Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
8Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Discharge Planning Herni

Discharge Planning Herni

Ratings: (0)|Views: 193 |Likes:
Published by rambadiw
Pasien dengan hernia Discharge Planning
Pasien dengan hernia Discharge Planning

More info:

Published by: rambadiw on Feb 18, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/05/2013

pdf

text

original

 
Pengaruh discharge planning oleh perawat terhadap kesiapan pasien post herniorafimenghadapi pemulanganLatar Belakang
Hernia merupakan produksi atau penonjolan isi suatu rongga melalui
defek 
atau bagian yang lemah dari dinding rongga bersangkutan. Dinding perut terdiri dari
 
 beberapalapis atau bagian dari luar ke dalam yaitu lapisan kutis dan subkutis, lemak 
 
subuktan danfasia superfisial, kemudian setelahnya ada lapisan otot muskuloaponeurosis
 
yang dibagi jadi3 otot dinding perut, kemudian terakhir lapisan jaringan
 
 peritoneum. Lapisan otot perutsendiri yaitu muskulo-aponeurosis memegang peranan
 
 penting dalam menjaga stabilitas isiabdomen, dan fungsi utama otot perut ini juga
 
untuk menjaga seseorang menderita hernia bawaan maupun hernia yang didapat.
 
Pada penderita hernia isi perut (usus) keluar daridinding abdomen sehingga terlihat
 
adanya penonjolan dan menyebabkan terjadinya bagian- bagian hernia yang terdiri
 
dari: cincin, kantung dan isi hernia (Sjamsuhidajat dan Dejong,2005).Hernia ini tidak terlalu menjadi masalah apabila isi dari hernia ini masih bisa keluar masuk kantung hernia, tidak menempel, tidak menyebabkan nyeri dan gangguan mobilisasi.Akan tetapi jika hernia sudah bertambah parah maka pada kebanyakan kasus akan terjadi proses inkarserata (terperangkapnya isi hernia di kantung hernia) dan strangulasi (tercekiknyaisi hernia). Pada keadaan ini isi hernia tidak dapat kembali lagi dan akan mengakibatkangejala-gejala gangguan vaskularisasi mulai dari bendungan ringan hingga nekrosis jaringan.Gejala yang timbul juga sudah mulai dirasakan seperti nyeri yang disertai mual atau muntah,kembung, obstipasi, nyeri hebat dan kontinyu, daerah benjolan menjadi merah, pasienmenjadi gelisah, dan akan mengakibatkan kesulitan untuk berjalan atau berpindah sehinggaaktivitas terganggu. Apabila gejala sudah seperti ini maka tindakan salah satunya adalahdengan pembedahan Herniorafi bisa ditegakkan (Syamsuhidajat dan Dejong, 2005).Tindakan operasi atau pembedahan merupakan suatu pengalaman yang sulit bagikebanyakan pasien. Resiko maupun komplikasi yang timbul dari tindakan pembedahan bisasaja terjadi dan membahayakan pasien, oleh karena itu diperlukan peran perawat dalamtindakan pembedahan dengan memberikan intervensi keperawatan yang tepat untumempersiapkan pasien baik dari segi fisik maupun psikologis pasien (Rodhianto, 2008).
 
