• Embed Doc
  • Readcast
  • Collections
  • CommentGo Back
Download
 
Edisi: 008/Desember 2007 | 1
Edisi: 008/Desember 2007
PADA
akhir tahun 2007 ini, sudah banyak program yang dijalankanLP3Y untuk kepentingan pemberdayaan bagi masyarakat danmedia. Beragam kegiatan yang pernah diselenggarakannampaknya butuh evaluasi agar dapat dilihat sejauhmanamencapai kemanfaatan, selain juga kekurangan/kelemahan dari program yang dijalankan.Kemanfaatan yang dimaksudadalah jika program atau kegiatanyang dilakukan dapat terus eksis,membekas dan berguna bagi merekayang menerima. Syukur-syukur dapat dilanjutkan dengan“menularkannya” kepada orang lain.Adapun kelemahan, dalamevaluasi dimaksudkan agar LP3Ysebagai penyelenggara akanmendapat masukan. Kritik dan sa-ran yang membangun diperlukan,sehingga selanjutnya program yangdimiliki dilakukan lebih sempurna.Semua hal itu terangkumdalam
roundtable discussion
yang diselenggarakan pada akhir tahun ini atau tepatnya pada 29 Desember lalu di JogjakartaPlaza Hotel. Tujuan umum diselenggarakan
 Roundtable Dis-cussion
Evaluasi dan Pengembangan Isu AIDS, Gender danKesehatan Reproduksi (AGKR) ini, setidaknya ada dua hal.Pertama,
 sharing 
pengalaman sesama peserta diskusi.Peserta diskusi acara tersebut semuanya pernah terlibat dalam program yang dijalankan LP3Y. Kedua, dengan adanya
 sharing 
 pengalaman atau cerita tentang kekuatan, kelemahan, potensiyang dapat dilakukan di lembaga peserta tentang pengembanganisu AGKR, juga dijajaki kemungkinan-kemungkinan kerjasamayang dapat dilakukan di masa mendatang.
 Roundtable discussion
yang dihadiri oleh para aktivis LSM, perwakilan guru dan siswa SLTA serta jurnalis ini difokuskan pada pembahasan pengembangan program media di lembagamasing-masing. Dengan kata lain isu AGKR disosialisasikanmelalui program media. Sehingga jika program media belum berjalan, diharapkan akan terbangun kesadaran bermedia danisu AGKR menjadi bagian terpenting di dalamnya.Sebagai contoh misalnya, di lembaga pendidikan atauSLTA. Siswa diberikan pengetahuan sekaligus mempraktekkanmajalah dinding untuk dikembangkan di sekolahnya. Dalammateri khusus salah satu rubrik misalnya, memuat isu AGKR sebagai bahan/materi mading.Begitu pula dengan guru pembimbing. Mereka mengakui bahwa isu tersebut sangatdibutuhkan untuk mereka dananak didiknya, agar mereka dapatmemberikan informasi yang tepatketika ada pertanyaan tentang isutersebut dari siswanya. Pelatihantersebut ditempuh dengan tujuan,melalui bermedia, isu AGKR dapatsosialisasikan dengan tepat.Sedangkan bagi jurnalis, persoalan klasik muncul manakala permintaan latihan untuk sosialiasiisu AGKR ini masih dibutuhkan.Diakui peserta jurnalis yang hadir waktu itu, baik media cetak maupun elektronik masih memerlukan pelatihan akan isu ini. “Entah seperti apa metodenya, tetapi isu AGKR ini masih dibutuhkan agar laporan yang disampaikannya tidak biasgender,” kata Luviana dari
Metro TV 
.Sesungguhnya, banyak hal masih menjadi “PekerjaanRumah” yang perlu dilakukan, tidak hanya LP3Y sebagai penyelenggara tetapi juga para peserta yang mewakililembaganya. Namun, strategi ke depan mungkin dapat dipikirkantentang arah program lain yang lebih tepat. Pilihan program yangtadinya fokus pada media profesional, kini mulai dipikirkan pula pentingnya media khusus sebagai agen sosialisasi isu AGKR.Selanjutnya, tujuan kedepan program media yangdijalankan masing-masing lembaga baik itu LSM, sekolah dan perkumpulan pemuda desa diharapkan dapat mengangkat isuini menjadi suatu isu penting. Inilah peran penting suatu lembagadapat teruji sehingga, lembaga tersebut dapat berperan dalam pencapaian cita-cita mulia yang antara lain; memperlambat lajuangka HIV, mengurangi angka aborsi di kalangan remaja, danterciptanya kesetaraan dan keadilan gender bagi sesama.
 
