Edisi: 011/Maret 2008 | 1
Edisi: 011/Maret 2008
kesenian lokal bagi masyarakat Bantul.Sebelumnya, sepanjang setahun program sejak Mei 2007sedikitnya digelar 27 pentas dusun, 10 kali antardusun dan 5kali di lingkup desa. Pentas ke pentas diharapkan tak seka-dar menjadi media pemulihan dan hiburan warga, melainkanmenjadi media pembe-lajaran pengorganisasiankesenian dan pengayaan pengalaman bagi seluruhyang terlibat dalam pro-gram ini. Selain itu, bisamenunjukkan bahwa ak-tivitas berkesenian akanlebih hidup dan semarak jika melibatkan berbagailapisan masyarakat dan berbagai kelompok usia.Karena, aktivitas kesenianitu sejatinya milik seluruhwarga.Dengan pentas limadusun dimungkinkanmasyarakat dari berbagaitempat dan kelompok sosial bisa bertemu dan mendapatkan pengalaman berbeda dari praktik sehari-hari, terutama di bi-dang kesenian. Terlebih lagi, bentuk-bentuk acara seperti kar-naval dan pementasan di panggung terbuka merupakan sesuatuyang tak banyak dilakukan, terutama pasca terjadinya gempa.Selain pentas lima dusun, mulai akhir Maret, menjelang berakhirnya program JFF 28 April 2008, para pengampu pro-gram melakukan kegiatan evaluasi bersama kelompok dam- pingan masing-masing di tiap dusun.Evaluasi ini dimaksudkan untuk melihat aspek kemanfaatan program bagi warga, terutama terkait dengan tujuan awal yaituuntuk ikut memulihkan kehidupan sosial-ekonomi pascagempa.Diharapkan, evaluasi ini bisa menunjukkan bahwa program JFF bermanfaat bagi warga, bukan sebaliknya: meninggalkan masa-lah di komunitas. Pada sisi lain, berguna bagi perbaikan ataupun peningkatan kualitas pelaksanaan program jika program serupadilanjutkan atau dijadikan model di tempat lain. (*)
Minggu
, 23 Maret 2008, hampir sehari penuh lebih dari 500warga dari lima dusun dampingan Jejaring Ford Foundation(JFF), yaitu Joho (Banguntapan), Kedungpring (Pleret), Klisat(Pundong), Warungpring (Bambanglipuro) dan Kadisoro(Pandak) berkumpul di Lapangan Trirenggo, Bantul.Mereka, lelaki dan perempuan, orangtua, re-maja hingga anak-anak,hadir menyemarakkanacara milik mereka yangdisaksikan langsung Bupa-ti Bantul:
Pentas Seni dan Karnaval Lima Dusun
.Warga lima dusun inimemenuhi angkasa Lapa-ngan Trirenggo dengan bebunyian musik pengiringreog yang ritmis-dinamis,musik pengiring srandulyang kadang menghentak kadang melankolis, kom- binasi kibor-terbang peng-iring lakon Ande-andeLumut, lengkingan koor salawat seni Empak serta nyanyiananak-anak yang mementaskan Tari Dolanan Anak.Sebelumnya, sebagian dari mereka menyemarakkan rutesepanjang dua kilometer dari Lapangan Dwiwindu ke Trireng-go, dengan karnaval berkostum tematik dan aneka bebunyianinstrumen musik dari barang bekas.Secara formal, ini semacam penutupan rangkaian programRevitalisasi Seni Tradisi, salah satu dari tujuh program pada
Pro- gram Terpadu Pemulihan Sosial Ekonomi Pascagempa Bantul
JFF. Dengan penanggungjawab Rumah Seni Cemeti, program ini bertujuan menghidupkan kembali aktivitas berkesenian di limadusun yang terhenti karena gempa 27 Mei 2006. Keseluruhan program JFF resmi berakhir April 2008.Di luar formalitas itu, diharapkan dengan adanya acaraini seluruh partisipan yang terlibat dalam program di limadusun bisa menunjukkan perkembangan yang terjadi selama berlangsungnya program dan memberikan alternatif peristiwa
Bupati Bantul Idham Samawi menyaksikan karnaval peserta Pentas Seni dan KarnavalLima Dusun di Trirenggo, Minggu (23/3).
Leave a Comment