Edisi: 005/September 2007 | 3
D a p u r I n f o
Selain bercerita kegiatan berkesenian yang pada puncaknya diperingati padahari kemerdekaan Indonesia17 Agustus lalu, aktivitaskesenain itu juga dapatmenjadi hiburan dan sarana persatu warga setempat.Lain halnya dengan filmdokumenter yang digarapRabernir. Film yang diberi judul “Setetes Embun di AtasReruntuhan” itu berceritatentang korban kekerasandalam rumahtangga (KDRT)yang tetap berjuang hidupdemi anak dan keluarganya.Lebih lanjujt film tersebut bercerita tentang keluarga yangmendapat bantuan dan rekonstruksi rumah. Seorang perempuan(istri) sebagai korban gempa juga sekaligus korban KDRT. Iaharus rela menandatangani surat perjanjian untuk mengizinkansuaminya poligami kalau ia iangin mendapatkan uang danarekontruksi tersebut.Permasalahan semakin meruncing, tidak hanya terkanandari suaminya tetapi juga ia sebagai perempuan mengalamikekerasan structural. Kekerasan tersebut yakni tekanan-tekanandari tetangga atau RT setempat untuk menandatangani surat(sebagai anggota pokmas) jika ingindana rekonstruksi kelompok tersebutturun.
Kritikan terhadap film
Pada diskusi berlangsung beberapa kritikan bermunculan atasfilm yang dibuat Didik antara lain pertama, durasi yang terlalu panjang(20 manit), sehingga seolah-olahmenjejalkan semua kegiatan keseniantersebut. Disarankan diperpendek lagi.Kedua, pada wawancara bahasa jawa, sebaiknya dibuat teks artinya.Ketiga, pada saat wawancaradengan narasumber, gending sebagai
back sound
terus berbunyi padahal itu dapat menimbulkan kesanmonoton sehingga penonton jenuh. Sarannya,
back sound origi-nal
seperti bunyi kicauan burung saat wawancara bisa masuk menghiasi film tersebut.Lain halnya kritikan untuk film yang dibuat Rabernir,karena sejak awal Rabernir tidak menggunakan narasi padafilmnya, kelemahannya film tersebut sepertinya meloncat-loncatdan belum mampu menggambarkan apa yang dia maksud. Selainitu sama halnya dengan film Didik, tidak ada teks untuk mengartikan bahasa Jawa yang banyak mendominasi filmtersebut.(
may
)
f o t o
b y d e d i
Peserta sedang berpraktik membuat mading
Pada
Newsletter
edisi 004 Agustus lalu, pada hal 3 terdapat kekeliruan keterangan foto. Fotokedua tertulis Peserta karnaval di Dusun warungpring, Mulyodadi, Bambanglipuro, Bantul, yangbenar adalah Peserta karnaval di Dusun Joho, Jambidan, Banguntapan, Bantul. Demikiankekeliruan telah diperbaiki.
Persyaratan:
1.Peserta adalah orang dengan HIV &AIDS2.Peserta dapat memilih salah satu dari tema penulisan berikut:a.Beban Ganda Perempuan Positif HIV b.Narkoba dan HIV dan AIDSc.Hidup dengan HIV dan AIDSd.Kesehatan Reproduksi dan HIV dan AIDSe.Pemberdayaan Orang dengan HIV dan AIDSf.Remaja dan HIV dan AIDSg.Stigmatisasi terhadap Orang dengan HIV dan AIDSh.LGBTQ dan HIV dan AIDSi.HIV dan AIDS di tempat Kerja j.Kanker Serviks, Perempuan Positif, dan HIV danAIDS3.Tulisan berupa artikel ilmiah, tinjauan pustaka, ataukisah hidup pribadi, keluarga, atau orang lain yangmemiliki nilai inspirasi, pencegahan dan penanggulangan HIV & AIDS.4.Untuk tulisan dengan kisah hidup pribadi, keluarga,atau orang lain ditulis dalam format narasi.5.Karya tulis dibuat dengan gaya bahasa popular. Kisahyang diceritakan adalah kisah nyata, bukan rekaan,
Kompetisi Penulisan Populer HIV/AIDS Khusus OdhaKerjasama Yayasan Mitra INTI dengan SANDAR
Bersambung ke halaman...9
Leave a Comment