Pembedahan sendiri didefinisikan sebagai cabang kedokteran yang menangani penyakit, luka dan deformitas dengan cara manual atau operasi. Pembedahan ditujukan untuk mempertahankan, atau mengangkat dengan resiko minimal, organ, jaringan, atau ekstremitasyang mengalami kecelakaan atau luka ( Kamus kedoketaran Dorland, 1998).Pembedahan dibagi dalam tiga tahap, yaitu preoperatif, intraoperatif, dan pascaoperatif. Ketiga tahap ini disebut periode perioperatif. Untuk fase preoperatif sendiridimulai ketika keputusan diambil untuk melaksanakan intervensi pembedahan. Kegiatan-kegiatan yang seharusnya dilaksanakan oleh perawat dalam tahap ini adalah pengkajian dan persiapan preoperasi mengenai status fisik dan psikologi pasien, serta memberikan intervensi perawatan agar pasien siap untuk menjalani operasi. Tahap ini berakhir ketika pasien diantar ke kamar operasi dan diserahkan ke perawat bedah untuk perawatan selanjutnya (BaraderoM, 2008, hlm.11).Kategori pembedahaan dibagi berdasarkan alasan pembedahan, urgensi pembedahan,tingkat resiko, letak anatomi, dan tingkat operasi yang diperlukan. Tujuan utama pembedahandibagi menjadi lima sub-kategori : diagnostik, kuratif, restoratif, paliatif, dan kosmetik.Operasi paliatif ditujukan untuk membuat pasien lebih nyaman, dan operasi kosmetik ditujukan untuk merekontruksi kulit dan jaringan dibawahnya. Urgensi pembedahan terbagimenjadi tidak mendesak, mendesak, dan sangat mendesak. Dan tingkat resiko operasi dibagimenjadi minor dan mayor. Letak anatomi berdasarkan area tubuh yang akan dioperasi(operasi abdominal, operasi intracranial, dan operasi jantung) (Ignatavicius & Workman2006).Salah satu tindakan pemebedahan adalah herniorafi. Umumnya terapi operasi padahernia merupakan terapi satu-satunya yang rasional, dan operasi ini termasuk indikasi operasielektif. Herniorafi sendiri merupakan prosedur operasi yang dilakukan pada pasien herniadengan melakukan pembebasan cincin dari hernia. Umumnya operasi dilakukan denganmembuka bagian abdomen, kemudian bagian cincin dibebaskan dari kantung herniakemudian direposisikan dan bagian dinding perut yang melemahnya dijahit (Syamsuhidajatdan Dejong, 2005). Akan tetapi setiap prosedur operasi pasti terdapat resiko yangditimbulkan juga. Komplikasi operasi hernia dapat berupa cedera v.femoralis, hematoma(perdarahan), infeksi luka (Syamsuhidajat dan Dejong, 2005). Penelitian juga telahmenunjukkan bahwa komplikasi dari operasi ini masih terbilang tinggi seperti infeksi,
 
 perdarahan, tromboflebitis, emboli paru, perforasi usus, dan yang paling merugikan adalahterjadinya hernia berulang sehingga harus dioperasi lagi sebesar 30% angka kejadian(Vidovic, et all, 2006).Setelah tindakan pembedahan, pasien menjadi rentan terhadap infeksi karenaterjadinya stress yang serius pada tubuh, seperti terputusnya kontinuitas jaringan dan adanya
 port de entry.
Selain itu turunnya status imunitas pada tubuh pasien menyebabkan pasiensangat rentan terkena infeksi (Healthnotes.com, 2004). Andra (2007) menyatakanmenyatakan pada pasien pasca operasi abdomen dengan non etiologi infeksi insidenterjadinya peritonitis sekunder (akibat pecahnya jahitan pembedahan) yang terjadi kurangdari 2%, sedangkan pada pasca pembedahan pasien dengan penyakit inflamasi tanpa perforasi(apendisitis, divertikulitis, kolesititis) resiko untuk terjadinya peritonitis sekunder dan abses peritoneal kurang dari 10%, sedangkan pada pasien pasca pembedahan kolong gangren dan perforasi visceral resiko terjadinya peritonitis sekunder dan abses meningkat hingga 50%.Oleh karena itu pasien perlu di berikan pendidikan kesehatan agar pasien mampu mandiridalam melakukan perawatan luka yang benar sebelum pulang ke lingkungan rumah.Salah satu faktor yang mempengaruhi hasil dari postoperasi ditentukan pada saat preoperasi. Oleh karena persiapan preoperasi haruslah benar-benar siap. Pemeriksaan fisik,emosional, resiko bedah, diagnostik, tindakan-tindakan persiapan operasi harus dilakukandengan baik ketika preoperasi (Potter and Perry, 2006). Fisik pasien harus dipersiapkandengan baik mengingat prosedur operasi merupakan prosedur yang memiliki resiko. Sebagaicontoh, penelitian terhadap 43 persiapan operasi yang sebelumnya dilakukan pencukuranrambut area operasi dan melakukan
 personal hygiene
 berupa memandikan pasien terlebihdahulu menunjukan dapat mengurangi resiko infeksi area operasi sebelum dan sesudahoperasi (Dizer, et all, 2009).Penelitian
case contro
terhadap 38 pasien yang dipuasakan sebelum operasimenunjukan penurunan resiko terjadinya aspirasi selama periode intraoperatif sehinggameunurunkan pula resiko terjadinya komplikasi intraoperasi dan pascaoperasi (Brady, 2010).Hasil penelitian menunjukan pula pengaruh pemberian nutrisi yang adekuat pada fase preoperasi dapat meningkatkan kesiapan pasien dalam menghadapi operasi dan berpengaruhterhadap hasil pada postoperasi dengan mengurangi resiko komplikasi seperti infeksi postoperasi dan memperpendek waktu perawatan di rumah sakit (Akbarshahi, et all, 2008).

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->