2 | Edisi: 008/Desember 2007
D a p u r I n f o
Diskusi buku tentang AGKR Senin 3 Desember. Diskusi Buku “Pers MeliputAIDS”
DISKUSI
 buku Pers Meliput AIDS ini dihadiri oleh sejumlah aktivisLSM, jurnalis dan mahasiswa.Sebagai pembicara adalah AgoesWidhartono, yang merupakanmantan jurnalis di salah satu mediadi Yogyakarta. Agoes juga menjadifasilitator Pelatihan Peliputan danPenulisan AIDS, Gender danKesehatan Reproduksi serta beberapa pelatihan lainnya yangdiselenggarakan LP3Y.Secara singkat, dalam uraianmaterinya menurut Agoes, pemberitaan tentang kasus HIV/AIDS masih sebatas momentumatau seperti jurnalisme pemadamkebakaran. Artinya jurnalis menulistentang HIV/AIDS hanya ketika ada peristiwa tertentu yang berkaitan dengan AIDS. Jika tidak ada peristiwa, maka tidak ada berita tentang itu. Padahal data tentang peningkatan kasus HIVmisalnya, menurut Agoes setiap bulan terus bertambah, dan inisebenarnya dapat menjadi bahan tulisan tentang AIDS, jika jurnalis dapat mengeksplorasinya menjadi tulisan yang menarik.Selain itu menurut Agoes, masih banyak jurnalis yang belummemahami akan fenomena HIV/AIDS. Sehingga seringkali jurnalis keliru menulis istilah seperti virus AIDS, penyakit AIDSataupun menulis AIDS dengan huruf kecil (aids). Padahaldengan adanya kekeliruan yang elementer tersebut, dapatmenyebabkan informasi yang disampaikan tidak jelas.Akibatnya, pembaca atau khayalak masyarakat tidak mendapatkan informasi HIV/AIDS dengan tepat.
Jumat, 7 Desember, Diskusi Buku “Perempuandan Bencana Pengalaman Yogyakarta”
Diskusi buku berlangsung siang hingga sore hari. Sebagai pembicara hadir Farsijana Adeney-Risakotta sebagai sekretaris
K
EGIATAN
LP3Y
SELAMA
D
ESEMBER
 perwakilan Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) cabang SlemanYogyakarta. Mbak Nona, begitu biasa panggilan Farsijana, juga berperan sebagai penyunting buku, fasilitator lokakarya yangdiadakan KPI.Salah satu metode yangdigunakan ketika lokakarya penulisan Perempuan danBencana menurut mbak Nonayakni metode partisipatoris.Tujuan dari lokakarya inipunsebenarnya dalam rangkamenyatukan cerita-cerita yangterpotong-potong karena pemberitaan di media seringkali juga demikian.Pada awalnya dalamlokakarya tersebut, peserta yangterdiri dari pembuat kebijakan,aktivis, akademisi danmasyarakat akar rumput berkumpul bersama. Merekadiajak untuk merenung dan berpikir apa saja yang pernahdialaminya ketika gempa terjadi pada 27 Mei 2006 lalu.Pada tahap pertama lokakarya, peserta berpasang- pasangan. Kemudian para peserta menuliskan tentang pasangannya. Sedangkan pada tahap kedua mereka mulaiwawancara, baik itu di lingkungan masing-masing sesuai dengan pengalamannya.Selanjutnya dari pengalaman yang dimiliki masing-masing peserta yang diikat dengan komitmen untuk pemberdayaanmasyarakat, terangkumlah tulisan-tulisan mereka.Dengan melalui proses tiga kali lokakarya dengan berbagaidiskusi intensif, perangkuman ide-ide, klasifikasi tema dan bimbingan dari fasilitator, akhirnya terwujudlah tulisan-tulisan para perempuan dengan berbagai profesi tentang pengalaman- pengalaman menghadapi bencana.Menurut Nona, dalam buku ini tergambar bagaimana perempuan dengan segala kekuatan-kekuatannya dapat berperan menghadapi persoalan seputar bencana tersebut.“Perempuan juga punya andil dalam penanggulangan bencana.
Suasana ketika diskusi buku “Perempuan dan BencanaPengalaman Yogyakarta” berlangsung.
 
