Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
1Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Membangun Karakter Bangsa Melalui Pendidikan Klipping Koran

Membangun Karakter Bangsa Melalui Pendidikan Klipping Koran

Ratings: (0)|Views: 101|Likes:

More info:

Published by: Amanda Risty Piscania on Feb 13, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/13/2013

pdf

text

original

 
Membangun Karakter Bangsa Melalui Pendidikan, Pengajaran, danKebudayaan
Tanggal Posting 2012-05-08 06:02:17Pendidikan yang tidak didasari oleh kebudayaan akan menghasilkangenerasi yang tercerabut dari kehidupan masyarakatnya sendiri. Menjadikanpendidikan yang steril dari kekayaan budayanya sendiri berpotensi menghasilkanenclave dalam masyarakat. Oleh karenanya kebudayaan yang tidak menyatudengan pendidikan akan cenderung asing bagi kehidupan dan mulai ditinggalkanoleh masyarakatnya sendiri.Demikian disampaikan Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengkubuwono X saatmenjadi pembicara kunci dalam konggres Pendidikan, Pengajaran danKebudayaan bertema "Pembangunan Karakter Bangsa Melalui Pendidikan,Pengajaran, dan Kebudayaan Dalam Menghadapi Globalisasi". Diungkapkanbahwa pendidikan dan pengajaran merupakan dua proses satu nafas, memilikiketerkaitan yang berbeda kadarnya dengan kebudayaan. Pendidikanmemerdekakan nurani, pengajaran memerdekakan pikiran. Meski begitupengajaran dapat dikatakan sebagai bagian dari pendidikan secara umum,karena ilmu yang diajarkan dan dipelajari merupakan alat pendidikan. "Dengandemikian perlu ditunjukkan keterpaduan hubungan antara pengajaran,pendidikan dan kebudayaan," ungkapnya saat mengurai makalah "MenggagasRenaisans Pendidikan Berbasis Kebudayaan," papar Sultan di ruang Balai Senat,Senin (7/5).Sultan menyebut rekomendasi para ahli secara umum berkesimpulan bilamodernitas telah kehabisan tenaga. Sebagai jalan keluar maka dapat diwakilipandangan Fitjrof Capra, ajakan Kembali pada Paradigma Kebudayaan. Baginegeri-negeri yang termodernisasi lanjut dan sebagian telah memasuki apa yangdisebut modernisasi radikal bisa kembali ke paradigma kebudayaan dengan'berkiblatlah ke Timur'. "Penyederhanaan ini tak lain karena di belahan Timur anasir-anasir kebudayaan sebagian belum terbekukan dan tersisihkan dalam dirimanusia dan masyarakat. Pertanyaannya, bagaimana masyarakat negeri timur,termasuk Indonesia menanggapinya?. Paling tidak tanggapan dapat dipetakan kedalam dua kemungkinan, yaitu tipe 'struktural dan tipe kultural'," ungkap Sultan.
 
