• Embed Doc
  • Readcast
  • Collections
  • CommentGo Back
Download
 
Edisi: 012/April 2008 | 1
Edisi: 012/April 2008
Suatu
malam, sekitar April 2008, di rumah seorang tetua dusunKlisat, desa Srihardono, berembuglah sekitar 100-an warga. Iniacara rutin setiap bulan (dalam hitungan
wetonan
). Namun, kaliini agak berbeda karena ditumpangi kepentingan Jejaring FordFoundation (JFF) yang berpamitan sesudah setahun bergelut bersama warga. Dalam catatan saya, ketika setahun lalu kami,JFF, ikut dalam pertemuan pertama dengan mereka (istilah kami“kulonuwun”), jumlah peserta dan dinamika rembug warga jauh berbeda. Dulu, kehadiran warga yang perempuan cuma 4orang, itupun cuma 1 orang yang bersuara. Tetapi pertemuan pada pamitan malam itu perempuan yang hadir mencapai 40%, bahkansuara perempuan yang hadir terdengar kritis, bahkan
 berani melakukan klarikasi
atas ucapan petinggi dusunyang mengkritik kegiatanmereka.Mengapa? Iniadalah dampak darisebuah pengorganisasiankomunitas, membangunmasyarakat yang cerdasdan kritis, ketika bertemudengan kepentingankomunitas memilih kepaladusun (pilkadus). Nah,ketika anggota kelompok perempuan yang tergabung dalamLembaga Keuangan Perempuan (salah satu bentuk inisiasiJFF melalui Asosiasi Perempuan Pengusaha Kecil/ASPPUK)ikut mencalonkan diri dan berpotensi untuk menang, paraelit dusun yang pro statusquo patriarkis terperangah. Sasarantembak pun mengarah ke para pegiat ASPPUK di dusuntersebut. Meski akhirnya calon kadus perempuan itu kalahselisih satu angka, tetapi suasana tegang belum juga cair. Danakhirnya meletup juga dalam rembug warga malam itu.Rekonsiliasi warga dusun semacam Klisat itu akhirnyamenjadi bagian dari rencana
exit strategy
JFF. Bagaimana bila JFF sudah tak berada di dusun tetapi program yangsudah dikerjakan warga tetap berjalan maju, bukan jalan ditempat atau malah mundur. Kasus pilkadus yang muncul ditengah program JFF memang di luar skenario, tidak pernahdiperhitungkan sejak awal.Itulah potret kecil keberhasilan warga dusun Klisat,Srihardono, Kecamatan Pundong, Kab. Bantul selamasetahun. Mereka yang bermimpi pun tidak untuk 
 sowan
keDPRD, akhirnya bisa juga ketemu dengan para wakil mereka.Dan tidak sekadar bertemu, tapi juga menyampaikan uneg-uneg mereka. Bahkan kemudian seorang anggota warga dusunitu menjadi contoh (di Jakarta) tentang bagaimana ia mampumemahami menyusundan mengkritisi anggaranyang disodorkan oleh pemerintah desa setempat.Padahal mulanya ia tak  paham soal anggaran,sebelum ia terlibat aktif  belajar mengenai anggarandengan IDEA (JejaringFF).Ada dua hal yangmencolok dari perubahankelima dusun yang digelutiJFF, yakni: kesetaraan dankeadilan gender. Limakelompok perempuan dilima dusun langsung sudahmembentuk wadah berbadanhukum: Koperasi Wanita LKP Rukun Satosa (Klisat), KopwanLKP Lestari (Kadisoro), Kopwan LKP Makmur Sentosa(Kedungpring), Kopwan LKP Kridomulyo (Joho), KopwanLKP Sido Makmur (Warungpring). Omset mereka semula(dana hibah dari FF 2007 melalui ASPPUK sebesar Rp 160 juta/LKP), sekarang (2008) omset mereka rata-rata sudah lebih dariRp 200 juta/LKP. Sementara para warga lelaki yang mengeloladana hibah rekonstruksi rumah sebesar Rp 330 juta/dusun, baru berancang membentuk koperasi simpan pinjam perumahan, para perempuan (istri dan kerabat para lelaki itu) sudah lebihdulu bertindak maju. Mereka bersaing yang saling melengkapi.Bukankah itu suatu manifestasi dari suatu sikap saling memilikidan memajukan dusun masing-masing (merti)?
“Kunjungan Ford Foundation di Dusun Kedungpring untuk melihat kondisiPasca Program”
 
