Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
1Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Manajemen Bencana Model Khilafah Islamiyyah

Manajemen Bencana Model Khilafah Islamiyyah

Ratings: (0)|Views: 0 |Likes:
Published by Rizky M Faisal

More info:

Published by: Rizky M Faisal on Feb 18, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/07/2014

pdf

text

original

 
detikislam.com/tsaqofah/manajemen-bencana-model-khilafah-islamiyyah/ 1/3
Ahad, 17 Februari 2013, 09:27 WIB. | OlehDetik Islam
Manajemen Bencana Model KhilafahIslamiyyah
Bencana alam, baik karena faktor-faktor alam maupun akibat ulah tangan manusiamerupakan bagian dari
qadla’ 
Allah SWTyang harus diterima dengan penuh keridlaandan kesabaran. Seorang Mukmin dituntutmeyakini bahwasanya tidak ada satupunmusibah yang menimpa umat manusia kecualiatas izin Allah. Tidak hanya itu saja,seorang Mukmin diperintahkan untuk mengambil pelajaran dari musibah agar ia memperbaiki diri dan kembali taat kepada Allah SWT.Adapun dalam konteks penanganan terhadap musibah, Khilafah Islamiyah menggariskankebijakan-kebijakan komprehensif yang terhimpun dalam manajemen bencana model KhilafahIslamiyah. Manajemen bencana model Khilafah Islamiyah tegak di atas akidah Islamiyah. Prinsip- prinsip pengaturannya didasarkan pada syariat Islam, dan ditujukan untuk kemashlahatan rakyat.Manajemen bencana Khilafah Islamiyah meliputi penanganan pra bencana, ketika, dan sesudah bencana.Penangangan pra bencana adalah seluruh kegiatan yang ditujukan untuk mencegah ataumenghindarkan penduduk dari bencana. Kegiatan ini meliputi pembangunan sarana-sarana fisik untuk mencegah bencana, seperti pembangunan kanal, bendungan, pemecah ombak, tanggul, danlain sebagainya. Reboisasi (penanaman kembali), pemeliharaan daerah aliran sungai dari pendangkalan, relokasi, tata kota yang berbasis pada amdal, memelihara kebersihan lingkungan,dan lain-lain; juga termasuk dalam kegiatan pra bencana.Kegiatan lain yang tidak kalah penting adalah membangun
mindset 
dan kepedulian masyarakat,agar mereka memiliki persepsi yang benar terhadap bencana; dan agar mereka memiliki perhatianterhadap lingkungan hidup, peka terhadap bencana, dan mampu melakukan tindakan-tindakanyang benar ketika dan sesudah bencana. Untuk merealisasikan hal ini, khalifah akan melakukanedukasi terus-menerus, khususnya warga negara yang bertempat tinggal di daerah-daerah rawan bencana alam; seperti warga di lereng gunung berapi, pinggir sungai dan laut, dan daerah-daerahrawan lainnya. Edukasi meliputi pembentukan dan peningkatan kesadaran masyarakat terhadap penjagaan dan perlindungan lingkungan; serta peningkatan pengetahuan mereka terhadap penanganan ketika dan pasca bencana. Harapannya, masyarakat terbiasa peduli terhadaplingkungannya dan mengetahui cara untuk mengantisipasi dan menangani bencana, danme-
recovery
lingkungannya yang rusak—akibat bencana—agar kembali berfungsi normal sepertisemula.Selain itu, Khilafah Islamiyah membentuk tim-tim SAR yang memiliki kemampuan teknis dan nonteknis dalam menangani bencana. Tim ini dibentuk secara khusus dan dibekali dengankemampuan dan peralatan yang canggih–seperti alat telekomunikasi, alat berat, serta alat-alatevakuasi korban bencana, dan lain-lain–, sehingga mereka selalu siap sedia (
ready for use
)diterjunkan di daerah-daerah bencana. Tim ini juga bergerak secara aktif melakukan edukasi
 
