• Embed Doc
  • Readcast
  • Collections
  • CommentGo Back
 
Manhaj Tanzili
&
Hermeneutika Kontemporer
Sebuah Kajian Awal Hermeneutika Alternatif
Hilmy Bakar Almascaty
1
 
 Jika diperhatikan beberapa aliran pemikiran kaum Muslimin kontemporer, baik yangberhubungan dengan cara memahami, menghayati ataupun berinteraksi dengan al-Qur'an,maka akan didapati beberapa perbedaan mendasar dengan yang pernah dilakukan olehRasulullah saw dan para sahabatnya pada awal kebangkitan Islam di Makkah maupunMadinah. Perbedaan demi perbedaan yang terus berkembang ini selanjutnya menimbulkanmasalah-masalah besar lainnya yang berdampak kepada kemunduran kaum musliminkontemporer pada seluruh aspek kehidupannya jika dibandingkan dengan pencapaian yangtelah dilakukan generasi perintis. Demikian pula terjadinya perpecahan demi perpecahan dikalangan kaum muslimin yang kadangkala menimbulkan pertumpahan darah danpeperangan, tidak lain dipicu oleh perbedaan mereka dalam berinteraksi dengan al-Qur'an.Perbedaan cara berinteraksi secara otomatis akan menghasilkan produk pemikiran yangberbeda pula. Ahirnya kaum Muslimin mendapati dirinya sendiri di lembah kelemahan,keterpurukan, keterbelakangan, kebodohan, ketertindasan dan kegelapan justru di saat-saatumat manusia lainnya menikmati puncak pencapaian peradaban mereka seperti yang dialamiBarat saat ini.Keadaan ini telah menimbulkan inferioritas dan dilemma kepada kaum Muslimin yangmemiliki masa lalu gemilang. Generasi konfius yang demikian takjubnya dengan pencapaian-pencapaian masyarakat modern Barat seperti yang ditunjukkan oleh Abduh dari Mesir, NamikKamal dari Turki ataupun Amer Ali dari India sehingga mereka menganjurkan modernisasiIslam, yang secara tidak sadar telah menyeret generasi muda Islam kepada proses pembaratansecara terstruktur dan berkelanjutan akibat ketidakjelasan metodelogi yang diterapkan.Padahal tidak diragukan sedikitpun bahwa Barat sebelumnya banyak belajar dari peradabanyang telah dikembangkan kaum Muslimin, terutama ketika terjadinya Perang Salib yang telahmembangkitkan kemajuan Eropa, yang mereka juluki sebagai
renaissance.
Dengan tergesa-gesapara cerdik pandai Muslim mendorong untuk mengadopsi berbagai kemajuan peradabanyang dikembangkan, termasuk mengadopsi sistem, metode, paradigma, epistemologi sampaiidiologi dan sejenisnya yang dikembangkan masyarakat Barat berdasarkan Sekulerisme,faham yang menolak segala bentuk peran agama dan Tuhan dalam kehidupan manusia. Itulahsebabnya tidak mengherankan telah berkembang pemikiran-pemikiran yang berbau Barat dikalangan generasi Islam yang mengadopsi segala bentuk kemajuan Barat yang dianggapnyasebagai sebuah peradaban puncak manusia
(the ultimate human civilization)
.
Selanjutnyamelahirkan pemikiran yang sangat liberal dalam memahami ajaran Islam, diantaranya dalammentakwilkan teks-teks al-Qur'an yang mereka namakan dengan
hermeneutika.
 
Teks-teks al-Qur'an dibaca dan diinterpretasikan sesuai dengan perkembangan zaman, dengan
2
 
menerapkan pengetahuan dan kaedah-kaedah ilmiyah yang diterapkan Barat terhadap teksInjil.Bagi para pendukung aliran ini, seperti Fazlurrahman misalnya, berkesimpulan bahwametodelogi baru perlu diterapkan dalam memahami teks al-Qur'an, karena metodelogitradisional yang diterapkan kaum Muslimin selama ini bertentangan dengan semangat al-Qur'an. Rahman menulis:
"Metodelogi yang menjauhkan diri dari al-Qur'an, menimbunnya di bawahtumpukan gramatika dan retorika. Menggantikan naskah-naskah asli mengenaiteologi, filsafat, yurisprudensi dan sebagainya, sebagai pengajaran tinggi dengankomentar-komentar (syarh) dan super-komentar-superkomentar (syarh min syarh).Di mana pengkajian komentar-komentar akan menghasilkan keasyikan dengan detil-detil yang rumit dengan mengesampingkan masalah-masalah pokok dalam obyekyang dikaji. Perselisihan pendapat (jadl) menjadi kegemaran utama dan hampir-hampir menggantikan upaya intelektual yang asli untuk membangkitkan danmenangkap masalah-masalah yang riil dalam obyek yang dikaji.
(Fazlur Rahman,
Islam and Modernity,
hlm.36-37
 )
Aliran pemikiran ini berkembang pesat yang didukung oleh para cendekiawan muda,di Indonesia sendiri mendapat tempat di lingkungan perguruan tinggi Islam yang didukungresmi para birokratnya. Sebagai contoh adalah Rektor IAIN Jogyakarta yang juga sebagaiKetua PP. Muhammadiyah, Prof. Amin Abdullah yang telah menulis:
"Metode penafsiran al-Qur'an selama ini senantiasa hanya memperhatikanhubungan penafsir dan teks al-Qur'an tanpa pernah mengeksplisitkan kepentinganaudiens terhadap teks. Hal ini mungkin dapat dimaklumi sebab para mufasir klasiklebih menganggap tafsir al-Qur'an sebagai hasil kerja-kerja kesalehan yang dengandemikian harus bersih dari kepentingan mufasirnya. Atau barangkali juga karenatrauma mereka padapenafsiran-penafsiran teologis yang pernah melahirkan pertarungan politik yang mha dahsyat pada masa-masa awal Islam. Terlepas darialasan-alasan tersebut, tafsir-tafsir klasik al-Qur'an tidk lagi memberi makna dan fungsi yang jelas dalam kehidupan umat Islam".
Kemudian dia menyimpulkan:
"Apalagi sebagian besar tafsir dan ilmu penafsiran yang diwarisi umat Islam selamaini, sadar atau tidak, telah turut melanggengkan status quo, dan kemerosotan umatIslam secara moral, politik, dan budaya."
(Lihat: Ilham B. Saenong,
HermeneutikaPembebasan,
Kata Pengantar
 )
Karena dianggap tidak sesuai dengan perkembangan dunia modern, maka teks-teks al-Qur'an seperti teks tentang hukum rajam, potong tangan, pembagian waris dan hukumsyari'at sejenisnya perlu ditinjau kembali, didekonstruksikan, dibongkar pemahamannya yangselama ini sudah mapan, melalui sebuah kajian atau melalaui pentakwilan kembali teks-tekskeagamaan sesuai dengan pandangan dan pengetahuan modern. Dengan mengemukakanargumentasi tujuan syari'at
(maqoshid al-syari'ah)
, ataupun dengan pandangan fiqh prioritas
(fiqh al-awlawiyah)
, penerapan syariat Islam kepada masyarakat Islam dapat ditunda maupun
3
of 00

Leave a Comment

You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...
You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...