menerapkan pengetahuan dan kaedah-kaedah ilmiyah yang diterapkan Barat terhadap teksInjil.Bagi para pendukung aliran ini, seperti Fazlurrahman misalnya, berkesimpulan bahwametodelogi baru perlu diterapkan dalam memahami teks al-Qur'an, karena metodelogitradisional yang diterapkan kaum Muslimin selama ini bertentangan dengan semangat al-Qur'an. Rahman menulis:
"Metodelogi yang menjauhkan diri dari al-Qur'an, menimbunnya di bawahtumpukan gramatika dan retorika. Menggantikan naskah-naskah asli mengenaiteologi, filsafat, yurisprudensi dan sebagainya, sebagai pengajaran tinggi dengankomentar-komentar (syarh) dan super-komentar-superkomentar (syarh min syarh).Di mana pengkajian komentar-komentar akan menghasilkan keasyikan dengan detil-detil yang rumit dengan mengesampingkan masalah-masalah pokok dalam obyekyang dikaji. Perselisihan pendapat (jadl) menjadi kegemaran utama dan hampir-hampir menggantikan upaya intelektual yang asli untuk membangkitkan danmenangkap masalah-masalah yang riil dalam obyek yang dikaji.
(Fazlur Rahman,
Islam and Modernity,
hlm.36-37
)
Aliran pemikiran ini berkembang pesat yang didukung oleh para cendekiawan muda,di Indonesia sendiri mendapat tempat di lingkungan perguruan tinggi Islam yang didukungresmi para birokratnya. Sebagai contoh adalah Rektor IAIN Jogyakarta yang juga sebagaiKetua PP. Muhammadiyah, Prof. Amin Abdullah yang telah menulis:
"Metode penafsiran al-Qur'an selama ini senantiasa hanya memperhatikanhubungan penafsir dan teks al-Qur'an tanpa pernah mengeksplisitkan kepentinganaudiens terhadap teks. Hal ini mungkin dapat dimaklumi sebab para mufasir klasiklebih menganggap tafsir al-Qur'an sebagai hasil kerja-kerja kesalehan yang dengandemikian harus bersih dari kepentingan mufasirnya. Atau barangkali juga karenatrauma mereka padapenafsiran-penafsiran teologis yang pernah melahirkan pertarungan politik yang mha dahsyat pada masa-masa awal Islam. Terlepas darialasan-alasan tersebut, tafsir-tafsir klasik al-Qur'an tidk lagi memberi makna dan fungsi yang jelas dalam kehidupan umat Islam".
Kemudian dia menyimpulkan:
"Apalagi sebagian besar tafsir dan ilmu penafsiran yang diwarisi umat Islam selamaini, sadar atau tidak, telah turut melanggengkan status quo, dan kemerosotan umatIslam secara moral, politik, dan budaya."
(Lihat: Ilham B. Saenong,
HermeneutikaPembebasan,
Kata Pengantar
)
Karena dianggap tidak sesuai dengan perkembangan dunia modern, maka teks-teks al-Qur'an seperti teks tentang hukum rajam, potong tangan, pembagian waris dan hukumsyari'at sejenisnya perlu ditinjau kembali, didekonstruksikan, dibongkar pemahamannya yangselama ini sudah mapan, melalui sebuah kajian atau melalaui pentakwilan kembali teks-tekskeagamaan sesuai dengan pandangan dan pengetahuan modern. Dengan mengemukakanargumentasi tujuan syari'at
(maqoshid al-syari'ah)
, ataupun dengan pandangan fiqh prioritas
(fiqh al-awlawiyah)
, penerapan syariat Islam kepada masyarakat Islam dapat ditunda maupun
3
Leave a Comment