Edisi: 008/Desember 2007 | 3
D a p u r I n f o
Terbukti ketika masa darurat, dapur umum atau sumbangan-sumbangan makanan yang diperuntukkan bagi korban gempaadalah adanya peran besar perempuan,” katanya.Masih banyak lagi fakta-fakta yang ditemukan dalam tulisan pengalaman-pengalaman tersebut. Selain adanya kekuatan perempuan, masih banyak ditemukan persoalan lain yang lebihkompleks yang dihadapi perempuan. salah satunya, bantuanyang datang masih sedikit yang memikirkan kebutuhanreproduksi perempuan seperti pembalut misalnya. Padahal bantuan tersebut sangat dibutuhkan.
Selasa, 18 Desember, Diskusi “Buku Dampak Pembakuan Peran Gender terhadap PerempuanKelas Bawah di Jakarta”
Dalam diskusi buku kali ini, disinggung sejak awal diskusitentang peran media yang turut membakukan peran gender.Berangkat dari penyajian foto dan
caption
yang dibuat jurnalis,sebagai pembicara Dedi H Purwadi mengatakan, karena jurnalistidak memiliki perspektif gender sehingga
caption
yang dibuatsemakin memperkuat tentang pembakuan peran gender.Ditekankan Dedi, foto yang ditampilkan tidak bermasalah karenaitulah fakta atau realita tentang perempuan yang terekam olehmedia.Masih menurut Dedi yang juga fasilitator LP3Y, semestinyamedia dapat berperan membantu mengikis persoalan pembakuan peran gender, misalnya dengan memberi keterangan bahwadengan adanya pembakuan peran gender tersebut tidak adil bagi perempuan. Karena beban perempuansemakin berat.Persoalan pembakuan peran gen-der ini sebenarnyasudah berat karenanegara melalui Undang-undang Perkawinantahun 1974mengukuhkan pembakuan peran gen-der ini. Sehinggadampak-dampak dari pembakuan ini dapatmerugikan perempuan,terutama perempuankelas bawah.Gambaran dari hasil penelitian dalam buku inimenurut Dedi, tidak beranjak jauh meski data atau penelitian di Jakarta ini dilakukan pada tahun 2005. Fakta-fakta di daerah-daerah lain seperti di NTT, Jawa, atau khususnya di kabupaten Bantul saat ini tidak jauh berbeda. Perempuan-perempuan kelas bawah yang bekerjadi sektor publik masih memikul beban ganda.
Penyusunan Kurikulum untuk Pelatihan Jurnalis
Suara Merdeka
Pada Desember ini, di sela-sela kesibukan denganmenyelenggarakan beberapa diskusi dan pelatihan, LP3Y jugamenyiapkan kurikulum untuk pelatihan Jurnalis
Suara Merdeka.
Rencananya pelatihan akan di selenggarakana dikantor redaksi
Suara Merdeka
, jalan Kaligawe Semarang.Pelatihan singkat ini akan diselenggarakan selama tiga hari yakni pada 18-20 Januari 2008.Selain penyusunan kurikulum dan modul pelatihan, persiapan perencanaan pembuatan soal bagi para redaktur danasisten redaktur nanti membutuhkan keseriusan tersendiri. TimLP3Y menyiapkan soal-soal tersebut tentu sesuai dengan visimisi yang diemban
Suara Merdeka
sebagai Koran PerekatKomunitas Jawa Tengah.Bagaimana laporan dari pelatihan tersebut, kita tunggu di bulan mendatang.
Roundtable Discussion Evaluasi danPengembangan Program AIDS, Genderdan Kesehatan Reproduksi
Acara diskusi Evaluasi dan Pengembangan Program AIDS,Gender dan Kesehatan Reproduksi (AGKR) yangdiselenggarakan pada sabtu 29 Desember lalu dihadiri oleh para jurnalis, aktivis LSM, guru pendamping dan siswa SLTA.Adapun tujuan dari diskusi tersebut, sebagai pihak yangturut berpartisipasidalam program yangdijalankan LP3Yselama ini,diharapkan daridiskusi tersebutadanya masukan,kritikan dan peluangkerjasama yangdapat dilakukan dimasa mendatang.Dari diskusitersebut banyak masukan dari pihak sekolah (guru dansiswa) dalam penyelenggaraan pelatihan AGKR untuk SiswaPengelola mading(majalah dinding) misalnya. Selain masih butuh informasi tentangsosialisasi AGKR, mereka juga berharap pelatihan yangdiselenggarakan LP3Y tidak hanya sesekali saja dilakukan. Tetapi juga butuh kontinyu, di berbagai sekolah di Yogyakarta inikhususnya.
Suasana ketika diskusi buku “Perempuan dan Bencana PengalamanYogyakarta” berlangsung.
Bersambung ke halaman ... 9
Leave a Comment