• Embed Doc
  • Readcast
  • Collections
  • CommentGo Back
Download
 
Edisi: 005/September 2007 | 1
Edisi: 005/September 2007
SEPTEMBER 
ini tepatnya pada tanggal 11, negara kitamemperingati hari radio. Mengapa sampai ada hari Radio? Apa pentingnya hari radio?Radio mempunyai beberapa kekuatan, di antaranya: cepat(informasi bisa disampaikan secara cepat, bahkan bersamaandengan berlangsungnyakejadian), murah, mudahdipahami, akrab, mudahdibawa, tidak perlumeluangkan waktu khusus,dan interaktif.Selain itu, adapunkelemahan radio yaituselintas, sulit diingat dantidak bisa disimpan ataudidokumentasikan oleh pendengar.Dalam perkembangannya radioterbagi dalam radio swastakomersial dan radiokomunitas. Menurut
Wikipedia
disebutkan ra-dio komunitas adalahstasiun siaran radio yang dimiliki, dikelola, diperuntukkan,diinisiatifkan dan didirikan oleh sebuah komunitas. Pelaksana penyiaran radio komunitas disebut sebagai lembaga penyiarankomunitas. Radio komunitas juga sering disebut sebagai radiososial, radio pendidikan, atau radio alternatif. Intinya, radiokomunitas adalah “dari, oleh, untuk dan tentang komunitas”.Sedangkan dalam perkembangannya, radio swastakomersial turut menjamur meramaikan jagat dunia informasi danhiburan kita. Apapun bentuknya, baik radio komunitas maupunkomersial, tentu memiliki fungsi, selain memberikan informasi, juga memberikan hiburan kepada pendengarnya.Berkaitan dengan itu fungsi radio dalam hal memberikaninformasi penting, tergambar pada saat gempa melandaYogyakarta, 27 Mei 2006 lalu. Gempa yang berkekuatan 5,9 skalaRichter mengakibatkan kondisi Yogyakarta kala itu sangat“kritis”. Jaringan listrik padam dalam beberapa hari, sehinggaorang tidak bisa melihattelevisi yang biasanyamenemani. Namun informasi melaluiradio dengan berbekal baterai,karena kekuatan radio tadi,informasi tentang isu-isuyang saat itu mampumembuat warga panik dapatlangsung didengar melaluiinformasi radio swasta.Katidakbenaran adanya isutsunami itulah salah satunyadiperoleh warga melaluisiaran radio yang pada saatitu sebagai salah satu alatyang benar-benar memantausituasi Yogyakarta terutama bagian selatan.Informasi tentang benar tidaknya isu tersebut dapatdidengar di mana saja. Seperti disebutkan di atas, kekuatan lainradio yakni mudah dibawa.. Seperti yang terlihat pada gambar,seorang warga mendengarkan informasi tentang tidak benarnyaisu tsunami sambil berjalan di tengah hiruk pikuknya wargayang panik akan isu tsunami.Berkaitan dengan itulah,
 Newsletter 
edisi September ini pada rubrik Spesial Info menampilkan tulisan tentang keadaanmodel radio jaringan yang berada di daerah dengan judulMewaspadai Resentralisasi Radio Siaran. Untuk lebih jelasnyasilakan membaca.
08.20, 27 Mei 2006. Pengungsi panik tsunami Bantul memantau informasimelalui radiao.
   f  o   t  o 
   b  y   d  e   d   i
 
2 | Edisi: 005/September 2007
D a p u r I n f o
Pelatihan AIDS, Gender, dan Kesehatan ReproduksiUntuk Pemuda Pengelola Mading Desa
Pada tanggal 9 September lalu, untuk kali kedua para pemuda pengelola mading (majalahdinding) di desa masing-masing mengikutiPelatihan AIDS, Gender dan Kesehatan Reproduksidi Kampus LP3Y.Para pemuda pengelola mading desatersebut berasal dari 5dusun dalam ProgramPemulihan Pasca BencanaBantul yakni Warungpring,Kedungpring, Klisat, Johodan Kadisoro. Setiap dusundiwakili oleh 4 pemudayang dianggap mampumengembangkan madingdi desa atau dusunnya.Rencananya, pelatihan bagi pemuda iniakan di selenggarakanselama 3 kali. Pelatihan pertama telah dilakukan pada 2 Sep-tember lalu, dan pelatihan ketiga akan diselenggarakan 28Oktober mendatang.Pada pelatihan isu tersebut para pemuda diberi materisecara bertingkat yakni informasi seputar AIDS, dan yang keduatentang kesehatan reproduksi dan pelatihan ketiga lebihdititikberatkan pada masalah gender.Pada proses pelatihan, mereka diberi bekal singkat tentangisu-isu tersebut serta materi jurnalistik yang berhubungandengan pembuatan mading. Setelah mereka menerima materi, pada tiap pelatihan di sesi terakhir, mereka berlatihmempraktekkan apa yang mereka dapat.
K
EGIATAN
LP3Y
SELAMA
S
EPTEMBER
Ketika tiba saatnya berpraktik membuat mading, hasil parktek tersebut awalnya terlihat mading digunakan sebagaimedia bereskpresi ketimbang informasi. Terlihat dari desainyang dihadirkan lebih pada permainan warna danilustrasi yang mencolok.Padahal mading selainsebagai media berekspresi, bisa digunakan sebagai me-dia informas. Sehingga besar teks dan gambar semstinya dapat membuat pembaca mudah dan tertarik untuk membacanya.
Diskusi Film Dokumenter
Pada 18 September lalu, tepatnya di ruang perpustakaan LP3Ydiselenggarakan diskusi filmdokumenter. Film inimerupakan bagian dariliputan untuk melihat perkembangan programPemulihan Pasca Gempa Bantul.Tujuan diskusi film ini sebenarnya untuk memberimasukan kepada pembuatnya, agar film tersebut lebih sempurna.Kebetulan, peserta film ini hanya dua yakni Didik Wirawandan Rabernir.Hadir dalam diskusi tersebut teman-teman anggota JejaringFF (Ford Foundation), dan teman-teman jurnalis liputanmendalam.Film Didik yang berjudul “Satu Fajar Untuk Selamanya” bercerita tentang kesenian tradisional di beberapa dusun yangmenjadi wilayah program. Kesenian yang dianggap Didik dapatmenyatukan warga menjadi guyup setelah gempa ini menjadiliputan menarik pada film tersebut.
Didik (berjaket merah) dan Rabernir (Kaos hitam), nampak serius pada saat pemutaran film
   f  o   t  o 
   b  y   d  e   d   i
 