2 | Edisi: 012/April 2008
D a p u r I n f o
april
2008, secara formal Program Terpadu Pemulihan SosialEkonomi Pascagempa di lima dusun di lima kecamatan di Bantulusai sejak dimulai Mei 2007. Ada plus-minus pada pelaksanaan program yang dikerjakan 12 LSM yang bekerjasama dalam bentuk konsorsium Jejaring Ford Foundation (JFF) ini.Di penghujung April 2008, tanpa kehadiran rekan dariSyarikat Indonesia (pendamping di Joho, Banguntapan),anggota JFF berkumpul di pendopo LP3Y untuk melihat hasilkerja bersama itu.Bagi anggota JFF, tiapakhir bulan yaitu tanggal 28 –  jika tak berbetulan dengan harilibur atau Sabtu – memang hariuntuk rapat evaluasi kegiatan bulan berjalan. Kali ini ang-gota JFF bersepakat untuk mengevaluasi capaian kerjasepanjang program. Selainitu menjawab pertanyaan pi-hak Ford Foundation, apa-kah kerja berjejaring ini akandilanjutkan dan kalau ya bagaimana melanjutkannya.Berbeda dengan perte-muan-pertemuan JFF diLP3Y sebelumnya yang hanyaditemani makan siang dalam kardus dan kudapan, pertemuankali ini jauh “lebih lengkap” untuk urusan perut.Siang itu, di samping pendopo siap tiga gerobak ang-kringan (tentu dengan isinya) dengan beragam pilihan makanandan minuman, termasuk “kedai” lotek yang menggelar dagangannya di sisi selatan pendopo.. Masing-masing pesertarapat bebas memilih dan memesan menu, bahkan boleh lebihdari satu menu. Menambah porsi pun dipersilakan selama perut masih menyisakan ruang.Mengapa begitu? Ini sedikit ceritanya. LP3Y sebagaituan rumah memperhitungkan bahwa teman-teman JFF yangakan datang sekitar 50 orang, karena begitulah perkiraan berdasarkan undangan yang dikirimkan melalui milis
Catatan Akhir Program Pascagempa
P
lus
-M
inus
P
rograM
JFF
di
B
antul
 jejaringrekonspascagempa_ff@yahoogroup.com. Bukan hanya
 para PO (Program Ofcer) yang diundang. Para PO dari 11
LSM anggota JFF diminta juga mengajak CO (
CommunityOrganizer 
) atau FO (
 Field Ofcer 
).“Saya berharap teman-teman di lapangan bisa datang,karena kita sudah menyiapkan banyak konsumsi,” ujar Pak Slamet Riyadi Sabrawi, Asisten Direktur LP3Y yang menjadi
Grant Coordinator 
JFF. Namun sayang,rapat hari itu tak jauh berbeda dengan rapat di bulan-bulan sebelumnya:hanya dihadiri para PO.Jumlahnya tak lebih dari20 orang.Makanan pun bersisa banyak. Maka solusinyaadalah sebagian pesertarapat membungkus danmembawa pulang sisamakanan. Begitulah.Lantas apa yang me-ngemuka di forum rapatitu?***SATU hal pentingyang perlu dicatat dari forum ini adalah anggota JFF mengakuidan menerima kenyataan bahwa pelaksanaan programterpadu selama setahun ini jauh dari memuaskan dan banyak kelemahan. Penilaian ini justru datang dari anggota JFF.Meskipun pihak Ford Foundation sendiri, ketika ber-kunjung ke Joho (Banguntapan) pada November 2007 mem- berikan apresiasi positif terutama pada kerjasama 12 LSM,kerjasama ke-12 LSM dengan komunitas dan kerjasamadengan pemerintah, dalam upaya memulihkan kehidupansosial ekonomi masyarakat yang terkena bencana. Dari aspek kuantitatif pun target-target program tercapai, bahkan adayang melampaui target.
salah seorang anggota JFF dari IDEA, Widji ketika mengemukakan pendapatanya.
 