Edisi: 008/Desember 2007 | 3
D a p u r I n f o
Terbukti ketika masa darurat, dapur umum atau sumbangan-sumbangan makanan yang diperuntukkan bagi korban gempaadalah adanya peran besar perempuan,” katanya.Masih banyak lagi fakta-fakta yang ditemukan dalam tulisan pengalaman-pengalaman tersebut. Selain adanya kekuatan perempuan, masih banyak ditemukan persoalan lain yang lebihkompleks yang dihadapi perempuan. salah satunya, bantuanyang datang masih sedikit yang memikirkan kebutuhanreproduksi perempuan seperti pembalut misalnya. Padahal bantuan tersebut sangat dibutuhkan.
Selasa, 18 Desember, Diskusi “Buku Dampak Pembakuan Peran Gender terhadap PerempuanKelas Bawah di Jakarta”
Dalam diskusi buku kali ini, disinggung sejak awal diskusitentang peran media yang turut membakukan peran gender.Berangkat dari penyajian foto dan
caption
yang dibuat jurnalis,sebagai pembicara Dedi H Purwadi mengatakan, karena jurnalistidak memiliki perspektif gender sehingga
caption
yang dibuatsemakin memperkuat tentang pembakuan peran gender.Ditekankan Dedi, foto yang ditampilkan tidak bermasalah karenaitulah fakta atau realita tentang perempuan yang terekam olehmedia.Masih menurut Dedi yang juga fasilitator LP3Y, semestinyamedia dapat berperan membantu mengikis persoalan pembakuan peran gender, misalnya dengan memberi keterangan bahwadengan adanya pembakuan peran gender tersebut tidak adil bagi perempuan. Karena beban perempuansemakin berat.Persoalan pembakuan peran gen-der ini sebenarnyasudah berat karenanegara melalui Undang-undang Perkawinantahun 1974mengukuhkan pembakuan peran gen-der ini. Sehinggadampak-dampak dari pembakuan ini dapatmerugikan perempuan,terutama perempuankelas bawah.Gambaran dari hasil penelitian dalam buku inimenurut Dedi, tidak  beranjak jauh meski data atau penelitian di Jakarta ini dilakukan pada tahun 2005. Fakta-fakta di daerah-daerah lain seperti di NTT, Jawa, atau khususnya di kabupaten Bantul saat ini tidak  jauh berbeda. Perempuan-perempuan kelas bawah yang bekerjadi sektor publik masih memikul beban ganda.
Penyusunan Kurikulum untuk Pelatihan Jurnalis
 Suara Merdeka
Pada Desember ini, di sela-sela kesibukan denganmenyelenggarakan beberapa diskusi dan pelatihan, LP3Y jugamenyiapkan kurikulum untuk pelatihan Jurnalis
Suara Merdeka.
Rencananya pelatihan akan di selenggarakana dikantor redaksi
Suara Merdeka
, jalan Kaligawe Semarang.Pelatihan singkat ini akan diselenggarakan selama tiga hari yakni pada 18-20 Januari 2008.Selain penyusunan kurikulum dan modul pelatihan, persiapan perencanaan pembuatan soal bagi para redaktur danasisten redaktur nanti membutuhkan keseriusan tersendiri. TimLP3Y menyiapkan soal-soal tersebut tentu sesuai dengan visimisi yang diemban
Suara Merdeka
sebagai Koran PerekatKomunitas Jawa Tengah.Bagaimana laporan dari pelatihan tersebut, kita tunggu di bulan mendatang.
Roundtable Discussion Evaluasi danPengembangan Program AIDS, Genderdan Kesehatan Reproduksi
Acara diskusi Evaluasi dan Pengembangan Program AIDS,Gender dan Kesehatan Reproduksi (AGKR) yangdiselenggarakan pada sabtu 29 Desember lalu dihadiri oleh para jurnalis, aktivis LSM, guru pendamping dan siswa SLTA.Adapun tujuan dari diskusi tersebut, sebagai pihak yangturut berpartisipasidalam program yangdijalankan LP3Yselama ini,diharapkan daridiskusi tersebutadanya masukan,kritikan dan peluangkerjasama yangdapat dilakukan dimasa mendatang.Dari diskusitersebut banyak masukan dari pihak sekolah (guru dansiswa) dalam penyelenggaraan pelatihan AGKR untuk SiswaPengelola mading(majalah dinding) misalnya. Selain masih butuh informasi tentangsosialisasi AGKR, mereka juga berharap pelatihan yangdiselenggarakan LP3Y tidak hanya sesekali saja dilakukan. Tetapi juga butuh kontinyu, di berbagai sekolah di Yogyakarta inikhususnya.
Suasana ketika diskusi buku “Perempuan dan Bencana PengalamanYogyakarta” berlangsung.
Bersambung ke halaman ... 9
of 00

Leave a Comment

You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...
You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...