Tipe struktural dapat dianalogikan dengan struktur kereta api bergerbongpanjang yang berjalan di atas rel tunggal. Jika modernitas masyarakat duniadiletakkan pada garis kontinum, sesuai perspektif dan teori-teori modernisasi,maka masyarakat tradisional dan semi modern di Timur adalah gerbong-gerbongbelakang yang mengekor jejak gerbong-gerbong masyarakat modern Barat yangada dibagian depan.Ketika gerbong masyarakat Barat telah berkiblat ke kebudayaan Timur (berbalik arah), masyarakat tradisional dan semi-modern Timur berada digerbong belakang justru tetap mengarah ke modernisasi ala Barat. "Dengan katalain, masyarakat Timur harus ter-Baratkan sepenuhnya dulu, untuk kemudianberbalik ke paradigma kebudayaan Timur, jika masih tersisa waktu. Sepanjangproses itulah hampir pasti yang terjadi adalah krisis terlembaga," tuturnya.Sedangkan tanggapan Tipe Kultural, dalam pandangan Sultan dapatdianalogikan dengan Pesta Oahraga Olimpiade. Bahwa dalam Olimpiade terbukakedudukan olahraga dan peserta adalah sama (kompetisi-koeksistensi), tetapimasing-masing tipe olahraga memiliki ciri-ciri tertentu yang dipengaruhi oleh ciri-ciri alamiah manusia, misalnya ukuran badan atau karakter kultural tertentu.Jika paradigma kembali ke kebudayaan ditandai dengan kuatnya minatmasyarakat dunia pada olahraga ber-ranah esoterik-spiritual ke-Timuran, yangnotabene dikuasai oleh masyarakat Timur, secara teoritis dan ideal peluang atletTimur merajai Olimpiade lebih terbuka dibanding atlet Barat. "Namun bisa jaditanggapan empiris masyarakat Timur boleh jadi sebaliknya," ungkapnya.Mereka yang berpostur badan rata-rata kecil-pendek lebih aktif mengembangkan olahraga basket ketimbang mendirikan padepokan pencaksilat, maka hampir dipastikan orang Timur kesulitan mencatatkan prestasi diarena Olimpiade. Namun sebaliknya bila mau mengembangkan padepokanpencak silat maka kemungkinan orang Timur mencatatkan prestasi gemilang diolimpiade sangat terbuka. "Karena dasar-dasar pencak silat ada di Timur. Olehkarena itu, kita sekarang ini sesungguhnya tengah mengalami krisis identitas,"imbuhnya.Sementara itu, mantan Mendiknas A. Malik Fadjar dalam makalah"Spiritualitas Watak Kebangsaan" menegaskan wujud dan perwujudan atau
 
aplikasi spiritualisasi watak kebangsaan dari sudut pandang "PembangunanKarakter Bangsa Melalui Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan dalamMenghadapi Globalisasi" diperlukan pendekatan yang "luwes dan luas." Luwesdalam arti tidak mengarah kepada penyeragaman dan tidak bersifat indoktrinatif,dan luas dalam arti mencakup berbagai aspek kehidupan dengan segalakemajemukannya. (Humas UGM/ Agung)
Pendidikan Karakter Untuk Membangun Manusia Indonesia Yang Unggul
 Oleh :
Thanon Aria Dewangga, Asdep Bidang Pelaksanaan dan PelaporanPersidangan
  Ada sebagian kecil kalangan berpandangan bahwa Pemerintah kurang serius dalammembenahi sektor pendidikan. Sesuatu yang
debatable 
karena dari berbagai sudutpandang dan dimensi, pemerintah sangat berkomitmen untuk meningkatkan taraf pendidikan. Mulai dari 20% anggaran khusus untuk pendidikan, pembangunanbangunan sekolah-sekolah yang rusak, peningkatan taraf hidup dan kualitas gurudan lain-lain.Pendidikan adalah elemen penting dalam pembangunan bangsa karena melaluipendidikan, dasar pembangunan karakter manusia dimulai. Yang masih hangatdalam pikiran penulis, yang terlahir di era 70-an, di sekolah dasar kita dibekalipendidikan karakter bangsa seperti PMP dan PSPB sampai akhirnya diberikanbekal lanjutan model Penataran P4 (Pedoman Penghayatan dan PengamalanPancasila). Pendidikan karakter merupakan salah satu hal penting untukmembangun dan mempertahankan jati diri bangsa. Sayang, pendidikan karakter diIndonesia perlu diberi perhatian lebih khusus karena selama ini baru menyentuhpada tingkatan pengenalan norma atau nilai-nilai. Pendidikan karakter yangdilakukan belum sampai pada tingkatan interalisasi dan tindakan nyata dalamkehidupan sehari-hari.Pendidikan di Indonesia saat ini cenderung lebih mengedepankan penguasaanaspek keilmuan dan kecerdasan, namun mengabaikan pendidikan karakter.Pengetahuan tentang kaidah moral yang didapatkan dalam pendidikan moral atauetika di sekolah-sekolah saat ini semakin ditinggalkan. Sebagian orang mulai tidakmemperhatikan lagi bahwa pendidikan tersebut berdampak pada perilakuseseorang. Padahal pendidikan diharapkan mampu menghadirkan generasi yangberkarakter kuat, karena manusia sesungguhnya dapat dididik , dan harus sejak dini.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->