Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
1Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Pembuatan Pakan Ternak Fermentasi (Silase)

Pembuatan Pakan Ternak Fermentasi (Silase)

Ratings: (0)|Views: 446|Likes:

More info:

Published by: Nur Akbar Arofatullah on Feb 20, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See More
See less

02/20/2013

pdf

text

original

 
Pembuatan Pakan Ternak Fermentasi (SILASE)(Oleh: Nur Akbar Arofatullah, S.P.)
Silase adalah hijauan makanan ternak (HMT) yang diawetkan dengan prosesensilasi. Tujuan utama pembuatan silase adalah untuk memaksimumkan pengawetankandungan nutrisi yang terdapat pada hijauan atau bahan pakan ternak lainnya, agar bisa di disimpan dalam kurun waktu yang lama, untuk kemudian di berikan sebagaipakan bagi ternak. Sehingga dapat mengatasi kesulitan dalam mendapatkan pakanhijauan pada musim kemarau. Di banyak negara, hasil ensilasi hijauan segar memilikinilai ekonomi yang tinggi sebagai pakan ternak. Negara-negara eropa, seperti: Belanda,Jerman dan Denmark memproses hampir 90% hijauan yang dihasilkan dari lahanpertaniannya sebagai bahan makanan ternak dengan teknik ensilasi. (Wilkinson
et al.,
1996).Ensilasi adalah metode pengawetan hijauan berdasarkan pada prosesfermentasi asam laktat yang terjadi secara alami dalam kondisi anaerobik. Selamaberlangsungnya proses ensilasi, beberapa bakteri mampu memecah selulosa danhemiselulosa menjadi berbagai macam gula sederhana. Sedangkan bakteri lainmemecah gula sederhana tersebut menjadi produk akhir yang lebih kecil (asam asetat,laktat dan butirat). Produk akhir yang paling diharapkan dari proses ensilasi adalahasam asetat dan asam laktat. Produksi asam selama berlangsungnya prosesfermentasi akan menurunkan pH pada material hijauam sehingga dapat menghambatpertumbuhan mikroorganisme lain yang tidak diinginkan.Proses ensilasi dalamsilo/fermentor kedap udara terbagi dalam 4 tahap, yaitu (Weinberg and Muck, 1996;Merry
et al.
, 1997):
a. Tahap I
 –
Fase aerobik.
Tahap ini pada umumnya hanya memerlukan waktu beberapa jam saja,fase aerobik terjadi karena keberadaan oksigen di sela-sela partikel tanaman.Jumlah oksigen yang ada akan berkurang seiring dengan terjadinya prosesrespirasi pada material tanaman serta pertumbuhan mikroorganisme aerobik danfakultatif aerobik, seperti khamir dan enterobakteria. Selanjutnya, enzim pada
 
tanaman seperti
 protease
dan
carbohydrase
akan teraktivasi, sehingga kondisipH pada tumpukan hijauan segar tetap dalam batas normal (pH 6.5-6,0).
b. Tahap II
 –
Fase fermentasi.
Tahap ini dimulai ketika kondisi pada tumpukan silase menjadi anaerobik,kondisi tersebut akan berlanjut hingga beberapa minggu, tergantung pada jenisdan kandungan hijauan yang digunakan serta kondisi proses ensilasi. Jikaproses fermentasi berlangsung dengan sempurna, bakteri asam laktat (BAL)akan berkembang dan menjadi dominan, pH pada material silase akan turunhingga 3.8-5.0 karena adanya produksi asam laktat dan asam-asam lainnya.
c. Tahap II
 –
Fase stabil.
Tahap ini akan berlangsung selama oksigen dari luar tidak masuk kedalam silo/fermentor. Sebagian besar jumlah mikroorganisme yang berkembangpada fase fermentasi akan berkurang secara perlahan. Beberapa jenismikroorganisme toleran asam dapat bertahandalam kondisi stasioner (
inactive
)pada fase ini, mikroorganisme lainnya seperti clostridia dan bacilli bertahandengan menghasilkan spora. Hanya beberapa jenis mikroorganisme penghasilenzim
 protease
dan
carbohydrase
toleran asam serta beberapa mikroorganismekhusus, seperti
Lactobacillus buchneri 
yang dapat tetap aktif pada level rendah.
d. Tahap IV
 –
Fase pemanenan (
feed-out/aerobic spoilage
) .
Fase ini dimulai segera setelah silo/fermentor dibuka dan silaseterekspose udara luar. Hal tersebut tidak terhindarkan, bahkan dapat dimulaiterlalu awal jika penutup silase rusak sehingga terjadi kebocoran. Jika fase iniberlangsung terlalu lama, maka silase akan mengalami deteriorasi ataupenurunan kualitas silase akibat terjadinya degradasi asam organik yang adaoleh khamir dan bakteri asam asetat. Proses tersebut akan menaikkan pH padatumpukan silase dan selanjutya akan berlangsung tahap
spoilage
ke-2 yangmengakibatkan terjadinya kenaikan suhu, dan peningkatan aktifitas
 
mikroorganisme kontaminan, seperti
bacilli, moulds dan enterobacteria
(Honigand Woolford, 1980).Untuk menghindari terjadinya kegagalan dalam proses pembuatan silase, makaperlu dilakukan pengontrolan dan optimalisasi pada setiap tahapan ensilasi. Padatahap I, dibutuhkan teknik filling material hijauan yang baik kedalam silo, sehinggadapat meminimalisir jumlah oksigen yang ada di antara partikel tanaman. Teknikpemanenan tanaman yang dikombinasikan dengan teknik filling yang baikdiharapkan dapat meminimalisir hilangnya karbohidat terlarut (
water solublecarbohydrates
) akibat respirasi aerobik ketika hijauan berada di luar maupun didalam silo, sehingga terdapat lebih banyak gula sederhana yang tersisa untukproses fermentasi asam laktat pada tahap II. Proses ensilasi tidak dapat dikontrolsecara aktif ketika telah masuk pada tahap II dan III. Pada tahap IV, diperlukansilo/fermentor yang benar-benar kedap udara untuk meminimalisir kontaminasiaerobik selama penyimpanan. Segera setelah silo/fermentor dibuka, silase harusdiberikan kepada ternak hingga habis.
Faktor-Faktor yang Perlu di Perhatikan dalam Proses Pembuatan Silase:a. Tingkat kematangan dan kelembaban bahan
Tingkat kematangan tanaman yang tepat memastikan tercukupinya jumahgula fermentasi (
fermentable sugar 
) untuk proses pertumbuhan bakteri silasedan memberikan nutrisi maksimum untuk ternak. Tingkat kematangan jugamemiliki pengaruh yang besar pada kelembaban hijauan pakan ternak,tercukupinya kelembaban untuk fermentasi bakteri sangat penting danmembantu dalam proes pembungkusan untuk mengeluarkan oksigen dari silase
b. Panjang pemotongan
Panjang pemotongan yang paling bagus adalah antara ¼-1/2 inci,tergantung pada jenis tanaman, struktur penyimpanan dan jumlah silase.Potongan material tanaman dengan panjang tersebut akan menghasilkan silasedegan kepadatan yang ideal dan memudahkan pada saat proses pemanenan.

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->