Edisi: 012/April 2008 | 
D a p u r I n f o
Catatan-catatan yang disampaikan anggota JFF melalui milis(sebelum pertemuan siang itu) dan dirangkum
 Field Coordinator 
,Dedi H Purwadi, lalu dipaparkan dalam pertemuan tidak memunculkan bantahan.Sejumlah catatantentang kerja JFF antaralain; Program berjejaringmasih ada pada tingkatteknis; Konteks integrasidalam JFF masih diwarnaidengan target-target pro-gram lembaga. Desain program dirancang tidak sungguh-sungguh berasaldari kebutuhan dan kon-disi riil warga. Desain program dirancang dandiimplementasikansendiri-sendiri.Di lapangan, pelak-sana program “tidak meng-anggap penting” menge-tahui atau terlibat pada implementasi program lain. Koordinasi dankomunikasi belum optimal di tingkat jejaring maupun sel. Mediamilis kurang dimanfaatkan untuk 
 sharing 
informasi lapangan.Koordinasi terikat hanya pada rapat PO.Sering tidak lengkapnya formasi dalam rapat sel dusun padahal lebih substantif karena langsung terkait mendiskusikankondisi-kondisi yang ada di lapangan.“Saya sendiri kadang bingung kalau ada kegiatan,kadang juga ada tabrakan dan teman-teman sendiri juga tidak tahu. Apa yang terjadi, teman-teman lain tidak tahu. Tahunyahanya di pertemuan sel satu bulan sekali, jadi lambat bertukar informasi dan lambat merumuskan langkah. Rapat sel jugaseringkali hanya 3 atau 4 orang yang hadir. Budaya kerja,ketika bertemu dalam kerjasama, masih ada ego masing-masing. Ini wajar, tapi bagaimana kita bisa menurunkan ego juga perlu,” ujar Dedi.Persoalan lain yang dicatat dan diakui anggota JFFyaitu, pembuatan program oleh cluster atau LSM timbulkan perbedaan persepsi antarcluster. Di tingkat komunitas wargadusun, peran PPD (Panitia Pembangunan Dusun, organisasi payung untuk kerjasama pelaksanaan program) belummaksimal dan efektif. Program menimbulkan keberlebihankegiatan (
overactivity
) di warga.“…kelemahan kita kemarin banyak bicara soal program.Tidak ada penyiapan pranata. …yang harusnya pengampu perumahan sekaligus ‘penjaga’ komunitas, akhirnya terseretdalam
 goals
program. …Yang dikatakan integrasi dimulai ketika program ini berakhir,” kata Yuli E Nugroho, PO PerhimpunanSolidaritas Buruh (anggota JFF yang mendampingi komunitasDusun Warungpring, Bambanglipuro) sambil tertawa.Berkaitan dengan upaya mengimplementasikan programdengan perspektif gender anggota JFF juga mengakui bahwahal ini bagai lepas. Kejar target masing-masing programmenjadi salah satu alasannya.“Apa yang terjadi menunjukkan integrasi yang kurangkuat di soal perspektif gender.Ke depan strategi kita adalahintegrasi perspektif gender itu. Karena kemarin kita sok yakin kalau kawan-kawan juga berprespektif gender,tapi nyatanya dalam integrasiini tidak terjadi. Termasuk Asppuk juga, yang terjadiketika perempuan dikuatkan,laki-laki merasa keenakan danmengandalkan perempuan,ini juga tidak sensitif gender.Dan kita tidak terlalu mem- perhatikan,” ujar YuniPristiwati, penanggungjawab program ASPPUK (AsosiasiPendamping Perempuan UsahaKecil).Penilaian Yuni dikuatkan Leni Herawati (PO RifkaAnnisa). Yang menjadi kelemahan dalam program, katanya,nilai yang bisa dimasukkan ke semua, ini minim untuk disiapkan.“Rifka yang di awal diminta mengisi rumah sensitif  perempuan itu juga bukan karena program, tapi karena inisia-tif teman-teman di lapangan. Soal utamanya mungkin karenamemang ada tuntutan capaian program dan target. Rifka jadi sensitif karena misinya memang di gender,” jelas Era, panggilan lain Leni.***Itu beberapa catatan dan penilaian dari dalam yangnadanya cenderung “miring”. Bagaimana catatan dari wargadi lima dusun tentang program ini?Sesi awal pertemuan Senin siang hingga sore itu mem- bahas hasil evaluasi yang dilakukan warga lima dusun pada bulan Maret. Evaluasi di masing-masing dusun dipandu DatiFatimah dan Romy Herianto.Warga lima dusun pada intinya menginginkan pendam- pingan dari JFF dilanjutkan untuk 1-2 tahun ke depan, meski- pun tidak seintensif tahun pertama.Sejumlah manfaat juga dikemukakan warga, di antaranyahidup kembalinya kesenian yang setelah terpuruk akibat ben-cana gempa 27 Mei 2006. Bahkan, menurut mereka, ada ke-majuan di bidang kesenian. Sejumlah kelompok seni punmuncul menambah kekayaan kultural dusun.Melalui dana bergulir program perumahan, warga bisamenyempurnakan rumah bantuan yang mereka peroleh dari pemerintah. Warga yang terlewatkan program lain pun bisamengakses dana ini, sehingga bisa sama-sama tetangganya
 bersambung ke halaman...7 
Suasana Pertemuan evaluasi kegiatan program anggota JFF di pendopoLP3Y
of 00

Leave a Comment

You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...
You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...