detikislam.com/tsaqofah/manajemen-bencana-model-khilafah-islamiyyah/ 2/3
terus-menerus kepada masyarakat, hingga masyarakat memiliki kemampuan untuk mengantisipasi,menangani, dan me-
recovery
diri dari bencana.Adapun manajemen ketika terjadi bencana adalah seluruh kegiatan yang ditujukan untuk mengurangi jumlah korban dan kerugian material akibat bencana. Kegiatan-kegiatan penting yangdilakukan adalah evakuasi korban secepat-secepatnya, membuka akses jalan dan komunikasidengan para korban, serta memblokade atau mengalihkan material bencana (seperti banjir, lahar,dan lain-lain) ke tempat-tempat yang tidak dihuni oleh manusia, atau menyalurkannya kepadasaluran-saluran yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Kegiatan lain lain yang tidak kalah pentingadalah penyiapan lokasi-lokasi pengungsian, pembentuan dapur umum dan posko kesehatan, serta pembukaan akses-akses jalan maupun komunikasi untuk memudahkan team SAR untu berkomunikasi dan mengevakuasi korban yang masih terjebak oleh bencana. Oleh karena itu, berhasil atau tidaknya kegiatan ini tergantung pada berhasil tidaknya kegiatan pra bencana.Ilustrasi sederhana penanganan bencana yang dilakukan oleh Daulah Khilafah Islamiyah adalahapa yang dilakukan oleh Khalifah Umar bin al-Khaththab ra ketika menangani paceklik yangmenimpa jazirah Arab. Pada saat itu, orang-orang mendatangi Kota Madinah–pusat pemerintahan Khilafah Islamiyah—untuk meminta bantuan pangan. Umar bin Khaththab ra segeramembentuk tim yang terdiri dari beberapa orang sahabat, seperti Yazid bin Ukhtinnamur,Abdurrahman bin al-Qari, Miswar bin Makhramah, dan Abdullah bin Uthbah bin Mas’ud ra.Setiap hari, keempat orang sahabat yang mulia ini melaporkan seluruh kegiatan mereka kepadaUmar bin Khaththab ra, sekaligus merancang apa yang akan dilakukan besok harinya. Umar binKhaththab ra menempatkan mereka di perbatasan Kota Madinah dan memerintahkan merekauntuk menghitung orang-orang yang memasuki Kota Madinah. Jumlah pengungsi yang merekacatat jumlahnya terus meningkat. Pada suatu hari, jumlah orang yang makan di rumah KhalifahUmar bin Khaththab ra berjumlah 10 ribu orang, sedangkan orang yang tidak hadir di rumahnya,diperkirakan berjumlah 50 ribu orang. Pengungsi-pengungsi itu tinggal di Kota Madinah selamamusim paceklik. Dan selama itu pula mereka mendapatkan pelayanan yang terbaik dari KhalifahUmar bin Khaththab ra. Setelah musim paceklik berakhir, Umar bin Khaththab ramemerintahkan agar pengungsi-pengungsi itu diantarkan kembali di kampung halamannya masing-masing. Setiap pengungsi dan keluarganya dibekali dengan bahan makanan dan akomodasilainnya, sehingga mereka kembali ke kampung halamannya dengan tenang dan penuhkegembiraan.Aspek yang ketiga adalah manajemen pasca bencana, yakni seluruh kegiatan yang ditujukanuntuk; (1) me-
recovery
korban bencana agar mereka mendapatkan pelayanan yang baik selama berada dalam pengungsian dan memulihkan kondisi psikis mereka agar tidak depresi, stres,ataupun dampak-dampak psikologis kurang baik lainnya. Adapun kegiatan yang dilakukanadalah kebutuhan-kebutuhan vital mereka, seperti makanan, pakaian, tempat istirahat yangmemadai, dan obat-obatan serta pelayanan medis lainnya.
 Recovery
mental bisa dilakukandengan cara memberikan taushiyah-taushiyah atau ceramah-ceramah untuk mengokohkan akidahdan nafsiyah para korban; (2) me-
recovery
lingkungan tempat tinggal mereka pasca bencana,kantor-kantor pemerintahan maupun tempat-tempat vital lainnya, seperti tempat peribadahan,rumah sakit, pasar, dan lain-lainnya. Khilafah Islamiyah, jika memandang tempat terkena bencana,masih layak untuk di-
recovery
, maka, ia akan melakukan perbaikan-perbaikan secepatnya agar masyarakat bisa menjalankan kehidupannya sehari-harinya secara normal, seperti sedia kala.Bahkan jika perlu, khalifah akan merelokasi penduduk ke tempat lain yang lebih aman dankondusif. Untuk itu, Khalifah Islamiyah akan menerjunkan tim ahli untuk meneliti dan mengkajilangkah-langkah terbaik bagi korban bencana alam. Mereka akan melaporkan opsi terbaikepada khalifah untuk ditindaklanjuti dengan cepat dan profesional.

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->