barangkali ada 10 atau 100 orang yang dicabut oleh Allah keinginannya untuk berbuat jahat dan bertaubat karena doa kita, tanpa kita mengenal mereka, karena kita berkata
“ihdina”, “beri
kami petunjuk”, siapa kami disini ini? Seluruh umat NabiMuhammad Saw. Jadi orang yang mengucapkan doa itu, dia sudah mendoakanseluruh umat Nabi Muhammad Saw dan dia terlibat atas pahala semua amal baik umat Nabi Muhammad Saw yang lainnya, karena ia mendoakan mereka, (dan Rasul saw bersabda Barangsiapa yg mendoakan saudara muslimnya maka malaikat berkata Amindan untukmu pula sebagaimana doamu pd saudaramu).Dahsyatnya kalimat ini jika kau dalami maknanya
“Ihdinashshirathalmustaqim”
(tunjukkan kami ke jalan yang benar dan jalan yang lurus). Maksudnya, jalan Nabiyyuna Muhammad Saw maka kau dapat pahala semua orang yang berjalan di jalan yang benar. Itu keagungan Surat Al Fatihah. Lalu Allah tahu kita ini mau jalanyang benar tapi kita mau jalan yang hidupnya nikmat. Tidak mau kita ditimpa banyak kesulitan, maka diperjelas lagi
“Shirathalladzina an’amta a’laihim”
(jalan orang -orang yang Kau beri kenikmatan atas mereka). Masya Allah, siapa? Mereka inimukminin - mukminat yang ditumpahi kenikmatan dari zaman Nabi Adam hinggasaat sekarang sampai akhir zaman. Kita minta kenikmatan yang dilimpahkan itu
“Shirathalladzina an’amta a’laihim”,
kenikmatan dalam kesehatannya, kenikmatandalam pekerjaan, dalam perdagangannya, dalam rumah tangganya, dalam sekolah,dalam masyarakat, dalam segala kehidupan dan kematian.
“Shirathalladzinaan’amta a’laihim”,
orang – orang yang Kau beri kenikmatan jalan mereka,muqarrabin, shiddiqin, shalihin dan semua jalan orang – orang yang dilimpahikenikmatan oleh Allah, tapi bukan jalan orang yang dimurkai Allah.
“Ghairilmaghdhubi a’laihim waladhdhollin”.
Ini hadirin – hadirat kalau kita doa hadirkan hati kita pada saat baca Al Fatihah, kauakan terjaga dari dosa dan terjaga dari segala kejahatan. Itu kekuatan yang dahsyatSurat Al Fatihah, ada dalam setiap shalat kita. Oleh sebab itu disabdakan oleh Nabiyyuna Muhammad Saw riwayat Shahih Bukhari yang tadi kita baca bersama,ditanya kepada Nabi Saw
“Ayyul a’mal ahabbu ilallah?”
(amal apa yang palingdicintai Allah?), Rasul saw menjawab
“shalat pada waktunya”,
itu hukumnyasunnah muakkadah. Shalat boleh diawal waktu, ditengah waktu, boleh diakhir waktudan tetap sah shalatnya. Tetapi sunnahnya yang terbaik adalah diawal waktu. Ini adasyarahnya, lihat nanti kita syarahkan. Lantas apa? dikatakan lagi
“tsumma ayyu?”
(lalu apa?) lalu
“birrul walidain”
lalu apa? lalu
“jihad fisabilillah”.
Kita jelaskan yang pertama dahulu, didalam shalat tepat pada waktunya itu kita harus punya pemahaman, bukan berarti mutlak setiap habis adzan harus segera shalatqabliyah, dilanjutkan shalat dan shalat, bukan mutlak begitu. Karena ada riwayatlainnya Shahih Bukhari menjelaskan bahwa
“antum fi shalah maa iltumtantadhiruunaha”
(kalian tetap dalam pahala shalat selama kalian menantikan untuk mendirikan shalat) dan Rasul Saw dalam beberapa riwayat (bukan dalam satu riwayat)Shahih Bukhari
“mengakhirkan waktu shalat, menunda waktu shalat”
. Jamaahsudah menunggu, Rasul saw ada urusan kesana, urusan kesini, Sahabat menunggu. Ituterjadi beberapa kali, ketika Rasul saw datang, Sahabat masih menunggu dalam shaf bahkan dalam salah satu riwayat adalah saat shalat Isya’, Bilal sudah adzan, Sahabatsudah rapi shafnya, Rasul Saw baru keluar ditengah malam. Sahabat ada yang tertidur sambil duduk, ada yang tetap berdzikir lantas Rasul saw berkata “kalian tetap dalam pahala shalat selama menunggu shalat”. Jadi kalau sudah waktunya adzan, sunnah
Leave a Comment