Edisi: 005/September 2007 | 3
D a p u r I n f o
Selain bercerita kegiatan berkesenian yang pada puncaknya diperingati padahari kemerdekaan Indonesia17 Agustus lalu, aktivitaskesenain itu juga dapatmenjadi hiburan dan sarana persatu warga setempat.Lain halnya dengan filmdokumenter yang digarapRabernir. Film yang diberi judul “Setetes Embun di AtasReruntuhan” itu berceritatentang korban kekerasandalam rumahtangga (KDRT)yang tetap berjuang hidupdemi anak dan keluarganya.Lebih lanjujt film tersebut bercerita tentang keluarga yangmendapat bantuan dan rekonstruksi rumah. Seorang perempuan(istri) sebagai korban gempa juga sekaligus korban KDRT. Iaharus rela menandatangani surat perjanjian untuk mengizinkansuaminya poligami kalau ia iangin mendapatkan uang danarekontruksi tersebut.Permasalahan semakin meruncing, tidak hanya terkanandari suaminya tetapi juga ia sebagai perempuan mengalamikekerasan structural. Kekerasan tersebut yakni tekanan-tekanandari tetangga atau RT setempat untuk menandatangani surat(sebagai anggota pokmas) jika ingindana rekonstruksi kelompok tersebutturun.
Kritikan terhadap film
Pada diskusi berlangsung beberapa kritikan bermunculan atasfilm yang dibuat Didik antara lain pertama, durasi yang terlalu panjang(20 manit), sehingga seolah-olahmenjejalkan semua kegiatan keseniantersebut. Disarankan diperpendek lagi.Kedua, pada wawancara bahasa jawa, sebaiknya dibuat teks artinya.Ketiga, pada saat wawancaradengan narasumber, gending sebagai
back sound 
terus berbunyi padahal itu dapat menimbulkan kesanmonoton sehingga penonton jenuh. Sarannya,
back sound origi-nal 
seperti bunyi kicauan burung saat wawancara bisa masuk menghiasi film tersebut.Lain halnya kritikan untuk film yang dibuat Rabernir,karena sejak awal Rabernir tidak menggunakan narasi padafilmnya, kelemahannya film tersebut sepertinya meloncat-loncatdan belum mampu menggambarkan apa yang dia maksud. Selainitu sama halnya dengan film Didik, tidak ada teks untuk mengartikan bahasa Jawa yang banyak mendominasi filmtersebut.(
may
)
   f  o   t  o 
   b  y   d  e   d   i
Peserta sedang berpraktik membuat mading
Pada
Newsletter 
edisi 004 Agustus lalu, pada hal 3 terdapat kekeliruan keterangan foto. Fotokedua tertulis Peserta karnaval di Dusun warungpring, Mulyodadi, Bambanglipuro, Bantul, yangbenar adalah Peserta karnaval di Dusun Joho, Jambidan, Banguntapan, Bantul. Demikiankekeliruan telah diperbaiki.
Persyaratan:
1.Peserta adalah orang dengan HIV &AIDS2.Peserta dapat memilih salah satu dari tema penulisan berikut:a.Beban Ganda Perempuan Positif HIV b.Narkoba dan HIV dan AIDSc.Hidup dengan HIV dan AIDSd.Kesehatan Reproduksi dan HIV dan AIDSe.Pemberdayaan Orang dengan HIV dan AIDSf.Remaja dan HIV dan AIDSg.Stigmatisasi terhadap Orang dengan HIV dan AIDSh.LGBTQ dan HIV dan AIDSi.HIV dan AIDS di tempat Kerja j.Kanker Serviks, Perempuan Positif, dan HIV danAIDS3.Tulisan berupa artikel ilmiah, tinjauan pustaka, ataukisah hidup pribadi, keluarga, atau orang lain yangmemiliki nilai inspirasi, pencegahan dan penanggulangan HIV & AIDS.4.Untuk tulisan dengan kisah hidup pribadi, keluarga,atau orang lain ditulis dalam format narasi.5.Karya tulis dibuat dengan gaya bahasa popular. Kisahyang diceritakan adalah kisah nyata, bukan rekaan,
Kompetisi Penulisan Populer HIV/AIDS Khusus OdhaKerjasama Yayasan Mitra INTI dengan SANDAR
Bersambung ke halaman...9
of 00

Leave a Comment

You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...
You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...