lines: 288 623
     
     
Letters per word: 6.35 5.99
Words per line: 23.71 21.89
Words per page: 310.41 317.21

Add to your reading list

Flag_red Flag this document

Document Information

582 Reads | 0 Comments

Description

Sinar mentari tadi siang terlampau menyengat, hingga mampu membuat langkah ini melambat guna mencapai lokasi perpustakaan umum, tempat saya menimba ilmu agama. Sebenarnya hari ini, saya tidak berhasrat untuk memasuki ruang perpustakaan. Namun karena masih ada beberapa tugas yang harus saya selesaikan, maka tidak ada pilihan lain kecuali mengunjungi perpustakaan umum itu. Dengan langkah yang terasa sangat lambat namun pasti, akhirnya sampailah diriku di ruang perpustakaan yang terasa sangat sejuk dan nyaman itu. Alhamdulillah.
Sejenak setelah saya berada di perpustakaan sembari membolak-balik beberapa kitab yang sedang saya pelajari, ada seorang rekan menyapa dan menyatakan, “Koq kamu nggak segera membalas tulisan “Tim Redaksi?”, ujarnya polos. Dahi saya berkerut, saya juga sempat melongo mendengar ucapan rekan saya yang satu ini, karena memang dia sangat kocak.
Masih dalam suasana keheranan, akhirnya saya bertanya kepadanya: ‘Tim Redaksi’ yang mana ? Demikian serius tanggapan saya, hingga membuat rekan saya yang satu ini kelabakan. “Ya itu, ‘Tim Redaksi’ yang membantah tulisan kamu yang berjudul Tirai itu”, demikian jelasnya. “Apa kamu belum membuka e-mail? Coba buka pasti akan kamu dapati tulisan ‘Tim Redaksi’ disana,” lanjutnya dengan nada lirih, sembari berpaling meninggalkan saya dan tugas-tugas yang masih menumpuk itu.
Memang sudah beberapa hari ini saya tidak membuka e-mail, usai sholat ‘Ashr hari itu juga saya menyempatkan waktu untuk membuka e-mail, demi mendapatkan tulisan ‘Tim Redaksi’. Saya mengira bahwa Turobiyyah akan membantah tulisan saya dengan sangat ilmiyyah, namun setelah membuka e-mail saya ternyata… lidah saya seakan tercekat, saya sempat terpaku, keheranan memandangi isi tulisan ‘Tim Redaksi’. Entah berapa lama mereka mengarang tulisan itu, dan entah berapa orang pula yang saling bahu-membahu, guna menyusun kalimat yang sangat jauh dari kesan ilmiyyah itu.
Sebenarnya tulisan ‘Tim Redaksi’ yang membantah tulisan “Tirai itu, kini telah tersingkap”, kurang layak untuk dikomentari, untuk diangkat atau bahkan untuk dibantah. Hal itu karena jauhnya tulisan mereka dari kesan ilmiyyah, namun saya akan memanfaatkan tulisan mereka dari sisi lain, yang justru akan menambah tersingkapnya tirai mereka.
“Saat hujjah tak lagi menjadi prioritas utama”. Sebuah dialog santai dengan ‘Tim Redaksi’ Turobi, demikian judul yang akan membawahi tulisan saya ini. Berikut ini adalah tulisan ‘Tim Redaksi’ yang masuk ke e-mail saya. Saya salinkan disini secara menyeluruh, agar para pembaca yang bijak menilai sendiri dengan seksama. Satu hal yang perlu diingat, karena tulisan ‘Tim Redaksi’ menyangkut beberapa keadaan manusia, maka saya hanya akan mengomentari tulisan mereka yang berkaitan dengan Abu Mahfudh.
Inilah tulisan ‘Tim Redaksi’ yang mereka sebar di Internet lewat menteri Penerangan Turobiyyun , Muhammad Shiddiq bin Muhammad Arsyad Thalib Al-bughisy As-Sorowaky. Lewat emailnya Abu Abdirrohman, kita temukan baris-baris berikut di halaman dua file menepis.doc yakni : “Untuk penulis majhul (yakni Abu Mahfuzh dan para stafnya)” : Kami tidak mengetahui dari golongan apakah anda. Dari jenis jin ataukah manusia atau binatang melata? Orang waras ataukah orang gila? Dukun, dalang ataukah sutradara? Di alam nyata ataukah fatamorgana? Beraninya hanya berteriak di dunia maya. Sampai-sampai sebagian para Salafiyyat -hafizhohunnalloh- mengatai kalian sebagai banci belaka. Yang jelas kalian itu pembual dan pendusta, pengecut tapi sok bergaya. Maka jangan berhayal bahwa kami akan tanggapi gonggongan kalian, sampai kalian singkap sendiri tirai butut kalian, yang telah kumal bau dan luntur warnanya. Awan di langit tak akan surut berkelana di cakrawala, hanya karena lolongan anjing buduk di hutan belantara…” (Menepis Tuduhan Keji, bantahan atas selebaran Nasehat dan Teguran Terhadap Murid yang tidak Beradab. Penulis Al Akh Abu As Samh Iyad Al-Hasyidi, alih bahasa Abu Abdirrahman Utsman as-Semarangi dan Abu Arqom Muslih al-Maget

Pdf_16x16 22 Pages


Date Added

02/15/2009

Category
Tags
Groups
Copyright

Attribution Non-commercial

More info »

 

or use Facebook Connect